Durasi Baca: 8 menit
Ikhtisar: Perubahan hormon menjelang menstruasi dapat memicu minyak berlebih dan jerawat berulang, sehingga rutinitas skincare perlu disesuaikan.
Balikpapan TV - Hai Ces! Jerawat yang kembali muncul di dagu, rahang, atau pipi menjelang menstruasi bisa berkaitan dengan perubahan hormon sepanjang siklus menstruasi.
Kalau polanya terasa berulang setiap bulan, jangan buru-buru mengganti seluruh skincare. Mengenali pola siklus justru bisa membantu menentukan kapan kulit perlu dirawat lebih lembut dan kapan pencegahan perlu diperkuat.
Kenapa jerawat seperti punya “jadwal” sendiri?
Bagi sebagian perempuan, kemunculan jerawat terasa seperti kalender yang tidak pernah meleset. Beberapa hari sebelum menstruasi, satu atau dua benjolan mulai muncul di area yang sama. Setelah menstruasi berlangsung, jerawat perlahan mereda, lalu siklus kembali berulang pada bulan berikutnya.
Pola seperti ini memang dapat terjadi. Sebuah penelitian terhadap 400 perempuan menemukan 44 persen responden mengalami jerawat yang memburuk menjelang menstruasi. Penelitian lain pada perempuan dewasa juga menemukan jumlah lesi jerawat inflamasi dan komedo meningkat pada fase luteal, yaitu fase setelah ovulasi sebelum menstruasi.
Namun, bukan berarti setiap jerawat sebelum menstruasi otomatis merupakan “jerawat hormonal”. Jerawat terbentuk melalui beberapa mekanisme yang saling berkaitan, termasuk produksi sebum atau minyak kulit, penyumbatan folikel, serta peradangan.
Hormon androgen memiliki peran penting dalam merangsang kelenjar sebaceous, yaitu kelenjar penghasil minyak pada kulit. Ketika produksi sebum meningkat dan bercampur dengan sel kulit mati di dalam pori, lingkungan tersebut dapat mendukung terbentuknya lesi jerawat.
Itulah sebabnya perubahan hormon sepanjang siklus menstruasi bisa menjadi salah satu faktor yang membuat kulit lebih mudah berjerawat pada waktu tertentu.
Mengapa sering muncul di dagu dan rahang?
Lokasi jerawat juga dapat memberi petunjuk, meski tidak bisa dijadikan satu-satunya cara untuk menentukan penyebab.
American Academy of Dermatology menyebut jerawat yang berkaitan dengan perubahan hormon menstruasi sering muncul sebagai benjolan meradang atau lebih dalam di sekitar rahang, dagu, dan bagian bawah pipi. Sebagian orang mengalaminya terutama menjelang menstruasi.
Area tersebut juga sering menjadi lokasi yang diperhatikan ketika seseorang mengalami pola jerawat berulang. Tetapi penting untuk tidak menyederhanakan semua jerawat di rahang sebagai jerawat hormonal.
Produk rambut, kosmetik yang menyumbat pori, kebiasaan menyentuh wajah, stres, kurang tidur, serta faktor lain tetap dapat berperan. Karena itu, pola lokasi sebaiknya dibaca bersama pola waktu kemunculannya.
Jika jerawat muncul di area yang sama dan waktunya berulang mendekati menstruasi selama beberapa siklus, pola tersebut lebih berguna untuk dicatat daripada sekadar menebak penyebabnya.
Baca Juga: Brush Makeup Cepat Kotor? Ini Cara Membersihkan dan Menyimpannya agar Awet
Apa yang terjadi pada kulit menjelang menstruasi?
Siklus menstruasi melibatkan perubahan kadar beberapa hormon, terutama estrogen dan progesteron. Perubahan tersebut juga dapat memengaruhi kondisi kulit.
Kajian mengenai hubungan siklus menstruasi dan kulit menunjukkan berbagai perubahan fisiologis dapat terjadi sepanjang siklus. Kajian lain menyebut beberapa kondisi kulit, termasuk jerawat, dapat memburuk di sekitar periode menstruasi ketika terjadi perubahan hormonal.
Penelitian yang lebih baru juga menemukan jumlah jerawat cenderung lebih tinggi pada fase luteal akhir dan hari-hari awal menstruasi dibandingkan fase lain dalam siklus. Dalam penelitian tersebut, perbedaan rata-rata sekitar 5–6 lesi ditemukan pada kelompok yang diteliti. Hasil seperti ini menunjukkan adanya hubungan, tetapi bukan berarti semua orang akan mengalami perubahan dengan besaran yang sama.
Jadi, kulit tidak memiliki satu “aturan menstruasi” yang berlaku untuk semua orang.
Ada yang merasa lebih berminyak. Ada yang justru merasa kulit lebih sensitif atau mudah kering. Ada pula yang hampir tidak mengalami perubahan berarti.
