Sering Scroll Media Sosial Sampai Larut? Kulit Bisa Ikut Kena Dampaknya, Ini Penjelasannya

Wafiq Azizah Amru • Dipublikasikan Rabu, 29 Juli 2026 | 12:48 WIB
Ilustrasi seseorang bermain ponsel di tempat tidur pada malam hari dengan wajah berjerawat ringan dan cahaya biru dari layar. (BTV/Ai)
Ilustrasi seseorang bermain ponsel di tempat tidur pada malam hari dengan wajah berjerawat ringan dan cahaya biru dari layar. (BTV/Ai)

Durasi Baca: 6 Menit

Topik: Pengaruh stres mikro digital terhadap kesehatan skin barrier dan munculnya jerawat

Ikhtisar: Doomscrolling hingga larut malam ternyata bukan hanya memengaruhi kualitas tidur, tetapi juga dapat meningkatkan hormon stres, melemahkan skin barrier, dan memicu jerawat yang muncul tanpa penyebab jelas.

 

Balikpapan TV - Hai Ces! Kebiasaan menggulir media sosial hingga tengah malam kini menjadi perhatian para ahli karena berkaitan dengan meningkatnya hormon kortisol, gangguan tidur, dan kerusakan skin barrier yang berujung pada munculnya jerawat misterius. Fenomena ini banyak dialami pengguna ponsel tanpa disadari.

Masih merasa rutinitas malam ikam aman? Simak sampai selesai karena penyebabnya bisa jadi ada di genggaman sendiri, Ces!

"Stres kronis dapat memperburuk berbagai penyakit kulit melalui peningkatan hormon stres dan proses inflamasi," kata Richard Gallo, MD, PhD, Distinguished Professor of Dermatology, University of California San Diego.

Mengapa Doomscrolling Bisa Memicu Jerawat Misterius?

Doomscrolling adalah kebiasaan terus-menerus membaca berita negatif atau media sosial dalam waktu lama, terutama menjelang tidur. Aktivitas ini membuat otak tetap berada dalam kondisi siaga sehingga kadar kortisol sulit turun.

Kortisol merupakan hormon yang diproduksi tubuh ketika mengalami stres. Dalam jumlah normal hormon ini penting, tetapi ketika meningkat terus-menerus dapat memicu peradangan ringan atau mikro-inflamasi pada berbagai jaringan, termasuk kulit.

Pada saat bersamaan, tubuh juga kehilangan kesempatan memasuki fase tidur dalam yang dibutuhkan kulit untuk melakukan regenerasi.

7 Dampak Micro-Stress Harian terhadap Skin Barrier

1. Produksi minyak meningkat

Kortisol merangsang aktivitas kelenjar sebasea sehingga wajah menghasilkan lebih banyak sebum. Ketika bercampur dengan sel kulit mati, pori-pori lebih mudah tersumbat. 

Sebum berlebih menjadi lingkungan ideal bagi bakteri penyebab jerawat berkembang.

Peningkatan hormon kortisol merangsang produksi minyak berlebih yang berpotensi menyumbat pori-pori serta memicu jerawat. (BTV/Ai)
Peningkatan hormon kortisol merangsang produksi minyak berlebih yang berpotensi menyumbat pori-pori serta memicu jerawat. (BTV/Ai)

Baca Juga: Sepatu Nyaman Saat Pagi Belum Tentu Bertahan hingga Sore, Ini Penyebab Ukuran Kaki Sepanjang Hari2. Skin barrier melemah

Lapisan pelindung kulit bertugas menjaga kadar air dan mencegah iritasi.

Saat tubuh mengalami stres berkepanjangan, kemampuan skin barrier mempertahankan kelembapan menurun sehingga kulit menjadi lebih sensitif.

Stres berkepanjangan dapat melemahkan skin barrier, membuat kulit lebih sensitif dan mudah kehilangan kelembapan. (BTV/Ai)
Stres berkepanjangan dapat melemahkan skin barrier, membuat kulit lebih sensitif dan mudah kehilangan kelembapan. (BTV/Ai)

3. Muncul mikro-inflamasi

Peradangan ringan sering kali belum terlihat secara kasat mata.

