Ciri-Ciri Skincare Abal-Abal Mengandung Bahan Berbahaya yang Wajib Diwaspadai

Wafiq Azizah Amru • Dipublikasikan Minggu, 13 September 2026 | 08:52 WIB
Memeriksa kemasan dan keaslian produk skincare secara teliti sebelum digunakan demi keamanan kulit. (BTV/Ai)
Memeriksa kemasan dan keaslian produk skincare secara teliti sebelum digunakan demi keamanan kulit. (BTV/Ai)

Durasi Baca: 8 Menit

Ikhtisar: Kenali ciri skincare abal-abal, risiko merkuri dan hidrokuinon, serta cara mengecek keamanan produk melalui BPOM.

 

Balikpapan TV - Hai Ces! Skincare yang beredar tanpa informasi jelas berisiko mengandung bahan berbahaya, termasuk merkuri dan hidrokuinon, sehingga konsumen perlu lebih teliti sebelum menggunakannya.

Kemasan menarik dan klaim kulit cerah dalam waktu singkat memang mudah membuat penasaran. Tapi sebelum tergoda harga murah atau hasil instan, ada beberapa tanda yang sebaiknya diperiksa lebih dulu.

Kenapa Skincare Abal-Abal Perlu Diwaspadai?

Perawatan kulit seharusnya membantu menjaga kondisi kulit, bukan membuat konsumen mengambil risiko hanya demi perubahan warna kulit yang cepat.

BPOM masih menemukan kosmetik yang mengandung bahan berbahaya atau bahan yang dilarang digunakan dalam kosmetik. Pada pengawasan triwulan II 2026, BPOM menemukan 14 produk kosmetik yang tidak memenuhi persyaratan keamanan.

Temuan tersebut mencakup produk yang mengandung merkuri dan hidrokinon, selain beberapa bahan berbahaya atau dilarang lainnya. Pengawasan dilakukan terhadap produk yang dijual secara daring maupun melalui distribusi langsung.

Artinya, keberadaan produk berbahaya bukan sekadar cerita lama. Konsumen tetap perlu berhati-hati ketika memilih skincare, terutama produk yang menjanjikan perubahan kulit secara ekstrem dalam waktu sangat singkat.

1. Tidak Ada Nomor Notifikasi BPOM yang Bisa Dicek

Salah satu pemeriksaan paling dasar adalah memastikan produk kosmetik memiliki nomor notifikasi yang dapat ditemukan dalam database resmi BPOM.

BPOM menyediakan layanan Cek Produk yang memungkinkan konsumen mencari kosmetik berdasarkan nomor registrasi, nama produk, merek, pendaftar, maupun komposisi.

Jangan hanya percaya pada tulisan “sudah BPOM” yang tercetak di kemasan atau ditulis penjual.

Nomor tersebut sebaiknya dicari langsung melalui kanal resmi BPOM. Jika produk tidak ditemukan, jangan buru-buru menyimpulkan bahwa produknya aman hanya karena kemasannya terlihat profesional.

Periksa kembali nama produk, merek, nomor notifikasi, dan identitas pendaftarnya. Ketidaksesuaian informasi merupakan alasan untuk lebih berhati-hati.

Mengecek legalitas dan izin BPOM pada kemasan produk kosmetik menggunakan ponsel demi memastikan keamanannya. (BTV/Ai)
Mengecek legalitas dan izin BPOM pada kemasan produk kosmetik menggunakan ponsel demi memastikan keamanannya. (BTV/Ai)

2. Klaim Memutihkan Kulit Terlalu Cepat

Klaim seperti “putih permanen dalam beberapa hari”, “kinclong instan”, atau perubahan warna kulit yang sangat drastis patut membuat konsumen berhenti sejenak.

Bukan berarti setiap produk yang membuat kulit tampak lebih cerah otomatis berbahaya. Masalahnya adalah klaim yang terlalu ekstrem sering membuat konsumen mengabaikan keamanan bahan dan cara pemakaian.

Kulit memiliki proses biologis yang tidak bisa disamakan dengan efek filter kamera. Perubahan yang terlalu cepat juga tidak otomatis berarti produk bekerja lebih baik.

Karena itu, jangan menjadikan kecepatan perubahan warna kulit sebagai ukuran utama keberhasilan skincare.

