Postbiotics: Bakteri Mati yang Bantu Perkuat Skin Barrier dan Redakan Peradangan

Wafiq Azizah Amru • Dipublikasikan Selasa, 15 September 2026 | 12:25 WIB
Visual mikroskopis molekul postbiotik yang mendukung ketahanan serta menjaga kesehatan lapisan pelindung kulit. (BTV/Ai)
Visual mikroskopis molekul postbiotik yang mendukung ketahanan serta menjaga kesehatan lapisan pelindung kulit. (BTV/Ai)

Durasi Baca: 8 menit

Ikhtisar: Postbiotics memanfaatkan mikroorganisme nonaktif dan komponennya untuk membantu barrier kulit, meredakan peradangan, serta menjaga keseimbangan mikrobioma.

 

Balikpapan TV - Hai Ces! Bayangkan skincare yang tidak perlu membawa bakteri hidup ke kulit, tetapi tetap memanfaatkan komponen mikroorganisme untuk membantu menjaga barrier dan meredakan respons peradangan. Teknologi itu dikenal sebagai postbiotics dan mulai mendapat perhatian dalam perawatan kulit.

Yang menarik, istilah “bakteri mati” justru menjadi bagian penting dari ceritanya. Mikroorganisme yang sudah tidak hidup masih dapat menyisakan struktur sel dan komponen biologis yang berinteraksi dengan sel kulit. Lalu, bagaimana prosesnya bekerja dan seberapa kuat buktinya? Kita bahas pelan-pelan.

Bukan sekadar bakteri yang dimatikan

Postbiotics sering dijelaskan secara sederhana sebagai “probiotik yang sudah mati”. Padahal, definisinya lebih ketat.

International Scientific Association for Probiotics and Prebiotics (ISAPP) mendefinisikan postbiotic sebagai sediaan mikroorganisme yang sudah tidak hidup dan/atau komponennya yang memberikan manfaat kesehatan bagi inang. Artinya, tidak semua bakteri mati otomatis bisa disebut postbiotic. Produk tersebut perlu memiliki mikroorganisme nonaktif atau komponennya dan manfaatnya harus dibuktikan.

Di sinilah istilah postbiotic perlu dibedakan dari “hasil sampingan fermentasi”. Fermentasi memang dapat menghasilkan berbagai metabolit, tetapi metabolit yang sudah dimurnikan dan berdiri sendiri tidak otomatis termasuk postbiotic menurut definisi ISAPP. Sediaan postbiotic tetap berkaitan dengan mikroorganisme yang sudah diinaktivasi atau bagian dari selnya.

Jadi, ketika menemukan label seperti ferment lysate, bacterial lysate, atau bahan hasil fermentasi dalam skincare, jangan langsung menganggap semuanya memiliki arti ilmiah yang sama. Komposisi, strain mikroorganisme, proses inaktivasi, serta bukti manfaatnya tetap penting.

Kalau bakterinya sudah mati, apa yang masih bisa dilakukan?

Jawabannya ada pada struktur dan komponen mikroorganisme.

Bakteri memang tidak lagi tumbuh atau berkembang biak setelah diinaktivasi. Namun, bagian tertentu dari selnya masih dapat berinteraksi dengan sel manusia. Komponen seperti fragmen dinding sel, protein, lipid, polisakarida, maupun molekul lain dapat dikenali oleh sistem biologis tubuh.

Pada kulit, interaksi tersebut menarik karena kulit bukan sekadar lapisan pembungkus tubuh. Ia merupakan organ pertahanan yang terus berhadapan dengan lingkungan, kehilangan air, perubahan suhu, bahan kimia, mikroorganisme, dan rangsangan yang dapat memicu peradangan.

Penelitian mengenai postbiotics menunjukkan bahwa mikroorganisme nonaktif dapat berinteraksi dengan sel epitel dan sel imun, memengaruhi jalur respons imun, serta berpotensi membantu fungsi barrier. Mekanismenya tidak selalu sama karena efeknya bergantung pada mikroorganisme dan cara pembuatannya.

