Info Lokal InfoScope Gaya Hidup Infotainment Iptek Bisnis & UMKM Religi

7 Cara Fermentasi Jerami Jadi Pupuk Organik, Limbah Sawah Disulap Jadi Nutrisi Tanaman Padi dan Sayuran

Kaila Mutiara Ramadhani • Kamis, 12 Maret 2026 | 19:22 WIB

Jerami sisa panen difermentasi menjadi pupuk organik yang membantu meningkatkan kesuburan tanah sawah dan kebun sayur.
Jerami sisa panen difermentasi menjadi pupuk organik yang membantu meningkatkan kesuburan tanah sawah dan kebun sayur.

Ikhtisar: Fermentasi jerami mengubah limbah pertanian menjadi pupuk organik bernutrisi untuk padi dan sayuran. Teknik ini membantu meningkatkan kesuburan tanah sekaligus mengurangi pembakaran jerami di lahan pertanian.

Balikpapan TV - Hai Cess! Jerami sisa panen sering menumpuk di area sawah Indonesia. Banyak petani memilih membakarnya supaya lahan cepat bersih. Padahal, kebiasaan itu memicu polusi udara dan menghilangkan potensi nutrisi penting bagi tanah. Jerami sebenarnya menyimpan unsur hara seperti nitrogen, fosfor, kalium, hingga mineral penting yang dibutuhkan tanaman.

Proses fermentasi menawarkan cara sederhana memanfaatkan limbah tersebut menjadi pupuk organik yang ramah lingkungan. Metode ini bukan sekadar teori, tetapi sudah dipakai dalam praktik pertanian untuk meningkatkan kualitas tanah dan mengurangi ketergantungan pada pupuk kimia.

Penasaran bagaimana jerami yang terlihat biasa saja bisa berubah jadi pupuk bernutrisi untuk padi dan sayuran? Ikuti terus penjelasannya sampai habis Cess!

Kenapa jerami hasil panen sering terbuang padahal punya nilai nutrisi tinggi?

Di banyak daerah pertanian Indonesia, jerami padi sering dianggap limbah. Setelah panen, jerami menumpuk dan dianggap mengganggu proses tanam berikutnya. Jalan tercepat biasanya dibakar.

Padahal, jerami mengandung berbagai unsur hara yang dibutuhkan tanaman. Data komposisi jerami menunjukkan kandungan nitrogen sekitar 0,5–0,8 persen, kalium oksida 1,2–1,7 persen, fosfor sekitar 0,07–0,12 persen, serta silika hingga 4–7 persen. Unsur ini berperan penting dalam pertumbuhan tanaman dan perbaikan struktur tanah.

Melalui fermentasi, jerami diurai mikroorganisme sehingga nutrisi tersebut menjadi lebih mudah diserap tanaman. Proses ini juga meningkatkan bahan organik tanah, membuat tanah lebih gembur, serta membantu menjaga kelembapan lahan.

Menurut Dr. Elaine Ingham, ahli mikrobiologi tanah dan pendiri Soil Food Web School, mikroorganisme dalam kompos organik berperan besar menjaga keseimbangan ekosistem tanah.

Tanah yang kaya mikroorganisme mampu menyediakan nutrisi alami bagi tanaman dan meningkatkan kesehatan tanah secara keseluruhan,” ujarnya dalam berbagai publikasi tentang biologi tanah.

Tumpukan jerami padi di sawah menunjukkan potensi limbah pertanian yang dapat diolah menjadi pupuk organik.
Tumpukan jerami padi di sawah menunjukkan potensi limbah pertanian yang dapat diolah menjadi pupuk organik.

Apa kesalahan umum saat mencoba membuat pupuk dari jerami?

Teknik fermentasi sebenarnya sederhana. Namun beberapa kesalahan sering membuat proses gagal atau kompos menghasilkan bau tidak sedap.

