Durasi Baca: 7 Menit
Ikhtisar: Menemukan gaya fashion pribadi bisa dimulai dari mengenali kenyamanan, warna, siluet, kebutuhan, dan pakaian yang paling sering dipakai.
Balikpapan TV - Hai Ces! Menentukan gaya fashion pribadi membantu seseorang memilih pakaian yang sesuai karakter, aktivitas, dan kenyamanan tanpa harus membeli atau mengikuti setiap tren yang muncul.
Tren fashion memang menarik, tetapi tidak semuanya cocok untuk setiap orang. Daripada terus mengejar gaya yang berganti cepat, lebih baik mengenali pola pakaian yang membuat diri sendiri merasa nyaman dan percaya diri.
Gaya pribadi bukan berarti harus memilih satu estetika
Personal style tidak harus dikunci dalam satu label seperti minimalis, streetwear, feminin, klasik, atau vintage. Seseorang bisa menyukai beberapa karakter sekaligus selama ada benang merah yang terasa konsisten.
Vogue pada 2026 menyoroti bahwa siklus microtrend yang terus bergerak dapat membuat seseorang merasa kesulitan menemukan gaya sendiri. Salah satu pendekatan yang disarankan adalah mempertanyakan kembali pakaian yang sudah dimiliki: apakah warnanya disukai, apakah bentuknya terasa nyaman, dan apakah pakaian tersebut membuat pemakainya merasa seperti dirinya sendiri.
Artinya, gaya pribadi lebih dekat dengan proses mengenali diri daripada sekadar menghafal tren terbaru.
1. Mulai dari isi lemari sendiri
Sebelum membeli pakaian baru, buka kembali lemari dan cari sekitar lima sampai sepuluh pakaian yang paling sering digunakan.
Perhatikan kesamaannya:
-
Apakah warnanya cenderung netral atau cerah?
-
Apakah lebih sering memakai pakaian longgar atau pas badan?
-
Apakah menyukai celana, rok, atau dress?
-
Model sepatu apa yang paling sering digunakan?
-
Apakah lebih nyaman dengan aksesori sederhana atau statement?
Dari sini biasanya mulai terlihat pola.
Misalnya, jika sebagian besar pakaian favorit berupa kaus polos, celana lurus, sneakers, dan outer sederhana, kemungkinan kenyamanan dan kesederhanaan memang menjadi bagian penting dari gaya pribadi.
Jangan abaikan pakaian lama hanya karena bukan barang baru. Justru pakaian yang berulang kali dipakai bisa memberikan petunjuk paling jujur tentang selera sendiri.
2. Tentukan tiga kata yang menggambarkan gaya
Cara sederhana untuk memperjelas gaya adalah memilih tiga kata yang ingin terlihat dalam penampilan sehari-hari.
Contohnya:
Santai – rapi – minimalis
atau:
Feminin – nyaman – playful
atau:
Klasik – sederhana – elegan
Tiga kata tersebut bukan aturan wajib. Fungsinya sebagai filter ketika memilih pakaian.
Ketika melihat sebuah tren baru, tanyakan: Apakah pakaian ini masih masuk ke tiga karakter yang saya inginkan?
Kalau jawabannya tidak, tidak ada alasan untuk memaksakan diri membelinya.
3. Perhatikan pakaian yang membuat tubuh terasa nyaman
Pakaian yang terlihat bagus di orang lain belum tentu memberikan pengalaman yang sama ketika dikenakan sendiri.
Perhatikan hal-hal praktis seperti ukuran, potongan, bahan, panjang pakaian, dan kebebasan bergerak.
Kenyamanan juga penting karena pakaian digunakan dalam kehidupan nyata, bukan hanya untuk foto.
Pendekatan ini sejalan dengan pandangan stylist Karla Welch yang menempatkan riset, inspirasi visual, eksperimen, dan keberanian mencoba sebagai bagian dari proses menemukan personal style.
Jadi, jangan hanya bertanya, "Bagus tidak?"
Tambahkan pertanyaan lain: "Saya nyaman memakainya seharian atau tidak?"
