Info Lokal InfoScope Gaya Hidup Infotainment Bisnis & UMKM Religi Iptek Mimbar Opini

Mengapa Toxic Relationship Membuat Mudah Sakit? Psikolog Ungkap Hubungan Mental dan Tubuh

Arya Kusuma • Senin, 29 Juni 2026 | 06:34 WIB
Psikolog mengungkap dampak toxic relationship terhadap kesehatan mental, fisik, dan kualitas hidup. (BTV/AI)
Psikolog mengungkap dampak toxic relationship terhadap kesehatan mental, fisik, dan kualitas hidup. (BTV/AI)

Durasi Baca: 6 Menit

Topik: Psikolog Menjelaskan Dampak Toxic Relationship terhadap Mental dan Fisik

Ikhtisar: Artikel ini membahas ciri hubungan toksik, dampaknya terhadap kesehatan mental dan fisik, serta langkah pencegahan dan penanganan menurut psikolog klinis.

 

Balikpapan TV - Hai Ces! Toxic relationship ternyata bukan hanya mengganggu perasaan, tetapi juga dapat memengaruhi kesehatan fisik hingga menurunkan kualitas hidup seseorang menurut penjelasan psikolog klinis dalam sebuah diskusi kesehatan mental.

Penasaran kenapa hubungan yang terlihat biasa saja bisa berdampak sampai ke tubuh? Simak terus pembahasannya sampai habis, ada banyak poin penting yang sering terlewat, Ces!

Artikel ini disusun berdasarkan transkrip video dari kanal YouTube Rahasia Sehat berjudul "Sering Sakit Tapi Medis Normal? Psikolog Ungkap Rahasia Kesehatan Tubuh dari Pikiran" yang menghadirkan psikolog klinis Raden Ajeng Oriza Sativa sebagai narasumber.

Baca Juga: Anak Muda Urban Indonesia Picu Tren Konsultasi Kesehatan Digital

Apa Sebenarnya yang Disebut Toxic Relationship?

Toxic relationship adalah hubungan yang mengganggu pikiran, perasaan, dan tindakan seseorang. Menurut Raden Ajeng Oriza Sativa, tiga elemen tersebut menjadi indikator utama untuk mengenali hubungan yang sudah tidak sehat.

Gangguan itu tidak selalu muncul dalam bentuk konflik besar. Banyak orang justru merasakan energi emosional terkuras, kehilangan rasa percaya diri, hingga menurunnya harga diri tanpa menyadari sumber masalahnya.

Psikolog tersebut menjelaskan bahwa hubungan yang terus mengganggu kesejahteraan hidup dapat berkembang menjadi stres berat, kecemasan, depresi, bahkan trauma psikologis.

Ia mengatakan:

"Jadi sebetulnya, kalau memang dia mengganggu pikiran kita, perasaan kita, dan tindakan kita, itu sudah dipastikan toksik."

Dalam kondisi yang berat, seseorang bahkan dapat kehilangan motivasi menjalani aktivitas sehari-hari, termasuk merawat diri dan menjalankan rutinitas spiritual.

Mengapa Banyak Orang Bertahan dalam Hubungan Toksik?

Salah satu penyebabnya adalah harapan bahwa keadaan akan berubah menjadi lebih baik. Banyak korban berharap pasangan atau pihak yang terlibat akan berubah pada hari berikutnya.

Menurut Raden Ajeng Oriza Sativa, kondisi tersebut belum tentu merupakan penyangkalan. Dalam banyak kasus, itu merupakan bentuk optimisme yang akhirnya membuat seseorang bertahan terlalu lama.

Masalah muncul ketika pola hubungan yang tidak sehat berlangsung terus-menerus. Lama-kelamaan kondisi tersebut menjadi kebiasaan yang dianggap normal.

Awalnya seseorang mungkin merasa ada yang salah. Namun setelah berulang kali terjadi, hubungan itu menjadi bagian dari rutinitas yang sulit dilepaskan.

Pertanyaan yang patut diajukan adalah: apakah ketidaknyamanan yang dirasakan sudah berlangsung terlalu lama hingga dianggap biasa?

Baca Juga: Health Mata Sehat Hadapi Laptop Seharian Tanpa Cepat Lelah

Benarkah Toxic Relationship Bisa Membuat Tubuh Mudah Sakit?

Ya. Hubungan antara kesehatan mental dan fisik sangat erat.

Raden Ajeng Oriza Sativa menjelaskan bahwa stres berkepanjangan dapat menurunkan sistem imun tubuh. Ketika daya tahan menurun, tubuh menjadi lebih rentan mengalami gangguan kesehatan.

Beberapa keluhan yang sering muncul antara lain:

Psikosomatis terjadi ketika beban psikologis mulai memengaruhi kondisi fisik. Seseorang mungkin mengalami gejala tubuh yang nyata meskipun hasil pemeriksaan medis tidak menunjukkan penyakit tertentu.

Menurut narasumber, kondisi mental yang terus tertekan dapat "melempar" bebannya ke tubuh sehingga muncul berbagai keluhan fisik.

Mengapa Ghosting Dinilai Sebagai Perilaku Toksik?

Psikolog menjelaskan ghosting dapat memicu kecemasan, insomnia, dan kebutuhan closure. (BTV/AI)
Psikolog menjelaskan ghosting dapat memicu kecemasan, insomnia, dan kebutuhan closure. (BTV/AI)

Ghosting menciptakan ketidakpastian yang sulit diterima oleh banyak orang. Bukan hanya kehilangan seseorang, tetapi juga kehilangan kepastian mengenai apa yang sebenarnya terjadi.

