Info Lokal InfoScope Gaya Hidup Infotainment Iptek Bisnis & UMKM Religi

Ramadhan Datang, Godaan Belanja Ikut Muncul! Ini Cara Mengendalikan Pengeluaran Tanpa Mengurangi Makna Puasa

Keyla Editha Febrina • Senin, 2 Maret 2026 | 12:45 WIB

Suasana bazar takjil Ramadhan yang ramai dengan masyarakat berburu makanan berbuka.
Suasana bazar takjil Ramadhan yang ramai dengan masyarakat berburu makanan berbuka.

Ikhtisar:Ramadhan sering memicu belanja impulsif mulai dari takjil hingga kebutuhan Lebaran. Pakar ekonomi IPB mengingatkan risiko finansialnya. Artikel ini membahas enam cara realistis mengendalikan pengeluaran selama bulan puasa.

Balikpapan TV - Hai Cess!Ramadhan sering identik dengan suasana hangat, berburu takjil, sampai persiapan Lebaran. Tapi di balik itu ada fenomena yang hampir selalu muncul setiap tahun: pengeluaran rumah tangga ikut naik.

Data dari Badan Pusat Statistik menunjukkan konsumsi masyarakat biasanya meningkat pada bulan Ramadhan hingga menjelang Idul Fitri. Kenaikan ini bukan hanya pada kebutuhan pokok, tapi juga pada belanja impulsif seperti makanan, pakaian, hingga dekorasi rumah.

Fenomena ini juga disoroti oleh akademisi dari Institut Pertanian Bogor yang mengingatkan bahwa godaan belanja saat Ramadhan sering terjadi karena faktor emosional dan budaya.

Nah, supaya dompet kada ikut “berpuasa terlalu lama” setelah Lebaran, simak sampai tuntan pembahasannya Cess!

Kenapa Ramadhan sering memicu belanja impulsif?

Ramadhan menghadirkan banyak stimulus konsumsi.

Mulai dari bazar takjil, promo marketplace, diskon pakaian Lebaran, hingga hampers. Situasi ini membuat keputusan belanja sering dipicu emosi, bukan kebutuhan.

Menurut Ujang Sumarwan, perilaku konsumsi masyarakat sering meningkat karena faktor psikologis dan sosial.

“Momentum Ramadhan sering membuat masyarakat terdorong membeli sesuatu yang sebenarnya tidak terlalu diperlukan,” jelasnya dalam berbagai kajian perilaku konsumen.

Contoh nyata di lapangan cukup sederhana. Saat berburu takjil menjelang berbuka, orang sering membeli banyak makanan karena lapar mata. Padahal ketika waktu berbuka tiba, sebagian makanan bahkan kada habis.

Fenomena kecil seperti ini terjadi hampir setiap hari selama Ramadhan.

Ilustrasi pembeli memilih berbagai takjil di pasar Ramadhan.
Ilustrasi pembeli memilih berbagai takjil di pasar Ramadhan.

Kesalahan apa yang sering membuat pengeluaran Ramadhan membengkak?

Ada beberapa kebiasaan yang sering luput diperhatikan.

Pertama, belanja tanpa perencanaan. Banyak orang datang ke pasar Ramadhan tanpa daftar kebutuhan.

Akhirnya semua terlihat menarik. Tangan ikut bergerak mengambil.

Kesalahan kedua adalah menganggap Ramadhan sebagai “bulan konsumsi bebas”.

Padahal dalam konsep ekonomi rumah tangga, Ramadhan justru sering dianjurkan sebagai periode pengendalian diri, termasuk dalam pengeluaran.

Rekomendasi praktis dari pakar ekonomi keluarga cukup jelas:

• Tetapkan batas anggaran sejak awal bulan
• Pisahkan kebutuhan harian dan kebutuhan Lebaran
• Kurangi belanja impulsif yang dipicu diskon

Nah, kedengarannya sederhana pang. Tapi jika diterapkan konsisten, pengeluaran bisa jauh lebih terkendali.

Keluarga membuat daftar anggaran belanja Ramadhan.
Keluarga membuat daftar anggaran belanja Ramadhan.

Bagaimana cara mengendalikan godaan belanja selama Ramadhan?

Berikut enam panduan praktis yang sering direkomendasikan pakar ekonomi keluarga.

1. Buat anggaran khusus Ramadhan sejak awal bulan
Langkah pertama adalah membuat anggaran realistis. Catat kebutuhan utama seperti bahan makanan, zakat, hingga persiapan Lebaran. Dengan anggaran jelas, setiap pengeluaran memiliki batas. Tanpa perencanaan seperti ini, belanja kecil sehari-hari sering terkumpul menjadi angka besar di akhir bulan.

2. Pisahkan rekening kebutuhan harian dan Lebaran
Metode ini sering digunakan dalam pengelolaan keuangan keluarga. Dana belanja harian dipisahkan dari dana khusus Lebaran. Dengan cara ini, pengeluaran harian kada mengganggu anggaran yang disiapkan untuk kebutuhan lain seperti pakaian atau mudik.

3. Hindari belanja saat lapar menjelang berbuka
Ini kebiasaan yang sering terjadi. Perut kosong membuat keputusan belanja menjadi impulsif. Banyak orang akhirnya membeli berbagai makanan sekaligus. Padahal kebutuhan berbuka sebenarnya cukup sederhana.

4. Prioritaskan kebutuhan dibanding tren Ramadhan
Setiap tahun muncul tren baru, mulai dari hampers, dekorasi rumah, hingga pakaian tematik Ramadhan. Memilih kebutuhan utama membantu menghindari pengeluaran yang sebenarnya kada terlalu penting.

