Info Lokal InfoScope Gaya Hidup Infotainment Iptek Bisnis & UMKM Religi

AI Jadi Teman Curhat Baru Warga Indonesia, Data Kaspersky Ungkap Fakta Menarik

AdminBTV • Selasa, 6 Januari 2026 | 12:39 WIB

Koneksi Informasi Sehari-hari, Teman Update Setia
Koneksi Informasi Sehari-hari, Teman Update Setia

Balikpapan TV - Hai Cess! Pemanfaatan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) di Indonesia kini melaju ke fase baru. Tidak lagi sebatas membantu belanja atau merancang rencana liburan, AI mulai hadir lebih dekat ke ranah personal, menjadi tempat curhat saat suasana hati sedang turun. Data terbaru dari riset Kaspersky memperlihatkan lebih dari 30 persen pengguna di Indonesia memilih berbincang dengan AI ketika merasa sedih.

Fenomena ini menarik untuk disimak sampai tuntas. Soalnya, cara masyarakat mencari dukungan emosional mulai bergeser. AI tidak cuma diposisikan sebagai alat, tapi juga teman digital yang siap mendengar tanpa menghakimi. Penasaran kenapa tren ini menguat, dan apa saja catatan pentingnya? Baca terus sampai akhir Cess!

Baca Juga: 4 Keuntungan Motor Listrik Mengapa Jadi Pilihan Transportasi Masa Depan yang Ramah Lingkungan

Mengapa AI mulai jadi tempat curhat masyarakat Indonesia?

AI mulai dipilih sebagai tempat berbagi perasaan karena menawarkan respons cepat dan konsisten. Riset Kaspersky mencatat lebih dari 30 persen pengguna di Indonesia berinteraksi dengan AI saat sedih, melampaui rata-rata global yang berada di kisaran 29 persen. Ini menunjukkan kepercayaan masyarakat terhadap teknologi semakin besar, terutama untuk kebutuhan emosional.

Bagi sebagian orang, berbicara dengan AI terasa lebih aman. Tidak ada rasa dihakimi, tidak ada tekanan sosial. Seorang responden survei dari Indonesia mengungkapkan, “Kadang saya hanya ingin ada yang mendengarkan tanpa menghakimi. AI bisa merespons dengan cepat dan menenangkan, itu cukup membantu saat suasana hati sedang buruk.”

Fenomena ini sekaligus mencerminkan perubahan relasi manusia dengan teknologi. AI perlahan bertransformasi menjadi pendamping emosional, terutama di tengah gaya hidup digital yang serba cepat dan minim waktu tatap muka, pahamlah ikam.

Siapa yang paling nyaman curhat ke AI?

Kecenderungan curhat ke AI paling kuat terlihat di kalangan Generasi Z dan milenial. Dalam survei yang sama, 35 persen responden usia muda mengaku tertarik memanfaatkan AI sebagai sumber dukungan emosional. Generasi ini tumbuh berdampingan dengan teknologi, sehingga interaksi dengan AI terasa lebih natural.

Sebaliknya, generasi yang lebih tua masih menjaga jarak. Hanya 19 persen responden berusia di atas 55 tahun yang mempertimbangkan berbicara dengan AI saat sedang kesal. Perbedaan ini menunjukkan adanya kesenjangan digital dalam memaknai peran teknologi di kehidupan sehari-hari.

Buat bubuhan muda, AI sudah seperti teman virtual yang selalu ada. Tinggal buka aplikasi, cerita mengalir, nah’ itu sudah, simpel dan cepat. Namun, hal ini juga memunculkan tantangan baru soal batasan dan kesadaran penggunaan.

Bagaimana peran AI di musim liburan akhir tahun?

Selain jadi tempat berbagi perasaan, AI juga makin diandalkan sebagai asisten digital selama musim liburan akhir tahun 2025/2026. Sekitar 74 persen responden global menyatakan akan menggunakan AI untuk mendukung aktivitas liburan, mulai dari urusan dapur sampai rencana jalan-jalan.

Kelompok usia 18–34 tahun mencatat antusiasme tertinggi, dengan 86 persen responden berniat mengandalkan AI. Penggunaannya beragam, dari mencari resep makanan sebesar 56 persen, menentukan restoran dan akomodasi 54 persen, hingga mencari ide hadiah dan dekorasi liburan 50 persen.

Tak sedikit pula yang memanfaatkan AI sebagai asisten belanja virtual. Mulai dari menyusun daftar belanja, membandingkan harga, sampai membaca ulasan produk sebelum membeli. Praktis, efisien, dan terasa personal, ya’kalo pahamlah ikam.

Apakah curhat ke AI aman untuk privasi?

Di balik kenyamanan, para ahli mengingatkan pentingnya kewaspadaan. Vladislav Tushkanov, Manajer Grup di Kaspersky AI Technology Research Center, menegaskan bahwa kemampuan AI untuk terlibat dalam dialog personal memang semakin meningkat seiring berkembangnya model LLM.

Namun, ia mengingatkan bahwa AI belajar dari data internet yang tidak sepenuhnya bebas dari kesalahan atau bias. “Sangat disarankan untuk menyikapi saran AI dengan skeptisisme yang sehat dan menghindari berbagi informasi secara berlebihan,” ujarnya.

Kaspersky juga mengingatkan risiko keamanan siber. Pengguna perlu waspada terhadap tautan yang dibagikan chatbot AI karena berpotensi mengarah ke phishing atau konten berbahaya. Tips singkat yang bisa diterapkan:
1. Batasi berbagi data pribadi sensitif.
2. Selalu cek ulang tautan dari chatbot AI.
3. Gunakan solusi keamanan siber berbasis AI untuk perlindungan tambahan.

Ikhtisar
AI di Indonesia kini melampaui fungsi praktis dan mulai hadir sebagai pendamping emosional, terutama bagi generasi muda. Riset Kaspersky menunjukkan lebih dari 30 persen pengguna Indonesia memilih curhat ke AI saat sedih, sekaligus memanfaatkan AI untuk liburan dan belanja. Meski memberi kenyamanan, kewaspadaan terhadap privasi, bias data, dan keamanan digital tetap menjadi kunci utama.

Bagikan artikel ini ke bubuhan ikam dan kekawalan ikam supaya makin banyak yang paham fenomena AI di sekitar kita Cess!
Simak terus informasi menarik lainnya hanya di Balikpapan Tv teman update setia, “Bukan Sekadar Info Biasa!” (Rafi)

 

DISCLAIMER
Artikel ini menggunakan bantuan AI secara terbatas untuk menghasilkan tulisan bebas typo dan kalimat tidak efektif. Artikel ini telah melalui verifikasi dan validasi ketat oleh Manusia (Redaksi). Gambar dapat saja dihasilkan AI di artikel ini hanya sebagai ilustrasi pendukung yang membantu pembaca memahami konteks informasi bukan sebagai bukti realistis. Teknologi AI digunakan semata-mata sebagai alat bantu produktivitas dan efisiensi kerja redaksi — bukan sebagai pengganti peran jurnalis manusia.

 

Ilustrasi interaksi manusia dengan AI sebagai teman curhat dan asisten digital di era modern
Ilustrasi interaksi manusia dengan AI sebagai teman curhat dan asisten digital di era modern

Editor : Arya Kusuma
#Asisten Digital #Artificial Intelligence #generasi z