Durasi Baca: 6 Menit
Topik: UMKM Mandai Noor mengembangkan olahan kulit cempedak fermentasi menjadi kuliner khas Kalimantan bernilai ekonomi.
Ikhtisar: Artikel ini membahas perjalanan UMKM Mandai Noor, proses pembuatan mandai, tantangan usaha, hingga perannya dalam memperkenalkan kuliner khas Kalimantan sebagai oleh-oleh daerah.
Balikpapan TV - Hai Ces! UMKM Mandai Noor di Perumahan Graha Indah, Balikpapan Utara, terus mengembangkan olahan kulit cempedak fermentasi menjadi produk khas Kalimantan sejak 2016. Usaha milik Nana Radia Santi ini menghadirkan berbagai inovasi makanan yang mampu meningkatkan nilai ekonomi hasil panen cempedak sekaligus memperkenalkan kuliner daerah kepada masyarakat yang lebih luas.
Kuliner lokal selalu memiliki cerita menarik di balik setiap prosesnya. Kali ini, giliran mandai yang menunjukkan potensinya sebagai identitas kuliner Kalimantan. Ikuti kisahnya sampai selesai, Ces!
Mengapa Mandai Noor memilih mengolah kulit cempedak menjadi produk khas Kalimantan?
Tidak semua bagian buah cempedak berakhir menjadi limbah. Di Kalimantan, kulit bagian dalam buah ini telah lama dimanfaatkan sebagai bahan makanan tradisional yang dikenal dengan nama mandai. Mandai dibuat melalui proses fermentasi sehingga menghasilkan cita rasa khas yang berbeda dengan olahan cempedak pada umumnya. Makanan ini sudah menjadi bagian dari budaya kuliner masyarakat Kalimantan selama bertahun-tahun.
Melihat potensi tersebut, Nana Radia Santi memutuskan mengembangkan usaha berbasis mandai sejak tahun 2016. Ide itu muncul setelah dirinya berkunjung ke Banjarmasin dan memperoleh rekomendasi mengenai produk Mandai Crispy yang saat itu cukup diminati masyarakat. Pengalaman tersebut kemudian menginspirasi dirinya untuk menghadirkan produk serupa di Balikpapan dengan berbagai inovasi agar semakin mudah diterima berbagai kalangan.
Pemilik UMKM Mandai Noor, Nana Radia Santi, mengatakan alasan utama dirinya membangun usaha tersebut bukan sekadar berjualan makanan.
"Saya ingin mengangkat ciri khas dari provinsi kita sendiri, Kalimantan, yang memang buah aslinya itu cempedak."
Pernyataan itu menjadi dasar pengembangan seluruh produk Mandai Noor hingga sekarang.
Bagaimana proses pembuatan mandai hingga menjadi makanan siap konsumsi?
Sebelum menjadi berbagai olahan, kulit cempedak harus melewati proses fermentasi. Proses tersebut membutuhkan waktu sekitar satu minggu hingga menghasilkan tekstur dan cita rasa yang menjadi karakter utama mandai. Setelah fermentasi selesai, bahan baku kemudian diolah kembali menjadi berbagai produk siap konsumsi.
Produk yang saat ini dipasarkan antara lain:
-
Mandai Crispy
-
Oseng Mandai
-
Abon Mandai
- Mandai spicy
Masing-masing produk memiliki karakter rasa yang berbeda sehingga mampu menjangkau selera konsumen yang lebih luas. Mandai Crispy menjadi salah satu produk unggulan karena memiliki tekstur renyah dan praktis dijadikan camilan maupun oleh-oleh.
Sementara Oseng Mandai lebih banyak dipilih sebagai lauk pendamping makanan. Adapun Abun Mandai menjadi inovasi yang menghadirkan cita rasa mandai dalam bentuk yang lebih praktis.
Menurut Nana Radia Santi, seluruh produk tersebut berasal dari bahan baku yang sama, yakni kulit cempedak fermentasi.
"Produk unggulan saya adalah Mandai Crispy, Oseng Mandai, sama Abun Mandai."
Keberagaman produk ini menjadi strategi usaha agar masyarakat memiliki lebih banyak pilihan ketika ingin menikmati mandai.
