Inflasi dan Harga Pangan Jadi Tantangan, BI Siapkan 23 Kegiatan di Balikpapan dan PPU

Arya Kusuma • Dipublikasikan Senin, 12 Oktober 2026 | 07:28 WIB
BI Siapkan 23 Kegiatan untuk Menjaga Harga Pangan
BI Siapkan 23 Kegiatan untuk Menjaga Harga Pangan

Durasi Baca: 6 menit

Ikhtisar:  Bank Indonesia bersama pemerintah daerah menyiapkan 23 kegiatan stabilisasi harga pangan di Balikpapan dan Penajam Paser Utara (PPU) selama triwulan IV 2026. Program ini hadir ketika inflasi kumulatif Januari–September 2026 di wilayah kerja BI Balikpapan dilaporkan mencapai 4,11 persen. Selain menggelar Gerakan Pangan Murah, Pasar Murah, dan Operasi Pasar, BI memperkuat produksi pangan lokal melalui program Tani Camp. 

 

Balikpapan TV - Hai Ces! Belanja kebutuhan pokok bisa terasa makin berat ketika harga sejumlah bahan pangan naik, sementara anggaran rumah tangga tidak ikut bertambah. Karena itu, rencana 23 kegiatan pangan murah di Balikpapan dan PPU patut dicermati.

Namun, banyaknya kegiatan belum otomatis menjamin belanja menjadi lebih hemat. Ada hal yang tidak kalah penting: komoditas apa yang dijual, seberapa besar selisih harganya, di mana kegiatan berlangsung, dan apakah pasokan tersedia ketika warga datang.

BI Siapkan 23 Kegiatan untuk Menjaga Harga Pangan

Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Balikpapan bersama pemerintah daerah menyiapkan 23 kegiatan stabilisasi harga pangan sepanjang Oktober hingga Desember 2026. Rinciannya, 10 kegiatan di Kota Balikpapan dan 13 kegiatan di Kabupaten PPU.

Program tersebut merupakan bagian dari Gerakan Pengendalian Inflasi Pangan Sejahtera (GPIPS), yang ditandai dengan kick-off di PPU pada Kamis, 8 Oktober 2026.

Pelaksanaannya mencakup tiga bentuk intervensi, yakni Gerakan Pangan Murah (GPM), Pasar Murah (PM), dan Operasi Pasar (OP). Kegiatan melibatkan Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID), distributor utama, Perum Bulog, serta Pertamina Patra Niaga.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Balikpapan, Robi Ariadi, menekankan pentingnya kerja sama antarpemangku kepentingan dalam menjaga stabilitas daerah.

“Sinergi yang semakin menguat ini merupakan langkah nyata untuk memperkuat ketahanan daerah dalam penanganan karhutla, pengendalian inflasi pangan, dan peningkatan literasi masyarakat secara berkelanjutan,” ujar Robi.

Rencana kegiatan tersebut diarahkan untuk memperluas jangkauan intervensi ke hampir seluruh kecamatan di kedua wilayah. Pemerintah daerah juga menempatkan data kerawanan pangan sebagai salah satu pertimbangan dalam menentukan lokasi dan sasaran program.

Bagi warga, perluasan ini penting karena manfaat pasar murah tidak hanya ditentukan oleh harga jual. Jarak menuju lokasi, ongkos transportasi, ketersediaan stok, dan batas pembelian juga memengaruhi penghematan yang benar-benar bisa dirasakan.

Baca Juga: Harga Emas Balikpapan Berubah, Tapi Spread Buyback Perlu Dihitung Investor

Inflasi 4,11 Persen, Bagaimana Membaca Angkanya?

Angka inflasi menjadi salah satu alasan penting di balik penguatan stabilisasi pangan. Dalam bahan keterangan KPw BI Balikpapan, inflasi kumulatif Januari–September 2026 disebut mencapai 4,11 persen.

Namun, angka tersebut perlu dibaca sesuai cakupan wilayah dan periode pengukurannya. Data Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Balikpapan menunjukkan gambaran tersendiri.

Indikator inflasi Balikpapan

September 2026

Inflasi bulanan (month-to-month)

0,08%

Inflasi kumulatif (year-to-date)

2,55%

Inflasi tahunan (year-on-year)

3,93%

Sumber: BPS Kota Balikpapan, Berita Resmi Statistik 1 Oktober 2026.

Perbedaan tersebut penting. Inflasi bulanan membandingkan harga dengan bulan sebelumnya, inflasi kumulatif membandingkan tingkat harga dengan Desember tahun sebelumnya, sedangkan inflasi tahunan membandingkan harga dengan bulan yang sama pada tahun sebelumnya.