5. Manfaatkan promo secara selektif
Diskon sering terlihat menggiurkan. Tapi promo hanya menguntungkan jika barang yang dibeli memang dibutuhkan. Jika kada, diskon justru menjadi alasan untuk belanja berlebihan.

6. Catat pengeluaran harian selama Ramadhan
Mencatat pengeluaran membantu melihat pola konsumsi. Dari sini bisa diketahui apakah pengeluaran harian masih dalam batas anggaran atau sudah melewati batas.

Nah, langkah kecil ini terlihat sederhana pang. Tapi dampaknya besar bagi stabilitas keuangan keluarga, pahamlah ikam.

Ilustrasi mencatat pengeluaran harian selama Ramadhan.
Ilustrasi mencatat pengeluaran harian selama Ramadhan.

Seberapa besar kenaikan konsumsi masyarakat saat Ramadhan?

Menurut laporan konsumsi rumah tangga dari Bank Indonesia, aktivitas belanja masyarakat biasanya meningkat signifikan selama Ramadhan hingga menjelang Idul Fitri.

 

Beberapa kategori pengeluaran yang paling meningkat antara lain:

Di banyak kota besar, pengeluaran keluarga selama Ramadhan bisa meningkat 20 hingga 40 persen dibanding bulan biasa.

Misalnya, jika pengeluaran bulanan keluarga biasanya sekitar Rp4 juta, selama Ramadhan dapat meningkat menjadi sekitar Rp5 juta hingga Rp5,6 juta.

Angka ini tentu berbeda pada setiap keluarga. Namun tren peningkatan konsumsi hampir selalu muncul setiap tahun.

Suasana belanja pakaian Lebaran di pusat perbelanjaan.
Suasana belanja pakaian Lebaran di pusat perbelanjaan.

Apa risiko finansial jika belanja Ramadhan tidak terkendali?

Risiko paling sering muncul adalah kekurangan dana setelah Lebaran.

Sebagian keluarga bahkan menggunakan kartu kredit atau pinjaman online untuk menutup pengeluaran Ramadhan.

Jika tidak dikelola dengan baik, kebiasaan ini dapat memicu tekanan finansial setelah hari raya.

Tips praktis agar kondisi ini kada terjadi:

1. Buat daftar belanja sebelum pergi ke pasar
2. Batasi pembelian makanan berbuka
3. Gunakan sistem anggaran mingguan
4. Evaluasi pengeluaran setiap akhir minggu

Langkah kecil ini sering dianggap sepele. Padahal dampaknya cukup besar bagi kondisi keuangan keluarga.

Bagaimana menjaga keseimbangan antara tradisi Ramadhan dan kondisi finansial?

Ramadhan sebenarnya mengajarkan pengendalian diri.

Termasuk dalam mengelola konsumsi.

Tradisi berbagi, makan bersama keluarga, atau memberi hampers sebenarnya bisa dilakukan dengan cara yang sederhana tanpa membebani kondisi finansial.

Pengelolaan pengeluaran yang bijak membantu menjaga stabilitas ekonomi rumah tangga hingga setelah Lebaran.

Nah, menikmati suasana Ramadhan kada selalu harus identik dengan belanja besar. Yang penting adalah makna kebersamaan di dalamnya.

Pahamlah ikam.

Baca Juga: Laptop Gaming Tipis Harga Puluhan Juta, Apa Saja yang Wajib Dicek Sebelum Beli?

Insight:Fenomena belanja Ramadhan sering dipicu emosi dan kebiasaan sosial. Banyak keluarga fokus pada tradisi konsumsi tanpa memperhitungkan dampak finansial setelah Lebaran. Padahal inti Ramadhan adalah pengendalian diri, termasuk dalam pengeluaran. Pengelolaan anggaran sederhana sering memberi dampak besar bagi stabilitas ekonomi rumah tangga. Nah, jika pengeluaran terencana sejak awal bulan, Ramadhan bisa dinikmati tanpa tekanan finansial di akhir bulan. Hal kecil ini sering dianggap sepele pang, pahamlah ikam.

Bagikan artikel ini ke bubuhan ikam supaya semakin banyak yang memahami cara mengendalikan pengeluaran selama Ramadhan Cess.

Simak terus informasi menarik lainnya hanya di Balikpapan Tv teman update setia, 'Bukan Sekadar Info Biasa!'

FAQ

Kenapa pengeluaran meningkat saat Ramadhan?
Karena meningkatnya konsumsi makanan, pakaian, serta pengaruh promo dan tradisi belanja menjelang Lebaran.

Apakah belanja Ramadhan harus selalu besar?
Tidak. Pengeluaran dapat disesuaikan dengan anggaran keluarga.

Bagaimana cara mengontrol belanja impulsif saat puasa?
Membuat daftar belanja, menetapkan anggaran, serta mencatat pengeluaran harian.

DISCLAIMER

Artikel ini menggunakan bantuan AI secara terbatas untuk menghasilkan tulisan bebas typo dan kalimat tidak efektif. Artikel ini telah melalui verifikasi dan validasi ketat oleh Manusia (Redaksi). Gambar dapat saja dihasilkan AI di artikel ini hanya sebagai ilustrasi pendukung yang membantu pembaca memahami konteks informasi bukan sebagai bukti realistis. Teknologi AI digunakan semata-mata sebagai alat bantu produktivitas dan efisiensi kerja redaksi — bukan sebagai pengganti peran jurnalis manusia.

Koneksi Informasi Terkini
Koneksi Informasi Terkini

Editor : Arya Kusuma
#ramadhan #ipb university #Belanja impulsif #Ujang Sumarwan #Keuangan keluarga