Durasi Baca: 7 Menit
Ikhtisar: Kulit yang terlihat glowing tidak selalu berarti sehat. Penggunaan AHA, BHA, PHA, scrub, retinoid, atau produk aktif lainnya secara berlebihan dapat membuat kulit mengalami kekeringan, kemerahan, sensitif, hingga terasa perih. Karena itu, penting membedakan healthy glow dari kilau yang muncul ketika permukaan kulit sedang mengalami gangguan.
Balikpapan TV – Hai Ces! Pernah merasa kulit tiba-tiba terlihat super glowing setelah rutin memakai eksfoliator? Jangan buru-buru senang. Kilau tersebut bisa saja merupakan tanda kulit sedang tidak baik-baik saja.
Eksfoliasi memang membantu mengangkat sel kulit mati dan dapat membuat permukaan kulit terlihat lebih cerah serta halus. Namun, ketika dilakukan terlalu sering atau digabungkan dengan terlalu banyak bahan aktif, kulit justru dapat mengalami iritasi dan gangguan pada lapisan pelindungnya.
Nah Ces, di sinilah muncul fenomena yang bisa disebut sebagai “halusinasi skin barrier”: kulit tampak makin licin dan mengilap sehingga dianggap glowing, padahal di balik tampilannya mungkin terdapat kemerahan, rasa perih, kering, atau sensitivitas.
Kenapa Kulit Bisa Terlihat Glowing Setelah Eksfoliasi?
Eksfoliasi bekerja dengan membantu menghilangkan sel-sel kulit mati dari permukaan kulit. Hasilnya, tekstur dapat terlihat lebih rata dan wajah terasa lebih halus.
Itulah sebabnya kulit setelah eksfoliasi kadang tampak lebih cerah. Tetapi efek visual tersebut tidak boleh dijadikan satu-satunya indikator bahwa kondisi kulit sedang sehat.
Masalahnya muncul ketika frekuensi atau intensitas eksfoliasi terlalu tinggi. American Academy of Dermatology (AAD) mengingatkan bahwa eksfoliasi yang dilakukan secara tidak tepat dapat menyebabkan kulit menjadi merah dan teriritasi.
1. Healthy Glow: Mengilap tetapi Tetap Nyaman
Kulit yang sehat biasanya terlihat bercahaya tanpa disertai sensasi tidak nyaman. Teksturnya terasa relatif lembut dan tidak mudah perih ketika menggunakan produk perawatan yang biasanya cocok.
Kilau sehat juga tidak harus berarti wajah terlihat seperti kaca. Kondisi kulit setiap orang berbeda, termasuk tingkat produksi minyak, hidrasi, tekstur, dan warna kulit.
Jadi, jangan menjadikan tingkat kilap sebagai satu-satunya ukuran keberhasilan skincare.
2. Irritated Glow: Mengilap tetapi Terasa Perih
Berbeda dengan healthy glow, kulit yang mengalami iritasi dapat terlihat sangat mengilap karena permukaannya mengalami perubahan akibat kekeringan dan gangguan lapisan pelindung.
Tanda yang lebih penting justru muncul dari sensasinya. Kulit dapat terasa menyengat, gatal, sensitif, kering, mengelupas, atau kemerahan. Cleveland Clinic mencantumkan rasa perih saat memakai skincare, iritasi, inflamasi, kulit kasar, dan sensitivitas sebagai tanda yang dapat muncul ketika skin barrier terganggu.
Baca Juga: 6 Cara Glow Up Tanpa Modal Mahal, Rahasia Simpel Biar Pelajar Makin Percaya Diri!
3. Kulit Terasa Ketarik Setelah Cuci Muka
Sensasi tertarik setelah mencuci wajah juga patut diperhatikan, terutama jika sebelumnya tidak pernah mengalami kondisi tersebut.
Kulit yang terus terasa kering atau tidak nyaman dapat menjadi sinyal bahwa rutinitas perawatan perlu dievaluasi. Penggunaan pembersih yang keras maupun eksfoliasi berlebihan termasuk faktor yang dapat mengganggu skin barrier.