Karena itu, angka 4,11 persen yang dilaporkan BI tidak boleh langsung dianggap sebagai inflasi Kota Balikpapan saja. Cakupan wilayah dan metode agregasinya perlu dipastikan terlebih dahulu.

Pemerintah menetapkan sasaran inflasi nasional 2026 sebesar 2,5 persen dengan deviasi satu persen, atau kisaran 1,5–3,5 persen secara tahunan. Angka inflasi tahunan Balikpapan sebesar 3,93 persen pada September berada 0,43 poin persentase di atas batas atas kisaran tersebut.

Meski demikian, perbandingan ini bukan berarti inflasi kumulatif 4,11 persen bisa langsung dinyatakan melampaui target tahunan. Periode pengukuran dan cakupan statistiknya berbeda.

Konteks tersebut membantu menjelaskan mengapa pengendalian harga membutuhkan lebih dari satu langkah. Intervensi di pasar dapat membantu konsumen dalam jangka pendek, tetapi stabilitas harga juga bergantung pada kelancaran pasokan dan kemampuan produksi pangan.

Baca Juga: Tanah Balikpapan Makin Dicari? Ini Faktor yang Perlu Dicek Sebelum Menilai Lokasinya

Komoditas Prioritas Menentukan Manfaat Pasar Murah

Dalam pelaksanaannya, kegiatan stabilisasi akan memprioritaskan komoditas yang harganya melampaui harga eceran tertinggi (HET) atau harga acuan penjualan (HAP) di tingkat konsumen, sesuai ketentuan Badan Pangan Nasional (Bapanas). Komoditas strategis lain yang ditetapkan TPID juga menjadi perhatian.

HET merupakan batas harga eceran yang ditetapkan untuk komoditas tertentu, sedangkan HAP menjadi acuan harga penjualan pada tingkat rantai perdagangan yang diatur. Keduanya digunakan untuk membantu menjaga keterjangkauan harga dan mengendalikan gejolak pasar.

Bagi masyarakat, pertanyaan yang paling praktis adalah berapa selisih harga yang bisa diperoleh saat mengikuti kegiatan tersebut.

Misalnya, apabila suatu komoditas dijual Rp5.000 lebih murah per kilogram dan keluarga membeli dua kilogram, penghematan langsungnya mencapai Rp10.000. Angka ini merupakan ilustrasi perhitungan, bukan harga atau hasil penghematan aktual dari program BI.

Penghematan yang sesungguhnya baru dapat dihitung setelah tersedia data harga komoditas yang sama di lokasi dan tanggal yang sebanding.

Informasi tersebut penting karena harga murah di satu lokasi belum tentu memberikan manfaat yang sama bagi warga yang harus mengeluarkan biaya perjalanan tambahan. Ketersediaan stok juga menentukan apakah masyarakat bisa memperoleh barang sesuai kebutuhan.

Karena itu, keberhasilan 23 kegiatan sebaiknya tidak hanya dilihat dari jumlah acara yang terlaksana. Harga jual, volume komoditas yang disediakan, jumlah warga yang terlayani, serta jangkauan lokasi perlu menjadi bagian dari evaluasi.

Dari Pasar Murah ke Kebun Rumah, BI Perkuat Pasokan

Intervensi harga bukan satu-satunya strategi yang ditempuh BI Balikpapan bersama TPID. Penguatan produksi pangan lokal juga dilanjutkan melalui Tani Camp 2026 di Balikpapan, PPU, dan Kabupaten Paser.

Program ini mencakup peningkatan kapasitas budidaya pertanian dan peternakan, pemanfaatan pekarangan rumah serta sekolah untuk pertanian perkotaan atau urban farming, dan penerapan teknik budidaya dengan bahan organik.

Menurut Robi Ariadi, hasil pemantauan di Balikpapan dan PPU menunjukkan tanaman cabai, tomat, serta terong yang dikelola tim penggerak PKK, sekolah terpilih, dan kelompok tani peserta Tani Camp tumbuh dengan baik. Sejumlah tanaman bahkan telah memasuki fase berbuah.

BI mendukung kegiatan tersebut melalui pendampingan tenaga ahli, lokakarya, serta fasilitasi perlengkapan budidaya pertanian dan peternakan.

Bagi rumah tangga, pemanfaatan pekarangan berpotensi membantu memenuhi sebagian kebutuhan sayuran. Namun, besarnya manfaat ekonomi tetap bergantung pada luas lahan, biaya perawatan, hasil panen, dan kebutuhan keluarga. Tanaman yang mulai berbuah belum otomatis berarti produksi sudah cukup untuk menekan pengeluaran secara signifikan.