Karena respons kulit setiap orang berbeda, penyesuaian skincare sebaiknya dimulai dari pola kulit sendiri, bukan mengikuti kalender menstruasi secara kaku.
Cycle syncing untuk skincare, apakah benar-benar perlu?
Istilah cycle syncing belakangan banyak digunakan untuk menggambarkan kebiasaan menyesuaikan aktivitas, pola makan, olahraga, atau perawatan diri dengan fase menstruasi.
Untuk skincare, pendekatan yang paling masuk akal bukan mengganti seluruh produk setiap fase. Lebih aman menganggapnya sebagai strategi mengamati pola kulit kemudian melakukan penyesuaian kecil ketika gejala memang muncul.
Penelitian klinis mengenai cycle syncing sebagai satu paket metode masih terbatas dan hasilnya belum cukup untuk mengatakan bahwa setiap orang harus menjalankan rutinitas berbeda pada empat fase menstruasi. Karena itu, jangan menganggap ada formula skincare wajib untuk fase tertentu.
Yang lebih realistis adalah menggunakan siklus sebagai alat pencatatan.
Misalnya, jika selama tiga bulan berturut-turut jerawat muncul sekitar satu minggu sebelum menstruasi, periode tersebut bisa menjadi waktu untuk lebih konsisten menggunakan produk antijerawat yang memang sudah cocok dengan kulit.
Bukan berarti kulit harus “dihukum” dengan banyak bahan aktif.
Baca Juga: Krim Mata Tidak Perlu Setebal Itu, Ini Cara Pakai yang Lebih Tepat
Cara menyesuaikan skincare berdasarkan siklus menstruasi
1. Catat pola kulit selama tiga siklus
Langkah pertama justru tidak membutuhkan produk baru.
Catat tanggal menstruasi, kapan kulit mulai berminyak, lokasi jerawat, jenis jerawat, serta produk aktif yang sedang digunakan. Foto wajah dengan pencahayaan serupa juga dapat membantu melihat perubahan yang sulit diingat.
Lakukan setidaknya selama tiga siklus agar pola tidak disimpulkan hanya dari satu kejadian.
Catatan sederhana bisa berbentuk:
| Yang Dicatat | Contoh |
|---|---|
| Waktu muncul | 5–7 hari sebelum menstruasi |
| Lokasi | Dagu dan rahang |
| Bentuk | Benjolan merah/meradang |
| Kondisi minyak | Lebih berminyak dari biasanya |
| Produk aktif | Salicylic acid 2 kali seminggu |
| Kondisi setelah menstruasi | Peradangan berkurang |
Tujuannya bukan mencari kesempurnaan, tetapi mengetahui apakah memang terdapat pola yang berulang.
2. Pertahankan basic skincare sepanjang siklus
Pembersih wajah yang lembut, pelembap, dan tabir surya tetap menjadi fondasi.
Kesalahan yang sering terjadi adalah mengganti seluruh rutinitas ketika jerawat muncul. Padahal, terlalu banyak perubahan dalam waktu singkat dapat membuat kulit semakin iritasi dan menyulitkan seseorang mengetahui produk mana yang sebenarnya cocok.
American Academy of Dermatology juga menekankan pentingnya menjaga rutinitas tetap lembut ketika menggunakan produk antijerawat karena sejumlah bahan aktif dapat membuat kulit kering atau iritasi.
Artinya, cycle syncing bukan alasan untuk meninggalkan rutinitas dasar.
Justru rutinitas dasar perlu dibuat cukup stabil agar perubahan kulit lebih mudah diamati.
3. Perkuat pencegahan sebelum pola jerawat biasanya muncul
Jika catatan menunjukkan jerawat selalu mulai muncul beberapa hari sebelum menstruasi, jangan menunggu sampai benjolan menjadi besar untuk mulai memperhatikan perawatan.
Pada fase tersebut, seseorang bisa lebih disiplin dengan rutinitas antijerawat yang sudah terbukti cocok untuk kulitnya.
Bahan yang umum digunakan dalam perawatan jerawat antara lain retinoid, benzoyl peroxide, dan salicylic acid. Masing-masing bekerja dengan cara berbeda dan tidak semuanya cocok untuk setiap kondisi kulit.
Untuk pemula, prinsipnya sederhana: jangan menambahkan beberapa bahan aktif sekaligus hanya karena jerawat sedang muncul.
Perubahan satu produk dalam satu waktu lebih mudah dipantau dan biasanya lebih masuk akal daripada melakukan “serangan” terhadap kulit.
4. Kurangi eksperimen ketika kulit sedang sensitif
Jerawat yang muncul menjelang menstruasi bisa membuat seseorang tergoda mencoba masker, scrub, peeling, atau berbagai produk yang sedang viral.
