Sering Stres dan Marah Bikin Wajah Cepat Keriput? Ini Kaitannya dengan Kortisol dan Skin Barrier

Wafiq Azizah Amru • Dipublikasikan Senin, 10 Agustus 2026 | 14:28 WIB
Visualisasi dampak stres dan hormon kortisol yang dapat melemahkan lapisan pelindung kelembapan alami kulit. (BTV/Ai)
Visualisasi dampak stres dan hormon kortisol yang dapat melemahkan lapisan pelindung kelembapan alami kulit. (BTV/Ai)

Durasi Baca: 7 Menit

Ikhtisar: Emosi negatif tidak secara otomatis membuat wajah langsung berkerut. Namun, stres psikologis yang berlangsung berulang atau berkepanjangan dapat memengaruhi sistem hormonal dan fungsi pelindung kulit. Sejumlah penelitian menunjukkan stres dapat mengganggu pemulihan skin barrier, menurunkan hidrasi lapisan terluar kulit, dan meningkatkan transepidermal water loss (TEWL).

 

Balikpapan TV – Hai Ces! Pernah merasa wajah terlihat lebih kusam setelah melewati hari yang penuh tekanan? Atau garis-garis halus terasa semakin jelas ketika pikiran sedang tidak tenang?

Kondisi tersebut bukan berarti setiap kali marah, kulit langsung mengalami penuaan. Namun, ada hubungan menarik antara kondisi psikologis dan kesehatan kulit yang dipelajari dalam bidang psikodermatologi, yaitu pendekatan yang melihat hubungan timbal balik antara pikiran, sistem saraf, hormon, dan kondisi kulit.

Salah satu jalur yang banyak dibahas adalah respons stres tubuh melalui hypothalamic-pituitary-adrenal (HPA) axis, yang berkaitan dengan produksi hormon stres seperti kortisol. Bukti ilmiah menunjukkan stres psikologis dapat mengganggu fungsi epidermal barrier.

Lantas, apakah "mendedikasikan waktu untuk marah" benar-benar bisa membuat wajah cepat berkerut? Simak penjelasannya, Ces!

Baca Juga: Perfume Layering Makin Populer, Begini Cara Body Lotion Membuat Aroma Parfum Lebih Awet

Marah dan Stres Tidak Sama dengan Wajah Langsung Berkerut

Hal pertama yang perlu diluruskan: marah sesekali tidak berarti wajah otomatis menjadi lebih cepat berkerut.

Penuaan kulit merupakan proses kompleks yang dipengaruhi banyak faktor, termasuk usia, paparan sinar ultraviolet, genetika, lingkungan, kebiasaan hidup, dan kondisi kulit.

Yang menjadi perhatian adalah ketika seseorang terus-menerus berada dalam kondisi stres psikologis. Studi menunjukkan stres dapat memengaruhi fungsi penghalang kulit dan proses pemulihannya.

Jadi, bukan satu kali marah yang menjadi persoalan utama, melainkan paparan stres yang berulang dan berkepanjangan.

Ekspresi tegang seorang perempuan dewasa mencerminkan hubungan antara stres psikologis dan kondisi kesehatan kulit wajah. (BTV/Ai)
Ekspresi tegang seorang perempuan dewasa mencerminkan hubungan antara stres psikologis dan kondisi kesehatan kulit wajah. (BTV/Ai)

Bagaimana Kortisol Berhubungan dengan Skin Barrier?

Ketika tubuh menghadapi tekanan psikologis, sistem respons stres ikut aktif. Salah satunya melalui sumbu HPA yang berhubungan dengan produksi hormon stres.

Dalam kondisi stres psikologis, respons hormonal tersebut dapat memengaruhi fungsi epidermis. Tinjauan berbasis bukti menemukan bahwa stres dapat berkaitan dengan berkurangnya produksi lipid dan protein struktural epidermis, berkurangnya hidrasi stratum corneum, serta meningkatnya kehilangan air melalui kulit atau TEWL.

Sederhananya, ketika skin barrier terganggu, kulit dapat menjadi lebih sulit mempertahankan kelembapannya.