Dengan kata lain, “mati” dalam postbiotic tidak sama dengan “tidak aktif”.

Mikroorganismenya memang tidak hidup, tetapi komponen biologisnya masih dapat memberikan sinyal kepada sel kulit.

Visual sains kecantikan memperlihatkan postbiotik yang mendukung kesehatan serta kekuatan pelindung kulit secara alami. (BTV/Ai)
Visual sains kecantikan memperlihatkan postbiotik yang mendukung kesehatan serta kekuatan pelindung kulit secara alami. (BTV/Ai)

Barrier kulit sebenarnya sedang menjaga apa?

Barrier kulit terutama berkaitan dengan lapisan terluar kulit yang membantu mempertahankan air sekaligus membatasi masuknya berbagai zat dari lingkungan.

Ketika barrier bekerja dengan baik, air lebih terjaga di dalam kulit dan kulit memiliki pertahanan yang lebih baik terhadap berbagai gangguan dari luar. Sebaliknya, ketika barrier terganggu, kulit dapat menjadi lebih kering, sensitif, mudah mengalami iritasi, dan lebih rentan terhadap proses peradangan.

Karena itu, perawatan kulit tidak hanya soal membuat wajah terasa lembap atau terlihat lebih halus. Mempertahankan fungsi barrier juga berarti menjaga sistem pertahanan kulit tetap bekerja secara seimbang.

Penelitian mengenai mikrobioma kulit menunjukkan bahwa mikroorganisme yang hidup secara normal di permukaan kulit turut berperan dalam homeostasis, pertahanan terhadap mikroorganisme yang merugikan, dan regulasi respons imun. Gangguan keseimbangan mikrobioma dapat berkaitan dengan sejumlah kondisi kulit inflamasi.

Postbiotic menarik karena pendekatannya tidak harus memasukkan mikroorganisme hidup ke dalam formula.

Mengapa bisa membantu menenangkan peradangan?

Salah satu alasan postbiotics banyak diteliti adalah kemampuannya memodulasi respons imun.

Peradangan bukan selalu sesuatu yang buruk. Ketika kulit menghadapi ancaman, respons inflamasi merupakan bagian dari sistem pertahanan. Masalah muncul ketika respons tersebut terlalu kuat, terlalu lama, atau tidak kembali ke kondisi seimbang.

Komponen dari mikroorganisme nonaktif dapat berinteraksi dengan reseptor pada sel kulit dan sel imun. Interaksi tersebut dapat memengaruhi sinyal yang berkaitan dengan respons inflamasi.

Studi terbaru pada beberapa whole-cell postbiotics dari Bifidobacterium breve, Limosilactobacillus reuteri, dan Ligilactobacillus salivarius menemukan mekanisme yang berbeda antarstrain. B. breve dikaitkan dengan peningkatan diferensiasi keratinosit dan penekanan jalur inflamasi, sementara L. reuteri dan L. salivarius terutama menunjukkan efek pada jalur inflamasi dalam model kulit manusia ex vivo.

Ini sekaligus menunjukkan satu hal penting: tidak ada alasan ilmiah untuk menganggap semua postbiotic bekerja dengan cara yang identik.

Strain dan proses produksinya matters.

Hubungannya dengan ceramide dan kelembapan

Barrier kulit tidak hanya bergantung pada sel-sel kulit. Lipid di lapisan terluar kulit, termasuk ceramide, juga memiliki peran penting dalam mempertahankan struktur barrier dan mengurangi kehilangan air.

Menariknya, beberapa penelitian mengenai bahan yang berasal dari mikroorganisme menunjukkan potensi untuk memengaruhi sistem lipid kulit.

Salah satu contoh yang telah diteliti adalah lysate Streptococcus thermophilus. Studi yang dirangkum dalam tinjauan mengenai probiotik dan postbiotic skincare menunjukkan bahwa lysate tersebut dapat meningkatkan kadar ceramide pada stratum corneum, memperbaiki fungsi barrier lipid, dan mengurangi kehilangan air melalui kulit.

