Info Lokal InfoScope Gaya Hidup Infotainment Bisnis & UMKM Iptek Mimbar Opini

Beli Baru atau Thrifting? Hitungan Setahun Ini Bisa Mengubah Cara Belanja Pakaian

istikhomah • Rabu, 15 Juli 2026 | 13:49 WIB
Perbandingan lemari berisi pakaian fast fashion, hasil thrifting, dan pakaian berkualitas dengan simulasi biaya tahunan. (BTV/AI)
Perbandingan lemari berisi pakaian fast fashion, hasil thrifting, dan pakaian berkualitas dengan simulasi biaya tahunan. (BTV/AI)
Durasi: 9 menit

Topik: Perbandingan pengeluaran tahunan antara fast fashion, pakaian bekas, dan pakaian berkualitas untuk kebutuhan masyarakat modern.

Ikhtisar: Artikel ini membahas biaya nyata berpakaian selama satu tahun, faktor yang sering terlewat saat berbelanja, serta strategi pengeluaran fashion yang lebih efisien.

 

Balikpapan TV - Hai Ces! Harga pakaian yang terlihat murah di awal pembelian ternyata belum tentu menghasilkan pengeluaran paling hemat dalam satu tahun. Fast fashion, thrifting, dan investasi pakaian berkualitas memiliki biaya tersembunyi yang baru terlihat setelah dihitung berdasarkan frekuensi pemakaian, biaya perawatan, serta usia pakai setiap produk. Di Indonesia, terutama pada kelompok usia produktif 20 hingga 40 tahun, cara menghitung biaya pakaian mulai berubah dari sekadar melihat label harga menjadi melihat nilai penggunaan jangka panjang. Pertanyaan besarnya sekarang sederhana: mana yang benar-benar menghemat uang selama setahun?

Lemari yang penuh ternyata tidak selalu identik dengan efisiensi. Banyak orang justru menghabiskan jutaan rupiah setiap tahun untuk pakaian yang hanya digunakan beberapa kali sebelum akhirnya tersimpan tanpa pernah dipakai kembali.

Menariknya lagi, tren thrifting yang terus tumbuh pada 2025 hingga 2026 juga menghadirkan pertanyaan baru. Apakah membeli pakaian bekas otomatis lebih hemat dibanding membeli baru? Atau justru ada biaya tersembunyi lain yang sering luput dari perhitungan, Ces?

Baca Juga: Fashion Kebaya Encim Viral, Ini 4 Cara Styling yang Bikin Tampil Modern Tanpa Kehilangan Sentuhan Tradisional

Ilustrasi perhitungan cost per wear untuk membandingkan nilai ekonomis berbagai jenis pakaian. (BTV/AI)
Ilustrasi perhitungan cost per wear untuk membandingkan nilai ekonomis berbagai jenis pakaian. (BTV/AI)

Mengapa harga di label sering berbeda dengan biaya nyata selama setahun?

Kesalahan paling umum saat membeli pakaian adalah hanya melihat harga saat transaksi dilakukan. Padahal dalam praktik sehari-hari, biaya sebenarnya ditentukan oleh berapa lama pakaian tersebut bertahan dan seberapa sering digunakan. Konsep ini dikenal sebagai cost per wear atau biaya per pemakaian yang mulai digunakan luas dalam industri fashion global pada 2025 hingga 2026. Semakin sering sebuah pakaian digunakan, semakin rendah biaya aktualnya.

Sebagai contoh sederhana, kaos seharga Rp150 ribu yang hanya dipakai sepuluh kali menghasilkan biaya Rp15 ribu setiap kali digunakan. Sebaliknya, kaos berkualitas seharga Rp400 ribu yang dipakai seratus kali hanya menghasilkan biaya Rp4 ribu per penggunaan. Selisih harga awal memang cukup besar, tetapi hasil akhirnya justru berbalik ketika dihitung dalam jangka panjang.

Selain frekuensi penggunaan, biaya kepemilikan pakaian juga dipengaruhi oleh faktor lain seperti perbaikan kecil, pencucian khusus, perubahan ukuran tubuh, hingga pergantian tren yang membuat pakaian berhenti digunakan lebih cepat dari perkiraan.

Profesor Kate Fletcher, pakar keberlanjutan fashion dari London College of Fashion, selama beberapa tahun terakhir menekankan pentingnya memperpanjang masa pakai pakaian sebagai langkah paling efektif untuk menekan biaya konsumsi sekaligus mengurangi limbah tekstil global. Semakin lama pakaian digunakan, semakin besar nilai ekonominya bagi pemilik.

Bagaimana jika seluruh biaya dihitung selama satu tahun penuh?

Untuk melihat perbedaannya secara lebih nyata, simulasi berikut menggunakan asumsi kebutuhan pakaian masyarakat perkotaan Indonesia dengan aktivitas kerja normal selama satu tahun.

