Durasi Baca: 7 menit
Ikhtisar: Perubahan hormon dapat memengaruhi kondisi kulit, tetapi belum berarti rutinitas skincare harus diganti mengikuti setiap fase menstruasi.
Balikpapan TV - Hai Ces! Siklus menstruasi dapat memengaruhi kondisi kulit, mulai dari produksi minyak hingga munculnya jerawat, sehingga cycle-syncing skincare mulai menarik perhatian. Namun, apakah perubahan itu berarti rutinitas harus ikut berganti setiap minggu?
Tren cycle-syncing skincare menawarkan gagasan sederhana: sesuaikan bahan aktif dengan fase menstruasi. Saat kulit terasa lebih kering, rutinitas diarahkan pada hidrasi; ketika minyak meningkat, fokus digeser pada pengendalian sebum dan jerawat. Kedengarannya masuk akal, tetapi kebutuhan kulit tidak selalu berubah sedramatis kalender menstruasi.
Apa yang sebenarnya terjadi pada kulit sepanjang siklus menstruasi?
Siklus menstruasi melibatkan perubahan kadar hormon seperti estrogen dan progesteron. Karena kulit memiliki reseptor hormon dan berinteraksi dengan berbagai jalur hormonal, perubahan tersebut memang dapat terlihat pada beberapa orang.
Sejumlah penelitian menemukan adanya perubahan fisiologis kulit sepanjang siklus. Sebuah scoping review yang menelaah 26 penelitian menemukan perubahan pada beberapa parameter, termasuk elastisitas, suhu kulit, aliran darah, dan keringat. Namun, hasil mengenai hidrasi kulit tidak selalu konsisten antarfase.
Artinya, ada dasar biologis untuk mengatakan bahwa hormon dapat memengaruhi kulit. Yang perlu dihindari adalah melompat dari fakta tersebut menjadi kesimpulan bahwa semua orang membutuhkan empat rutinitas skincare berbeda dalam satu bulan.
Respons kulit sangat individual.
Ada orang yang hampir selalu mengalami jerawat menjelang menstruasi. Ada yang lebih merasakan kulit berminyak. Sebagian lainnya justru merasa kulit lebih kering atau sensitif. Bahkan perubahan tersebut dapat berbeda antara satu siklus dan siklus berikutnya.
Penelitian mengenai kulit dan siklus menstruasi juga menunjukkan bahwa produksi sebum dapat berfluktuasi selama siklus. Studi pada perempuan yang mengalami menstruasi menemukan adanya perubahan sebogenesis, atau proses produksi sebum, pada beberapa fase siklus.
Jadi, perubahan kulit itu bukan sekadar tren media sosial. Yang masih menjadi pertanyaan adalah seberapa jauh perubahan tersebut perlu diikuti dengan perubahan produk skincare.
Baca Juga: Punya Banyak Baju tapi Tetap Bingung Mix and Match? Ini 7 Triknya
Cycle-syncing skincare sebenarnya bekerja dengan cara apa?
Konsep cycle-syncing skincare pada dasarnya mengajak pengguna membaca kondisi kulit berdasarkan fase menstruasi.
Empat fase yang biasanya digunakan adalah fase menstruasi, folikular, ovulasi, dan luteal. Dalam praktik kecantikan, masing-masing kemudian dikaitkan dengan kebutuhan tertentu.
Pada fase menstruasi, misalnya, seseorang mungkin merasa kulit lebih kering atau sensitif sehingga rutinitas dibuat lebih sederhana dan berfokus pada pelembap.
Pada fase folikular, rutinitas dapat kembali menggunakan bahan aktif sesuai kebutuhan kulit.
Menjelang atau sekitar ovulasi, ketika sebagian orang merasa kulit lebih berminyak, perhatian dapat diarahkan pada pembersihan yang tetap lembut dan pengelolaan minyak.
Sementara pada fase luteal, ketika sebagian orang mengalami period acne, bahan yang memang memiliki bukti untuk membantu acne dapat menjadi perhatian.
Masalahnya, pendekatan tersebut sering dipasarkan seolah-olah setiap fase memiliki kebutuhan skincare yang sudah pasti.
Padahal, penelitian belum memberikan dasar kuat untuk membuat formula universal seperti:
minggu pertama = hidrasi, minggu kedua = eksfoliasi, minggu ketiga = kontrol minyak, minggu keempat = pemulihan.
Kondisi kulit tidak bekerja seperti kalender yang selalu sama.
Jadi, apakah skincare harus berganti setiap minggu?
Tidak harus.
Perubahan kecil berdasarkan kondisi kulit dapat masuk akal. Namun, mengganti seluruh rutinitas secara otomatis setiap minggu justru dapat membuat perawatan menjadi terlalu rumit.