Melihat hasil perawatan kulit bertahap yang sehat dan alami tanpa tergiur klaim instan. (BTV/Ai)
Melihat hasil perawatan kulit bertahap yang sehat dan alami tanpa tergiur klaim instan. (BTV/Ai)

Baca Juga: Maskara Tak Perlu Tebal, Begini Teknik Tipis agar Bulu Mata Rapi Tanpa Gumpalan

3. Komposisi Tidak Jelas atau Labelnya Bermasalah

Skincare yang aman seharusnya memberikan informasi produk secara memadai sehingga konsumen dapat mengetahui apa yang dibelinya.

Waspadai produk dengan label yang tidak lengkap, identitas produsen atau pendaftar tidak jelas, informasi penggunaan yang minim, atau komposisi yang sulit dipastikan.

Kondisi tersebut menjadi lebih mencurigakan apabila produk sekaligus menawarkan klaim ekstrem dan dijual dengan harga yang jauh berbeda dari produk sejenis.

Label yang tampak sederhana bukan otomatis berarti produk berbahaya. Namun, semakin banyak informasi penting yang tidak tersedia, semakin sulit konsumen menilai keamanan produk tersebut.

Kemasan produk skincare minim informasi perlu diwaspadai sebelum digunakan demi menjaga kesehatan kulit. (BTV/Ai)
Kemasan produk skincare minim informasi perlu diwaspadai sebelum digunakan demi menjaga kesehatan kulit. (BTV/Ai)

4. Merkuri Menjadi Salah Satu Bahan yang Paling Perlu Diwaspadai

Merkuri merupakan logam toksik yang dapat menimbulkan dampak serius terhadap kesehatan.

Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO menyebut produk pencerah kulit yang mengandung merkuri berbahaya bagi kesehatan. Paparan merkuri dapat berkaitan dengan kerusakan sistem saraf dan ginjal serta masalah pada kulit.

BPOM juga terus menemukan kosmetik yang mengandung merkuri. Pada pengawasan periode Juli–September 2025, misalnya, sejumlah produk yang ditemukan BPOM terbukti mengandung merkuri dan nomor izin edarnya kemudian dicabut.

Yang membuatnya semakin sulit dikenali, merkuri tidak selalu ditulis sederhana sebagai “merkuri” pada label. Dalam beberapa produk, senyawa tersebut dapat muncul dengan istilah seperti mercuric, mercurous, atau Hg.

Karena itu, jangan menjadikan warna, aroma, atau tekstur krim sebagai satu-satunya cara untuk menilai ada tidaknya merkuri. Pemeriksaan produk melalui sumber resmi jauh lebih penting.

Pengujian laboratorium terhadap produk kosmetik pencerah kulit guna mengidentifikasi kandungan bahan berbahaya seperti merkuri. (BTV/Ai)
Pengujian laboratorium terhadap produk kosmetik pencerah kulit guna mengidentifikasi kandungan bahan berbahaya seperti merkuri. (BTV/Ai)

Baca Juga: Kebaya Modern untuk Acara Keluarga? Ini 6 Gaya Anggun yang Praktis Dipakai

5. Hidrokuinon Bukan Berarti Bahan yang Boleh Bebas Dipakai dalam Kosmetik

Hidrokuinon sering menjadi bagian dari pembahasan produk pencerah karena zat ini bekerja dengan menghambat pembentukan melanin.

Namun, penggunaannya harus dibedakan berdasarkan jenis produk dan pengawasan medis. BPOM menjelaskan bahwa hidrokuinon dapat digunakan dalam konsentrasi tertentu sebagai obat yang diberikan berdasarkan resep dokter untuk kondisi kulit tertentu, tetapi penggunaannya dilarang dalam sediaan kosmetik.

Jadi, masalahnya bukan sekadar mengenali nama hidrokuinon.

Yang penting adalah memahami bahwa konsumen tidak seharusnya menggunakan produk kosmetik yang mengandung hidrokuinon secara sembarangan untuk memutihkan atau mencerahkan kulit.

Penggunaan hidrokuinon tanpa pengawasan dapat menimbulkan masalah kulit. BPOM mencatat risiko seperti hiperpigmentasi dan ochronosis, yaitu perubahan warna kulit berupa bintik-bintik gelap.

