Info Lokal InfoScope Gaya Hidup Infotainment Bisnis & UMKM Religi Iptek Mimbar Opini

Menjejak Gunung Beriun Tantangan Ekstrem di Hutan Tropis Kalimantan, Bagaimana Rasanya Menaklukkan Jalur Berat Gunung Beriun?

AdminBTV • Senin, 10 November 2025 | 14:22 WIB

Koneksi Informasi Sehari-hari, Teman Update Setia
Koneksi Informasi Sehari-hari, Teman Update Setia

Balikpapan TV – Hai Cess! Langsung ke inti perjalanan menuju Gunung Beriun di Kutai Timur ini bukan sekadar naik gunung — tapi petualangan penuh tantangan di tengah hutan hujan tropis yang masih alami. Dari lerengnya yang berkabut, suara satwa liar, hingga puncak yang menyajikan panorama karst menakjubkan, Gunung Beriun adalah mahakarya alam yang belum banyak dijamah manusia.

Terletak di Desa Karangan Dalam, Kecamatan Karangan, Kabupaten Kutai Timur, gunung ini menjulang setinggi sekitar 1.261 mdpl. Aksesnya memang tidak mudah, butuh sekitar delapan jam perjalanan darat dari Balikpapan menuju Sangatta, lalu dilanjutkan ke desa tersebut sebelum pendakian dimulai. Tapi justru di situlah daya tariknya — liar, sunyi, dan masih menyimpan misteri. Yuk lanjut baca, Cess, karena kisahnya bakal bikin kamu pengin segera menjejakkan kaki ke sana!

Apa yang Membuat Gunung Beriun Begitu Spesial?

Gunung Beriun bukan gunung biasa. Ia berdiri gagah di kawasan karst Sangkulirang–Mangkalihat, salah satu bentang alam paling unik di Kalimantan Timur. Menariknya, meski dikelilingi batuan karst, puncaknya masih berkontur tanah dengan vegetasi tropis yang lebat. Hutan di sekitarnya adalah rumah bagi berbagai flora endemik seperti anggrek hitam, lumut-lumut tebal di bebatuan lembap, dan pepohonan tinggi yang membentuk kanopi alami.

Kawasan seluas puluhan ribu hektare ini juga menjadi habitat satwa liar seperti burung enggang, lutung, dan berbagai serangga khas hutan Kalimantan. Jadi kalau kamu mendaki di sini, jangan kaget kalau tiba-tiba mendengar kicauan atau melihat bayangan hewan melintas di kejauhan. Serasa jadi tamu di rumah rimba yang megah.

Bagaimana Medan dan Jalur Pendakiannya?

Jalur ke Gunung Beriun bisa dibilang “keras tapi nagih.” Dari Desa Karangan Dalam, perjalanan akan menembus hutan basah tropis, menyusuri sungai, menyeberangi jembatan alami dari batang pohon, hingga menapaki tanah berlumpur. Jalur menanjak, turunan curam, batuan licin, dan akar pohon besar jadi teman seperjalanan.

Pendakian ke puncak bisa memakan waktu beberapa hari tergantung kondisi tim dan cuaca. Medan yang berat membuat gunung ini belum cocok untuk pendaki pemula. Tapi justru karena itu, setiap langkah di Gunung Beriun terasa lebih bermakna — seperti perjalanan spiritual untuk mengenal diri dan alam lebih dalam.

Baca Juga: Komitmen Perkuat Ekonomi Rakyat! BRI Salurkan BLTS Kesra Rp4,4 Triliun untuk 4,9 Juta Keluarga Penerima Manfaat

Apa Cerita di Balik Gunung Beriun?

Gunung Beriun menyimpan banyak cerita dari masyarakat sekitar. Bagi warga Karangan Dalam, gunung ini dianggap sebagai bagian sakral alam yang harus dihormati. Dulu, para tetua sering berpesan agar siapa pun yang mendaki harus menjaga ucapan dan tidak merusak apa pun di sana.

Selain punya nilai budaya, gunung ini juga pernah menjadi lokasi ekspedisi pecinta alam dari berbagai daerah yang ingin menelusuri kawasan karst tropis. Mereka menemukan bahwa puncak Beriun memiliki tanah gambut lembut di tengah hamparan batuan karst — fenomena langka yang memperkuat keunikan gunung ini. Dari atas sana, panorama lembah, sungai, dan hutan terbuka luas sejauh mata memandang. Beberapa pendaki bahkan menyebutnya sebagai “atap hijau Kutai Timur”.

Apa yang Perlu Dipersiapkan Sebelum Mendaki?

Pertama dan paling penting: siapkan fisik. Trek di Gunung Beriun menuntut ketahanan tubuh dan fokus yang tinggi. Mulailah latihan ringan seminggu sebelum berangkat — jalan cepat, naik tangga, atau jogging bisa membantu.

Bawa perlengkapan lengkap seperti sepatu gunung anti-licin, pakaian cepat kering, jas hujan, senter, serta perbekalan cukup. Karena jalurnya belum dikelola sebagai wisata massal, sebaiknya gunakan pemandu lokal yang mengenal rute dan karakter medan. Dan tentu saja, jangan lupa bawa kembali semua sampah. Prinsip “leave no trace” wajib hukumnya di sini.

Tips singkat: waktu terbaik mendaki adalah saat cuaca relatif kering. Hindari musim hujan, karena jalur bisa sangat licin dan sungai meluap.

Gunung Beriun adalah simbol petualangan sejati di Kalimantan Timur. Ia bukan gunung populer penuh spot selfie, tapi surga tersembunyi bagi mereka yang ingin menikmati alam tanpa polesan. Medan yang berat sebanding dengan keindahan yang ditawarkan: hutan tropis, karst megah, dan udara segar yang belum tercemar.

Kalau kamu mencari pengalaman mendaki yang lebih dari sekadar perjalanan fisik — tapi juga perjalanan batin — Gunung Beriun bisa jadi jawabannya. Yuk, bagikan artikel ini ke teman-temanmu biar makin banyak yang tahu tentang keindahan alam Kutai Timur!

Simak terus informasi menarik lainnya hanya di Balikpapan TV, teman update setia, “Bukan Sekadar Info Biasa!” (yoga)

 

FAQ

1. Apakah Gunung Beriun cocok untuk pemula?
Tidak disarankan. Jalurnya panjang dan menantang, lebih cocok untuk pendaki berpengalaman yang siap secara fisik dan mental.

2. Kapan waktu terbaik mendaki Gunung Beriun?
Musim kemarau adalah waktu ideal, antara Juni hingga September. Saat itu jalur relatif kering dan lebih aman.

3. Apakah di Gunung Beriun ada sinyal?
Menariknya, beberapa pendaki melaporkan adanya sinyal 4G di puncak pada waktu tertentu, tapi jangan terlalu bergantung — anggap saja bonus kalau sinyal muncul!

DISKLAIMER

Artikel ini menggunakan bantuan AI secara terbatas dalam menganalisa struktur artikel untuk menghasilkan tulisan bebas typo dan kalimat tidak efektif, menghindari pengulangan kata dan paralelisme yang tidak tepat berdasarkan pedoman umum ejaan bahasa Indonesia (PUEBI). Artikel ini telah melalui verifikasi dan validasi ketat oleh Manusia (Redaksi). Teknologi AI digunakan semata-mata sebagai alat bantu produktivitas dan efisiensi kerja redaksi — bukan sebagai pengganti peran jurnalis manusia.

Editor : Arya Kusuma
#Pendakian Kutai Timur #Gunung Beriun #Petualangan Hutan Tropis