Bahan aktif dalam skincare juga umumnya membutuhkan penggunaan yang konsisten untuk memberikan hasil yang dapat dinilai. Mengganti produk terlalu sering dapat membuat seseorang sulit mengetahui produk mana yang benar-benar memberikan manfaat atau justru menyebabkan iritasi.
Pendekatan yang lebih masuk akal adalah mempertahankan rutinitas dasar yang stabil, kemudian melakukan penyesuaian kecil ketika kondisi kulit memang berubah.
Rutinitas dasar tersebut dapat berisi pembersih yang sesuai, pelembap, dan perlindungan terhadap sinar matahari. Bahan aktif digunakan berdasarkan masalah kulit dan toleransi, bukan semata-mata berdasarkan hari dalam kalender menstruasi.
Ini juga sejalan dengan prinsip perawatan acne: rutinitas skincare yang lembut dan berkelanjutan tetap penting karena sejumlah terapi jerawat dapat menyebabkan kulit kering atau iritasi.
Baca Juga: Bukan Cuma Facial Wash, Air Sadah Juga Bisa Bikin Kulit Kesat dan Kusam Setelah Cuci Muka
Bagaimana dengan jerawat yang selalu muncul sebelum menstruasi?
Di sinilah pencatatan siklus justru dapat berguna.
American Academy of Dermatology menjelaskan bahwa perubahan hormon di sekitar menstruasi dapat berhubungan dengan munculnya adult acne. Sebagian perempuan mengalami jerawat terutama di area rahang, dagu, atau bagian bawah wajah menjelang menstruasi.
Jika pola tersebut berulang, mencatat hubungan antara siklus dan kondisi kulit dapat membantu mengenali pola pribadi.
Misalnya, seseorang mendapati bahwa setiap beberapa hari sebelum menstruasi selalu muncul jerawat di area rahang. Informasi itu lebih berguna daripada sekadar mengikuti jadwal skincare yang dibuat untuk semua orang.
Dokter kulit juga dapat menggunakan pola tersebut sebagai bagian dari pertimbangan ketika menentukan penanganan.
Seperti dijelaskan dokter kulit Dr. Daniela Fahs dalam materi American Academy of Dermatology, “Understanding the way your acne behaves can help you and your dermatologist come up with a treatment plan” yang sesuai dengan kondisi kulit masing-masing.
Dengan kata lain, kalender menstruasi dapat menjadi alat observasi, bukan aturan wajib untuk mengganti produk.
Baca Juga: Bantal dan Kulit Wajah, Begini Posisi Tidur yang Bisa Mengurangi Tekanan Saat Malam
Bahan aktif apa yang sebenarnya lebih penting diperhatikan?
Daripada memikirkan bahan aktif berdasarkan fase menstruasi, lebih berguna memahami fungsi dan toleransinya.
Untuk kulit yang rentan berjerawat, bahan seperti salicylic acid, benzoyl peroxide, azelaic acid, dan retinoid termasuk pilihan yang memiliki dukungan dalam tata laksana acne. American Academy of Dermatology memasukkan beberapa bahan tersebut dalam rekomendasi klinis acne.
Namun, bukan berarti semuanya harus dipakai sekaligus.
Kulit yang sedang sensitif tidak otomatis membutuhkan lebih banyak produk hanya karena sedang berada pada fase tertentu. Sebaliknya, kulit yang sedang mengalami jerawat juga tidak selalu membutuhkan eksfoliasi agresif.
Di sinilah pelembap tetap memiliki peran penting.
Perawatan acne tertentu dapat menyebabkan kekeringan dan iritasi. Pelembap membantu menjaga toleransi kulit terhadap perawatan tersebut. Karena itu, mengurangi rutinitas menjadi lebih lembut ketika kulit sedang terasa kering atau mudah perih dapat menjadi penyesuaian yang lebih rasional dibandingkan mengganti seluruh produk.
Lalu kapan rutinitas boleh dibuat lebih sederhana?
Ada satu prinsip yang sering terlupakan dalam mengejar kulit yang terlihat lebih baik: kulit tidak selalu membutuhkan lebih banyak intervensi.
Jika kulit terasa perih, tertarik, mengelupas, atau semakin sensitif setelah menggunakan beberapa bahan aktif, menambah produk baru bukan otomatis menjadi solusi.
Pada kondisi seperti itu, rutinitas dapat disederhanakan sementara dengan mempertahankan pembersihan yang lembut, pelembap, dan sunscreen pada pagi atau siang hari.
Setelah kondisi kulit lebih stabil, bahan aktif dapat digunakan kembali sesuai kebutuhan dan toleransi.
Penyesuaian semacam ini memang menyerupai prinsip cycle syncing, tetapi pemicunya adalah kondisi kulit yang nyata, bukan sekadar pergantian fase menstruasi.