Penggunaan produk perawatan kulit secara cermat membantu menjaga kesehatan wajah serta menyamarkan noda hitam. (BTV/Ai)
Penggunaan produk perawatan kulit secara cermat membantu menjaga kesehatan wajah serta menyamarkan noda hitam. (BTV/Ai)

6. Hasil Awal Terlihat Menjanjikan, tetapi Kulit Justru Bermasalah

Perubahan cepat bukan selalu pertanda skincare cocok.

Jika setelah menggunakan produk muncul iritasi berat, kemerahan, rasa terbakar, pembengkakan, atau perubahan warna kulit yang tidak biasa, penggunaan produk sebaiknya tidak diteruskan tanpa mencari bantuan profesional.

FDA juga melaporkan reaksi serius terkait produk pencerah kulit yang mengandung hidrokuinon, termasuk ruam, pembengkakan wajah, dan ochronosis yang dapat bersifat permanen.

Untuk merkuri, risikonya bahkan tidak berhenti pada permukaan kulit. Paparan berulang dapat menyebabkan merkuri terserap tubuh dan berpotensi memengaruhi organ seperti ginjal serta sistem saraf.

Karena itu, jangan menggunakan kondisi kulit setelah pemakaian sebagai “bukti bahwa produk sedang bekerja”.

Pemeriksaan kondisi wajah di cermin untuk mendeteksi kemerahan akibat ketidakcocokan penggunaan produk skincare. (BTV/Ai)
Pemeriksaan kondisi wajah di cermin untuk mendeteksi kemerahan akibat ketidakcocokan penggunaan produk skincare. (BTV/Ai)

Baca Juga: Skincare, Makeup, dan Parfum Tidak Boleh Asal Taruh! Ini Pengaruh Panas, Cahaya, dan Kelembapan

7. Produk Dijual dengan Janji yang Terlalu Bagus untuk Dipercaya

Skincare yang menjanjikan sekaligus memutihkan, menghilangkan flek, menghapus jerawat, mengecilkan pori, menghilangkan kerutan, dan memberikan hasil permanen dalam waktu sangat singkat perlu diperiksa lebih kritis.

Satu produk memang bisa memiliki beberapa fungsi. Namun semakin banyak klaim yang diberikan, semakin penting bagi konsumen untuk melihat apakah klaim tersebut masuk akal dan didukung informasi produk yang jelas.

Jangan biarkan testimoni menjadi satu-satunya dasar keputusan.

Foto sebelum dan sesudah juga belum tentu menggambarkan kondisi yang sama karena pencahayaan, kamera, filter, sudut pengambilan gambar, hingga kondisi kulit dapat berbeda.

Perbedaan pencahayaan dan sudut kamera dapat memengaruhi hasil foto sebelum dan sesudah perawatan kulit. (BTV/Ai)
Perbedaan pencahayaan dan sudut kamera dapat memengaruhi hasil foto sebelum dan sesudah perawatan kulit. (BTV/Ai)

8. Kemasan Mirip Merek Terkenal Bukan Jaminan Keaslian

Produk palsu dapat menggunakan tampilan yang menyerupai merek tertentu untuk membuat konsumen percaya.

Karena itu, periksa nama produk, identitas produsen atau pendaftar, nomor notifikasi, ukuran kemasan, dan informasi lainnya secara menyeluruh.

Jangan hanya melihat logo atau desain kemasan.

Produk yang terlihat profesional tetap perlu diverifikasi melalui sumber resmi. Bahkan BPOM memiliki database khusus kosmetik yang ditemukan mengandung bahan berbahaya atau dilarang.

Pemeriksaan detail kemasan kosmetik untuk memastikan keaslian produk sebelum digunakan demi keamanan kulit. (BTV/Ai)
Pemeriksaan detail kemasan kosmetik untuk memastikan keaslian produk sebelum digunakan demi keamanan kulit. (BTV/Ai)

Baca Juga: Lulur Seminggu Sekali Biar Nyaman, Pilih Butiran Lembut dan Jangan Digosok Keras

Bagaimana Cara Mengecek Skincare Sebelum Membelinya?

Supaya tidak hanya mengandalkan perasaan saat melihat kemasan, gunakan pemeriksaan sederhana berikut.