Padahal, kulit yang sedang mengalami peradangan belum tentu membutuhkan lebih banyak produk.
Jika kulit terasa perih, kering, mengelupas, atau semakin merah, fokus dapat dikembalikan pada pembersih lembut, pelembap, dan perlindungan dari sinar matahari sambil mengevaluasi produk aktif yang digunakan.
Dokter kulit bersertifikat Fatima Fahs, MD, FAAD, melalui American Academy of Dermatology juga menekankan bahwa perawatan jerawat perlu disesuaikan dengan jenis dan tingkat keparahan jerawat masing-masing orang.
5. Jangan memencet jerawat yang muncul berulang
Jerawat yang selalu muncul di tempat sama bisa terasa sangat mengganggu. Namun, memencetnya berulang kali dapat memperburuk peradangan dan meningkatkan risiko bekas.
Ini menjadi semakin penting jika benjolan terasa dalam, nyeri, atau seperti berada di bawah permukaan kulit.
Untuk jerawat tertentu, pimple patch dapat membantu mencegah kebiasaan menyentuh atau memencet, tetapi tidak menjadi solusi untuk semua jenis jerawat, terutama lesi yang dalam.
Jika jerawat yang sama terus berulang dan meninggalkan noda atau bekas luka, masalahnya sudah bukan sekadar soal memilih skincare yang lebih kuat.
6. Sesuaikan rutinitas berdasarkan respons kulit, bukan kalender semata
Siklus menstruasi dapat menjadi petunjuk, tetapi jangan menjadikannya aturan mutlak.
Misalnya, jika seseorang berada pada fase setelah menstruasi tetapi kulitnya tetap sensitif, tidak ada alasan memaksakan penggunaan bahan aktif lebih banyak hanya karena “fase kulit” seharusnya sudah berubah.
Sebaliknya, bila beberapa hari menjelang menstruasi kulit cenderung lebih berminyak dan jerawat berulang muncul, catatan tersebut dapat digunakan untuk meningkatkan konsistensi perawatan yang sudah sesuai.
Inilah bentuk cycle syncing yang lebih realistis: bukan mengikuti resep empat fase, tetapi belajar mengenali pola tubuh sendiri.
Kapan jerawat hormonal perlu diperiksa dokter?
Tidak semua jerawat berulang membutuhkan pemeriksaan hormon.
Namun, konsultasi dengan dokter kulit patut dipertimbangkan jika jerawat terasa dalam dan nyeri, semakin sering muncul, meninggalkan bekas luka, tidak membaik meski perawatan dasar sudah dilakukan, atau sangat mengganggu kualitas hidup.
Jerawat yang menetap di rahang dan leher juga dapat menjadi salah satu pola yang dipertimbangkan dokter ketika mengevaluasi kemungkinan terapi hormonal. American Academy of Dermatology mencatat terapi hormonal tertentu, seperti kontrasepsi oral atau spironolactone, dapat digunakan pada sebagian perempuan, tetapi obat tersebut harus melalui penilaian dan resep dokter.
Jangan mencoba obat hormonal sendiri hanya karena menganggap jerawat sebagai akibat hormon.
Ada pula kondisi tertentu seperti gangguan hormonal atau sindrom ovarium polikistik yang dapat berkaitan dengan jerawat. Bila jerawat disertai perubahan siklus menstruasi yang mencolok atau gejala lain, pemeriksaan medis menjadi lebih penting.
Baca Juga: Biar Makin Kompak! 6 Inspirasi Outfit Couple Bersama Teman untuk Hangout dan Event
Bagaimana jika sedang hamil atau merencanakan kehamilan?
Ini bagian yang tidak boleh dilewatkan ketika membahas skincare antijerawat.
Beberapa bahan dan obat jerawat tidak boleh digunakan saat hamil. American Academy of Dermatology menyebut retinoid tertentu, termasuk isotretinoin, tretinoin, tazarotene, serta retinol/adapalene, perlu dihindari selama kehamilan. Spironolactone juga tidak digunakan selama kehamilan.
Karena keamanan bahan dapat bergantung pada kondisi seseorang, perempuan yang hamil atau sedang merencanakan kehamilan sebaiknya membicarakan seluruh produk dan obat jerawat dengan dokter kulit atau dokter kandungan.
Jangan menggunakan kalender menstruasi sebagai dasar untuk menentukan bahwa suatu obat otomatis aman.
Kesalahan yang sering dilakukan saat mengejar “jerawat hormonal”
-
Mengganti seluruh skincare sekaligus.
Cara ini membuat kulit sulit beradaptasi dan sulit diketahui produk mana yang menyebabkan iritasi. -
Menggunakan terlalu banyak bahan aktif.
Jerawat tidak selalu membaik lebih cepat hanya karena lebih banyak bahan antijerawat digunakan. -
Menganggap semua jerawat di dagu pasti hormonal.
