Dua Kapal Tanker Diserang, Minyak Dunia Tembus US$105,48

Arya Kusuma • Dipublikasikan Senin, 12 Oktober 2026 | 08:22 WIB
Kapal tanker minyak melintasi perairan strategis Timur Tengah dengan latar jalur pelayaran Selat Hormuz.
Kapal tanker minyak melintasi perairan strategis Timur Tengah dengan latar jalur pelayaran Selat Hormuz.

Durasi Baca: 5 menit

Ikhtisar: Harga minyak dibayangi serangan kapal tanker, risiko pasokan, dan peluang pemulihan pengiriman energi global.

 

Balikpapan TV - Hai Ces! Harga minyak dunia kembali menunjukkan satu hal yang sering luput dari perhatian: perang bisa mendorong harga naik, tetapi kabar tentang pasokan dari wilayah lain dapat mengubah arah pasar dalam waktu singkat.

Pada Senin, 12 Oktober 2026, Brent sempat tercatat US$105,48 per barel dan West Texas Intermediate (WTI) US$92,44 per barel dalam laporan Reuters. Namun, perkembangan berikutnya menunjukkan harga minyak melemah setelah muncul harapan peningkatan pasokan dari Rusia. Dua pergerakan ini memperlihatkan bahwa pasar minyak sedang menimbang risiko dari beberapa arah sekaligus.

Harga minyak naik saat kapal tanker ikut terancam

Laporan Reuters yang diterbitkan melalui Investing.com pada 11 Oktober, dengan pembaruan untuk perdagangan 12 Oktober, mencatat kenaikan harga minyak pada waktu pengamatan pukul 23.04 GMT.

Indikator

Harga yang tercatat

Perubahan

Brent

US$105,48 per barel

Naik US$0,76 atau 0,73%

WTI

US$92,44 per barel

Naik US$0,59 atau 0,64%

Brent merupakan patokan minyak mentah yang banyak digunakan dalam perdagangan internasional. Sementara itu, WTI menjadi acuan utama minyak mentah Amerika Serikat.

Kenaikan tersebut muncul ketika konflik Timur Tengah meluas. Kelompok Houthi yang didukung Iran mengaku bertanggung jawab atas serangan di Bandara Internasional Riyadh pada Sabtu, 10 Oktober. Laporan Reuters menyebut serangan itu menewaskan 13 orang dan melukai lebih dari 300 orang.

Otoritas Arab Saudi juga melaporkan serangan baru pada Minggu. Pada saat bersamaan, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan negaranya mempertimbangkan untuk bergabung dalam serangan Saudi terhadap Houthi.

Risiko militer itu bukan satu-satunya perhatian pelaku pasar. Dua insiden terhadap kapal tanker turut meningkatkan kekhawatiran atas keamanan pengiriman energi.

Otoritas perdagangan maritim Inggris, United Kingdom Maritime Trade Operations (UKMTO), melaporkan sebuah kapal tanker terkena serangan drone di sekitar area labuh Sohar, Oman. Kapal lain mengalami kerusakan akibat proyektil yang belum diketahui saat melintasi Selat Hormuz.

Bagi pasar minyak, ancaman terhadap kapal tidak harus langsung menghentikan seluruh pengiriman untuk memicu kekhawatiran. Ketidakpastian perjalanan, potensi pengalihan rute, biaya asuransi, dan risiko keselamatan dapat memengaruhi perhitungan biaya serta keputusan perusahaan pelayaran.

Baca Juga: Inflasi dan Harga Pangan Jadi Tantangan, BI Siapkan 23 Kegiatan di Balikpapan dan PPU

Selat Hormuz membuat risiko pasokan terasa nyata

Selat Hormuz merupakan jalur strategis bagi perdagangan minyak dan gas dari kawasan Teluk menuju pasar internasional. Karena itu, peningkatan ancaman keamanan di sekitar jalur ini menjadi perhatian penting bagi negara produsen, perusahaan energi, dan pembeli minyak.

Insiden terhadap kapal tangker menunjukkan risiko keamanan yang nyata, tetapi tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa seluruh ekspor minyak dari kawasan tersebut berhenti.

Perbedaan ini penting karena harga minyak tidak hanya mengikuti jumlah minyak yang benar-benar hilang dari pasar. Pelaku pasar juga memperhitungkan kemungkinan gangguan pada hari atau pekan berikutnya.