Kesalahan yang sering terjadi di lapangan antara lain penggunaan jerami yang terlalu basah, kurangnya sumber nitrogen, serta kelembapan tumpukan yang tidak terkontrol. Mikroorganisme membutuhkan kondisi tertentu supaya mampu menguraikan bahan organik secara optimal.

Jerami juga sering digunakan tanpa dicacah terlebih dahulu. Padahal, ukuran potongan yang kecil membantu mempercepat dekomposisi karena permukaan bahan yang lebih luas dapat diurai mikroba.

Kesalahan lain adalah menutup tumpukan terlalu rapat tanpa memperhatikan suhu. Jika suhu terlalu tinggi, mikroorganisme pengurai bisa mati sehingga proses fermentasi terhambat.

Petani menyiapkan jerami dan bahan aktivator mikroorganisme sebelum proses fermentasi pupuk organik.
Petani menyiapkan jerami dan bahan aktivator mikroorganisme sebelum proses fermentasi pupuk organik.

Bagaimana langkah fermentasi jerami supaya menjadi pupuk organik berkualitas?

1. Persiapan bahan jerami
Jerami kering dipilih sebagai bahan utama karena kadar airnya relatif stabil. Jerami kemudian dipotong kecil dengan ukuran sekitar 5–10 cm. Pemotongan ini mempercepat kerja mikroorganisme dalam mengurai bahan organik.

2. Menyiapkan aktivator mikroorganisme
Fermentasi memerlukan aktivator seperti EM4 atau mikroorganisme lokal. Aktivator ini membantu mempercepat penguraian jerami sehingga proses kompos berlangsung lebih efisien.

3. Menambahkan sumber nitrogen
Jerami membutuhkan tambahan nutrisi bagi mikroorganisme. Bahan yang sering digunakan antara lain kotoran ternak, dedak, atau sedikit pupuk urea sebagai sumber nitrogen.

4. Membuat larutan fermentasi
Larutan biasanya dibuat dari EM4, gula merah atau molase, dan air. Campuran ini menjadi starter yang akan disiramkan pada tumpukan jerami agar mikroba aktif bekerja.

5. Menyusun lapisan jerami
Jerami disusun berlapis dengan bahan tambahan seperti kotoran ternak. Setiap lapisan kemudian disiram larutan aktivator supaya semua bagian terfermentasi secara merata.

6. Menjaga kelembapan dan suhu
Kelembapan ideal sekitar 50–60 persen. Tumpukan biasanya ditutup terpal agar suhu stabil dan mikroorganisme bekerja optimal selama proses fermentasi.

Tumpukan kompos jerami yang difermentasi dengan penutup terpal menjaga kelembapan dan suhu.
Tumpukan kompos jerami yang difermentasi dengan penutup terpal menjaga kelembapan dan suhu.

Berapa ukuran, waktu, dan estimasi proses fermentasi jerami?

Fermentasi jerami tidak berlangsung instan. Waktu yang dibutuhkan bervariasi tergantung metode yang digunakan.

Proses pengomposan tradisional biasanya memerlukan sekitar 30 hingga 60 hari hingga kompos matang sempurna. Dalam metode tertentu yang menggunakan aktivator khusus, proses ini dapat dipercepat hingga sekitar 21 hari.

Tumpukan jerami umumnya disusun setinggi 1,5 hingga 3 meter supaya suhu fermentasi stabil. Selama proses berlangsung, tumpukan perlu dibalik setiap 7–10 hari untuk memastikan penguraian merata.

Ciri kompos yang matang antara lain warna coklat gelap, tekstur gembur, dan aroma seperti tanah hutan. Jika bau busuk muncul, biasanya kelembapan terlalu tinggi atau proses fermentasi kurang seimbang.

Apa risiko yang sering diabaikan saat membuat pupuk dari jerami?