Ada pula penelitian terhadap lysate Lactiplantibacillus plantarum yang dikaitkan dengan peningkatan ekspresi faktor yang berhubungan dengan hidrasi kulit. Penelitian lain melaporkan perubahan pada transepidermal water loss atau TEWL setelah penggunaan bahan berbasis fermentasi tertentu.

Namun, temuan seperti ini sebaiknya tidak diterjemahkan menjadi janji bahwa semua produk postbiotic pasti memperbaiki barrier. Efek sangat bergantung pada bahan, konsentrasi, formulasi, cara pemakaian, dan bukti klinis produk tersebut.

Lalu bagaimana dengan risiko infeksi?

Di sinilah salah satu perbedaan menarik antara postbiotic dan probiotik.

Probiotik adalah mikroorganisme hidup yang harus tetap hidup dalam kondisi yang diperlukan untuk memberikan manfaat. Postbiotic justru menggunakan mikroorganisme yang telah diinaktivasi.

Karena mikroorganismenya tidak hidup, postbiotic tidak memiliki kemampuan untuk tumbuh dan bereplikasi seperti mikroorganisme hidup. ISAPP menyebut bahwa aspek ini menghilangkan kekhawatiran mengenai kemampuan mikroorganisme tersebut menyebabkan infeksi, meskipun keamanan setiap sediaan untuk penggunaan tertentu tetap harus dibuktikan.

Ini bukan berarti semua produk dengan label “postbiotic” otomatis aman untuk semua orang.

Formulasi tetap dapat mengandung bahan lain yang menyebabkan iritasi atau alergi. Selain itu, standar keamanan, konsentrasi, kualitas bahan baku, dan tujuan penggunaannya tetap harus diperhatikan.

Jadi, kalimat yang lebih tepat bukan “postbiotic bebas risiko”, melainkan tidak adanya mikroorganisme hidup menghilangkan risiko infektivitas dari mikroorganisme tersebut.

Bukti pada kulit mulai bergerak dari laboratorium ke manusia

Bidang postbiotic skincare masih berkembang, tetapi penelitian tidak berhenti pada mekanisme laboratorium.

Sebuah studi tahun 2024 terhadap krim yang mengandung ekstrak postbiotic Aquaphilus dolomiae mengevaluasi penggunaan pada orang dewasa dengan kulit wajah sensitif dalam kondisi penggunaan sehari-hari selama dua hingga tiga bulan. Penelitian tersebut menilai gejala kulit, kekeringan, efektivitas yang dirasakan, tolerabilitas, kepuasan, serta kualitas hidup.

Penelitian lain menunjukkan potensi postbiotic lactobacilli dalam mendukung respons antimikroba kulit dan pemulihan barrier. Dalam model keratinosit serta kulit manusia ex vivo, salah satu postbiotic yang diuji meningkatkan ekspresi sejumlah gen respons antimikroba, mendorong migrasi sel, meningkatkan ekspresi protein tight junction, serta meningkatkan IL-10 dan proses re-epitelisasi.

Temuan seperti ini menarik karena memperlihatkan bahwa postbiotic tidak hanya dipelajari sebagai bahan pelembap. Para peneliti juga melihat kemungkinan pengaruhnya terhadap komunikasi antara mikroorganisme, sel kulit, barrier, dan sistem imun.

Tetapi sebagian bukti tersebut masih berasal dari model sel atau kulit ex vivo. Itu berbeda dengan bukti dari uji klinis besar pada manusia.

Jadi, apakah postbiotic lebih baik daripada probiotic?

Tidak sesederhana itu.

Probiotic dan postbiotic memiliki karakter yang berbeda. Probiotic menggunakan mikroorganisme hidup, sedangkan postbiotic menggunakan mikroorganisme yang telah diinaktivasi atau komponennya.

