Info Lokal InfoScope Gaya Hidup Infotainment Bisnis & UMKM Religi Iptek

Perempuan Cuma Jadi Pendamping? Ibu Natasha Synne Buktikan Bisa Pimpin Bisnis Dimulai dari Nol Sampai Mendunia! Simak Kisah Inspiratifnya Cess!

Arya Kusuma • Rabu, 23 April 2025 | 22:46 WIB

 

Ibu Natasha Synne,  Kisah penuh inspirasi
Ibu Natasha Synne, Kisah penuh inspirasi

Balikpapantv.id – Hai Cess! Pernah nggak sih kamu dengar kisah perempuan yang nggak cuma jadi pendamping suami, tapi juga jadi motor penggerak perubahan?

Nah Cess! Ada nih sosok inspiratif yang bukan cuma cantik dan cerdas, tapi juga punya segudang ide dan semangat buat majuin perempuan Indonesia. Penasaran siapa? Yuk, kenalan lebih dekat!

Dalam rangka memperingati Hari Kartini tahun 2025, Balikpapan Televisi dan Samarinda Televisi mempersembahkan sebuah program spesial bertajuk "21 Hari Inspirasi Kartini".

Program ini bertujuan untuk mendorong perubahan nyata melalui hadirnya sosok-sosok Kartini masa kini di berbagai penjuru Nusantara, dengan fokus pada peran penting perempuan dalam membangun peradaban dari berbagai aspek kehidupan.

Pada episode kali ini, pemirsa Balikpapan Televisi dan Samarinda Televisi disuguhkan dengan kehadiran seorang narasumber spesial, seorang sosok inspiratif yang dikenal atas ketangguhan dan prinsipnya dalam menjalankan bisnis.

Beliau memiliki kemampuan berpikir kritis dan kreatif dalam menyelesaikan tanggung jawab serta menghadapi berbagai tantangan dunia usaha.

Sosok ini memulai usahanya dari skala kecil dan berhasil mengembangkan beberapa perusahaan. Lebih dekat, beliau adalah 2, istri dari Irjen Pol Endar Priantoro, Kepala Kepolisian Daerah Kalimantan Timur.

Ibu Natasha Synne secara resmi menginjakkan kaki di Kota Balikpapan sekitar tanggal 27 Maret 2025. Ketika ditanya tentang kesan pertamanya terhadap kota ini, satu kata terlontar dari bibirnya: "Luar biasa."

Mengenal Lebih Dekat: Ibu Natasha Synne, Entrepreneur dan Ibu Bhayangkari Inspiratif

Ibu Natasha Synne, atau akrab disapa Natasha Endar Priantoro, lahir di Pangkal Pinang, Bangka Belitung, pada tanggal 15 Juli 1976.

Selain mendampingi sang suami sebagai Ketua Bhayangkari Daerah Kalimantan Timur dan Ibu Asuh Polwan, beliau juga menjabat sebagai Ketua Pengurus Kemala Bhayangkari Daerah Kalimantan Timur.

Di tengah kesibukannya, Ibu Natasha adalah seorang ibu dari empat orang anak, dua putra dan dua putri.

Peran aktif Ibu Natasha sebagai pendamping suami juga diimbangi dengan kiprahnya sebagai seorang entrepreneur.

Beliau aktif memajukan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) Indonesia melalui produk lokal yang mengangkat nilai budaya dengan mereknya sendiri, Nats Wear .

Mengangkat Budaya Nusantara Melalui Fashion Dan dan Mengangkat Peran Perempuan Melalui Renjana Cita Srikandi

Selama hampir tiga tahun berkecimpung di dunia fashion, Nats Wear telah tampil dalam berbagai pergelaran busana di tingkat nasional maupun internasional.

Atas dasar keinginan untuk menyetarakan perempuan dari berbagai golongan, Ibu Natasha mendirikan sebuah event organizer yang memiliki konsep untuk memotivasi dan menggerakkan perempuan Indonesia agar terus berkarya dan membawa perubahan positif bagi sesama perempuan.

Inisiatif ini juga sejalan dengan program pemerintah dalam mensukseskan ekonomi kreatif, meningkatkan lapangan kerja berkualitas, mendorong kewirausahaan, dan mengembangkan industri kreatif.

Salah satu program unggulan dari event organizer beliau adalah "Renjana Cita Srikandi," sebuah gerakan yang menggambarkan kekuatan hati perempuan Indonesia dalam meningkatkan kompetensi diri, sehingga peran perempuan di negara tercinta ini semakin nyata.

Selain di bidang fashion, Ibu Natasha juga mengembangkan usaha di berbagai sektor lainnya, termasuk klinik kecantikan, salon, refleksiologi, travel umroh dan haji, kuliner, kontraktor, dan developer.