Baca Juga: Cara Memadukan Batik agar Terlihat Modern untuk Gaya Anak Muda, Simpel tapi Tetap Stylish
Apakah setiap perempuan akan mengalami perubahan kulit yang sama?
Tidak.
Penelitian menunjukkan adanya perubahan fisiologis kulit yang berkaitan dengan siklus menstruasi, tetapi besar dan bentuk perubahannya tidak seragam.
Review mengenai fisiologi kulit selama siklus menstruasi bahkan menemukan bahwa beberapa parameter berubah, sementara parameter lainnya tidak menunjukkan perubahan yang konsisten. Penelitian lain pada kulit yang rentan mengalami acne juga menemukan variasi kadar sebum, hidrasi, dan transepidermal water loss di antara fase hormonal.
Karena itu, rutinitas yang cocok untuk satu orang belum tentu cocok untuk orang lain.
Faktor lain seperti jenis kulit, cuaca, tingkat stres, kualitas tidur, produk yang digunakan, kondisi kesehatan, obat-obatan, serta kontrasepsi hormonal juga dapat memengaruhi bagaimana kulit terlihat dan terasa.
Ini penting bagi pembaca di wilayah tropis seperti Balikpapan. Panas, kelembapan, keringat, aktivitas luar ruangan, dan paparan matahari dapat menjadi bagian dari konteks kulit sehari-hari. Menyalahkan seluruh perubahan kulit pada siklus menstruasi saja bisa membuat faktor lain terlewat.
Baca Juga: Inspirasi Makeup ala Korea dengan Blush Lembut dan Bibir Glossy, Natural dan Fresh untuk Sehari-hari
Cara lebih realistis menerapkan cycle-syncing skincare
Jika Ces tetap ingin mencoba pendekatan ini, tidak perlu langsung membuat empat kotak skincare berbeda.
Mulailah dengan mengamati, bukan mengganti.
Catat kondisi kulit selama dua atau tiga siklus. Perhatikan kapan kulit terasa lebih berminyak, kapan jerawat muncul, kapan terasa kering, serta produk apa yang digunakan ketika perubahan tersebut terjadi.
Setelah menemukan pola yang berulang, lakukan penyesuaian kecil.
1. Pertahankan rutinitas dasar
Gunakan rutinitas inti yang dapat dipertahankan sepanjang bulan. Pembersih, pelembap, dan sunscreen menjadi fondasi yang tidak perlu ikut berganti hanya karena fase menstruasi berubah.
2. Tambahkan bahan aktif sesuai masalah
Jika masalah utamanya acne, gunakan bahan yang memang memiliki bukti untuk acne. Jangan mengganti bahan aktif hanya karena memasuki minggu tertentu.
3. Kurangi agresivitas saat kulit sensitif
Jika kulit terasa lebih kering atau mudah iritasi, pertimbangkan mengurangi frekuensi bahan aktif yang berpotensi mengiritasi. Prioritaskan kenyamanan dan kondisi barrier kulit.
4. Catat pola jerawat menjelang menstruasi
Jika jerawat selalu muncul pada periode yang sama, informasi tersebut dapat menjadi petunjuk penting untuk menentukan strategi perawatan.
5. Evaluasi berdasarkan respons kulit
Kalender dapat membantu menemukan pola, tetapi kulit tetap menjadi indikator utama. Jika rutinitas yang dipakai membuat kulit semakin iritasi, jangan dipertahankan hanya karena secara teori cocok dengan fase tertentu.
Kesalahan yang sering terjadi saat mencoba cycle-syncing skincare
Kesalahan pertama adalah menganggap semua orang harus mengalami pola kulit yang sama pada empat fase menstruasi.
Kesalahan kedua adalah terlalu sering mengganti produk. Jika serum A dipakai selama beberapa hari lalu diganti serum B karena memasuki fase berikutnya, hasil akhirnya sulit dievaluasi.
Kesalahan ketiga adalah menganggap jerawat sebelum menstruasi harus dilawan dengan eksfoliasi sebanyak mungkin. Padahal, penggunaan bahan acne yang berlebihan dapat memperburuk kekeringan dan iritasi.
Kesalahan berikutnya adalah mengabaikan rutinitas dasar karena terlalu fokus pada bahan aktif. Sunscreen, pelembap, dan pembersihan yang sesuai tetap menjadi bagian penting dari perawatan kulit sehari-hari.
Dan yang paling penting, jangan menganggap cycle-syncing skincare sebagai pengganti diagnosis atau terapi ketika jerawat berlangsung berat, meninggalkan bekas, terasa nyeri, atau terus berulang.