Postbiotic memiliki beberapa keunggulan praktis. Karena tidak membutuhkan mikroorganisme hidup, stabilitas formulasi dapat menjadi lebih mudah dikelola. Tidak adanya kemampuan mikroorganisme untuk berkembang biak juga menghilangkan persoalan infektivitas yang terkait dengan mikroorganisme hidup.

Namun, “lebih aman” atau “lebih stabil” bukan berarti otomatis “lebih efektif”.

Bahkan dalam penelitian postbiotic sendiri, cara mikroorganisme diinaktivasi dapat memengaruhi sifat biologis produk. Karena itu, efek suatu postbiotic tidak bisa begitu saja dipindahkan ke bahan lain hanya karena keduanya berasal dari kelompok bakteri yang sama.

Apa yang perlu diperhatikan saat memilih skincare postbiotic?

Bagi konsumen, label “postbiotic” sebaiknya menjadi awal untuk membaca formula, bukan alasan langsung untuk membeli.

1. Perhatikan nama bahan

Cari tahu apakah produk menggunakan lysate, ferment, ekstrak mikroorganisme, atau bentuk bahan lain. Istilah pemasaran dapat digunakan secara luas, sementara definisi ilmiah postbiotic memiliki kriteria tertentu.

2. Jangan terpaku pada nama bakteri

Dua bahan dari kelompok mikroorganisme yang berbeda belum tentu memiliki fungsi yang sama. Bahkan strain yang berbeda dalam satu spesies dapat menghasilkan karakter biologis yang berbeda.

3. Lihat klaim yang dibuat

Klaim “membantu menjaga barrier” memiliki makna yang berbeda dengan “mengobati dermatitis” atau “menyembuhkan jerawat”. Klaim terapeutik membutuhkan tingkat bukti yang lebih kuat.

4. Tetap prioritaskan basic skincare

Postbiotic tidak menggantikan kebutuhan dasar kulit seperti pembersihan yang lembut, pelembap yang sesuai, dan perlindungan terhadap paparan ultraviolet.

5. Kulit sensitif tetap perlu bertahap

Bahan yang berasal dari fermentasi atau mikroorganisme tetap berada di dalam formula bersama bahan lainnya. Jika kulit mudah bereaksi, penggunaan bertahap dan memperhatikan respons kulit tetap masuk akal.

Kesalahan paling umum: menganggap semua “ferment” adalah postbiotic

Ini salah satu bagian yang paling penting.

Kata “ferment” pada label kosmetik tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa bahan tersebut memenuhi definisi postbiotic. Menurut ISAPP, metabolit mikroba yang telah dimurnikan tidak dikategorikan sebagai postbiotic jika tidak lagi mengandung mikroorganisme nonaktif atau komponennya.

Karena itu, konsumen sebaiknya tidak menilai sebuah produk hanya dari kata “fermented”, “probiotic”, atau “postbiotic” yang tercetak di kemasan.

Yang lebih penting adalah apa bahan sebenarnya, bagaimana dibuat, untuk tujuan apa digunakan, dan apakah manfaatnya didukung penelitian.

Poin Penting

  1. Postbiotic bukan sekadar “bakteri mati”, tetapi sediaan mikroorganisme nonaktif dan/atau komponennya yang terbukti memberikan manfaat bagi inang.

  2. Komponen mikroorganisme yang sudah tidak hidup masih dapat berinteraksi dengan sel kulit dan sistem imun.

  3. Sejumlah penelitian menunjukkan potensi postbiotic dalam mendukung barrier kulit, hidrasi, respons antimikroba, dan pengendalian inflamasi.

  4. Tidak semua bahan hasil fermentasi otomatis termasuk postbiotic.

  5. Tidak adanya mikroorganisme hidup menghilangkan kemampuan bahan tersebut untuk berkembang biak dan mengurangi kekhawatiran infektivitas dari mikroorganisme hidup.

  6. Bukti ilmiah postbiotic skincare masih berkembang dan kekuatan buktinya berbeda-beda menurut bahan serta kondisi yang diteliti.

Insight Redaksi

Hal paling menarik dari teknologi postbiotic bukan sebenarnya soal “bakteri mati”.

