Info Lokal InfoScope Gaya Hidup Infotainment Iptek Bisnis & UMKM Religi

6 Ide Taman Kota Modern: Konsep Sponge City Landscape yang Mengubah Cara Kota Mengelola Air Hujan

Arya Kusuma • Kamis, 12 Maret 2026 | 11:13 WIB

Taman kota dengan konsep Sponge City landscape yang dirancang menyerap air hujan dan menciptakan ruang hijau perkotaan modern.
Taman kota dengan konsep Sponge City landscape yang dirancang menyerap air hujan dan menciptakan ruang hijau perkotaan modern.

Ikhtisar: Konsep taman “Sponge City Landscape” menghadirkan cara baru mengelola air hujan di kawasan kota tropis. Lanskap dirancang menyerap, menyimpan, dan mengalirkan air secara alami sambil menciptakan ruang hijau yang sehat.

Balikpapan TV - Hai Cess! Curah hujan tinggi, genangan di jalan, drainase kota sering kewalahan. Fenomena ini bukan cuma cerita kota besar seperti Jakarta atau Surabaya. Banyak wilayah tropis Indonesia menghadapi pola hujan ekstrem akibat perubahan iklim dan urbanisasi cepat. Permukaan beton makin luas, tanah penyerap air makin tipis.

Di dunia arsitektur lanskap modern, muncul pendekatan yang cukup menarik: taman yang bekerja seperti spons. Konsep ini dikenal sebagai Sponge City Landscape. Bukan sekadar taman cantik buat foto-foto. Fungsinya jauh lebih serius, mengelola air hujan langsung dari lingkungan sekitar.

Nah, penasaran bagaimana taman bisa membantu kota menghadapi banjir dan panas perkotaan? Yuk lanjut baca sampai tuntan Cess!

Mengapa konsep “Sponge City” mulai dilirik banyak kota dunia?

Konsep Sponge City berkembang dari riset urban hydrology yang memadukan desain lanskap, teknik sipil, dan ekologi kota. Tujuannya sederhana: air hujan jangan langsung dibuang ke drainase. Air perlu ditahan, diserap, lalu dimanfaatkan kembali.

Di banyak kota Asia, strategi ini mulai diterapkan melalui taman kota, jalur hijau, bahkan halaman gedung. Tanah dirancang memiliki lapisan penyerap, tanaman dipilih yang tahan air, dan area tertentu dibuat cekungan alami.

Hasilnya menarik. Air hujan yang sebelumnya langsung mengalir ke jalan kini tertahan di ruang lanskap. Selain mengurangi risiko genangan, suhu lingkungan juga turun karena vegetasi menyerap panas.

Menurut Kongjian Yu, arsitek lanskap dan profesor di Peking University yang dikenal sebagai pelopor konsep Sponge City, desain kota modern harus kembali bekerja sama dengan proses alam.

“Kota perlu belajar menyerap air seperti spons. Dengan cara ini, banjir bisa dikurangi sekaligus memperbaiki kualitas lingkungan urban,” jelas Kongjian Yu dalam berbagai forum arsitektur lanskap internasional.

Pendekatan ini kemudian diadopsi banyak proyek taman perkotaan di Asia, Eropa, hingga Amerika.

Baca Juga: Rahasia Kebun Cabai Rimbun: 6 Teknik Cara Pangkas Ujung Batang yang Dipakai Petani Supaya Bunga dan Buah Muncul Banyak

6 model taman “spons kota” yang bisa diterapkan di kawasan tropis

Konsep Sponge City ternyata tidak selalu membutuhkan lahan luas. Beberapa bentuk desain bahkan bisa diterapkan di lingkungan perumahan atau ruang publik kecil.

1. Taman cekungan hujan
Rain garden atau taman cekungan hujan menjadi model paling populer. Area taman dibuat sedikit lebih rendah dari sekitarnya sehingga air hujan mengalir masuk dan terserap tanah. Tanaman yang dipilih biasanya memiliki akar kuat seperti rumput ornamental, pakis, atau tanaman rawa tropis.