Apa tantangan terbesar menjalankan usaha Mandai Noor?
Di balik perkembangan usahanya, Mandai Noor menghadapi tantangan yang cukup besar. Bahan baku utama berupa buah cempedak tidak tersedia sepanjang tahun. Musim panen yang terbatas membuat pemilik usaha harus mempersiapkan stok dalam jumlah besar ketika cempedak sedang melimpah. Konsekuensinya, kebutuhan modal ikut meningkat karena bahan baku harus disimpan untuk memenuhi produksi pada bulan-bulan berikutnya.
Nana Radia Santi mengakui persoalan tersebut menjadi tantangan utama selama menjalankan usaha.
"Tantangannya karena ini buah musiman, jadi kami harus punya stok yang banyak."
Selain stok, proses penyimpanan juga menjadi faktor penting agar kualitas bahan fermentasi tetap terjaga hingga siap diproduksi kembali. Manajemen persediaan menjadi salah satu kunci keberlangsungan usaha karena permintaan pasar tetap berjalan meskipun musim cempedak telah berakhir. Dengan pengelolaan stok yang baik, produksi Mandai Noor masih dapat berlangsung sepanjang tahun sehingga konsumen tetap memperoleh produk secara berkelanjutan.
Bagaimana Mandai Noor berkembang menjadi UMKM yang memberi manfaat ekonomi?
Sejak berdiri pada tahun 2016, Mandai Noor berkembang sebagai usaha rumahan yang terus mempertahankan kualitas produknya. Saat ini usaha tersebut telah mempekerjakan tiga orang karyawan. Dalam operasional sehari-hari, Nana Radia Santi juga mendapat dukungan dari suaminya yang membantu mengelola administrasi usaha.
Model usaha keluarga tersebut membuat seluruh proses produksi hingga pemasaran berjalan lebih terorganisasi. Selain memberikan penghasilan bagi keluarga, keberadaan UMKM ini juga membuka kesempatan kerja bagi masyarakat sekitar.
Di sisi lain, produk Mandai Noor turut memberikan nilai tambah terhadap hasil panen cempedak yang sebelumnya hanya dimanfaatkan secara terbatas. Dengan harga Mandai Crispy mulai Rp25.000 per kemasan dan Oseng Mandai Rp30.000 per kemasan, produk-produk tersebut dipasarkan sebagai pilihan oleh-oleh khas Kalimantan bagi masyarakat maupun wisatawan yang berkunjung ke Balikpapan.
Baca Juga: Kisah Perjuangan Pedagang Salome Balikpapan Menghadapi Persaingan Ketat
Bagaimana Mandai Noor ikut melestarikan kuliner khas Kalimantan?
Perkembangan sektor kuliner saat ini membuat banyak makanan tradisional mulai dikemas dalam bentuk yang lebih modern. Langkah tersebut juga dilakukan Mandai Noor agar mandai dapat diterima oleh lebih banyak kalangan tanpa menghilangkan ciri khasnya. Inovasi menjadi salah satu strategi utama usaha ini. Kulit cempedak yang selama ini identik sebagai bahan makanan rumahan diolah menjadi produk siap konsumsi dengan kemasan praktis sehingga mudah dijadikan buah tangan.
Keberadaan produk seperti Mandai Crispy, Oseng Mandai, hingga Abun Mandai memperlihatkan bahwa pangan lokal memiliki peluang bersaing apabila dikembangkan secara kreatif. Selain memperluas pasar, inovasi tersebut ikut memperkenalkan budaya kuliner Kalimantan kepada masyarakat luar daerah. Wisatawan yang datang ke Balikpapan kini memiliki alternatif oleh-oleh selain produk yang telah lebih dahulu dikenal.
Upaya tersebut sejalan dengan tujuan yang disampaikan pemilik usaha, yakni memperkenalkan ciri khas Kalimantan melalui produk berbahan dasar cempedak. Tidak hanya menawarkan makanan, Mandai Noor juga membawa cerita mengenai tradisi mengolah kulit cempedak yang telah diwariskan masyarakat Kalimantan selama bertahun-tahun. Semakin banyak masyarakat mengenal mandai, semakin besar pula peluang kuliner khas daerah ini tetap bertahan di tengah perkembangan makanan modern.
