Durasi Baca: 6 menit
Ikhtisar: Kenali perbedaan AHA, BHA, dan PHA serta cara memilih eksfoliator sesuai kebutuhan kulit di cuaca tropis Balikpapan.
Balikpapan TV - Hai Ces! Memilih eksfoliator untuk kulit yang beraktivitas di Balikpapan perlu mempertimbangkan kebutuhan kulit, paparan luar ruang, dan rutinitas harian agar pemakaiannya tetap nyaman dan tidak berlebihan.
Cuaca tropis membuat rutinitas skincare terasa punya tantangan tersendiri. Jadi, sebelum ikut tren acid tertentu, yuk kenali dulu fungsi AHA, BHA, dan PHA supaya pilihan eksfoliator tidak asal kuat.
Kulit di kota tropis punya rutinitas yang berbeda
Balikpapan berada di wilayah Kalimantan yang memiliki karakter iklim tropis. BMKG menjelaskan bahwa wilayah-wilayah di Kalimantan termasuk kawasan dengan kondisi hangat dan curah hujan relatif tinggi sepanjang tahun.
Dalam kondisi seperti ini, aktivitas sehari-hari tetap perlu memperhatikan kebersihan, kelembapan kulit, paparan matahari, serta produk yang digunakan. Namun, cuaca tropis bukan berarti kulit otomatis membutuhkan eksfoliator yang lebih kuat.
American Academy of Dermatology (AAD) menyarankan agar metode eksfoliasi disesuaikan dengan jenis kulit dan produk skincare lain yang sedang digunakan. Eksfoliasi yang terlalu agresif justru dapat menyebabkan kulit kering, merah, atau teriritasi.
Karena itu, kulit berminyak pun tidak otomatis harus memakai acid dengan intensitas tinggi. Frekuensi penggunaan dan kondisi kulit saat itu sama pentingnya dengan memilih jenis acid.
Setelah eksfoliasi, pelembap tetap diperlukan untuk membantu menjaga kondisi kulit. Untuk perlindungan dari paparan matahari, AAD merekomendasikan sunscreen dengan SPF 30 atau lebih, broad-spectrum, dan water resistant.
AHA: Ketika perhatian utamanya tekstur dan tampilan kusam
AHA atau Alpha Hydroxy Acid merupakan kelompok acid yang bekerja terutama pada permukaan kulit. Contoh yang sering ditemukan dalam skincare adalah glycolic acid dan lactic acid.
Cara kerjanya berkaitan dengan membantu melepaskan sel kulit mati di lapisan permukaan. Karena itu, AHA sering digunakan dalam produk yang ditujukan untuk membantu memperbaiki tekstur dan tampilan warna kulit yang tidak merata.
Buat yang baru mulai, jangan langsung mengejar produk yang terasa paling "nendang". AHA tetap perlu digunakan sesuai petunjuk produk dan kondisi kulit.
AAD juga mengingatkan bahwa semakin agresif metode eksfoliasinya, semakin jarang pula penggunaannya mungkin diperlukan. Pemakaian berlebihan dapat membuat kulit menjadi merah dan iritasi.
Poin penting: AHA dapat dipertimbangkan ketika perhatian utama adalah tekstur atau tampilan kusam, tetapi intensitas pemakaiannya perlu disesuaikan dengan kondisi kulit.
BHA: Lebih dekat dengan masalah minyak dan pori
Kalau perhatian utamanya adalah minyak berlebih dan pori yang mudah tersumbat, BHA menjadi salah satu bahan yang sering ditemukan dalam produk skincare.
Salah satu BHA yang paling umum adalah salicylic acid. AAD menjelaskan bahwa salicylic acid dapat membantu membuka pori yang tersumbat dan mengeksfoliasi kulit. Bahan ini juga banyak digunakan untuk whiteheads dan pimples.
Salicylic acid juga memiliki sifat oil-soluble atau larut dalam minyak. Karakteristik tersebut membuatnya dapat bekerja di area pori dan membantu mengatasi penumpukan yang berkaitan dengan minyak serta sel kulit mati.
