Info Lokal InfoScope Gaya Hidup Infotainment Bisnis & UMKM Religi Iptek

Forest City Kota Futuristik Saat Mimpi Modernisasi Malaysia Berubah Jadi Kota Kosong

AdminBTV • Senin, 27 Oktober 2025 | 21:42 WIB

Koneksi Informasi Sehari-hari, Teman Update Setia
Koneksi Informasi Sehari-hari, Teman Update Setia

Balikpapan TV – Hai Cess! Bayangin ada kota futuristik senilai $100 miliar yang dibangun megah di Malaysia, tapi nyaris tanpa penghuni! Yup, ini kisah nyata tentang Forest City, proyek ambisius yang kini dijuluki sebagai “kota hantu termahal di dunia”. Tim dari kanal YouTube Yes Theory terbang langsung ke lokasi buat menjawab satu pertanyaan besar: kenapa nggak ada yang mau tinggal di sini?

Mereka datang bukan cuma buat jalan-jalan, tapi buat mengulik bagaimana mimpi besar bisa berakhir jadi realita kosong yang sunyi—dan ternyata, kisahnya penuh kejutan. Yuk lanjut baca sampai habis, karena bagian akhirnya bisa bikin kamu mikir dua kali soal arti “kemajuan.”

Apa Sebenarnya Forest City Itu?

Forest City dibangun megah di Johor, Malaysia, tepat di seberang Singapura—sebuah proyek senilai $100 miliar yang dirancang buat menampung sejuta orang. Kota ini awalnya digadang-gadang jadi “Dubai-nya Asia Tenggara.” Tapi, alih-alih ramai, kota ini kini sepi dan hampir tak berpenghuni.

Dari udara, pemandangannya memukau: gedung pencakar langit, taman tertata rapi, dan vila mewah berjejer rapi. Tapi saat tim Yes Theory turun ke lapangan, semua berubah—jendela gedung gelap, jalanan lengang, dan hanya terdengar suara angin. Ironis, kota seindah ini justru terasa mati.

Kenapa Kota Ini Bisa Sepi Padahal Sudah Jadi?

Kisahnya berawal dari ambisi besar pengembang asal Tiongkok, Country Garden, yang mencoba menjual properti luar negeri untuk pasar menengah China. Tapi masalah muncul ketika pemerintah China membatasi investasi asing dan memperketat aturan kredit.

Pandemi COVID-19 makin memperparah keadaan. Akibatnya, proyek ini terhenti di tengah jalan. Dari empat pulau yang direncanakan, baru satu yang setengah jadi—itu pun cuma dihuni sekitar 9.000 orang dari target sejuta. Sisanya? Kosong melompong.

Baca Juga: DPRD Siapkan Balikpapan Barat Jadi Ikon Wisata Kuliner Bernuansa Nusantara

Bagaimana Rasanya Menjelajah Kota Hantu 100 Miliar Dolar Ini?

Tim Yes Theory menggambarkan pengalaman mereka seperti masuk ke dunia lain. Bangunan menjulang tinggi tapi tak berpenghuni. Bahkan ada cerita dari warga lokal tentang suara aneh di malam hari—seperti perabotan digeser dari lantai atas yang kosong.

“Setiap malam terdengar suara kursi atau meja dipindahkan. Tapi tidak ada siapa-siapa di sana,” kata seorang sopir lokal dalam video. Suasana mencekam makin terasa karena banyak penjaga keamanan yang melarang pengambilan gambar. Kota ini seperti hidup, tapi tanpa manusia di dalamnya.

Pemandangan udara Forest City Malaysia — kota futuristik 0 miliar yang berubah jadi kota hantu, memadukan keindahan dan kesunyian visual.
Pemandangan udara Forest City Malaysia — kota futuristik 0 miliar yang berubah jadi kota hantu, memadukan keindahan dan kesunyian visual.

Apakah Masih Ada Harapan untuk Forest City?

Ternyata ada secercah cahaya, Cess. Tim Yes Theory bertemu Alan, pensiunan asal Singapura yang justru betah tinggal di sana. “Tempat ini surreal, tenang sekali. Cocok buat orang seperti saya,” ujarnya. Alan percaya, lambat laun kota ini akan kembali hidup.

Yang menarik, mereka juga menemukan “Network School”, komunitas eksperimental berisi sekitar 100 orang yang tinggal di sana setahun penuh. Mereka ingin membangun “masyarakat baru” berbasis konsep network state—sebuah ide tentang komunitas global yang bisa mandiri secara sosial dan ekonomi.

Menurut pendirinya, lokasi Forest City strategis karena visa Malaysia mudah diakses dan infrastrukturnya sudah siap. Visi gila ini bisa jadi babak baru bagi kota yang nyaris dilupakan dunia.

Apa yang Bisa Kita Pelajari dari Forest City?

Kisah Forest City jadi pengingat bahwa kemajuan tanpa arah sosial bisa kehilangan makna. Pembangunan fisik megah tak menjamin kehidupan nyata akan tumbuh di dalamnya. Tapi di sisi lain, manusia punya kemampuan luar biasa untuk beradaptasi dan memberi “napas baru” pada tempat yang sepi.

Tips singkat buat kamu yang suka investasi properti: jangan cuma lihat fasilitas megah, tapi juga potensi hidup di sekitarnya—akses publik, komunitas aktif, dan arah pertumbuhan ekonomi lokal. Karena kota tanpa jiwa, seindah apa pun, tetap terasa kosong.

Yes Theory menunjukkan bahwa Forest City bukan sekadar kisah kegagalan megaproyek, tapi juga tentang harapan baru lewat komunitas kecil yang berani mencoba sesuatu yang beda. Di balik sunyi beton dan kaca, masih ada peluang lahirnya masa depan baru.

Jadi, gimana menurut kamu, Cess—apakah kota seperti ini masih bisa diselamatkan?
Simak terus informasi menarik lainnya hanya di Balikpapan TV teman update setia, “Bukan Sekadar Info Biasa!” (yoga)

 

FAQ

1. Apakah Forest City masih bisa dihuni saat ini?
Ya, secara infrastruktur Forest City lengkap dan terawat, namun hanya sebagian kecil area yang berpenghuni aktif.

2. Siapa pengembang utama Forest City?
Proyek ini dikembangkan oleh Country Garden, salah satu pengembang properti terbesar di China.

3. Apa itu Network School yang ada di Forest City?
Network School adalah komunitas eksperimental berbasis konsep network state yang mencoba hidup mandiri di kawasan itu.

DISKLAIMER

Artikel ini menggunakan bantuan AI secara terbatas dalam menganalisa struktur artikel untuk menghasilkan tulisan bebas typo dan kalimat tidak efektif, menghindari pengulangan kata dan paralelisme yang tidak tepat berdasarkan pedoman umum ejaan bahasa Indonesia (PUEBI). Artikel ini telah melalui verifikasi dan validasi ketat oleh Manusia (Redaksi). Teknologi AI digunakan semata-mata sebagai alat bantu produktivitas dan efisiensi kerja redaksi — bukan sebagai pengganti peran jurnalis manusia.

Photo
Photo

Editor : Arya Kusuma
#Kota Hantu Modern #Forest City Malaysia #Yes Theory Ghost City