Info Lokal InfoScope Gaya Hidup Infotainment Iptek Bisnis & UMKM Religi

vivo X300 Ultra vs Sony A7C II, Duel Kamera 2026 Ini Penyebabnya

Bayu Actaviansyah Ramadhani • Jumat, 8 Mei 2026 | 07:24 WIB
Perbandingan vivo X300 Ultra dan Sony A7C Mark II saat uji foto outdoor dengan cahaya ekstrem (BTV/Ai)
Perbandingan vivo X300 Ultra dan Sony A7C Mark II saat uji foto outdoor dengan cahaya ekstrem (BTV/Ai)

Topik: Duel vivo X300 Ultra vs Sony A7C II, Kamera Saku Mulai Bikin Geger

Durasi Baca: 5 Menit

 

Baca Ringkas 30 Detik: vivo X300 Ultra muncul sebagai penantang serius kamera profesional lewat kombinasi lensa 35mm, telephoto 85mm, dan teknologi komputasi cerdas. Dalam pengujian melawan Sony A7C Mark II, hasil foto smartphone ini terlihat impresif di HDR, flare, hingga fleksibilitas zoom. Kamera profesional masih unggul untuk pekerjaan serius, tapi urusan traveling dan dokumentasi harian, persaingan mulai panas. Scroll Lanjut Baca Selengkapnya, Ces!...

 

Balikpapan TV - Hai Ces! Dunia fotografi lagi masuk fase yang menarik pang. Smartphone kini kada cuma dipakai motret kopi atau langit sore di Pantai Kemala, tapi mulai berani adu kualitas lawan kamera profesional mahal. vivo X300 Ultra jadi salah satu yang paling ramai dibahas setelah dibandingkan langsung dengan Sony A7C Mark II lengkap dengan lensa prime bernilai sekitar 5000 dolar Amerika.

Nah, jangan buru-buru mikir ini cuma gimmick pemasaran sih. Pengujian blind test yang dilakukan memperlihatkan bagaimana kamera ponsel sekarang sudah masuk level yang bikin banyak orang mulai mikir dua kali sebelum beli kamera besar. Penasaran bagian mana yang bikin heboh? Simak terus sampai habis Cess!

Baca Juga: Sony A7R5 vs A74 Update 2026, Mana Pilihan Tepat?

Kenapa vivo X300 Ultra Pilih Lensa 35mm, Kada Ikut Arus 24mm?

vivo mengambil langkah yang agak beda dibanding mayoritas smartphone flagship lain. Alih-alih memakai sudut ultra lebar 24mm sebagai kamera utama, mereka justru memakai focal length 35mm. Hasilnya terasa lebih intim dan natural saat memotret manusia.

Dalam pengujian, perspektif 35mm membuat subjek terlihat lebih dekat tanpa distorsi berlebihan. Cocok untuk street photography atau foto suasana kota malam hari. Sony A7C Mark II memang masih unggul dari sisi tekstur optik dan karakter kontras khas kamera full-frame. Tapi vivo punya senjata lain.

HDR di vivo terlihat jauh lebih agresif. Area bayangan pada wajah otomatis diangkat melalui fotografi komputasi sehingga detail tetap muncul meski kondisi backlight cukup ekstrem. Sony tampil lebih natural dan hangat, tapi hasilnya terasa lebih “mentah”. Nah, di titik ini selera pengguna mulai berperan.

Sony A7C Mark II dan vivo X300 Ultra saat dipakai traveling harian (BTV/Ai)
Sony A7C Mark II dan vivo X300 Ultra saat dipakai traveling harian (BTV/Ai)

Seberapa Ganas Zeiss Coating Saat Lawan Flare Cahaya?

Salah satu kejutan terbesar muncul saat pengujian backlit. Ketika kamera diarahkan langsung ke sumber cahaya, lensa prime Sony justru memperlihatkan ghosting hijau dan flare cukup jelas.

Sementara vivo X300 Ultra tampil lebih bersih.

Lapisan Zeiss T* coating pada vivo terbukti efektif menahan pantulan cahaya liar. Hasil foto tetap tajam dengan gangguan visual yang minim. Ini menarik pang, sebab banyak orang selama ini menganggap lensa profesional pasti selalu unggul di segala kondisi.

Di sini vivo menunjukkan bahwa teknologi smartphone modern kada cuma soal sensor besar atau megapiksel tinggi. Detail kecil seperti pelapis lensa ternyata punya pengaruh besar terhadap kualitas akhir foto.

Nah itu sudah, kadang teknologi kecil justru bikin hasil akhirnya beda jauh sih.

Baca Juga: DJI Osmo Pocket 3 vs 4 Update 2026 Ini Bedanya

Apakah Telephoto vivo X300 Ultra Cuma Soal Zoom Jarak Jauh?

Lensa telephoto 85mm milik vivo justru jadi salah satu fitur paling fleksibel dalam pengujian tersebut. Selain dipakai mengambil objek jarak jauh, lensa ini juga mampu menangkap foto makro dengan detail tajam.