Langkah 1: Cari Nomor Notifikasi

Temukan nomor notifikasi yang tercantum pada kemasan.

Kemudian masukkan nomor tersebut ke layanan Cek Produk BPOM. Jika perlu, lakukan pencarian menggunakan nama produk atau mereknya.

Langkah 2: Cocokkan Informasinya

Jangan berhenti setelah menemukan produk dengan nama yang mirip.

Cocokkan nama produk, merek, pendaftar, kemasan, dan informasi lainnya. Tujuannya memastikan produk yang ada di tangan benar-benar sesuai dengan produk yang tercatat.

Langkah 3: Periksa Status Produk

Perhatikan apakah informasi produk masih sesuai dengan database dan tidak termasuk produk yang izin edarnya telah dicabut atau masuk daftar peringatan.

BPOM secara berkala menerbitkan informasi mengenai kosmetik yang ditemukan mengandung bahan berbahaya atau dilarang.

Langkah 4: Jangan Abaikan Komposisi

Perhatikan bahan yang tercantum pada kemasan.

Jika menemukan istilah yang tidak dipahami, jangan langsung menganggapnya aman hanya karena namanya terdengar ilmiah. Cari informasi dari sumber kesehatan atau regulasi yang kredibel.

Langkah 5: Perhatikan Penjual

Harga murah bukan otomatis berarti produk palsu. Begitu pula harga mahal bukan otomatis menjamin keamanan.

Namun, penjual yang tidak memberikan identitas produk secara jelas, menghindari pertanyaan mengenai izin edar, atau menjanjikan hasil ekstrem sebaiknya tidak menjadi pilihan utama.

Baca Juga: Bedak 2 Cm dari Hidung, Trik Aplikasi Tipis agar Makeup Terlihat Natural

Apakah Produk yang Tidak Terdaftar BPOM Pasti Mengandung Merkuri?

Tidak.

Ini bagian yang penting agar konsumen tidak salah memahami persoalan.

Produk yang tidak ditemukan dalam database BPOM tidak otomatis membuktikan bahwa produk tersebut mengandung merkuri atau hidrokuinon. Namun, ketiadaan informasi registrasi yang dapat dipastikan membuat konsumen kehilangan salah satu dasar penting untuk menilai keamanan dan kepatuhan produk.

Karena itu, jangan membuat kesimpulan bahwa “tidak terdaftar berarti pasti bermerkuri”.

Kesimpulan yang lebih tepat adalah: produk yang status dan legalitasnya tidak dapat dipastikan sebaiknya tidak digunakan sebelum keamanannya jelas.

Jangan Mengandalkan Ciri Fisik Krim Semata

Banyak informasi di media sosial menyebut skincare bermerkuri dapat dikenali dari warna tertentu, bau menyengat, atau perubahan warna ketika dicampur dengan benda tertentu.

Cara seperti itu tidak dapat menggantikan pemeriksaan resmi atau pengujian laboratorium.

Bahkan produk berbahaya dapat memiliki kemasan yang terlihat normal. WHO juga mencatat bahwa produk pencerah yang mengandung merkuri kadang tidak mencantumkan merkuri secara jelas pada label.

Jadi, pemeriksaan berdasarkan ciri fisik sebaiknya tidak dijadikan metode utama untuk menentukan keamanan skincare.

Apa yang Harus Dilakukan Jika Terlanjur Menggunakan Produk Mencurigakan?

Jika produk tidak jelas statusnya atau menimbulkan reaksi kulit yang mengkhawatirkan, langkah pertama adalah menghentikan penggunaan dan tidak mencoba menetralkannya dengan berbagai produk lain secara sembarangan.

Jika muncul reaksi berat atau keluhan menetap, konsultasikan kondisi tersebut kepada tenaga kesehatan atau dokter.

Jangan mencoba menggunakan produk lain untuk “memperbaiki” kulit secara agresif karena kondisi kulit yang sedang mengalami iritasi dapat menjadi lebih sensitif.

Kemasan produk juga sebaiknya disimpan sebagai informasi apabila diperlukan ketika berkonsultasi. Nama produk, nomor notifikasi, komposisi, dan identitas produsennya dapat membantu tenaga kesehatan memahami produk yang digunakan.