1. Pembeli fast fashion aktif

Kelompok ini biasanya membeli rata-rata tiga item pakaian baru setiap bulan dengan harga sekitar Rp150 ribu hingga Rp200 ribu per item. Dalam satu tahun jumlah pembelian mencapai sekitar 36 item dengan total pengeluaran antara Rp5,4 juta hingga Rp7,2 juta.

Sebagian pakaian berhenti digunakan setelah beberapa bulan karena tren berubah, bahan mulai menipis, warna memudar, atau model sudah tidak lagi menarik digunakan sehari-hari. Pada akhir tahun, sebagian besar pembeli sering merasa perlu menambah koleksi baru meskipun lemari sebenarnya sudah penuh.

2. Pembeli thrift atau pakaian bekas

Pembeli thrift biasanya membeli dua item setiap bulan dengan harga rata-rata Rp75 ribu hingga Rp100 ribu per produk. Total pengeluaran tahunan berada pada kisaran Rp1,8 juta hingga Rp2,4 juta.

Namun terdapat biaya tambahan yang sering terlupakan seperti laundry khusus, penyesuaian ukuran, penggantian kancing, hingga perbaikan jahitan kecil. Setelah biaya tersebut ditambahkan, total pengeluaran tahunan umumnya berada pada kisaran Rp2,3 juta hingga Rp3 juta.

3. Pembeli pakaian berkualitas

Kelompok ini cenderung membeli lebih sedikit tetapi memilih material dan konstruksi yang lebih baik. Misalnya membeli sepuluh item utama dengan harga rata-rata Rp500 ribu per item sehingga total pengeluaran mencapai sekitar Rp5 juta dalam setahun.

Secara nominal memang terlihat mahal, tetapi sebagian besar pakaian masih dapat digunakan dua hingga lima tahun berikutnya tanpa mengalami penurunan kualitas yang berarti. Dalam hitungan biaya per pemakaian, kelompok ini sering menghasilkan angka paling rendah.

Apakah thrifting otomatis menjadi pilihan paling hemat?

Jawabannya ternyata tidak selalu demikian. Penelitian yang dipublikasikan dalam Scientific Reports pada 2025 menemukan bahwa sebagian pembeli pakaian bekas justru memiliki perilaku konsumsi yang mirip dengan pembeli fast fashion. Harga yang murah membuat frekuensi pembelian meningkat sehingga total konsumsi pakaian tetap tinggi meskipun produk yang dibeli berasal dari pasar barang bekas.

Penelitian yang dipimpin Meital Peleg Mizrachi dan Ori Sharon tersebut menunjukkan adanya paradoks dalam tren fashion berkelanjutan. Pakaian bekas memang dapat mengurangi biaya per item, tetapi manfaat ekonominya akan berkurang apabila jumlah pembelian terus meningkat tanpa kebutuhan yang jelas.

Rina, 28 tahun, pekerja kreatif di Jakarta, mengaku awalnya menggunakan thrifting untuk menghemat pengeluaran pakaian hingga hanya Rp200 ribu per bulan. Setelah enam bulan berjalan, total pembeliannya justru mencapai hampir Rp4 juta karena banyak transaksi kecil yang terasa ringan saat dilakukan tetapi besar setelah diakumulasi selama setahun.

Sebaliknya, Aditya, 31 tahun, memilih membeli dua pasang celana kerja berkualitas dengan harga masing-masing Rp700 ribu. Empat tahun kemudian kedua celana tersebut masih digunakan secara rutin dan belum membutuhkan penggantian.

Fenomena ini juga sejalan dengan pertumbuhan pasar pakaian bekas global yang diperkirakan terus meningkat sepanjang dekade berikutnya karena faktor harga dan perubahan perilaku konsumen muda.

Kesalahan apa yang paling sering membuat pengeluaran fashion membengkak?

Masalah terbesar dalam pengeluaran pakaian sering kali bukan berasal dari satu transaksi besar, melainkan akumulasi pembelian kecil yang dilakukan berulang kali sepanjang tahun.

1. Membeli karena diskon, bukan kebutuhan. Potongan harga sering menciptakan ilusi penghematan meskipun produk tersebut hanya digunakan sekali atau dua kali.

2. Membeli pakaian yang sulit dipadukan. Warna atau model tertentu memang menarik perhatian, tetapi apabila hanya cocok dengan satu kombinasi pakaian lain maka nilai penggunaannya rendah.

3. Tidak menghitung biaya perawatan. Bahan tertentu membutuhkan pencucian khusus yang membuat biaya kepemilikan meningkat selama masa penggunaan.

4. Mengikuti tren terlalu cepat. Siklus tren fashion pada 2026 bergerak jauh lebih cepat dibanding beberapa tahun sebelumnya sehingga usia relevansi pakaian ikut memendek.