Visualisasi efek kortisol memperlihatkan dampak stres yang memicu penguapan kadar air pada kulit. (BTV/Ai)
Visualisasi efek kortisol memperlihatkan dampak stres yang memicu penguapan kadar air pada kulit. (BTV/Ai)

Baca Juga: Wajah Cerah Tapi Leher Lebih Gelap? Ini Penyebab Two-Tone Skin dan Cara Mengatasinya

Ketika Skin Barrier Melemah, Kulit Lebih Mudah Kehilangan Air

Skin barrier merupakan lapisan pelindung yang membantu mempertahankan kondisi kulit sekaligus membatasi kehilangan air dari permukaan kulit.

Salah satu parameter yang digunakan untuk menilai fungsi penghalang kulit adalah transepidermal water loss (TEWL). Nilai TEWL yang lebih tinggi umumnya berkaitan dengan gangguan fungsi skin barrier.

Ketika kehilangan air meningkat, kulit dapat terasa lebih kering dan kurang nyaman. Dalam jangka panjang, kondisi kulit yang tidak optimal juga dapat membuat tampilan garis halus lebih terlihat.

Namun, penting membedakan antara garis halus yang tampak lebih jelas karena kulit kehilangan kelembapan dengan kerutan permanen akibat proses penuaan.

Ilustrasi kondisi skin barrier melemah yang memicu penguapan air dan menyebabkan kulit tampak dehidrasi. (BTV/Ai)
Ilustrasi kondisi skin barrier melemah yang memicu penguapan air dan menyebabkan kulit tampak dehidrasi. (BTV/Ai)

Apakah Stres Bisa Memperlambat Pemulihan Kulit?

Menariknya, penelitian pada manusia juga menemukan hubungan antara stres dan kemampuan kulit untuk memulihkan fungsi penghalangnya.

Dalam sebuah penelitian, peserta yang mengalami stres menunjukkan pemulihan skin barrier yang lebih lambat setelah lapisan pelindung kulit mengalami gangguan. Peserta dengan peningkatan stres psikologis terbesar juga mengalami penurunan fungsi pemulihan yang lebih besar.

Penelitian lain menemukan bahwa stres eksperimental dapat memperlambat pemulihan skin barrier setelah gangguan pada kulit.

Artinya, kondisi psikologis bukan hanya berkaitan dengan apa yang kita rasakan, tetapi juga dapat berhubungan dengan bagaimana kulit mempertahankan dan memulihkan fungsi pelindungnya.

Pemeriksaan medis menunjukkan stres psikologis dapat memperlambat proses pemulihan lapisan pelindung kulit alami. (BTV/Ai)
Pemeriksaan medis menunjukkan stres psikologis dapat memperlambat proses pemulihan lapisan pelindung kulit alami. (BTV/Ai)

Kenapa Wajah Terlihat "Capek" Saat Banyak Pikiran?

Ketika seseorang sedang mengalami tekanan, perubahan tampilan kulit tidak selalu disebabkan oleh kortisol secara langsung.

Stres juga dapat berjalan bersama perubahan perilaku sehari-hari, seperti kualitas tidur yang buruk, rutinitas perawatan kulit yang berantakan, atau kebiasaan lain yang membuat tubuh kurang optimal dalam melakukan pemulihan.

Karena itu, tidak tepat menyimpulkan bahwa "marah menyebabkan kerutan" secara langsung.

Hubungannya jauh lebih kompleks: stres psikologis dapat memengaruhi respons hormonal dan fungsi kulit, sementara berbagai faktor lain secara bersamaan turut menentukan kondisi wajah.

Ekspresi lelah dan tatapan kosong mencerminkan tekanan pikiran serta kurangnya istirahat yang cukup. (BTV/Ai)
Ekspresi lelah dan tatapan kosong mencerminkan tekanan pikiran serta kurangnya istirahat yang cukup. (BTV/Ai)

Baca Juga: Jangan Sering Cuci Muka! Ternyata Wajah Berminyak Justru Butuh Sebum untuk Cegah Jerawat

Mendedikasikan Waktu untuk Marah, Perlukah?

Marah merupakan emosi manusia yang normal. Yang perlu diperhatikan adalah ketika seseorang terus mempertahankan kondisi stres tanpa memberikan kesempatan bagi tubuh dan pikiran untuk kembali tenang.