Jerami terlalu basah sehingga memicu jamur
Tumpukan tidak dibalik sehingga bagian tengah membusuk
Aktivator mikroorganisme kurang sehingga fermentasi lambat
Tumpukan terlalu padat yang menghambat sirkulasi udara
Penyimpanan kompos tanpa pengeringan yang memicu bau

Bagaimana cara memaksimalkan hasil pupuk jerami di lahan pertanian?

1 Gunakan jerami yang sudah dicacah agar proses penguraian cepat
2 Tambahkan sumber nitrogen seperti kotoran ternak atau dedak
3 Jaga kelembapan tumpukan sekitar 50–60 persen
4 Lakukan pembalikan setiap 7–10 hari supaya fermentasi merata
5 Gunakan kompos yang sudah matang dengan ciri warna gelap dan tekstur gembur

Pendekatan ini membuat pupuk organik dari jerami mampu memperbaiki struktur tanah sekaligus meningkatkan ketersediaan nutrisi bagi tanaman.

Poin Penting yang Perlu Diingat

1 Jerami panen menyimpan unsur hara penting bagi tanaman
2 Fermentasi membantu mengubah limbah jerami menjadi pupuk organik
3 Aktivator mikroorganisme mempercepat proses penguraian
4 Kelembapan dan suhu tumpukan mempengaruhi keberhasilan fermentasi
5 Kompos matang berwarna gelap, gembur, dan beraroma tanah

Insight Pemanfaatan jerami melalui fermentasi membuka peluang pertanian yang lebih efisien. Limbah sawah berubah menjadi sumber nutrisi alami bagi tanah. Praktik ini juga membantu mengurangi pembakaran jerami yang sering memicu polusi udara. Bagi petani atau pehobi kebun rumahan, teknik ini pang menjadi langkah sederhana menuju pertanian ramah lingkungan. Nah, ikam pasti pahamlah, bahan yang sering dianggap sampah ternyata bisa jadi nutrisi penting bagi tanaman.

Bagikan artikel ini ke bubuhan ikam supaya semakin banyak yang memahami potensi jerami sebagai pupuk alami Cess!

Simak terus informasi menarik lainnya hanya di Balikpapan Tv teman update setia, 'Bukan Sekadar Info Biasa!'

FAQ

1 Apa manfaat fermentasi jerami bagi tanah pertanian?
Fermentasi membantu meningkatkan bahan organik tanah serta menyediakan unsur hara penting seperti nitrogen, fosfor, dan kalium bagi tanaman.

2 Berapa lama proses fermentasi jerami hingga menjadi pupuk?
Umumnya berlangsung sekitar 30–60 hari, tergantung metode dan aktivator yang digunakan.

3 Apa tanda kompos jerami sudah siap digunakan?
Kompos matang berwarna coklat gelap, teksturnya gembur, tidak berbau busuk, dan suhunya mendekati suhu lingkungan.

4 Apakah pupuk jerami bisa digunakan untuk tanaman selain padi?
Ya, kompos jerami dapat digunakan untuk berbagai tanaman seperti sayuran, cabai, terong, timun, hingga kacang panjang.

DISCLAIMER
Artikel ini menggunakan bantuan AI secara terbatas untuk menghasilkan tulisan bebas typo dan kalimat tidak efektif. Artikel ini telah melalui verifikasi dan validasi ketat oleh Manusia (Redaksi). Gambar dapat saja dihasilkan AI di artikel ini hanya sebagai ilustrasi pendukung yang membantu pembaca memahami konteks informasi bukan sebagai bukti realistis. Teknologi AI digunakan semata-mata sebagai alat bantu produktivitas dan efisiensi kerja redaksi — bukan sebagai pengganti peran jurnalis manusia.

Koneksi Informasi Terkini
Koneksi Informasi Terkini

 

Editor : Arya Kusuma
#Pertanian berkelanjutan #EM4 Mikroorganisme #Fermentasi Jerami #Dr Elaine Ingham #pupuk organik