Ketidakjelasan tersebut dapat memunculkan berbagai emosi negatif seperti sedih, marah, frustrasi, hingga kecemasan.

Raden Ajeng Oriza Sativa menilai bahwa ketidakpastian sering kali terasa lebih menyiksa dibanding menerima kenyataan yang pahit sekalipun.

Dampaknya tidak berhenti pada perasaan. Dalam beberapa kasus, korban ghosting dapat mengalami insomnia, anxiety, dan gejala psikosomatis.

Pada sesi pertanyaan cepat, psikolog klinis tersebut juga menegaskan pentingnya closure dalam sebuah hubungan.

"Kebutuhan. Biar tenang dan itu juga adil buat mental kita sih. It's not about you, it's about me. Selamatkan dulu diri kita. Paling tidak kalau orang lain enggak bisa membantu diri kita, ya kita bantu diri kita sendiri."

Baca Juga: Cara Membangun Healthy Relationship dengan Komunikasi dan Kepercayaan

Bagaimana Cara Mencegah Terjebak dalam Toxic Relationship?

Pencegahan dimulai jauh sebelum hubungan berkembang terlalu jauh. Narasumber membagikan beberapa langkah yang dapat dilakukan.

1. Kenali karakter pasangan atau mitra hubungan

Memahami karakter, kebiasaan, dan cara seseorang berinteraksi menjadi langkah awal untuk menilai kecocokan.

2. Libatkan support system

Teman dan keluarga dapat menjadi sumber masukan yang objektif. Mereka juga dapat menjadi tempat berbagi ketika emosi mulai menumpuk.

3. Tingkatkan pengetahuan tentang hubungan sehat

Kemampuan membangun relasi tidak selalu muncul secara otomatis. Pengetahuan mengenai komunikasi, batasan pribadi, dan penyelesaian konflik tetap perlu dipelajari.

Ketiga langkah tersebut membantu seseorang mengenali tanda bahaya lebih cepat sebelum hubungan berkembang menjadi masalah yang lebih besar.

Kapan Harus Mencari Bantuan Profesional?

Bantuan profesional diperlukan ketika kondisi mental mulai mengganggu fungsi sehari-hari.

Beberapa tanda yang disebutkan oleh Raden Ajeng Oriza Sativa antara lain:

Dalam situasi tertentu, terutama jika terdapat kekerasan dalam rumah tangga atau dampak psikologis berat, bantuan psikolog maupun psikiater menjadi langkah yang disarankan.

Pada sesi cepat, ia juga memberikan pandangan tegas mengenai memutus akses dengan pihak yang menjadi sumber stres.

"Sehat. Itu saran dari saya ke banyak pasien: sehat, blok aja, cut off. It's okay, blok aja. Makin enggak karu-karuan mental kita kalau enggak kita blok. Sementara itu lebih baik begitu untuk mengurangi stresor."

Baca Juga: Langkah Awal Mengatasi Vertigo di Rumah agar Aktivitas Tetap Aman

Poin Penting:

Insight Redaksi: Hubungan yang tidak sehat sering dikenali saat dampaknya sudah terasa besar, padahal tanda-tandanya muncul jauh lebih awal. Dari sudut pandang masyarakat Balikpapan yang dikenal dekat dengan lingkungan sosial dan keluarga, peran support system menjadi faktor yang cukup penting. Menariknya, diskusi ini menunjukkan bahwa kesehatan mental dan fisik bukan dua hal yang berdiri sendiri. Saat pikiran tertekan terus-menerus, tubuh ikut memberikan sinyal. Jangan anggap sepele. Kadang masalah terbesar bukan konflik yang terlihat, tetapi kebiasaan menerima kondisi yang sebenarnya merugikan diri sendiri, nah itu sudah.

Kalau isi artikel ini dirasa bermanfaat, bagikan jua ke bubuhan ikam supaya makin banyak yang memahami tanda-tanda hubungan tidak sehat dan cara menghadapinya dengan tepat.

Masih banyak informasi kesehatan mental dan hubungan yang relevan dengan kehidupan sehari-hari. Ikuti terus perkembangan pembahasannya hanya di Balikpapan Tv teman update setia, bukan sekadar info biasa!

FAQ

1. Apa tanda utama toxic relationship menurut psikolog?
Hubungan yang mengganggu pikiran, perasaan, dan tindakan seseorang.

2. Apakah toxic relationship bisa menyebabkan sakit fisik?
Ya. Stres berkepanjangan dapat menurunkan daya tahan tubuh dan memicu keluhan fisik.

3. Mengapa ghosting berdampak besar pada mental?
Karena menciptakan ketidakpastian yang memicu kesedihan, frustrasi, dan kecemasan.

4. Kapan seseorang perlu berkonsultasi dengan psikolog?
Saat gangguan mental mulai memengaruhi tidur, makan, pekerjaan, dan aktivitas harian.

5. Apakah memblokir orang toksik termasuk tindakan sehat?
Menurut Raden Ajeng Oriza Sativa, langkah tersebut dapat membantu mengurangi sumber stres dalam kondisi tertentu.

my ride-or-die for updates
my ride-or-die for updates
Editor : Arya Kusuma
#Raden Ajeng Oriza Sativa #Toxic Relationship #Ghosting dan Kesehatan Mental