4. Buat moodboard, tetapi jangan menirunya mentah-mentah
Kumpulkan foto outfit yang benar-benar menarik perhatian. Bisa berasal dari majalah, film, street style, media sosial, atau orang di sekitar.
Setelah terkumpul, cari pola yang berulang.
Mungkin ternyata Anda sering menyimpan outfit dengan:
-
warna earth tone;
-
celana berpotongan lebar;
-
kemeja oversized;
-
aksesori minimal;
-
sneakers;
-
layering sederhana.
Pola tersebut lebih berguna daripada sekadar menyebut diri sebagai penggemar satu estetika.
Vogue juga merekomendasikan moodboarding sebagai cara untuk mengenali inspirasi dan menemukan referensi gaya yang terasa personal.
5. Terapkan aturan "cocok dengan minimal tiga pakaian"
Sebelum membeli pakaian baru, coba bayangkan sedikitnya tiga kombinasi dari isi lemari yang sudah dimiliki.
Contohnya satu kemeja baru dapat dipadukan dengan:
-
celana jeans dan sneakers;
-
celana bahan dan loafers;
-
rok dan sandal.
Jika hanya cocok dengan satu pakaian, kemungkinan besar barang tersebut akan lebih jarang dipakai.
Cara ini juga membantu mengurangi pembelian impulsif karena keputusan tidak hanya didasarkan pada rasa suka sesaat.
6. Kenali situasi yang paling sering dihadapi
Gaya pribadi harus bekerja dalam kehidupan sehari-hari.
Seseorang yang banyak bekerja di kantor tentu memiliki kebutuhan berbeda dengan orang yang lebih sering bekerja dari rumah, kuliah, bepergian, atau menjalankan aktivitas luar ruangan.
Buat pembagian sederhana:
| Aktivitas | Kebutuhan Gaya |
|---|---|
| Kerja | Rapi, nyaman, mudah dipadukan |
| Santai | Fleksibel dan ringan |
| Acara | Lebih polished atau formal |
| Jalan-jalan | Nyaman dan praktis |
| Aktivitas luar ruang | Fungsional dan sesuai cuaca |
Dari sini, gaya pribadi tidak lagi hanya soal estetika. Ia menjadi sistem berpakaian yang benar-benar mendukung aktivitas.
7. Sesuaikan dengan iklim dan lingkungan
Pilihan pakaian juga perlu mempertimbangkan kondisi tempat tinggal.
Untuk wilayah beriklim panas seperti Balikpapan, pakaian yang ringan, memiliki sirkulasi udara baik, dan nyaman digunakan dalam aktivitas sehari-hari dapat menjadi pertimbangan praktis.
Gaya tidak harus mengorbankan kenyamanan hanya demi mempertahankan tampilan tertentu.
Jika sebuah outfit terlihat menarik tetapi membuat tubuh tidak nyaman setelah beberapa jam, mungkin yang perlu diubah bukan karakter gayanya, melainkan bahan atau potongannya.
8. Jangan takut bereksperimen
Menemukan gaya pribadi tidak selalu berlangsung lurus.
Ada masa ketika seseorang mencoba warna baru, kemudian kembali ke warna netral. Ada pula saat ketika model pakaian tertentu terasa cocok selama beberapa bulan, lalu berubah seiring aktivitas dan kebutuhan.
Eksperimen justru membantu mempersempit pilihan.
Yang penting, bedakan antara mencoba dan memaksakan diri.
Jika sebuah tren membuat Anda penasaran, cobalah dalam skala kecil. Jika setelah beberapa kali dipakai tetap terasa bukan diri sendiri, tidak ada masalah untuk meninggalkannya.
Baca Juga: Perbedaan Retinol, Bakuchiol, dan Peptida: Mana yang Paling Cocok untuk Kulit Usia Muda?
Kesalahan yang Sering Terjadi Saat Mencari Gaya Pribadi
Beberapa kesalahan justru membuat proses menemukan gaya menjadi lebih sulit.
Mengikuti semua tren.
Lemari akhirnya penuh dengan pakaian yang terlihat berbeda-beda tetapi sulit dipadukan.