Baca Juga: Inspirasi Makeup ala Korea dengan Blush Lembut dan Bibir Glossy, Natural dan Fresh untuk Sehari-hari
Poin Penting
-
Perubahan hormon selama siklus menstruasi memang dapat memengaruhi sejumlah karakteristik kulit.
-
Tidak semua orang mengalami perubahan kulit dengan pola dan tingkat yang sama.
-
Bukti ilmiah belum menunjukkan bahwa semua orang perlu mengganti seluruh rutinitas skincare setiap minggu.
-
Cycle syncing lebih berguna sebagai cara mengamati pola pribadi daripada aturan wajib mengganti produk.
-
Rutinitas dasar yang konsisten tetap penting, terutama pembersih, pelembap, dan sunscreen.
-
Bahan aktif sebaiknya dipilih berdasarkan masalah kulit, bukti manfaat, toleransi, dan kebutuhan individual.
-
Jerawat yang berulang menjelang menstruasi dapat menjadi pola yang layak dicatat dan dibicarakan dengan dokter kulit jika mengganggu.
Insight Redaksi
Menariknya, bagian paling berguna dari cycle-syncing skincare mungkin bukan kewajiban mengikuti empat fase, melainkan kebiasaan memperhatikan perubahan kulit sendiri.
Daripada bertanya, “Sekarang fase apa dan serum apa yang harus dipakai?”, pertanyaan yang lebih relevan adalah, “Apa yang sedang terjadi pada kulit saya dan apakah rutinitas yang digunakan membantu?”
Dengan cara tersebut, kalender menstruasi menjadi alat untuk mengenali pola, bukan komando untuk mengganti isi rak skincare setiap minggu.
Rutinitas yang sederhana tetapi konsisten juga membuat evaluasi menjadi lebih mudah. Ketika kulit berubah, kita memiliki peluang lebih besar untuk mengetahui apakah perubahan tersebut berkaitan dengan siklus, produk, lingkungan, atau faktor lain.
Jika jerawat muncul hampir setiap menjelang menstruasi dan tidak terkendali dengan perawatan bebas, konsultasi dengan dokter kulit dapat membantu menentukan apakah diperlukan terapi acne yang lebih spesifik, termasuk pilihan terapi hormonal pada kondisi tertentu.
Buat Ces yang ingin mencoba cycle-syncing, tidak perlu langsung membeli satu set skincare untuk setiap fase. Mulai dari kalender, catatan kondisi kulit, lalu biarkan respons kulit yang menentukan penyesuaian.
Dan kalau pembahasan soal skincare berbasis hormon ini membuat Ces makin penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi pada kulit sepanjang bulan, jangan berhenti di tren kecantikan saja. Ikuti terus Balikpapan TV untuk cerita lifestyle yang membantu membedakan mana kebiasaan yang masuk akal dan mana yang sekadar ramai di media sosial.
FAQ
1. Apakah cycle-syncing skincare terbukti secara ilmiah?
Belum ada bukti kuat yang menunjukkan bahwa semua orang perlu mengganti rutinitas skincare berdasarkan empat fase menstruasi. Penelitian memang menunjukkan adanya perubahan fisiologis kulit selama siklus, tetapi responsnya bervariasi.
2. Apakah jerawat sebelum menstruasi memang berkaitan dengan hormon?
Pada sebagian perempuan, perubahan hormon di sekitar menstruasi dapat berhubungan dengan munculnya atau memburuknya acne. Namun, jerawat memiliki banyak faktor sehingga tidak setiap jerawat otomatis merupakan “jerawat hormonal”.
3. Apakah retinol harus dihentikan saat menstruasi?
Menstruasi sendiri bukan alasan otomatis untuk menghentikan retinoid. Penggunaan perlu disesuaikan dengan toleransi kulit dan kondisi individual. Jika kulit sedang sangat kering atau iritasi, rutinitas mungkin perlu dibuat lebih lembut.
4. Apakah skincare harus diganti setiap minggu?
Tidak. Rutinitas yang konsisten umumnya lebih mudah dievaluasi. Penyesuaian dapat dilakukan ketika memang ada perubahan kondisi kulit yang nyata.
5. Kapan sebaiknya jerawat diperiksakan ke dokter?
Pertimbangkan konsultasi jika jerawat terasa nyeri, meradang berat, meninggalkan bekas atau jaringan parut, terus berulang, atau tidak membaik dengan perawatan yang digunakan.
6. Apa manfaat mencatat siklus menstruasi untuk skincare?
Catatan dapat membantu menemukan pola pribadi, misalnya kapan kulit lebih berminyak atau kapan jerawat cenderung muncul. Data tersebut dapat menjadi bahan evaluasi, tetapi bukan aturan bahwa produk tertentu wajib digunakan pada fase tertentu.