4. Produk yang Biasanya Aman Mendadak Menyengat
Ini salah satu tanda yang sering bikin bingung.
Produk yang sebelumnya terasa biasa saja tiba-tiba membuat wajah panas atau perih. Jika hal tersebut muncul setelah rutinitas aktif semakin banyak, jangan langsung menambah produk baru untuk “memperbaiki” keadaan.
AAD menyarankan mempertimbangkan seluruh produk yang digunakan karena beberapa bahan, termasuk retinoid dan benzoyl peroxide, dapat meningkatkan sensitivitas kulit dan ketika digabung dengan eksfoliasi bisa memperburuk kekeringan atau iritasi.
5. Kemerahan, Kering, Mengelupas hingga Muncul Bruntusan
Kulit yang mengalami over-exfoliation tidak selalu hanya terlihat kering. Reaksi dapat berupa kemerahan, pengelupasan, rasa sensitif, bahkan munculnya masalah seperti jerawat atau breakout.
Karena itu, jangan menganggap setiap tekstur baru sebagai tanda bahwa kulit membutuhkan lebih banyak eksfoliasi.
Kadang justru sebaliknya. Kulit membutuhkan waktu untuk kembali tenang.
Apa yang Sebenarnya Terjadi pada Skin Barrier?
Skin barrier merupakan bagian terluar kulit yang membantu mempertahankan air sekaligus melindungi jaringan di bawahnya dari berbagai paparan lingkungan.
Cleveland Clinic menggambarkannya sebagai lapisan pelindung yang tersusun antara lain dari sel kulit mati, lipid, protein, dan lemak. Lipid seperti ceramide, kolesterol, dan asam lemak berperan penting dalam struktur tersebut.
Ketika lapisan ini terganggu, kemampuan kulit mempertahankan kelembapan dan menghadapi berbagai iritan dapat ikut terpengaruh.
Itulah mengapa kulit yang awalnya terlihat glowing setelah rutinitas aktif justru bisa berubah menjadi kering, sensitif, dan mudah terasa perih.
Baca Juga: Sering Stres dan Marah Bikin Wajah Cepat Keriput? Ini Kaitannya dengan Kortisol dan Skin Barrier
Kapan Eksfoliasi Mulai Berubah Menjadi Over-Exfoliation?
Tidak ada satu jadwal eksfoliasi yang cocok untuk semua orang.
AAD menekankan bahwa frekuensi eksfoliasi bergantung pada jenis kulit dan metode yang digunakan. Semakin agresif metode eksfoliasinya, semakin jarang penggunaannya seharusnya dilakukan.
Masalah sering terjadi ketika seseorang menggabungkan beberapa produk eksfoliasi tanpa menghitung total paparan bahan aktif.
Misalnya, dalam satu rutinitas terdapat AHA, BHA, scrub, retinol, serta produk lain yang juga berpotensi meningkatkan sensitivitas. Masing-masing produk mungkin terlihat masuk akal secara terpisah, tetapi kombinasi keseluruhannya bisa terlalu berat untuk kulit.
Bagaimana Mengembalikan Kulit yang Terlanjur Sensitif?
Ketika muncul tanda iritasi, prinsipnya bukan menambah semakin banyak produk.
Rutinitas dapat disederhanakan sementara dengan pembersih yang lembut, pelembap, serta perlindungan dari sinar matahari. Cleveland Clinic juga merekomendasikan menjaga kelembapan kulit dan memilih pelembap yang mengandung komponen seperti ceramide, lipid, atau asam lemak untuk membantu mendukung skin barrier.
Eksfoliator yang menyebabkan masalah sebaiknya dihentikan sementara sampai kulit kembali nyaman. AAD juga menyarankan menghentikan produk eksfoliasi selama beberapa hari apabila kulit menjadi terlalu kering atau teriritasi.