Yang lebih penting adalah perubahan cara pandang terhadap mikroorganisme.

Selama ini, bakteri sering ditempatkan sebagai sesuatu yang harus dibasmi ketika membicarakan kulit. Padahal kulit yang sehat juga merupakan ekosistem yang dihuni mikroorganisme. Tantangannya bukan membuat kulit menjadi steril, melainkan menjaga hubungan yang seimbang antara barrier, mikrobioma, dan sistem imun.

Postbiotic mencoba mengambil bagian yang bermanfaat dari interaksi tersebut tanpa harus membawa mikroorganisme hidup ke dalam produk.

Tetapi teknologi ini masih membutuhkan penelitian lebih panjang dan uji klinis yang lebih besar. Tinjauan ilmiah terbaru juga menyoroti heterogenitas formulasi, metode penelitian, dan kebutuhan standardisasi sebagai tantangan yang masih harus diselesaikan.

Jadi, jangan buru-buru menganggap postbiotic sebagai “bahan ajaib” baru dalam skincare. Lebih tepat melihatnya sebagai salah satu pendekatan bioteknologi yang sedang berkembang untuk memahami bagaimana kulit dapat dirawat melalui komunikasi antara mikroorganisme dan sel manusia.

Kalau selama ini kita mengenal skincare sebagai kombinasi pelembap, antioksidan, retinoid, atau bahan aktif lainnya, postbiotic membawa satu gagasan yang cukup berbeda: sesuatu tidak harus hidup untuk tetap memberikan sinyal biologis yang berguna.

Kalau menurut ikam, bagian paling menarik dari skincare justru ketika sains mulai menjelaskan hal-hal kecil yang selama ini tidak terlihat di permukaan kulit. Bagikan artikel ini kalau kamu ingin lebih banyak teman memahami teknologi skincare tanpa terjebak klaim pemasaran.

FAQ

1. Apa itu postbiotic?

Postbiotic adalah sediaan mikroorganisme yang tidak hidup dan/atau komponennya yang memberikan manfaat kesehatan bagi inang. Definisi ilmiah ini berasal dari konsensus ISAPP.

2. Apakah postbiotic sama dengan probiotik?

Tidak. Probiotik merupakan mikroorganisme hidup yang memberikan manfaat ketika diberikan dalam jumlah memadai. Postbiotic menggunakan mikroorganisme yang sudah tidak hidup atau komponennya.

3. Apakah bakteri mati masih bisa bekerja di kulit?

Bisa dalam konteks tertentu. Komponen sel mikroorganisme yang telah diinaktivasi masih dapat berinteraksi dengan sel kulit dan sistem imun. Efeknya bergantung pada mikroorganisme, komponen yang digunakan, proses inaktivasi, serta formulasi.

4. Apakah postbiotic dapat memperbaiki skin barrier?

Sejumlah penelitian menunjukkan potensi tersebut, termasuk pengaruh terhadap fungsi barrier, tight junction, ceramide, hidrasi, dan kehilangan air melalui kulit. Namun, hasilnya tidak dapat digeneralisasi untuk semua postbiotic.

5. Apakah postbiotic bisa menyebabkan infeksi?

Karena mikroorganismenya tidak hidup, ia tidak memiliki kemampuan untuk tumbuh dan bereplikasi seperti mikroorganisme hidup. Namun, keamanan produk secara keseluruhan tetap harus dinilai berdasarkan formulasi dan penggunaan yang dimaksud.

6. Apakah semua skincare dengan fermentasi termasuk postbiotic?

Tidak. Metabolit hasil fermentasi yang telah dimurnikan, misalnya, tidak otomatis memenuhi definisi postbiotic menurut ISAPP. Sediaan postbiotic harus berkaitan dengan mikroorganisme nonaktif dan/atau komponennya serta memiliki manfaat yang dibuktikan.

my ride-or-die for updates
my ride-or-die for updates

 

Editor : Arya Kusuma
postbiotics mikrobioma kulit Skincare Skin barrier