Kesalahan yang Sering Dilakukan Saat Membeli Skincare

  1. Percaya pada testimoni tanpa memeriksa produknya.
    Testimoni merupakan pengalaman seseorang, bukan bukti bahwa sebuah produk aman untuk semua orang.

  2. Menganggap hasil instan sebagai tanda produk bagus.
    Perubahan cepat tidak otomatis berarti kulit mendapatkan perawatan yang sehat.

  3. Hanya memeriksa logo BPOM di kemasan.
    Nomor dan identitas produk tetap perlu dicocokkan melalui database resmi.

  4. Menganggap harga mahal pasti aman.
    Harga tidak dapat menggantikan pemeriksaan izin edar dan informasi produk.

  5. Mencoba produk lain ketika kulit sudah mengalami iritasi.
    Menambah banyak bahan aktif sekaligus dapat membuat kondisi kulit semakin sulit dipahami.

Ringkasan Cara Mengenali Skincare yang Patut Dicurigai

Yang Diperiksa Tanda Perlu Waspada Langkah Konsumen
Izin edar Tidak dapat ditemukan atau informasinya tidak sesuai Cek database BPOM
Label Informasi produk tidak lengkap Jangan langsung digunakan
Klaim Menjanjikan hasil ekstrem dan sangat cepat Periksa kembali klaim
Komposisi Bahan tidak jelas atau mencurigakan Cari informasi dari sumber tepercaya
Penjualan Identitas penjual/produk tidak jelas Pilih kanal yang lebih terpercaya
Kondisi kulit Iritasi, terbakar, bengkak, perubahan warna tidak biasa Hentikan penggunaan dan konsultasikan

Poin Penting

Baca Juga: Masker Wajah 15 Menit, Jangan Asal Lama agar Kulit Tetap Nyaman dan Terawat

Insight Redaksi

Skincare yang baik bukan yang paling cepat mengubah warna kulit, melainkan yang informasinya jelas, penggunaannya masuk akal, dan keamanannya dapat dipertanggungjawabkan.

Konsumen juga tidak perlu menjadi ahli kimia untuk lebih aman berbelanja. Kebiasaan sederhana seperti mengecek produk melalui database BPOM sudah menjadi langkah penting sebelum memasukkan skincare ke rutinitas harian.

Sebelum membeli skincare, biasakan melakukan cek 3 langkah: periksa label, cek database BPOM, lalu pertimbangkan klaim produknya.

Jika tujuan penggunaan adalah mengatasi flek, hiperpigmentasi, atau masalah kulit tertentu, jangan mengejar produk dengan hasil instan. Konsultasi dengan dokter kulit dapat membantu menentukan penanganan yang sesuai dengan kondisi kulit.

Bagikan artikel ini kepada teman atau keluarga yang sedang mencari skincare dan ikuti terus informasi terbaru Balikpapan TV di balikpapantv.id, teman update setia.

FAQ

1. Apakah skincare tanpa BPOM pasti berbahaya?

Tidak otomatis mengandung bahan berbahaya. Namun, jika status produk tidak dapat dipastikan, konsumen sebaiknya tidak menggunakannya sebelum legalitas dan keamanannya jelas.

2. Apakah hidrokuinon selalu berbahaya?

Hidrokuinon memiliki penggunaan medis tertentu dan dapat diberikan berdasarkan resep dokter. Di Indonesia, penggunaannya dilarang dalam sediaan kosmetik.

3. Apakah merkuri bisa dikenali dari warna krim?

Tidak dapat dipastikan hanya melalui warna, aroma, atau tekstur. Pemeriksaan resmi dan pengujian laboratorium lebih dapat diandalkan.

4. Bagaimana cara mengecek skincare terdaftar BPOM?

Gunakan layanan Cek Produk BPOM, kemudian cari berdasarkan nomor notifikasi, nama produk, merek, atau informasi lain yang tersedia.

5. Apa yang dilakukan jika skincare menyebabkan reaksi berat?

Hentikan penggunaan dan konsultasikan dengan tenaga kesehatan, terutama jika muncul pembengkakan, rasa terbakar berat, perubahan warna kulit yang tidak biasa, atau keluhan yang menetap.

my ride-or-die for updates
my ride-or-die for updates
Editor : Arya Kusuma
Merkuri Hidrokuinon bpom Skincare