Durasi Baca: 7 Menit
Ikhtisar: Blue light dari layar smartphone memang dapat memengaruhi kulit melalui mekanisme seperti pembentukan reactive oxygen species (ROS), tetapi radiasi UV matahari merupakan penyebab utama photoaging yang telah jauh lebih kuat bukti ilmiahnya.
Balikpapan TV – Hai Ces! Gen Z mungkin menghabiskan banyak waktu menatap smartphone setiap hari. Dari scrolling media sosial, menonton video, bermain gim, hingga bekerja dan belajar, layar digital menjadi bagian dari rutinitas yang sulit dipisahkan.
Kondisi tersebut memunculkan pertanyaan baru dalam dunia skincare: apakah blue light dari smartphone bisa mempercepat penuaan kulit seperti sinar matahari?
Jawabannya ternyata tidak sesederhana itu. Blue light memang memiliki mekanisme biologis yang berpotensi memengaruhi kulit, tetapi sampai saat ini bukti bahwa paparan dari perangkat elektronik sehari-hari menjadi penyebab utama penuaan dini masih jauh lebih lemah dibandingkan radiasi UV matahari.
Sebenarnya, Apa yang Dimaksud Blue Light atau HEV?
Blue light merupakan bagian dari spektrum cahaya tampak dengan panjang gelombang sekitar 400–500 nanometer. Istilah high-energy visible (HEV) sering digunakan untuk menggambarkan bagian spektrum cahaya tampak berenergi tinggi tersebut.
Layar perangkat elektronik memang memancarkan cahaya pada wilayah tersebut. Beberapa penelitian juga menunjukkan bahwa cahaya biru dapat memicu respons seluler tertentu, termasuk pembentukan reactive oxygen species atau ROS.
ROS berlebihan dapat menyebabkan stres oksidatif yang secara biologis berpotensi memengaruhi struktur dan fungsi sel kulit. Mekanisme inilah yang membuat blue light menarik perhatian peneliti dermatologi.
Namun, mekanisme biologis tidak otomatis berarti paparan smartphone dalam kehidupan sehari-hari memiliki dampak klinis sebesar paparan sinar matahari.
Mengapa Sinar Matahari Masih Menjadi Ancaman Utama?
Jika pertanyaannya adalah mana yang lebih perlu dikhawatirkan untuk penuaan dini, jawabannya masih radiasi UV dari matahari.
UVA dapat menembus lebih dalam hingga dermis dan berkontribusi terhadap kerusakan struktur kulit, sementara UVB terutama memengaruhi lapisan epidermis dan berperan besar dalam terjadinya kemerahan serta kerusakan akibat sinar matahari. Keduanya berkontribusi terhadap photoaging.
Paparan UV juga dapat memicu pembentukan ROS dan berbagai perubahan molekuler yang berhubungan dengan kerusakan kolagen, elastisitas kulit, pigmentasi, serta tanda-tanda penuaan lainnya.
Jadi, smartphone bukan alasan untuk mengabaikan sunscreen.
Baca Juga: Perawatan Kulit Sederhana di Rumah dengan Bahan Alami yang Perlu Dicoba
Apakah Blue Light Smartphone Benar-Benar Bisa Membuat Kulit Menua?
Ada alasan ilmiah untuk terus meneliti pengaruh blue light terhadap kulit. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa cahaya biru dapat memengaruhi pigmentasi dan mekanisme oksidatif tertentu.
Namun, sebuah tinjauan sistematis mengenai efek blue light dari perangkat elektronik tidak mengklasifikasikan paparan tersebut sebagai bahaya photoaging pada manusia. Para peneliti juga menyoroti keterbatasan data mengenai besarnya paparan yang benar-benar diterima kulit dari perangkat elektronik dalam kehidupan sehari-hari.
Artinya, jangan menyamakan hasil penelitian laboratorium dengan kondisi nyata ketika seseorang menggunakan smartphone beberapa jam sehari.
Studi yang secara khusus membahas cahaya dari layar smartphone juga menyebut bahwa dampak jangka panjang dan paparan berulang masih belum sepenuhnya diketahui.
Lalu, Mengapa Blue Light Tetap Perlu Diperhatikan?
Perhatian terhadap blue light lebih relevan pada persoalan pigmentasi dan konteks paparan cahaya secara keseluruhan.
Cahaya tampak dapat berkontribusi terhadap hiperpigmentasi pada kondisi tertentu, terutama pada kulit yang rentan mengalami gangguan pigmentasi. Penelitian mengenai kombinasi UVA1 dan cahaya tampak juga menunjukkan bahwa paparan tersebut dapat memicu pigmentasi, khususnya pada fototipe kulit yang lebih gelap.
Karena itu, perlindungan dari cahaya tidak hanya menjadi isu tentang kerutan.
Bagi seseorang yang memiliki masalah seperti melasma atau hiperpigmentasi pascainflamasi, strategi perlindungan terhadap cahaya tampak dapat menjadi pertimbangan tambahan.
Baca Juga: Makeup Anti Luntur, Cara Menjaga Riasan Tetap Fresh dari Pagi hingga Sore
Apa yang Bisa Dilakukan Gen Z untuk Melindungi Kulit?