Bukan berarti emosi harus selalu ditekan. Justru, mengenali emosi, memberikan jeda, tidur cukup, melakukan aktivitas yang menenangkan, dan memiliki dukungan sosial dapat menjadi bagian dari pengelolaan stres.

Dari perspektif kesehatan kulit, mengelola stres bukanlah "perawatan anti-aging" yang bisa menghapus kerutan. Namun, menjaga stres tetap terkendali dapat menjadi salah satu bagian dari kebiasaan yang mendukung kesehatan tubuh sekaligus kulit.

Momen reflektif menenangkan diri membantu menjaga keseimbangan emosi dan kesehatan mental serta kulit. (BTV/Ai)
Momen reflektif menenangkan diri membantu menjaga keseimbangan emosi dan kesehatan mental serta kulit. (BTV/Ai)

Rutinitas Skin Barrier Tetap Penting

Mengelola stres tidak berarti skincare menjadi tidak diperlukan. Keduanya dapat berjalan bersamaan.

Rutinitas sederhana yang berfokus pada menjaga kelembapan kulit dapat membantu mempertahankan fungsi skin barrier. Hindari pula kebiasaan yang membuat kulit semakin teriritasi, terutama ketika kondisi kulit sedang sensitif.

Yang tidak kalah penting, jangan menjadikan perubahan kecil pada wajah sebagai alasan untuk semakin stres.

Sebab, kulit dan kondisi psikologis dapat saling berkaitan dalam sebuah hubungan yang kompleks.

Rutinitas perawatan kulit sederhana membantu menjaga kesehatan skin barrier sekaligus memberikan ketenangan pikiran. (BTV/Ai)
Rutinitas perawatan kulit sederhana membantu menjaga kesehatan skin barrier sekaligus memberikan ketenangan pikiran. (BTV/Ai)

Insight Redaksi

Bubuhan ikam, marah itu manusiawi. Yang perlu dijaga adalah jangan sampai satu masalah dibawa terus sampai berhari-hari hingga tubuh ikut kecapekan. Dari sisi kulit, stres memang dapat berhubungan dengan gangguan skin barrier, tetapi bukan berarti sekali marah langsung bikin muka berkerut. Jadi, kalau pikiran lagi panas, kasih jua tubuh kesempatan untuk istirahat dan kembali tenang, Ces!

Bagikan artikel ini ke bubuhan ikam yang sering merasa wajahnya terlihat lebih kusam saat banyak pikiran.

Tetap update informasi lifestyle, kesehatan, dan perawatan diri hanya di Balikpapantv.id, teman update setia, bukan sekadar info biasa!

FAQ

1. Apakah marah langsung menyebabkan kerutan?

Tidak. Marah sesekali tidak otomatis menyebabkan kerutan. Hubungan yang lebih diperhatikan adalah dampak stres psikologis yang berulang atau berkepanjangan terhadap fungsi kulit.

2. Apa hubungan kortisol dengan skin barrier?

Respons stres melalui sumbu HPA berkaitan dengan produksi hormon stres. Bukti penelitian menunjukkan stres dapat memengaruhi lipid, protein struktural, hidrasi stratum corneum, dan TEWL yang berhubungan dengan fungsi skin barrier.

3. Apa itu TEWL?

TEWL atau transepidermal water loss adalah ukuran banyaknya air yang keluar melalui kulit. Peningkatan TEWL umumnya digunakan sebagai salah satu indikator terganggunya fungsi skin barrier.

4. Apakah stres dapat menghambat pemulihan skin barrier?

Sejumlah penelitian pada manusia menunjukkan stres dapat memperlambat pemulihan fungsi skin barrier setelah mengalami gangguan.

5. Apakah mengelola stres bisa mencegah kerutan?

Mengelola stres dapat mendukung kesehatan secara keseluruhan dan membantu mengurangi salah satu faktor yang dapat mengganggu fungsi kulit. Namun, penuaan dan kerutan dipengaruhi banyak faktor sehingga tidak bisa dikaitkan hanya dengan stres.

my ride-or-die for updates
my ride-or-die for updates
Editor : Arya Kusuma
stres dan kulit kortisol dan kulit emosi negatif marah dan kerutan Skin barrier