Tapi ada satu hal yang sering keliru: kulit berminyak bukan berarti harus memakai BHA setiap hari.
Kalau kulit mulai terasa kering, perih, atau semakin merah, itu bukan tanda untuk menambah pemakaian. AAD menyarankan menyesuaikan frekuensi eksfoliasi dengan jenis kulit dan metode yang digunakan.
PHA: Alternatif untuk pendekatan eksfoliasi yang lebih gentle
PHA atau Polyhydroxy Acid bisa menjadi pilihan lain bagi orang yang ingin mengenal eksfoliasi secara lebih bertahap.
Beberapa PHA yang umum digunakan antara lain gluconolactone dan lactobionic acid. Literatur dermatologi menyebut PHA memiliki ukuran molekul lebih besar dibandingkan AHA dan BHA sehingga cenderung menembus kulit lebih lambat dan umumnya lebih gentle.
PHA juga memiliki sifat humektan, yaitu membantu menarik dan mempertahankan air pada lapisan kulit. Sejumlah penelitian menunjukkan potensi PHA dalam mendukung kelembapan dan fungsi skin barrier.
Meski begitu, kata "gentle" bukan berarti bebas risiko iritasi. Setiap produk memiliki formula, konsentrasi, dan cara penggunaan yang berbeda. Jadi, tetap ikuti petunjuk pemakaian dan perhatikan respons kulit.
Baca Juga: Wisuda di PPU Pakai Kebaya, Bagaimana Membawa Sentuhan Budaya Lokal Tanpa Berlebihan?
Jadi, mana yang dipilih?
| Kondisi yang ingin diperhatikan | Kandidat yang bisa dipertimbangkan |
|---|---|
| Tekstur atau tampilan kusam | AHA |
| Minyak atau pori tersumbat | BHA |
| Ingin pendekatan eksfoliasi lebih gentle | PHA |
Tabel tersebut bukan aturan mutlak. Satu orang bisa memiliki lebih dari satu masalah kulit, sementara kondisi kulit juga dapat berubah karena rutinitas, lingkungan, maupun produk lain yang digunakan.
Jadi, jangan memilih hanya berdasarkan label "AHA", "BHA", atau "PHA". Lihat juga kondisi kulit dan keseluruhan rutinitas skincare.
Cara memakai eksfoliator tanpa bikin rutinitas skincare berantakan
Ada beberapa hal sederhana yang bisa diperhatikan.
Pertama, jangan buru-buru menambah frekuensi. Ikuti petunjuk pada produk dan beri waktu kulit untuk beradaptasi.
Kedua, perhatikan kombinasi bahan aktif. AAD mengingatkan bahwa sejumlah produk, seperti retinoid, retinol, atau benzoyl peroxide, dapat membuat kulit lebih sensitif atau mudah mengelupas. Menggabungkannya dengan eksfoliasi dapat meningkatkan risiko iritasi.
Ketiga, jangan lupakan pelembap. Eksfoliasi dapat membuat kulit lebih kering sehingga pelembap menjadi bagian penting setelahnya.
Keempat, tetap gunakan sunscreen. Paparan sinar matahari tetap perlu diperhatikan, termasuk ketika aktivitas sehari-hari banyak dilakukan di luar ruangan. AAD merekomendasikan sunscreen broad-spectrum SPF 30 atau lebih.
Dr. Rebecca Kazin, dokter kulit yang dikutip AAD, mengingatkan agar kulit tidak "stripped" atau terlalu dikikis oleh rutinitas perawatan. Pesannya sederhana: eksfoliasi bukan soal seberapa kuat, tetapi seberapa sesuai dengan kebutuhan kulit.
Kesalahan yang sering dilakukan
Memilih acid karena sedang viral. Popularitas produk tidak otomatis berarti cocok untuk semua orang.
Menganggap rasa perih berarti produk bekerja. Rasa terbakar atau iritasi bukan target eksfoliasi yang perlu dikejar.