5. Tidak mencatat pengeluaran tahunan. Banyak orang merasa jarang membeli pakaian karena transaksi dilakukan dalam nominal kecil, padahal totalnya dapat mencapai jutaan rupiah setiap tahun.

Konsultan gaya asal Irlandia, Ashling Muldowney, bahkan memperkenalkan aturan sederhana sebelum membeli pakaian baru yaitu memastikan produk tersebut dapat dipadukan minimal dengan tiga kombinasi berbeda. Strategi ini terbukti membantu mengurangi pembelian impulsif dan meningkatkan frekuensi penggunaan pakaian sehari-hari.

Baca Juga: Lemari Penuh Mulai Ditinggalkan? Fashion Modular Hadirkan Pakaian Serbaguna

Aktivitas memilih pakaian thrift dan pakaian premium sebagai strategi belanja fashion yang lebih efisien. (BTV/AI)
Aktivitas memilih pakaian thrift dan pakaian premium sebagai strategi belanja fashion yang lebih efisien. (BTV/AI)

Strategi mana yang paling realistis untuk kondisi ekonomi Indonesia saat ini?

Pendekatan paling masuk akal ternyata bukan memilih fast fashion, thrifting, atau pakaian premium secara mutlak. Kombinasi dari ketiganya justru menjadi strategi yang paling efisien bagi sebagian besar masyarakat Indonesia pada 2026.

Pakaian inti seperti sepatu kerja, celana utama, jaket harian, atau tas kerja sebaiknya menggunakan kualitas yang baik karena frekuensi penggunaannya tinggi. Pada kategori ini, investasi kualitas biasanya menghasilkan biaya per pemakaian yang jauh lebih rendah.

Untuk pakaian musiman, kebutuhan acara tertentu, atau eksperimen gaya berpakaian, thrifting menjadi pilihan yang jauh lebih rasional karena risiko finansialnya lebih kecil apabila ternyata jarang digunakan.

Sementara itu, fast fashion masih memiliki ruang untuk kebutuhan mendadak atau perubahan ukuran tubuh tertentu, tetapi porsinya mulai semakin kecil dalam strategi pengeluaran modern karena biaya penggantian yang relatif cepat.

Pendekatan ini juga sejalan dengan pertumbuhan industri pakaian bekas global yang diperkirakan mencapai ratusan miliar dolar dalam dekade berikutnya karena semakin banyak konsumen yang mencari keseimbangan antara efisiensi biaya dan keberlanjutan lingkungan.

Pada akhirnya, pakaian paling hemat ternyata bukan yang memiliki harga paling murah maupun label paling mahal. Yang menentukan justru seberapa sering pakaian tersebut digunakan dan berapa lama ia mampu bertahan dalam aktivitas sehari-hari.

Poin Penting:

Insight Redaksi: Dari sudut pandang Balikpapan, perubahan pola konsumsi pakaian mulai terasa cukup jelas beberapa tahun terakhir. Banyak masyarakat mulai menghitung ulang pengeluaran kecil yang selama ini dianggap biasa saja. Harga murah kada selalu berarti hemat apabila pembelian terus berulang tanpa perencanaan. Sebaliknya, membeli lebih sedikit tetapi digunakan lebih lama justru terasa lebih masuk akal untuk kondisi ekonomi sekarang. Pilih yang benar-benar dipakai, bukan yang hanya menarik saat di etalase, Ces!

Bagikan jua artikel ini ke bubuhan ikam yang masih sering tergoda promo pakaian setiap akhir bulan. Kadada salahnya mulai menghitung biaya setahun sebelum memutuskan menambah isi lemari.

Masih memilih pakaian berdasarkan harga termurah atau mulai menghitung biaya sebenarnya selama setahun? Tetap update bersama Balikpapan Tv teman update setia, bukan sekadar info biasa!

FAQ

1. Apa itu cost per wear?
Metode menghitung biaya pakaian berdasarkan jumlah penggunaan selama masa pakainya.

2. Apakah thrifting selalu lebih hemat dibanding membeli baru?
Tidak selalu, karena jumlah pembelian tetap menjadi faktor penentu utama pengeluaran tahunan.

3. Berapa pengeluaran tahunan pembeli fast fashion dalam simulasi artikel ini?
Sekitar Rp5,4 juta hingga Rp7,2 juta per tahun tergantung frekuensi pembelian.

4. Mengapa pakaian berkualitas bisa lebih ekonomis?
Karena umur pakainya lebih panjang sehingga biaya per pemakaian menjadi lebih rendah.

5. Strategi fashion apa yang paling realistis pada 2026?
Menggabungkan pakaian inti berkualitas dengan thrifting untuk kebutuhan tertentu dan membatasi pembelian berbasis tren.

my ride-or-die for updates
my ride-or-die for updates
Editor : Arya Kusuma
fast fashion pakaian berkualitas cost per wear fashion Thrifting