Melalui berbagai usahanya, beliau ingin mengedukasi para wanita tangguh untuk tidak takut memulai demi sebuah perubahan.

Beliau percaya bahwa dari perubahanlah potensi diri dapat berkembang dan menjadi inspirasi bagi perempuan lainnya.

Mimpi Masa Kecil dan Semangat Pantang Menyerah

Mengenang masa kecilnya, Ibu Natasha bercerita bahwa orang tuanya sempat kewalahan dengan energinya yang hiperaktif.

Karena sifatnya yang tidak bisa berdiam diri, orang tuanya mengikutsertakannya dalam berbagai kegiatan dengan harapan ia akan merasa lelah dan bisa tidur nyenyak.

Untuk menyalurkan energinya, di usia tiga tahun, beliau sudah belajar sepatu roda, dan setahun kemudian menjadi atlet sepatu roda.

Bakatnya terus berkembang hingga merambah ke dunia bela diri seperti judo, taekwondo, dan karate. Bahkan, beliau pernah menjadi atlet renang yang mewakili Provinsi Sumatera Selatan.

Beliau mengenang masa kecilnya di mana ia seringkali tanpa sadar terjatuh dari ranjang saat tidur, sehingga orang tuanya harus memasang pagar di sekeliling tempat tidurnya hingga kelas 6 SD.

Sebagai anak sulung dari empat bersaudara, Ibu Natasha secara tidak langsung menjadi contoh bagi adik-adiknya.

Sifatnya yang cenderung tomboi karena tumbuh besar bersama adik laki-laki membuatnya berani mencoba berbagai aktivitas, termasuk bela diri.

Makna Kartini di Mata Ibu Natasha Synne: Inspirasi untuk Berubah dan Memberi Manfaat

Bagi Ibu Natasha, Hari Kartini memiliki makna yang sangat spesial. Hari tersebut mengingatkannya untuk menjadi contoh bagi perempuan lainnya.

Beliau merasa, dirinya harus memulai perubahan. Dengan adanya perubahan, beliau berharap dapat membawa dampak positif yang lebih besar bagi perempuan di sekitarnya. Lebih dari itu, beliau ingin memiliki nilai manfaat yang lebih bagi orang-orang di sekelilingnya.

Sosok Kartini di hatinya adalah almarhumah neneknya. Beliau menceritakan bagaimana sang nenek harus berjuang keras menghidupi 12 orang anak setelah kakeknya mengalami kerugian finansial dalam bisnisnya.

Tanpa keterampilan khusus sebelumnya, neneknya harus bekerja keras, bahkan berjualan berlian titipan dengan berjalan kaki lebih dari 10 kilometer setiap hari selama hampir 10 tahun.

Kisah inilah yang menginspirasi Ibu Natasha bahwa setiap perempuan harus memiliki keahlian yang harus diasah dan dicari, karena harta warisan tidak akan bertahan selamanya.

Beliau selalu mengingatkan orang-orang di sekitarnya untuk terus berusaha karena masa depan tidak dapat diprediksi.

Neneknya selalu berpesan, "Jika kalian menjadi berlian, meskipun berdebu atau jatuh di selokan, nilainya tetap ada dan tetap berharga. Hanya perlu dibersihkan, maka kilaunya akan kembali terlihat."

Merintis Karir dari Usaha Kecil dengan Modal Kepercayaan

Awal karir bisnis Ibu Natasha dimulai saat kuliah dengan berjualan baju kaos. Melihat kebutuhan teman-teman kampusnya akan kaos dengan desain dan motto yang sedang populer saat itu, beliau melihat peluang dan berhasil menjual kaos dengan harga yang terjangkau.

Menurutnya, modal utama dalam memulai usaha bukanlah semata-mata uang, melainkan kepercayaan.

Dengan kepercayaan dari orang lain, seseorang dapat memulai usaha dengan mengenali passion dan keahliannya, serta memahami tahapan-tahapan sebelum menjalankannya.

Analisis bisnis yang tepat menjadi kunci untuk mengetahui cara menjalankan usaha dan menentukan target pasar. Pemahaman akan perhitungan dan target keuntungan menjadi langkah selanjutnya.

Bisnis pertama yang dibangun Ibu Natasha dan masih eksis hingga kini adalah di bidang fashion. Beliau memiliki dua merek, yaitu Nats Wear dan Nats The Label .

Nats Wear diperuntukkan bagi wanita dewasa usia 35 tahun ke atas, dengan mengutamakan kualitas bahan yang nyaman, terutama untuk ibu-ibu, serta banyak menampilkan pakaian muslim dan busana bernuansa daerah dengan motif-motif kreasi sendiri yang mengangkat budaya berbagai daerah.

Beliau juga sering menjadi bintang tamu untuk mengajarkan ibu-ibu membuat rancangan busana dengan sentuhan daerah.

