Balikpapan TV - Hai Cess! Perjalanan ke Suriah di tahun 2025 mungkin terdengar mustahil. Tapi, itulah yang dilakukan vlogger internasional Drew Binsky, yang nekat masuk ke negeri pascaperang itu hanya beberapa minggu setelah rezim Bashar al-Assad tumbang.
Kunjungan ini bukan sekadar konten perjalanan. Ini adalah dokumentasi sejarah baru: wajah Suriah yang tengah berusaha berdiri di antara puing-puing perang, di bawah pemerintahan baru Abu Muhammad al-Joulani. Siapa sangka, di balik reruntuhan, ada secercah harapan baru yang menyala. Yuk lanjut baca, Cess — ceritanya luar biasa!
Apa yang Sebenarnya Terjadi Setelah Kejatuhan Assad?
Drew tiba di Suriah dari Lebanon dengan suasana yang belum stabil. Tak ada cap paspor resmi, hanya secarik kertas tanda masuk. Pos militer yang dulu dijaga ketat kini kosong dan porak-poranda. Pemerintah baru pimpinan Abu Muhammad al-Joulani (HTS) mulai mengambil alih, mencoba memulihkan ketertiban.
“Orang-orang menyambutku dengan senyum,” kata Drew. “Mereka ingin dunia tahu kebenaran setelah bertahun-tahun dibungkam.” Warga Damaskus yang dulu hidup dalam ketakutan kini bisa berjalan di jalanan yang sama tanpa rasa cemas — meski bekas luka perang masih jelas terlihat di setiap dinding bangunan.
Bagaimana Kondisi Nyata Bekas Penjara dan Kota yang Hancur?
Salah satu momen paling mengguncang adalah ketika Drew mengunjungi Penjara Saydnaya, simbol teror pemerintahan lama. Ruang sempit berukuran kecil itu pernah menampung lebih dari seratus tahanan politik dalam kondisi yang tak manusiawi. Saat rezim runtuh, penjaga melarikan diri, dan warga lokal membebaskan para tahanan.
Tak jauh dari sana, Drew menuju Jobar, distrik yang hancur total akibat pertempuran sengit. Di bawah reruntuhan, ia berjalan melewati terowongan bawah tanah yang dulu digunakan oposisi untuk bertahan dari gempuran udara. Gambar-gambarnya bukan sekadar pemandangan kelam, tapi pengingat bahwa setiap tembok punya kisah perjuangan.
Apa yang Terjadi dengan Gedung Pemerintahan dan Sekutu Lama?
Perjalanan Drew makin menegangkan ketika ia menyelinap masuk ke Kedutaan Iran yang ditinggalkan di Damaskus. Di dalamnya, masih ada bendera Iran, foto pemimpin, dan bahkan ruangan rahasia tersembunyi di balik rak buku. Sementara itu, gedung Departemen Imigrasi terlihat hangus terbakar — diduga dibakar oleh rezim lama untuk menghapus jejak kejahatan dan data sensitif.
Di tengah reruntuhan, Drew menemukan berkas-berkas berserakan, termasuk daftar nama orang yang pernah dilarang masuk Suriah — salah satunya adalah dirinya sendiri. Ironis, tapi juga simbol bahwa sejarah sedang menulis ulang dirinya.
Apakah Ada Harapan Baru untuk Rakyat Suriah?
Meski Suriah masih jauh dari kata stabil, Drew menemukan semangat baru di antara warga. “Sekarang kami bisa tidur tanpa takut tentara datang tengah malam,” ujar seorang penduduk Damaskus yang diwawancarainya. Harga barang mulai turun, dan wajib militer dihapuskan.
Drew juga mengunjungi komunitas Turkmen nomaden di dekat Hama. Mereka bercerita bagaimana selama pemerintahan lama mereka tidak punya hak sipil. Kini, mereka berharap pemerintah baru akan memberi ruang bagi semua etnis. Opini umum pun mengalir deras: “Apa pun lebih baik daripada Assad.”
Bagaimana Kondisi Terbaru Palmyra dan Warisan Sejarahnya?
Di penghujung perjalanan, Drew menuju Palmyra, situs Romawi kuno yang pernah jadi simbol kejayaan Timur Tengah. Kuil Bel dan amfiteater megahnya rusak berat setelah dikuasai ISIS. Tak jauh dari sana, pangkalan Rusia kini kosong dan sepi, meninggalkan peralatan berat berkarat di tengah pasir.
Ia sempat hampir menyeberangi jembatan rapuh menuju Kastil Ma’ani abad ke-13, tapi urung karena risikonya tinggi. Perjalanan ditutup dengan pemandangan bus terbakar di pinggir jalan — metafora kuat tentang masa lalu Suriah yang kelam, dan masa depan yang masih membara dengan harapan.
Refleksi & Tips Singkat Buat Traveler
Perjalanan Drew ke Suriah bukan ajakan untuk nekat, tapi pengingat bahwa setiap destinasi punya cerita yang lebih dari sekadar pemandangan.
Tips singkat:
-
Selalu periksa kondisi politik dan izin keamanan sebelum ke wilayah konflik.
-
Gunakan pemandu lokal yang paham situasi terkini.
-
Hormati sensitivitas warga setempat — mereka bukan objek, tapi saksi hidup sejarah.
Suriah kini berada di persimpangan antara harapan dan ketidakpastian. Namun, di tengah reruntuhan, ada manusia-manusia yang tetap tersenyum dan memilih untuk memulai lagi. Seperti kata Drew, “Negara ini hancur, tapi semangat orang-orangnya justru luar biasa.”
Jadi, jangan cuma lihat berita dari jauh — pahami bahwa setiap konflik punya wajah manusia di baliknya.
Simak terus informasi menarik lainnya hanya di Balikpapan TV teman update setia, “Bukan Sekadar Info Biasa!” (yoga)
FAQ
1. Apakah Suriah sudah aman untuk dikunjungi turis pada 2025?
Belum sepenuhnya. Beberapa wilayah masih rawan dan memerlukan izin khusus. Wisatawan disarankan tidak bepergian tanpa panduan lokal resmi.
2. Siapa Abu Muhammad al-Joulani yang kini memimpin pemerintahan baru Suriah?
Ia adalah tokoh dari kelompok Hay’at Tahrir al-Sham (HTS), yang kini mengambil alih kekuasaan setelah kejatuhan Assad.
3. Apakah reruntuhan Palmyra masih bisa dikunjungi wisatawan?
Sebagian area masih terbatas dan diawasi ketat. Namun, situs bersejarah itu perlahan mulai dibuka untuk kunjungan penelitian dan dokumentasi budaya.
DISKLAIMER
Artikel ini menggunakan bantuan AI secara terbatas dalam menganalisa struktur artikel untuk menghasilkan tulisan bebas typo dan kalimat tidak efektif, menghindari pengulangan kata dan paralelisme yang tidak tepat berdasarkan pedoman umum ejaan bahasa Indonesia (PUEBI). Artikel ini telah melalui verifikasi dan validasi ketat oleh Manusia (Redaksi). Teknologi AI digunakan semata-mata sebagai alat bantu produktivitas dan efisiensi kerja redaksi — bukan sebagai pengganti peran jurnalis manusia.