Terlalu terpaku pada satu aesthetic.
Gaya pribadi tidak harus selalu terlihat identik setiap hari.
Membeli karena terlihat bagus di orang lain.
Proporsi, aktivitas, kenyamanan, dan selera setiap orang berbeda.
Mengabaikan pakaian yang sudah dimiliki.
Padahal pakaian favorit lama sering menjadi petunjuk paling kuat tentang gaya pribadi.
Mengutamakan tampilan daripada kenyamanan.
Pakaian yang jarang dipakai karena tidak nyaman akhirnya hanya memenuhi lemari.
Berapa biaya untuk mulai menemukan gaya pribadi?
Menentukan gaya sebenarnya tidak membutuhkan belanja besar. Tahap awal bahkan bisa dilakukan tanpa membeli pakaian baru.
| Kebutuhan | Jumlah | Estimasi Harga | Total |
|---|---|---|---|
| Audit isi lemari | 1 kali | Rp0 | Rp0 |
| Moodboard digital | 1 | Rp0 | Rp0 |
| Foto outfit pribadi | Secukupnya | Rp0 | Rp0 |
| Eksperimen kombinasi pakaian | Beberapa look | Rp0 | Rp0 |
| Aksesori tambahan jika diperlukan | 1 item | Menyesuaikan pilihan | Variatif |
Jadi, biaya awal yang paling masuk akal justru Rp0. Belanja baru dilakukan setelah mengetahui bagian mana dari lemari yang benar-benar masih kurang.
Baca Juga: Jangan Asal Double Cleansing! Ini Tanda Kulitmu Cukup Dibersihkan dengan Satu Facial Wash
Poin Penting
-
Gaya pribadi tidak harus mengikuti satu aesthetic.
-
Kenali pakaian yang paling sering membuat Anda nyaman.
-
Gunakan tiga kata sebagai panduan karakter gaya.
-
Moodboard membantu menemukan pola visual.
-
Tren boleh digunakan, tetapi tidak harus diikuti seluruhnya.
-
Pilih pakaian yang bisa dipadukan dengan beberapa item lain.
-
Pertimbangkan aktivitas dan kondisi iklim.
-
Eksperimen merupakan bagian normal dari proses menemukan gaya.
Insight Redaksi
Fashion menjadi lebih mudah ketika seseorang berhenti bertanya, "Tren apa yang harus saya pakai?" dan mulai bertanya, "Apa yang benar-benar cocok dengan kehidupan saya?"
Gaya pribadi bukan perlombaan untuk terlihat paling mengikuti perkembangan. Ia terbentuk dari pilihan kecil yang terus diulang: warna yang disukai, potongan yang nyaman, pakaian yang sering digunakan, hingga detail yang membuat penampilan terasa lebih personal.
Bagikan kepada teman yang sedang mencari gaya berpakaian sendiri dan ikuti terus informasi lifestyle terbaru dari Balikpapantv.id.
FAQ
Apakah harus memilih satu gaya fashion saja?
Tidak. Personal style dapat menggabungkan beberapa karakter selama pilihan tersebut terasa nyaman dan konsisten dengan selera pribadi.
Apakah harus mengikuti tren fashion?
Tidak. Tren dapat menjadi sumber inspirasi, tetapi bukan kewajiban. Pilih bagian yang memang sesuai dengan gaya, kebutuhan, dan kenyamanan.
Bagaimana jika masih belum tahu gaya pribadi?
Mulai dari pakaian yang paling sering dipakai. Cari kesamaan warna, bentuk, bahan, dan aksesori dari pakaian tersebut.
Apakah menemukan personal style membutuhkan banyak pakaian?
Tidak. Justru mengenali pakaian yang sudah dimiliki dapat membantu mengetahui kebutuhan sebenarnya sebelum membeli sesuatu yang baru.
Apakah gaya pribadi bisa berubah?
Bisa. Gaya dapat berkembang mengikuti usia, pekerjaan, aktivitas, lingkungan, selera, dan pengalaman seseorang.
Editor : Arya Kusuma