Bunga kecil, tekstur daun, bahkan detail serangga masih terlihat jelas. Sementara di Sony, fleksibilitas seperti ini biasanya perlu penggantian lensa tambahan.

Belum lagi fitur zoom ekstrem berbasis AI milik vivo yang bisa mencapai sekitar 700mm. Pengujian memperlihatkan smartphone ini masih mampu menangkap objek seperti pesawat dengan hasil yang mengejutkan untuk ukuran perangkat saku.

Praktis. Cepat. Tinggal angkat lalu jepret.

Buat bubuhan yang hobi traveling atau motret spontan di jalanan Balikpapan waktu langit lagi jingga-jingganya, fitur begini jelas menarik perhatian.

Blind test hasil foto smartphone vivo dan kamera full-frame profesional (BTV/Ai)
Blind test hasil foto smartphone vivo dan kamera full-frame profesional (BTV/Ai)

Masih Perlukah Kamera Profesional Kalau Smartphone Sudah Secanggih Ini?

Sony A7C Mark II tetap punya posisi kuat di dunia profesional. Sensor full-frame, kontrol manual penuh, tombol fisik, sampai karakter optik murninya masih jadi standar penting untuk fotografer acara, wedding, dan pekerjaan komersial.

Tapi smartphone seperti vivo X300 Ultra mulai menggoda pasar yang berbeda.

Praktis dibawa ke mana-mana. Masuk kantong baju. Bisa langsung edit dan unggah foto. Layar OLED terang juga memudahkan pemotretan di bawah matahari siang.

Sony terasa seperti pisau chef profesional. Sementara vivo hadir seperti multitool modern yang serba cepat.

Kadada yang salah. Tinggal disesuaikan kebutuhan pemakaian pang.

Baca Juga: Tablet Rp1 Jutaan Terbaik 2026, Ini Daftar Updatenya

Siapa Sebenarnya Pemenang Duel Kamera Ini?

Kalau bicara kualitas optik murni dan kontrol teknis total, Sony masih unggul. Detail depth of field, karakter bokeh 3D, dan fleksibilitas profesional tetap jadi kekuatan utama kamera full-frame.

Tapi vivo X300 Ultra berhasil membuktikan bahwa smartphone kini kada bisa dipandang sebelah mata. Bahkan dalam beberapa kondisi seperti HDR, flare handling, dan kemudahan penggunaan, smartphone ini justru tampil lebih praktis.

Menariknya lagi, hasil foto vivo terlihat “siap pakai” tanpa perlu banyak proses editing tambahan. Buat pengguna harian, ini jelas menghemat waktu.

Dunia fotografi sekarang bukan lagi soal perangkat paling mahal. Tapi soal perangkat mana yang paling cocok dipakai di situasi nyata.

Poin Penting:

  1. vivo X300 Ultra memakai lensa utama 35mm untuk perspektif lebih natural.

  2. Teknologi Zeiss coating membantu mengurangi flare dan ghosting.

  3. Lensa telephoto vivo mendukung kemampuan makro dan zoom AI ekstrem.

  4. Sony A7C Mark II masih unggul untuk kebutuhan profesional komersial.

  5. Smartphone modern mulai mengaburkan batas dengan kamera profesional.

Insight: Persaingan smartphone dan kamera profesional sekarang terasa makin tipis garisnya. Buat banyak orang di Balikpapan yang suka dokumentasi harian, traveling, atau bikin konten cepat, perangkat praktis kadang justru jadi pilihan paling masuk akal. Kamera mahal tetap punya tempat, tapi tren sekarang bergerak ke arah fleksibilitas. Orang ingin hasil bagus tanpa banyak bawaan. Itu realita pasar hari ini pang. Bagikan jua artikel ini ke bubuhan ikam supaya makin paham perkembangan kamera modern sekarang.

Ikuti terus perkembangan gadget dan teknologi fotografi terbaru cuma di Balikpapan Tv teman update setia, bukan sekadar info biasa!

FAQ:

  1. Apa keunggulan utama vivo X300 Ultra dibanding smartphone lain?
    Keunggulan utamanya ada pada kombinasi lensa 35mm, telephoto 85mm, HDR komputasi, serta lapisan Zeiss coating yang efektif mengurangi flare.

  2. Apakah Sony A7C Mark II masih unggul dari vivo X300 Ultra?
    Masih unggul untuk kebutuhan profesional karena memiliki sensor full-frame dan kontrol manual lebih lengkap.

  3. Apa fungsi zoom AI hingga 700mm pada vivo X300 Ultra?
    Fitur tersebut membantu menangkap objek sangat jauh seperti pesawat dengan bantuan pemrosesan kecerdasan buatan.

  4. Siapa yang cocok memakai vivo X300 Ultra?
    Pengguna traveling, pembuat konten, dan pencinta street photography yang ingin hasil praktis dengan kualitas tinggi.

my ride-or-die for updates
my ride-or-die for updates
Editor : Arya Kusuma
#Sony A7C Mark II #Zeiss coating #street photography #zoom AI 700mm #Vivo X300 Ultra