Prioritas pertama tetap mengendalikan paparan UV. Penggunaan sunscreen spektrum luas merupakan bagian penting dari strategi perlindungan terhadap photoaging, termasuk kerusakan akibat UVA dan UVB.
Jika perhatian utama adalah pigmentasi dan paparan cahaya tampak, sunscreen berwarna (tinted sunscreen) yang mengandung iron oxides dapat menjadi pilihan yang lebih spesifik.
Iron oxide memiliki kemampuan membantu meredam sebagian cahaya tampak, termasuk wilayah blue light. Beberapa penelitian menemukan formulasi yang mengandung iron oxides dapat memberikan perlindungan tambahan terhadap cahaya biru dan pigmentasi.
4 kebiasaan sederhana yang lebih masuk akal
1. Prioritaskan sunscreen sebelum keluar rumah.
Paparan UV matahari memiliki bukti jauh lebih kuat sebagai penyebab photoaging dibandingkan cahaya dari layar smartphone.
2. Pertimbangkan tinted sunscreen untuk masalah pigmentasi.
Produk dengan pigmen seperti iron oxide dapat memberikan perlindungan terhadap cahaya tampak yang tidak diberikan secara optimal oleh semua sunscreen biasa.
3. Jangan panik hanya karena sering menggunakan smartphone.
Bukti saat ini belum menunjukkan bahwa cahaya dari perangkat elektronik merupakan penyebab utama photoaging pada penggunaan sehari-hari.
4. Jangan mengganti perlindungan UV dengan blue-light skincare.
Perlindungan terhadap layar tidak boleh membuat perhatian terhadap paparan matahari menjadi terabaikan.
Jadi, Smartphone atau Matahari yang Lebih Cepat Menuakan Kulit?
Untuk saat ini, matahari masih menjadi musuh yang jauh lebih terbukti dalam proses penuaan kulit akibat cahaya.
Blue light dari perangkat digital memang memiliki mekanisme biologis yang menarik untuk diteliti. Tetapi bukti klinis mengenai dampak paparan layar terhadap photoaging manusia masih terbatas dan belum sekuat bukti mengenai UV.
Dengan kata lain, ikam tidak perlu berhenti menggunakan smartphone karena takut keriput. Yang jauh lebih penting adalah membangun kebiasaan perlindungan terhadap UV setiap hari.
Bagi mereka yang memiliki kecenderungan hiperpigmentasi, perlindungan terhadap cahaya tampak melalui produk tinted sunscreen dengan iron oxide dapat menjadi lapisan strategi tambahan.
Baca Juga: 6 Cara Glow Up Tanpa Modal Mahal, Rahasia Simpel Biar Pelajar Makin Percaya Diri!
Poin Penting
- Radiasi UV matahari masih menjadi ancaman utama terhadap penuaan dini (photoaging) karena bukti ilmiahnya jauh lebih kuat dibanding paparan blue light dari layar.
- Blue light/HEV merupakan bagian dari cahaya tampak berenergi tinggi, sekitar 400–500 nanometer.
- Paparan blue light dapat berkaitan dengan stres oksidatif melalui pembentukan reactive oxygen species (ROS).
- Blue light dari smartphone belum terbukti sebagai penyebab utama photoaging dalam penggunaan sehari-hari. Bukti klinisnya masih terbatas.
- Cahaya tampak lebih relevan diperhatikan pada masalah hiperpigmentasi, terutama bagi orang yang rentan mengalami melasma atau perubahan warna kulit.
- UVA dan UVB memiliki peran penting dalam kerusakan kulit akibat matahari dan proses photoaging.
Insight Redaksi
Bubuhan ikam mungkin lebih sering memegang smartphone daripada berada di bawah matahari. Tetapi jangan sampai perhatian terhadap blue light justru membuat perlindungan UV terlupakan. Sains saat ini masih menempatkan radiasi matahari sebagai faktor utama photoaging, sementara dampak blue light dari layar dalam kehidupan sehari-hari masih terus diteliti, Ces!
Jadikan sunscreen sebagai perlindungan utama setiap pagi. Jika pigmentasi menjadi perhatian, pertimbangkan tinted sunscreen yang mengandung iron oxide.
FAQ
1. Apakah blue light smartphone menyebabkan keriput?
Belum ada bukti kuat bahwa paparan blue light dari perangkat elektronik dalam penggunaan sehari-hari merupakan penyebab utama photoaging.
2. Mana yang lebih berisiko terhadap penuaan dini, smartphone atau matahari?
Radiasi UV matahari memiliki bukti ilmiah yang jauh lebih kuat sebagai penyebab photoaging.
3. Apakah sunscreen biasa melindungi dari blue light?
Tidak semua sunscreen memberikan perlindungan optimal terhadap cahaya tampak. Produk berwarna dengan iron oxide dapat memberikan perlindungan tambahan terhadap visible light.
4. Siapa yang mungkin perlu lebih memperhatikan visible light?
Orang yang memiliki kecenderungan hiperpigmentasi, seperti melasma, dapat mempertimbangkan perlindungan terhadap cahaya tampak sebagai bagian dari strategi fotoproteksi.
5. Apakah harus menggunakan skincare khusus anti-blue light?
Tidak perlu menjadikan produk anti-blue light sebagai prioritas utama. Perlindungan terhadap UV tetap menjadi fondasi utama perawatan kulit.