Dan satu hal penting, Ces: jangan mengejar kulit “kinclong” dengan mengorbankan kenyamanan kulit.
Baca Juga: 8 Gaya Rambut Pria Praktis yang Tetap Stylish, Rapi, dan Mudah Ditata Setiap Hari
Bagaimana Menjaga Glow Tanpa Mengorbankan Skin Barrier?
Kunci skincare bukan membuat kulit terus-menerus mengelupas.
Eksfoliasi seharusnya menjadi bagian dari rutinitas yang terukur, bukan perlombaan untuk mendapatkan permukaan kulit sehalus mungkin dalam waktu singkat.
Kalau kulit sudah nyaman, tidak perih, tidak mudah merah, dan tetap terhidrasi, tidak perlu memaksakan tambahan bahan aktif hanya karena melihat tren glass skin di media sosial.
Glow yang sehat bukan kulit yang paling mengilap. Glow yang sehat adalah kulit yang terlihat baik sekaligus terasa nyaman.
Poin Penting
- Over-exfoliation dapat menyebabkan kulit kering, merah, sensitif, dan teriritasi.
- Kulit mengilap tidak selalu berarti healthy glow.
- Rasa perih ketika menggunakan skincare bisa menjadi tanda skin barrier sedang terganggu.
- AHA, BHA, scrub, retinoid, dan bahan aktif lain perlu dipertimbangkan sebagai bagian dari keseluruhan rutinitas.
- Semakin agresif metode eksfoliasi, semakin jarang penggunaannya diperlukan.
- Pelembap dan rutinitas perawatan yang lembut dapat membantu mendukung pemulihan skin barrier.
Insight Redaksi
Bubuhan ikam mungkin pernah berpikir, “Wah, kulitku makin glowing!” setelah menaikkan frekuensi eksfoliasi. Padahal, kalau wajah mulai terasa perih, tertarik, gampang merah, atau produk biasa mendadak menyengat, itu waktunya berhenti mengejar kilau.
Kulit sehat tidak harus terlihat sempurna setiap saat. Yang lebih penting, kulit mampu menjalankan fungsi pelindungnya dan terasa nyaman.
Jika iritasi menetap, semakin berat, muncul luka, lepuhan, atau keluhan tidak membaik setelah rutinitas disederhanakan, konsultasikan dengan dokter kulit untuk memastikan penyebabnya.
Bagikan jua artikel ini ke bubuhan ikam yang masih mengira kulit makin mengilap berarti makin sehat, Ces!
Jangan sampai mengejar glowing malah bikin skin barrier kewalahan. Tetap update informasi lifestyle, kecantikan, dan perawatan kulit hanya di Balikpapantv.id, teman update setia, bukan sekadar info biasa!
FAQ
1. Apa itu over-exfoliation?
Over-exfoliation adalah kondisi ketika eksfoliasi dilakukan terlalu sering atau terlalu agresif sehingga kulit mengalami kekeringan dan iritasi.
2. Apakah kulit mengilap berarti sehat?
Tidak selalu. Kulit sehat dapat terlihat bercahaya, tetapi kulit yang teriritasi juga dapat tampak mengilap. Sensasi seperti perih, gatal, kering, dan kemerahan perlu diperhatikan.
3. Apa tanda skin barrier terganggu?
Beberapa tanda yang dapat muncul antara lain kering, mengelupas, kemerahan, sensitif, gatal, terasa kasar, serta perih ketika menggunakan produk skincare.
4. Apa yang harus dilakukan saat kulit mengalami over-exfoliation?
Sederhanakan rutinitas, hentikan sementara produk eksfoliasi yang memicu iritasi, gunakan pembersih lembut dan pelembap, serta lindungi kulit dari sinar matahari.
5. Apakah AHA dan BHA harus dihindari?
Tidak. Keduanya dapat digunakan sebagai eksfoliator, tetapi pemilihan produk dan frekuensi penggunaan perlu disesuaikan dengan kondisi serta toleransi kulit.