Baca Juga: Peternakan Telur Bebek Lokal Balikpapan Tumbuh Lewat Kualitas Produksi
Mengapa UMKM seperti Mandai Noor penting bagi perekonomian daerah?
UMKM memiliki peran besar dalam menggerakkan perekonomian lokal. Kehadiran usaha berbasis pangan khas daerah mampu menciptakan nilai tambah dari bahan baku yang sebelumnya memiliki nilai ekonomi lebih rendah. Mandai Noor menjadi salah satu contoh bagaimana inovasi mampu meningkatkan manfaat hasil pertanian lokal.Kulit cempedak yang umumnya kurang dimanfaatkan dapat diolah menjadi berbagai produk bernilai jual dan memiliki pasar tersendiri.
Dampaknya tidak hanya dirasakan pemilik usaha, Usaha ini juga membuka lapangan pekerjaan dengan mempekerjakan tiga orang karyawan serta melibatkan anggota keluarga dalam pengelolaan administrasi. Selain memberikan manfaat ekonomi, keberadaan Mandai Noor turut memperkuat identitas kuliner Kalimantan melalui produk yang dipasarkan secara berkelanjutan.
Bagi wisatawan, produk ini menjadi pilihan oleh-oleh khas yang memiliki cita rasa berbeda dibandingkan makanan daerah lainnya. Semakin berkembang UMKM berbasis pangan lokal, semakin besar pula peluang daerah memperkenalkan kekayaan kulinernya kepada pasar nasional.
Poin Penting
-
UMKM Mandai Noor berdiri sejak tahun 2016 di Balikpapan Utara.
-
Produk dibuat dari kulit cempedak yang difermentasi selama sekitar satu minggu.
-
Produk unggulan meliputi Mandai Crispy, Oseng Mandai, dan Abun Mandai.
-
Mandai Crispy dijual mulai Rp25.000, sedangkan Oseng Mandai Rp30.000 per kemasan.
-
Usaha mempekerjakan tiga orang karyawan dengan dukungan administrasi dari suami pemilik.
-
Tantangan utama berasal dari ketersediaan buah cempedak yang hanya ada pada musim tertentu.
-
Produk dipasarkan sebagai oleh-oleh khas Kalimantan.
Insight Redaksi
Pelestarian kuliner daerah kadang dimulai dari langkah sederhana, yakni memberi nilai baru pada bahan pangan lokal. Mandai Noor menunjukkan bahwa inovasi dapat berjalan berdampingan dengan tradisi tanpa menghilangkan identitas asli makanan tersebut. Nilai tambah seperti inilah yang membuat UMKM mampu bertahan sekaligus memperkuat ekonomi lokal.
Kada harus menunggu usaha besar. Produk khas daerah yang dikelola konsisten justru berpotensi menjadi identitas Balikpapan dan Kalimantan. Perluasan pemasaran digital serta kolaborasi dengan pusat oleh-oleh dapat membuka pasar lebih luas bagi produk mandai.
Bagikan jua artikel ini ke bubuhan ikam supaya makin banyak yang mengenal kuliner khas Kalimantan. Yuk terus ikuti informasi menarik seputar UMKM, kuliner, dan inspirasi daerah hanya di Balikpapan TV, teman update setia, bukan sekadar info biasa!
FAQ
1. Apa itu mandai?
Mandai merupakan olahan kulit bagian dalam buah cempedak yang difermentasi sebelum dimasak menjadi berbagai jenis makanan.
2. Di mana lokasi UMKM Mandai Noor?
Berlokasi di Perumahan Graha Indah Komplek Asabri Blok J No. 03 RT 04, Batu Ampar, Kecamatan Balikpapan Utara, Kota Balikpapan.
3. Apa produk unggulan Mandai Noor?
Mandai Crispy, Oseng Mandai, dan Abun Mandai.
4. Berapa lama proses fermentasi mandai?
Sekitar satu minggu sebelum diolah menjadi produk siap konsumsi.
5. Apa tantangan terbesar usaha ini?
Ketersediaan buah cempedak yang bersifat musiman sehingga membutuhkan stok bahan baku dalam jumlah besar.
Editor : Arya Kusuma