Namun proses ini perlahan mengganggu keseimbangan kulit hingga akhirnya muncul jerawat yang terasa datang tanpa sebab.

Mikro-inflamasi ringan yang tidak kasat mata dapat mengganggu keseimbangan kulit hingga memicu timbulnya jerawat. (BTV/Ai)
Mikro-inflamasi ringan yang tidak kasat mata dapat mengganggu keseimbangan kulit hingga memicu timbulnya jerawat. (BTV/Ai)

4. Kualitas tidur menurun

Tidur merupakan waktu utama regenerasi sel kulit.

Kurang tidur menghambat pembentukan kolagen sekaligus memperlambat proses pemulihan skin barrier.

Kurang tidur dapat menghambat pembentukan kolagen dan memperlambat proses pemulihan skin barrier kulit. (BTV/Ai)
Kurang tidur dapat menghambat pembentukan kolagen dan memperlambat proses pemulihan skin barrier kulit. (BTV/Ai)

5. Lingkaran hitam semakin jelas

Kurang tidur membuat pembuluh darah di bawah mata lebih terlihat sehingga wajah tampak lelah.

Perubahan ini sering disertai kulit kusam akibat proses regenerasi yang terganggu.

Kurang tidur memicu lingkaran hitam dan kulit kusam, membuat wajah tampak lelah serta kusam. (BTV/Ai)
Kurang tidur memicu lingkaran hitam dan kulit kusam, membuat wajah tampak lelah serta kusam. (BTV/Ai)

6. Kulit lebih mudah iritasi

Produk skincare yang sebelumnya cocok dapat tiba-tiba terasa perih ketika skin barrier mulai rusak.

Hal ini sering disalahartikan sebagai alergi produk.

Kerusakan skin barrier membuat kulit mudah iritasi dan terasa perih saat menggunakan produk skincare. (BTV/Ai)
Kerusakan skin barrier membuat kulit mudah iritasi dan terasa perih saat menggunakan produk skincare. (BTV/Ai)

7. Jerawat sulit sembuh

Peradangan yang berlangsung terus-menerus membuat proses penyembuhan jerawat menjadi lebih lama dibandingkan kondisi normal.

Peradangan yang terjadi terus-menerus membuat proses penyembuhan jerawat menjadi berlangsung jauh lebih lama. (BTV/Ai)
Peradangan yang terjadi terus-menerus membuat proses penyembuhan jerawat menjadi berlangsung jauh lebih lama. (BTV/Ai)
Baca Juga: Bingung memilih cushion? Simak panduan sesuai jenis kulit agar hasil makeup nyaman, awet, dan natural. Baca selengkapnya, Ces!

Apakah Blue Light dari Ponsel Ikut Berperan?

Paparan cahaya biru atau blue light dari layar ponsel masih menjadi topik penelitian. Sejumlah studi menunjukkan paparan dengan intensitas tinggi dapat meningkatkan pembentukan reactive oxygen species (ROS) atau radikal bebas yang memicu stres oksidatif pada kulit.

Meski kontribusi blue light dari penggunaan ponsel sehari-hari diperkirakan lebih kecil dibandingkan paparan sinar matahari, kebiasaan menggunakan layar hingga larut malam tetap berdampak terhadap ritme sirkadian.

Gangguan ritme biologis tersebut menyebabkan produksi melatonin menurun sehingga kualitas tidur ikut memburuk. Akibatnya, proses perbaikan skin barrier juga menjadi kurang optimal.

Menurut Adam Friedman, MD, profesor dermatologi di George Washington University School of Medicine, kualitas tidur dan stres memiliki hubungan erat dengan kondisi kulit karena keduanya memengaruhi proses inflamasi dan pemulihan jaringan.

Bagaimana Membedakan Jerawat Akibat Stres dengan Penyebab Lain?

Jerawat akibat stres biasanya muncul bersamaan dengan periode pekerjaan padat, tekanan emosional, atau kebiasaan tidur larut.

Lokasinya sering berada di dagu, rahang, atau pipi bagian bawah, meski setiap orang dapat mengalami pola berbeda.

Jika rutinitas skincare tidak berubah tetapi jerawat tiba-tiba sering muncul setelah beberapa malam kurang tidur, faktor stres layak dipertimbangkan sebagai salah satu pemicunya.