Ketika risiko dinilai meningkat, harga dapat memuat premi risiko, yakni tambahan nilai yang mencerminkan ketidakpastian pasokan dan kemungkinan gangguan. Namun, premi tersebut bukan biaya resmi yang dikenakan kepada setiap pembeli minyak.

Goldman Sachs memperkirakan premi risiko minyak saat itu sedikit di atas US$20 per barel. Angka tersebut merupakan estimasi analis, bukan besaran kerugian yang sudah terjadi atau jaminan bahwa harga akan bertahan pada tingkat tertentu.

Goldman Sachs melihat peluang harga turun, bukan hanya naik

Di tengah meningkatnya risiko geopolitik, Goldman Sachs justru memperkirakan harga minyak dapat bergerak turun pada akhir tahun apabila pasokan Timur Tengah mampu menyesuaikan diri.

Bank investasi tersebut menaikkan proyeksi harga Brent untuk Desember 2026 menjadi US$90 per barel, dari perkiraan sebelumnya US$85. Goldman Sachs juga memperkirakan WTI rata-rata mencapai US$81 per barel pada Desember 2026 dan US$73 per barel pada 2027.

Para analis yang dipimpin Daan Struyven menulis dalam catatan riset Goldman Sachs:

“We maintain our base case that continued adaptation of Mideast supply will eventually reduce crude oil prices, while potential renewed escalation still poses significant net upside risk.”

Artinya, skenario dasar mereka masih mengarah pada penurunan harga minyak mentah apabila pasokan Timur Tengah berangsur menyesuaikan diri. Namun, eskalasi konflik baru masih dapat mendorong harga naik secara signifikan.

Daan Struyven merupakan pimpinan riset komoditas dan riset minyak di Goldman Sachs Research. Pernyataan tersebut adalah pandangan analis mengenai kemungkinan arah pasar, bukan kepastian harga pada bulan-bulan berikutnya.

Perbandingan antara harga Brent US$105,48 dan proyeksi Desember US$90 menghasilkan selisih US$15,48 per barel. Jika dibandingkan dengan harga yang tercatat dalam laporan awal, proyeksi itu sekitar 14,7 persen lebih rendah.

Perhitungan tersebut hanya membandingkan harga pada waktu pengamatan dengan proyeksi masa depan. Angka itu bukan prediksi penurunan yang sudah terwujud, sebab harga aktual dapat berubah mengikuti perkembangan konflik, pasokan, dan permintaan.

Baca Juga: Harga Emas Balikpapan Berubah, Tapi Spread Buyback Perlu Dihitung Investor

Mengapa harga minyak kemudian melemah?

Perkembangan pasar pada Senin, 12 Oktober, memperlihatkan bahwa ancaman pasokan dari Timur Tengah bukan satu-satunya faktor penentu.

Dalam laporan Reuters berikutnya, harga Brent tercatat turun US$1,37 menjadi US$103,35 per barel, sedangkan WTI melemah US$1,30 menjadi US$90,55 per barel. Pasar merespons harapan bertambahnya pasokan Rusia setelah Presiden Donald Trump mengumumkan adanya kesepakatan gencatan senjata energi antara Rusia dan Ukraina.

Perkembangan itu menghadirkan dua tekanan yang berlawanan:

Pengumuman politik belum tentu langsung menghasilkan tambahan minyak yang tersedia di pasar. Pelaksanaannya, respons negara terkait, dan perubahan volume pengiriman masih perlu diperhatikan.

Di sinilah pentingnya membaca harga minyak bersama berita mengenai pasokan. Satu kabar dapat meningkatkan risiko, sedangkan kabar lain pada hari yang sama dapat mengurangi sebagian kekhawatiran tersebut.

Gangguan produksi akibat cuaca juga ikut memengaruhi perhitungan pasar. Di Teluk Meksiko, Shell, Chevron, dan BP berupaya menempatkan kembali pekerja serta memulihkan produksi setelah Badai Isaias mendarat pada Sabtu pagi.

Artinya, kondisi pasokan global tidak ditentukan oleh Timur Tengah saja. Gangguan produksi di Amerika Serikat, perubahan arus perdagangan, dan kemampuan perusahaan memulihkan kegiatan operasional ikut membentuk keseimbangan pasar.