Taman cekungan hujan
Taman cekungan hujan

2. Jalur pedestrian permeabel
Trotoar atau jalur taman dibuat menggunakan material berpori. Air hujan tidak langsung mengalir ke drainase, melainkan masuk ke tanah melalui celah permukaan.

Jalur pedestrian permeabel yang tersusun dari bebatuan koral dan memiliki rongga penyerapan air
Jalur pedestrian permeabel yang tersusun dari bebatuan koral dan memiliki rongga penyerapan air

3. Taman bioswale
Bioswale adalah saluran vegetasi panjang yang menampung air hujan dari jalan atau area parkir. Tanaman di dalamnya membantu menyaring kotoran sebelum air meresap ke tanah.

Taman bioswale menyerap curah hujan
Taman bioswale menyerap curah hujan

4. Kolam retensi estetis
Kolam air di taman kota sebenarnya bisa dirancang sebagai tempat penampungan sementara air hujan. Saat hujan deras, kolam menampung limpasan air.

Kolam retensi estetis mengatasi dampak banjir di perkotaan
Kolam retensi estetis mengatasi dampak banjir di perkotaan

5. Atap hijau
Beberapa gedung modern menggunakan taman di atap untuk menahan air hujan. Lapisan tanah dan tanaman memperlambat aliran air menuju sistem drainase.

Atap datar yang dimanfaatkan sebagai atap hijau di perkotaan
Atap datar yang dimanfaatkan sebagai atap hijau di perkotaan

6. Taman lapangan multifungsi
Lapangan terbuka dirancang lebih rendah sehingga saat hujan besar dapat menampung air sementara sebelum terserap tanah.

Di banyak kota Asia, model ini digabungkan dalam satu kawasan sehingga sistem pengelolaan air bekerja secara terpadu.

Taman lapangan multifungsi, dapat menjadi arena lapangan bermain di pusat perkotaan
Taman lapangan multifungsi, dapat menjadi arena lapangan bermain di pusat perkotaan

Apa kesalahan umum saat mencoba menerapkan konsep ini?

Beberapa proyek taman resapan sering gagal karena desain hanya fokus estetika. Sistem tanah, kedalaman lapisan penyerap, serta pilihan vegetasi sering terabaikan.

Di lapangan, taman terlihat hijau tetapi tanah di bawahnya padat dan tidak mampu menyerap air. Akibatnya fungsi utama sebagai penampung air hujan tidak berjalan maksimal.

Kesalahan lain adalah pemilihan tanaman. Banyak proyek memilih tanaman dekoratif tanpa mempertimbangkan ketahanan terhadap genangan.

Padahal di konsep Sponge City, tanaman harus mampu bertahan pada dua kondisi ekstrem: tanah basah saat hujan dan kondisi kering saat cuaca panas.

Berapa kisaran biaya dan ukuran ideal taman resapan kota?

Biaya pembangunan taman berbasis Sponge City bervariasi tergantung ukuran dan kompleksitas desain. Untuk skala taman lingkungan kecil sekitar 100–300 meter persegi, estimasi pembangunan bisa berada di kisaran Rp300 ribu hingga Rp900 ribu per meter persegi pada proyek lanskap perkotaan tahun 2026.

Anggaran tersebut biasanya mencakup pekerjaan tanah, sistem lapisan penyerap, instalasi saluran air, serta vegetasi khusus.

Secara teknis, lapisan tanah resapan biasanya memiliki kedalaman 50 hingga 120 cm. Lapisan ini terdiri dari campuran pasir, kompos, dan agregat batu kecil yang membantu air meresap secara bertahap.

Dalam perencanaan kota modern, sistem ini sering dikombinasikan dengan drainase kota sehingga beban saluran air konvensional bisa berkurang.

Taman diarea Publik dapat menjadi bagian pengendalian banjir
Taman diarea Publik dapat menjadi bagian pengendalian banjir

Hal yang sering terlewat saat merancang taman penyerap air

Tips kecil pang. Jika tanah di taman terasa keras setelah hujan, kemungkinan sistem resapan belum bekerja optimal.