Lokasi jerawat memang bisa memberi petunjuk, tetapi diagnosis tetap membutuhkan penilaian kondisi kulit secara menyeluruh. -
Menunggu jerawat besar baru bertindak.
Jika pola sudah terlihat berulang, perawatan yang konsisten lebih masuk akal daripada tindakan agresif setelah peradangan muncul. -
Mengikuti tren cycle syncing secara kaku.
Bukti ilmiah mengenai cycle syncing sebagai satu metode lengkap masih terbatas. Gunakan konsep tersebut untuk meningkatkan kesadaran terhadap pola tubuh, bukan sebagai aturan medis.
Rutinitas sederhana untuk pemula
Untuk pembaca yang baru ingin mulai mengamati hubungan menstruasi dengan kondisi kulit, rutinitas tidak perlu rumit.
Pagi: gunakan pembersih lembut bila diperlukan, pelembap sesuai kondisi kulit, kemudian tabir surya.
Malam: bersihkan wajah, gunakan produk antijerawat yang memang sesuai dan sudah diketahui toleransinya, kemudian lanjutkan pelembap.
Saat memasuki periode yang berdasarkan catatan biasanya menjadi waktu munculnya jerawat, fokus utama adalah konsistensi, bukan menambah lima produk baru.
Jika menggunakan bahan aktif, ikuti petunjuk penggunaan produk dan perhatikan tanda iritasi. Bila kulit menjadi sangat kering, perih, atau meradang, evaluasi kembali rutinitas tersebut.
Baca Juga: Perbedaan Retinol, Bakuchiol, dan Peptida: Mana yang Paling Cocok untuk Kulit Usia Muda?
Poin Penting
-
Jerawat memang dapat mengalami flare menjelang menstruasi pada sebagian perempuan.
-
Hormon dapat memengaruhi kelenjar minyak dan mekanisme yang berkaitan dengan jerawat.
-
Jerawat di rahang, dagu, dan bagian bawah pipi dapat berkaitan dengan pola hormonal, tetapi lokasi saja tidak cukup untuk menentukan penyebab.
-
Cycle syncing untuk skincare belum memiliki bukti klinis yang cukup untuk dijadikan aturan universal.
-
Mencatat pola kulit selama beberapa siklus lebih berguna daripada mengganti skincare secara impulsif.
-
Rutinitas dasar yang lembut tetap penting sepanjang siklus.
-
Jerawat dalam, nyeri, menetap, atau meninggalkan bekas sebaiknya diperiksa dokter kulit.
Insight Redaksi
Jerawat yang muncul di tempat sama setiap bulan bukan berarti kulit “gagal dirawat”. Bisa jadi tubuh memang menunjukkan pola yang berulang.
Yang perlu dicari bukan produk paling kuat untuk melawan jerawat, melainkan pola yang paling konsisten: kapan jerawat muncul, seperti apa bentuknya, apa yang digunakan sebelumnya, dan bagaimana kulit bereaksi.
Dari sana, rutinitas skincare dapat dibuat lebih masuk akal dan tidak mudah berubah hanya karena tren.
FAQ
1. Apakah jerawat sebelum menstruasi pasti disebabkan hormon?
Tidak selalu. Perubahan hormon merupakan salah satu faktor, tetapi jerawat juga dipengaruhi produksi sebum, penyumbatan folikel, peradangan, genetik, produk perawatan, stres, dan faktor lainnya.
2. Kenapa jerawat selalu muncul di dagu?
Dagu dan rahang memang sering menjadi lokasi jerawat yang berkaitan dengan perubahan hormonal pada sebagian perempuan. Namun, lokasi tersebut tidak cukup untuk memastikan bahwa penyebabnya hormonal.
3. Apakah harus mengganti skincare setiap fase menstruasi?
Tidak. Belum ada bukti kuat bahwa setiap orang membutuhkan rutinitas skincare berbeda pada setiap fase menstruasi. Rutinitas dasar yang konsisten justru penting.
4. Apakah cycle syncing benar-benar terbukti secara ilmiah?
Sebagai konsep lengkap, bukti klinisnya masih terbatas. Pendekatan yang lebih realistis adalah menggunakan siklus untuk mengamati pola tubuh dan menyesuaikan kebiasaan secara individual.
5. Kapan perlu ke dokter kulit?
Pertimbangkan konsultasi jika jerawat dalam atau nyeri, terus berulang, meninggalkan bekas luka, tidak membaik dengan perawatan yang sesuai, atau sangat mengganggu aktivitas dan kepercayaan diri.
6. Bolehkah memakai retinoid saat hamil?
Retinoid tertentu, termasuk isotretinoin, tretinoin, tazarotene, serta retinol/adapalene, perlu dihindari selama kehamilan. Konsultasikan produk yang digunakan kepada dokter.