Apa artinya bagi masyarakat Indonesia dan Balikpapan?

Harga minyak mentah dunia tidak sama dengan harga BBM yang dibayar masyarakat. Hubungannya melalui beberapa tahapan, mulai dari biaya pengadaan minyak dan produk olahan, nilai tukar rupiah, biaya pengiriman, pengolahan di kilang, hingga kebijakan harga di dalam negeri.

Bagi Indonesia, kenaikan harga minyak dapat menambah tekanan biaya impor energi apabila kebutuhan impor tidak diimbangi faktor lain. Nilai tukar rupiah juga penting karena transaksi minyak internasional umumnya menggunakan dolar Amerika Serikat.

Namun, dampak tersebut tidak otomatis muncul pada hari yang sama. Harga BBM domestik dipengaruhi jenis produk, mekanisme penetapan harga, kebijakan pemerintah, serta keputusan badan usaha terkait.

Di Balikpapan, pembahasan energi mempunyai relevansi tersendiri karena kota ini memiliki aktivitas industri minyak dan gas serta kegiatan logistik yang berkaitan dengan sektor energi. Meski demikian, kenaikan Brent saja belum cukup untuk menyimpulkan bahwa ongkos transportasi, harga kebutuhan pokok, atau pengeluaran rumah tangga di kota ini pasti meningkat.

Untuk menilai dampak lokal, pembaca perlu membedakan tiga indikator:

Indikator

Hal yang perlu diperiksa

Harga energi

Harga BBM resmi dan perkembangan harga produk minyak

Nilai tukar

Pergerakan rupiah terhadap dolar AS

Biaya lokal

Tarif transportasi, biaya logistik, serta data harga barang di Balikpapan

Ketiganya membantu menjelaskan apakah perubahan harga minyak dunia sudah merambat ke perekonomian sehari-hari atau masih berupa risiko yang perlu diwaspadai.

Poin Penting

Insight Redaksi

Harga minyak adalah pertarungan antara risiko dan pasokan nyata. Konflik dapat mengerek harga, tetapi harapan tambahan pasokan dapat membalikkan sentimen. Bagi Balikpapan, angka Brent penting dibaca bersama rupiah, kebijakan BBM, dan data biaya lokal. Jangan buru-buru panik, Ces. Yang perlu dipantau adalah dampak yang benar-benar terukur.

Bubuhan pembaca bisa memantau harga BBM resmi dan perkembangan biaya transportasi, bukan hanya mengikuti angka minyak mentah di pasar internasional.

Kalau informasi ini membantu, bagikan kepada keluarga atau rekan kerja agar perkembangan energi dunia tidak dibaca sebatas angka yang naik dan turun. Ikuti kabar ekonomi berikutnya bersama Balikpapan TV. Di tengah gejolak minyak dunia, Balikpapan TV teman update setia, bukan sekadar info biasa!

FAQ

1. Mengapa harga Brent dan WTI berbeda?

Brent dan WTI berasal dari acuan minyak mentah yang berbeda, dengan karakteristik, lokasi perdagangan, serta kondisi pasokan dan distribusi masing-masing.

2. Apakah harga minyak US$105 per barel berarti BBM Indonesia akan naik?

Tidak otomatis. Harga BBM domestik juga dipengaruhi biaya pengadaan, nilai tukar, biaya pengolahan, serta kebijakan pemerintah dan badan usaha.

3. Mengapa Goldman Sachs memperkirakan harga minyak turun?

Analisnya memperkirakan penyesuaian pasokan Timur Tengah dapat mengurangi tekanan harga. Namun, eskalasi konflik baru masih menjadi risiko kenaikan.

4. Apa fungsi premi risiko dalam harga minyak?

Premi risiko mencerminkan tambahan nilai yang diperhitungkan pasar akibat ketidakpastian, misalnya ancaman terhadap jalur pengiriman atau potensi gangguan produksi.

5. Apa yang perlu dipantau masyarakat Balikpapan?

Perhatikan harga BBM resmi, nilai tukar rupiah, tarif transportasi, dan perkembangan harga barang. Indikator tersebut lebih relevan untuk menilai dampak terhadap pengeluaran sehari-hari.

Sumber Informasi

Editor : Arya Kusuma
Brent WTI ekonomi global harga minyak dunia