Namun jerawat tetap merupakan kondisi multifaktor. Faktor hormon, genetika, pola makan tertentu, kosmetik komedogenik, hingga kebersihan kulit juga dapat berkontribusi.

Apa yang Bisa Dilakukan Agar Skin Barrier Tetap Sehat?

Mengurangi doomscrolling sekitar satu jam sebelum tidur menjadi langkah sederhana yang dapat membantu memperbaiki kualitas istirahat.

Mengaktifkan fitur Night Shift atau Eye Comfort pada ponsel dapat membantu mengurangi paparan cahaya biru pada malam hari, meski bukan solusi utama.

Rutinitas skincare juga sebaiknya difokuskan pada pemulihan skin barrier menggunakan pelembap yang mengandung ceramide, kolesterol, atau asam lemak.

Jika jerawat terus muncul selama beberapa bulan, disertai nyeri hebat, atau meninggalkan bekas yang dalam, pemeriksaan ke dokter spesialis kulit menjadi langkah terbaik agar penyebabnya dapat dievaluasi secara menyeluruh.

Poin Penting

  • Doomscrolling meningkatkan risiko stres psikologis dan gangguan tidur.
  • Kortisol berlebih dapat memicu produksi minyak serta mikro-inflamasi pada kulit.
  • Skin barrier yang melemah membuat kulit lebih sensitif terhadap iritasi.
  • Blue light dari ponsel berpotensi memengaruhi ritme tidur, meski efek langsung pada kulit masih terus diteliti.
  • Tidur berkualitas merupakan bagian penting dalam proses regenerasi kulit.

Baca Juga: Tips Tampil Rapi Saat Musim Hujan, Gaya Tetap Menarik Tanpa Takut Kehujanan

Insight Redaksi: Fenomena jerawat misterius kini semakin sering muncul di era digital karena penyebabnya bukan hanya berasal dari skincare. Pola hidup digital ikut menjadi faktor yang mulai mendapat perhatian dunia medis. Warga Balikpapan yang aktivitasnya banyak bergantung pada gawai sebaiknya mulai memperhatikan kebiasaan malam hari. Kada cukup hanya ganti skincare. Pola tidur juga wajib dibenahi agar hasil perawatan lebih maksimal.

Rekomendasi: Mulai batasi penggunaan media sosial 30–60 menit sebelum tidur dan fokus pada rutinitas malam yang mendukung pemulihan kulit secara alami.

Bagikan jua artikel ini ke bubuhan ikam supaya semakin banyak yang memahami bahwa kesehatan kulit juga dipengaruhi kebiasaan digital sehari-hari.

Kulit sehat bukan hanya soal produk yang dipakai, tetapi juga kebiasaan yang dilakukan setiap malam. Tetap update informasi bermanfaat hanya di Balikpapan TV, teman update setia, bukan sekadar info biasa!

FAQ

1. Apakah doomscrolling benar-benar bisa menyebabkan jerawat?

Tidak secara langsung, tetapi kebiasaan ini dapat meningkatkan stres, mengganggu tidur, dan memperburuk faktor-faktor yang memicu jerawat.

2. Apa itu skin barrier?

Skin barrier adalah lapisan pelindung terluar kulit yang menjaga kelembapan sekaligus melindungi dari iritasi dan mikroorganisme.

3. Apakah blue light ponsel merusak kulit?

Bukti ilmiah menunjukkan potensi efek terhadap stres oksidatif, tetapi paparan dari ponsel sehari-hari umumnya jauh lebih rendah dibandingkan sinar matahari.

4. Berapa lama tidur yang baik untuk kesehatan kulit?

Sebagian besar orang dewasa membutuhkan sekitar 7–9 jam tidur berkualitas setiap malam.

5. Kapan harus berkonsultasi ke dokter kulit?

Jika jerawat terus berulang, terasa nyeri, membentuk benjolan besar, atau meninggalkan bekas yang mengganggu.

my ride-or-die for updates
my ride-or-die for updates
Editor : Arya Kusuma
doomscrolling dan jerawat kortisol penyebab jerawat skin barrier rusak