Melihat Potensi Fashion Kalimantan Timur dan Nasional

Ibu Natasha melihat bahwa Kalimantan Timur sendiri telah cukup menggali potensi budayanya dalam dunia fashion.

Nuansa daerah selalu terlihat di berbagai toko dan bangunan, bahkan di pusat perbelanjaan. Beliau mengapresiasi dukungan pemerintah daerah dalam melestarikan UMKM.

Sarannya untuk pemerintah adalah untuk lebih menjangkau daerah-daerah lain di Kalimantan Timur yang masih memiliki banyak potensi khas daerah yang dapat dikembangkan.

Beliau mencontohkan potensi Tugu Balikpapan dengan bentuk khas dan sejarahnya, serta filosofi 5 Rukun Iman yang dapat diangkat menjadi motif pakaian, selain motif cumi-cumi atau akar-akaran yang sudah umum.

Beliau juga menyebutkan potensi Jembatan Kukar dan Pulau Balang sebagai inspirasi motif baru, sehingga inovasi dan kreasi motif harus terus dilakukan agar konsumen tertarik untuk membeli koleksi terbaru.

Photo
Photo

Relevansi Perjuangan Kartini di Era Modern

Menurut Ibu Natasha, perjuangan Kartini yang masih sangat relevan hingga saat ini adalah perjuangan untuk kesetaraan antara pria dan wanita, serta perjuangan untuk pendidikan agar perempuan memiliki kesempatan yang sama tingginya dengan pria.

Harapan untuk Perempuan Masa Kini

Harapan Ibu Natasha untuk perempuan di era sekarang adalah agar mereka tetap memahami kodratnya sebagai pendamping suami, namun, beliau juga menekankan bahwa tidak ada salahnya bagi seorang istri untuk memberikan pengaruh positif dan menjadi contoh bagi anak-anak serta orang-orang terdekat.

Beliau juga mendorong perempuan untuk menyemangati suami agar lebih gigih dan berjuang sebagai kepala rumah tangga.

Sebagai seorang istri dan ibu yang tidak kenal lelah, beliau berharap dapat menjadi contoh agar pasangannya juga memiliki semangat yang sama.

Transisi Jabatan Suami: Dari KPK ke Polda Kaltim

Sebelum menjabat sebagai Kepala Kepolisian Daerah Provinsi Kalimantan Timur, suami Ibu Natasha, Irjen Pol Endar Priantoro, bertugas sebagai Direktur Penyidikan di Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Berkaitan dengan transisi jabatan tersebut, Ibu Natasha merasa tidak ada banyak perbedaan dalam kehidupannya. Beliau sudah terbiasa menjadikan semua usahanya sebagai profesi yang dijalankan secara profesional.

Sebagai pendamping suami yang bertugas di KPK, beliau merasa memiliki tanggung jawab untuk mandiri secara ekonomi dan tidak memberikan beban tambahan kepada suami, terutama mengingat KPK adalah lembaga pemberantasan korupsi yang menjunjung tinggi prinsip anti-KKN (korupsi, kolusi, nepotisme).

Meskipun suami tetap memberikan nafkah, dengan empat orang anak dan tuntutan kualitas pendidikan yang lebih baik serta biaya hidup di kota besar, Ibu Natasha merasa perlu memiliki penghasilan tambahan, terutama untuk mengantisipasi kebutuhan tak terduga seperti kesehatan orang tua yang tidak tercover asuransi.

Hal inilah yang memotivasinya untuk terus meningkatkan kinerja dalam berbisnis. Beliau juga menanamkan nilai-nilai berusaha dan mandiri kepada anak-anaknya.

Baginya, suaminya adalah panutan bagi dirinya, anak-anak, dan keluarga besar, sehingga anak-anaknya pun termotivasi untuk berusaha lebih dari apa yang telah dicapai oleh ayah mereka.

Melalui kisah inspiratif Ibu Natasha Synne, semangat Kartini untuk kemajuan dan pemberdayaan perempuan terus berkobar di bumi Kalimantan, memberikan teladan bagi generasi kini dan mendatang. 

Jangan Cuma Baca, Bergerak Juga Dong Cess!

Gimana, Cess? Udah kebayang kan, jadi Kartini masa kini itu nggak sekadar soal emansipasi, tapi soal kontribusi nyata.

Ibu Natasha Synne buktiin kalo perempuan bisa sukses tanpa nebeng nama suami. Nah, biar makin banyak yang terinspirasi, jangan pelit-pelit, share artikel ini ke temenmu ya! Simak terus informasi menarik lainnya hanya di Balikpapantv.id, ‘Bukan Sekedar Berita Biasa!’

Memang Beda!
Memang Beda!

Editor : Arya Kusuma
#Renjana Cita Srikandi #lurah #Naxwer #Natasha Synne #umkm #Irjen Pol Endar Priantoro