Menggunakan terlalu banyak produk aktif sekaligus. AHA, BHA, retinoid, benzoyl peroxide, dan bahan aktif lain perlu diperhatikan sebagai satu kesatuan rutinitas.
Mengabaikan kulit yang sedang bermasalah. Jika kulit sedang sangat iritasi, terbakar matahari, atau mengalami luka terbuka, AAD menyarankan untuk tidak melakukan eksfoliasi.
Melupakan pelembap dan sunscreen. Eksfoliasi seharusnya tidak membuat rutinitas dasar skincare ditinggalkan.
Baca Juga: Face Yoga Makin Sering Bukan Berarti Makin Kencang, Ini yang Perlu Dipahami
Poin Penting
-
AHA lebih sering digunakan untuk membantu masalah tekstur dan tampilan kulit kusam.
-
BHA, terutama salicylic acid, banyak digunakan untuk kulit berminyak dan pori tersumbat.
-
PHA memiliki ukuran molekul lebih besar dan cenderung bekerja lebih lambat serta gentle.
-
Kulit berminyak tidak otomatis membutuhkan eksfoliasi paling kuat.
-
Frekuensi pemakaian perlu disesuaikan dengan kondisi kulit dan petunjuk produk.
-
Pelembap dan sunscreen tetap menjadi bagian penting dalam rutinitas setelah eksfoliasi.
Insight Redaksi
Yang sering terlupakan dari pembahasan AHA, BHA, dan PHA justru bukan jenis acid-nya, melainkan kondisi kulit saat digunakan.
Di Balikpapan, aktivitas harian bisa membawa seseorang berpindah dari ruangan ber-AC ke luar ruangan yang panas dan lembap. Karena itu, rutinitas skincare sebaiknya tidak hanya mengejar hasil eksfoliasi, tetapi juga menjaga kulit tetap nyaman.
Acid bukan perlombaan. Produk yang terasa lebih kuat belum tentu menjadi pilihan yang lebih sesuai.
Untuk pembaca yang masih bingung, cara paling sederhana adalah mulai dari kebutuhan utama kulit, membaca petunjuk produk, dan tidak menumpuk terlalu banyak bahan aktif sekaligus.
Kalau kulit terus mengalami iritasi, kemerahan, atau masalah yang tidak membaik, konsultasi dengan dokter kulit bisa membantu menentukan perawatan yang lebih sesuai.
Sebelum lanjut ke produk berikutnya, coba bagikan artikel ini ke teman yang masih suka bingung membedakan AHA, BHA, dan PHA. Siapa tahu rutinitas skincare mereka jadi lebih terarah.
Balikpapan TV akan terus menemani Ces memahami tren gaya hidup dengan informasi yang lebih dekat, jelas, dan tetap masuk akal.
FAQ
1. Apakah AHA cocok untuk kulit berminyak?
Bisa dipertimbangkan, terutama jika perhatian utamanya tekstur atau tampilan kusam. Namun, pemilihan tetap perlu disesuaikan dengan kondisi kulit.
2. Apakah BHA harus dipakai setiap hari?
Tidak selalu. Frekuensi penggunaan bergantung pada kondisi kulit dan jenis produk. Penggunaan berlebihan dapat menyebabkan kulit kering atau iritasi.
3. Apakah PHA benar-benar lebih gentle?
PHA umumnya memiliki molekul lebih besar sehingga penetrasinya lebih lambat dan cenderung lebih gentle dibandingkan AHA dan BHA. Namun, respons kulit tetap dapat berbeda pada setiap orang.
4. Apa yang harus digunakan setelah eksfoliasi?
Pelembap dapat digunakan untuk membantu menjaga kelembapan kulit. Pada siang hari, sunscreen broad-spectrum SPF 30 atau lebih juga penting.
5. Bolehkah memakai beberapa acid sekaligus?
Sebaiknya jangan asal menggabungkan beberapa bahan aktif. Kombinasi produk dapat meningkatkan risiko iritasi, terutama jika kulit sudah sensitif terhadap salah satu bahan.
Editor : Arya Kusuma