Info Lokal InfoScope Gaya Hidup Infotainment Iptek Bisnis & UMKM Religi

Satu Hari Tanpa Gadget Saat Offline Jadi Gaya Hidup Baru Mindful Living Digital Sabbath dan Kembali ke Kehidupan Nyata

AdminBTV • Minggu, 19 Oktober 2025 | 08:09 WIB

Seorang wanita menutup laptop dan menatap langit sore—simbol digital sabbath dan kebebasan dari layar.
Seorang wanita menutup laptop dan menatap langit sore—simbol digital sabbath dan kebebasan dari layar.

Balikpapan TV – Hai Cess! Semakin banyak orang Indonesia mulai mencoba digital sabbath — satu hari tanpa layar, notifikasi, dan godaan scroll tak berujung. Dari pekerja kantoran sampai kreator digital, gerakan ini tumbuh sebagai cara baru untuk “napas” di tengah dunia yang serba daring.

Buat sebagian orang, offline sehari terasa seperti melepaskan napas panjang setelah lari maraton. Tak mudah memang, tapi mereka bilang, justru di situ letak kedamaiannya. Yuk, simak lebih dalam kenapa “puasa layar” ini jadi gaya hidup baru yang mulai menular di mana-mana.

Apa Itu Digital Sabbath dan Kenapa Jadi Tren?

Digital sabbath berasal dari konsep “sabbath” — hari istirahat dalam tradisi spiritual. Kini, istilah itu berevolusi jadi screen break modern: satu hari dalam seminggu tanpa ponsel, media sosial, dan email kerja.
Gerakan ini muncul dari komunitas mindfulness, lalu menyebar ke kalangan pekerja kreatif dan urban. Tujuannya sederhana tapi dalam: memberi jeda dari banjir informasi dan tekanan digital yang tak berhenti.

Menurut Tirta Agastya, praktisi mindfulness, “Puasa layar memperbaiki hubungan kita dengan waktu dan diri sendiri.” Saat tak sibuk menatap layar, kita mulai sadar hal-hal kecil: suara burung, aroma kopi pagi, atau sekadar hembusan angin.

Siapa yang Mulai Mengadopsi Puasa Layar Ini?

Bukan cuma kalangan spiritual atau pegiat meditasi, para desainer, penulis, dan freelancer juga mulai rutin melakukan digital sabbath. Mereka memilih satu hari—biasanya Minggu—untuk benar-benar disconnect.
Banyak di antara mereka mengaku, kreativitas justru muncul setelah masa offline. Tanpa distraksi digital, ide datang lebih jernih dan natural.

Fenomena ini juga makin populer di kota-kota besar seperti Jakarta, Yogyakarta, hingga Balikpapan. Komunitas kecil bermunculan, saling mendukung agar tetap konsisten unplugged day. Beberapa kafe bahkan memasang tanda “no Wi-Fi, talk to each other” sebagai simbol dukungan pada gerakan ini.

Apa Manfaat Digital Sabbath untuk Pikiran dan Jiwa?

Puasa layar memberi ruang bagi otak untuk pulih dari digital fatigue. Setiap kali kita berhenti scroll, otak berhenti memproses ribuan rangsangan visual yang datang tiap detik.
Efeknya? Tidur lebih nyenyak, konsentrasi meningkat, dan mood membaik. Banyak orang mengaku merasa lebih “utuh” dan sadar kehadiran setelah beberapa minggu rutin melakukannya.

Tirta Agastya menambahkan, “Kita terbiasa bereaksi terhadap notifikasi, bukan merespons hidup.” Melalui digital sabbath, kita belajar mengambil kembali kendali atas waktu dan perhatian. Ini bukan pelarian, tapi latihan kehadiran.

Bagaimana Cara Memulai Digital Sabbath Secara Praktis?

Mulailah dari langkah kecil. Pilih satu hari tanpa notifikasi, lalu matikan ponsel sejak malam sebelumnya. Beri tahu teman atau rekan kerja agar mereka tahu kamu sedang “off”.
Gunakan waktu itu untuk kegiatan sederhana: membaca buku, berkebun, menulis jurnal, atau jalan santai tanpa musik. Intinya, kembalikan fokus ke dunia nyata.

Kalau terasa sulit, buat ritual pengganti: menyiapkan teh pagi tanpa distraksi, menulis rasa syukur di catatan kecil, atau sekadar menatap langit sore. Lama-lama tubuh dan pikiran akan terbiasa menikmati sunyi.

Baca Juga: Samboja Punya Surga Baru: Keindahan Pantai Tebing Runtuh yang Belum Banyak Tersentuh, Destinasi Alternatif di Kutai Kartanegara

Kenapa Digital Detox Jadi Kebutuhan Zaman?

Di era serba cepat, waktu tanpa layar terasa seperti kemewahan. Padahal, justru inilah bentuk “spiritualitas baru” — menyadari diri tanpa filter digital.


Manusia modern sering merasa produktif, padahal sibuk secara digital. Dengan digital sabbath, banyak yang menemukan kembali esensi: istirahat bukan kelemahan, melainkan cara bertahan di dunia yang terlalu bising.

Gerakan ini mengajarkan bahwa kebahagiaan tidak selalu datang dari koneksi internet, tapi dari koneksi batin dengan diri sendiri. Dalam hening, kita belajar mendengar — bukan hanya mendengar orang lain, tapi juga suara hati.

Tips Singkat Menjalani Digital Sabbath

  1. Atur waktu pasti. Misalnya, Minggu pukul 07.00–19.00 tanpa layar.

  2. Gunakan alarm fisik. Supaya tak tergoda buka ponsel.

  3. Siapkan aktivitas analog. Buku, catatan, atau aktivitas fisik ringan.

  4. Berbagi pengalaman. Ceritakan ke teman agar saling mendukung.

  5. Nikmati prosesnya. Awalnya canggung, lama-lama jadi kebutuhan.


Gerakan digital sabbath bukan sekadar tren, tapi bentuk perlawanan halus terhadap kelelahan digital. Semakin banyak orang memilih jeda dari layar untuk kembali ke hal-hal sederhana — napas, waktu, dan ketenangan batin.

Kalau kamu merasa dunia terasa terlalu bising, mungkin sudah saatnya coba satu hari tanpa layar. Siapa tahu, ketenangan yang kamu cari justru ada di luar notifikasi.

Simak terus informasi menarik lainnya hanya di Balikpapan TV teman update setia, “Bukan Sekadar Info Biasa!” (attila yoga)

 

FAQ

1. Apakah digital sabbath harus seharian penuh?
Tidak harus. Bisa dimulai dari beberapa jam, lalu perlahan diperpanjang sesuai kenyamanan.

2. Bagaimana kalau pekerjaan menuntut online terus?
Gunakan digital sabbath di waktu pribadi. Fokus pada keseimbangan, bukan ekstrem.

3. Apakah digital sabbath cocok untuk anak muda?
Sangat cocok. Justru generasi muda paling diuntungkan karena bisa melatih fokus dan kesehatan mental sejak dini.

Koneksi Informasi Sehari-hari, Teman Update Setia
Koneksi Informasi Sehari-hari, Teman Update Setia

Editor : Arya Kusuma
#puasa layar #keseimbangan hidup #digital sabbath