Info Lokal InfoScope Gaya Hidup Infotainment Iptek Bisnis & UMKM Religi

Gotong Royong Warga Desa Legai, Jalan Rusak Jadi Pesan Keras Soal Tanggung Jawab

Arya Kusuma • Senin, 2 Februari 2026 | 13:07 WIB

Aksi gotong royong warga Desa Legai menambal jalan rusak sebagai bentuk protes damai.
Aksi gotong royong warga Desa Legai menambal jalan rusak sebagai bentuk protes damai.

Ikhtisar: Warga Desa Legai gotong royong menambal jalan rusak sebagai bentuk protes damai, menuntut kejelasan tanggung jawab pemerintah dan perusahaan.

Balikpapan TV - Hai Cess! Puluhan warga Desa Legai, Kecamatan Batu Sopang, Kabupaten Paser, Kalimantan Timur, memilih bergerak bersama. Bukan rapat panjang, bukan baliho tuntutan. Mereka turun langsung ke jalan utama desa yang rusak parah, menambal lubang demi lubang dengan biaya swadaya. Aksi ini bukan sekadar kerja bakti rutin, melainkan sinyal keras soal minimnya perhatian pemerintah daerah dan perusahaan yang selama ini memanfaatkan akses tersebut.

Jalan sepanjang kurang lebih lima kilometer itu menjadi nadi aktivitas warga sekaligus lintasan kendaraan operasional perusahaan tambang batu bara. Kondisinya makin memburuk. Warga pun sepakat, gotong royong ini harus jadi pemantik perhatian. Tetap simak sampai akhir karena cerita di balik aspal berlubang ini menyimpan pesan penting soal keadilan akses dan tanggung jawab bersama, Cess!

Mengapa warga Desa Legai memilih gotong royong sebagai bentuk protes?

Aksi gotong royong dipilih karena paling membumi dan langsung terasa dampaknya. Warga Desa Legai menilai, menunggu janji tanpa kepastian hanya memperpanjang masalah. Jalan rusak sudah terlalu lama dibiarkan, sementara aktivitas harian terus berjalan di atas permukaan yang sama.

Tokoh muda Desa Legai, Suriyadi, menyampaikan bahwa gotong royong ini adalah upaya warga agar persoalan jalan rusak mendapat perhatian serius. “Ini salah satu upaya perbaikan jalan dari hasil sumbangan swadaya masyarakat supaya mendapatkan perhatian khusus terkait jalan kami,” ujarnya kepada Paser Pos, Minggu (1/2).

Bagi warga, aksi ini juga menjadi simbol kemandirian sekaligus pengingat. Jalan ini vital, dilalui setiap hari, dan tidak bisa terus dianggap sepele. Nah itu sudah, warga memilih bertindak nyata sambil tetap menyampaikan pesan, pahamlah ikam.

Warga bekerja bersama memperbaiki akses vital desa sebagai bentuk aksi protes atas tidak adanya perhatian perusahaan batubara
Warga bekerja bersama memperbaiki akses vital desa sebagai bentuk aksi protes atas tidak adanya perhatian perusahaan batubara

Baca Juga: Mengapa Garasi Mobil Menyatu Dengan Desain rumah Jadi Pilihan Rumah Modern Ukuran 8x12 ?

Seberapa vital jalan utama Desa Legai bagi aktivitas warga?

Jalan utama Desa Legai bukan sekadar penghubung antarrumah. Ruas ini menopang aktivitas ekonomi, sosial, hingga mobilitas harian warga. Setiap lubang berarti risiko. Setiap kerusakan menambah beban.

Di sisi lain, jalan ini juga kerap dilintasi kendaraan operasional perusahaan tambang batu bara. Desa Legai diketahui menjadi salah satu desa yang lokasinya paling dekat dan berhadapan langsung dengan area operasional PT Kideco Jaya Agung. Intensitas lalu lintas kendaraan berat membuat kondisi jalan semakin parah.

Warga menambal lubang dengan material batu yang dikumpulkan secara mandiri. Beberapa truk batu berasal murni dari sumbangan masyarakat. Kerja fisik ini jadi bukti bahwa jalan tersebut memang sangat dibutuhkan, bukan sekadar fasilitas pelengkap.

Apa yang dipertanyakan warga soal status dan tanggung jawab jalan?

Di balik aksi gotong royong, ada pertanyaan besar yang terus menggantung. Menurut Suriyadi, hingga kini belum ada kejelasan soal status jalan maupun pihak yang bertanggung jawab memperbaikinya. “Aksi ini dalam artian mempertanyakan kejelasan status jalan. Apakah jalan ini memang tidak ada sehingga tidak ditanggapi, tidak diperbaiki, atau memang tidak ada dalam peta?” katanya.

Warga hanya menginginkan kepastian. Apakah perbaikan jalan menjadi tanggung jawab pemerintah daerah atau kontribusi perusahaan yang beroperasi di sekitar desa. Ketidakjelasan ini membuat warga merasa terabaikan.

Suriyadi menegaskan, jika perbaikan bisa dilakukan melalui dana pemerintah atau perusahaan, silakan. Namun jika terus dibebankan ke warga, maka seharusnya tidak ada lagi kendaraan perusahaan yang melintas. Pesannya tegas, lugas, dan lahir dari kelelahan panjang.

Apa langkah warga jika aksi ini tetap tak direspons?

Gotong royong ini bukan titik akhir. Warga Desa Legai sudah menyiapkan langkah lanjutan bila tidak ada respons. Suriyadi menyampaikan rencana aksi demonstrasi ke pemerintah daerah. “Kita bisa demo menyampaikan pendapat, sekaligus silaturahmi agar mereka tahu bahwa Desa Legai ada orangnya dan ada jalan yang harus mereka perhatikan,” ujarnya.

Ketua RT 3 Desa Legai, Anwar, menambahkan bahwa kondisi jalan rusak telah berlangsung hampir 15 tahun tanpa perbaikan berarti. “Ini hasil swadaya masyarakat. Pemerintah pernah ke sini, tapi hanya janji akan memperbaiki. Sedangkan perusahaan tidak berani,” katanya.

Warga berharap, perhatian nyata segera datang. Jalan ini dibutuhkan masyarakat, bukan untuk kepentingan sesaat. Jika terus diabaikan, suara warga akan semakin lantang.

Insight: Aksi gotong royong warga Desa Legai menunjukkan kekuatan solidaritas lokal saat akses vital terabaikan. Dari jalan berlubang, lahir pesan jelas tentang tanggung jawab, keadilan, dan keberanian warga menyuarakan kebutuhan dasar. Cerita ini mengingatkan bahwa pembangunan bukan hanya soal proyek besar, tetapi juga keberpihakan pada akses sehari-hari yang menopang hidup banyak orang.

Bagikan artikel ini ke bubuhan ikam supaya makin banyak yang paham kondisi di Desa Legai dan pentingnya perhatian bersama, Cess!
Simak terus informasi menarik lainnya hanya di Balikpapan Tv teman update setia, 'Bukan Sekadar Info Biasa!'

Koneksi Informasi Terkini
Koneksi Informasi Terkini

Editor : Arya Kusuma
#Desa Legai #PT Kideco Jaya Agung #Batu Sopang #warga desa #jalan rusak