Bagaimana konsep ini relevan untuk kota seperti Balikpapan?

Balikpapan memiliki curah hujan tinggi serta kawasan perbukitan yang membuat air cepat mengalir ke dataran rendah. Sistem taman resapan bisa menjadi bagian dari strategi pengelolaan air perkotaan.

Area taman kota, jalur hijau perumahan, bahkan halaman kantor bisa dirancang dengan pendekatan ini. Selain membantu pengendalian air hujan, kualitas udara dan kenyamanan ruang publik juga meningkat.

Nah, desain kota masa depan memang mulai berpikir seperti alam. Air tidak selalu dibuang, tapi disimpan dan dimanfaatkan.

Pahamlah ikam, kota modern bukan cuma gedung tinggi pang. Lanskap juga punya peran besar.

Poin Penting yang Perlu Diingat:

1. Konsep Sponge City membuat taman berfungsi menyerap dan mengelola air hujan
2. Desain lanskap memadukan vegetasi, tanah resapan, dan sistem drainase alami
3. Banyak kota dunia mulai menerapkan konsep ini untuk mengurangi genangan
4. Penerapan bisa dimulai dari taman kecil hingga kawasan kota
5. Perencanaan teknis tanah dan tanaman menjadi faktor penting keberhasilan

Insight: Konsep Sponge City menunjukkan perubahan cara berpikir dalam merancang kota. Air hujan yang dulu dianggap masalah kini diperlakukan sebagai sumber daya lingkungan. Di kawasan tropis seperti Indonesia, pendekatan ini terasa relevan. Bukan cuma soal estetika taman. Ini soal strategi kota menghadapi cuaca ekstrem. Jika taman kota dirancang dengan sistem resapan yang benar, dampaknya terasa hingga puluhan tahun. Nah, ikam pasti pahamlah, pembangunan kota itu bukan cuma cepat berdiri pang, tapi juga harus cerdas mengelola alam.

Bagikan artikel ini ke bubuhan ikam supaya makin banyak yang paham konsep taman penyerap air modern ini Cess!

Simak terus informasi menarik lainnya hanya di Balikpapan Tv teman update setia, “Bukan Sekadar Info Biasa!”

FAQ

1. Apa itu konsep Sponge City dalam desain taman kota?
Sponge City adalah pendekatan desain kota yang membuat lanskap mampu menyerap, menyimpan, dan mengelola air hujan secara alami.

2. Apakah konsep ini hanya cocok untuk kota besar?
Tidak. Lingkungan perumahan, taman komunitas, bahkan halaman gedung dapat menerapkan prinsip ini dalam skala kecil.

3. Apakah taman resapan membutuhkan lahan luas?
Tidak selalu. Rain garden kecil dengan luas puluhan meter persegi pun sudah dapat membantu penyerapan air hujan.

4. Apa manfaat tambahan selain mengurangi genangan?
Taman jenis ini juga membantu menurunkan suhu lingkungan, meningkatkan kualitas udara, serta menciptakan ruang hijau yang nyaman.

DISCLAIMER
Artikel ini menggunakan bantuan AI secara terbatas untuk menghasilkan tulisan bebas typo dan kalimat tidak efektif. Artikel ini telah melalui verifikasi dan validasi ketat oleh Manusia (Redaksi). Gambar dapat saja dihasilkan AI di artikel ini hanya sebagai ilustrasi pendukung yang membantu pembaca memahami konteks informasi bukan sebagai bukti realistis. Teknologi AI digunakan semata-mata sebagai alat bantu produktivitas dan efisiensi kerja redaksi — bukan sebagai pengganti peran jurnalis manusia.

Koneksi Informasi Terkini
Koneksi Informasi Terkini

Editor : Arya Kusuma
#Sponge City Landscape #Kongjian Yu #taman resapan kota #pengelolaan air hujan kota #desain lanskap perkotaan