Hal serupa berlaku untuk pasokan pangan dalam skala lebih besar. Produksi lokal dapat membantu memperkuat ketersediaan komoditas, tetapi hasilnya memerlukan waktu dan tidak selalu langsung menjawab gejolak harga yang sedang terjadi.

Dengan demikian, pasar murah dan pengembangan produksi memiliki fungsi berbeda. Pasar murah ditujukan untuk membantu keterjangkauan dalam jangka pendek, sedangkan penguatan produksi diharapkan memperbaiki ketahanan pasokan secara berkelanjutan.

Baca Juga: QRIS Antarnegara Raih Penghargaan Global, Transaksi Capai Rp5,90 Triliun

Peternak Ayam Petelur Juga Menghadapi Tantangan Pasokan

Penguatan pangan lokal tidak hanya menyangkut tanaman sayuran. Di Kabupaten Paser, pemantauan Tani Camp menunjukkan usaha peternakan ayam petelur mulai menerapkan penggunaan pakan mandiri.

Langkah ini diarahkan untuk meningkatkan efisiensi usaha di tengah keterbatasan bahan baku pakan, khususnya jagung.

Pemerintah daerah melalui organisasi perangkat daerah (OPD) terkait memperkuat koordinasi untuk mendukung akses pasokan jagung, termasuk melalui pemanfaatan jagung dari program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) pada panen mendatang.

Ketersediaan bahan baku menjadi faktor penting bagi keberlanjutan peternakan. Ketika biaya pakan meningkat, pengeluaran usaha ikut tertekan dan dapat memengaruhi kemampuan peternak mempertahankan produksi. Namun, besarnya pengaruh tersebut terhadap harga telur di tingkat konsumen belum dapat dihitung tanpa data biaya pakan, biaya produksi, dan harga jual.

Kaitan ini memperlihatkan bahwa pengendalian harga pangan tidak cukup dilakukan di titik penjualan. Rantai pasokan dari produksi, bahan baku, distribusi, hingga pasar juga perlu diperhatikan.

Bagi warga Balikpapan dan PPU, informasi paling berguna adalah jadwal serta lokasi resmi, daftar komoditas, harga jual, dan ketentuan pembelian. Informasi tersebut membantu masyarakat menentukan apakah kegiatan yang tersedia sesuai dengan kebutuhan belanja rumah tangga.

Poin Penting

Insight Redaksi

Pasar murah bisa menjadi penyangga ketika harga pangan menekan anggaran keluarga, tetapi dampaknya tidak berhenti pada jumlah kegiatan. Ukuran yang lebih berarti adalah berapa besar penghematan yang diperoleh warga, apakah komoditas tersedia saat dibutuhkan, dan apakah produksi lokal mampu memperkuat pasokan setelah intervensi berakhir. Karena itu, 23 agenda stabilisasi pangan di Balikpapan dan PPU perlu dinilai sebagai rangkaian kebijakan yang hasilnya harus terlihat dalam harga, akses, dan ketersediaan pangan, bukan sekadar jumlah kegiatan yang terlaksana.

Untuk mengikuti manfaat program, warga sebaiknya memeriksa pengumuman resmi pemerintah daerah dan penyelenggara mengenai jadwal, lokasi, komoditas, harga, serta batas pembelian. Jika kegiatan berlangsung jauh dari tempat tinggal, perhitungkan pula ongkos perjalanan agar penghematan yang diperoleh tetap sepadan.

Bubuhan warga juga bisa membandingkan harga komoditas yang sama di pasar reguler sebelum berbelanja. Perbandingan sederhana ini membantu melihat manfaat ekonomi secara lebih nyata, bukan hanya berdasarkan label harga murah.

Informasi yang jelas dan evaluasi yang terbuka akan membantu masyarakat mengetahui apakah intervensi benar-benar menjawab kebutuhan mereka.

Selalu ikuti perkembangan ekonomi daerah hanya di Balikpapan TV teman update setia, bukan sekadar info biasa!

FAQ

1. Berapa kali kegiatan stabilisasi pangan direncanakan di Balikpapan dan PPU?

Totalnya 23 kegiatan sepanjang triwulan IV 2026, terdiri atas 10 kegiatan di Balikpapan dan 13 kegiatan di PPU.

2. Apa saja bentuk kegiatan stabilisasi harga pangan tersebut?

Programnya mencakup Gerakan Pangan Murah (GPM), Pasar Murah (PM), dan Operasi Pasar (OP).

3. Apakah inflasi 4,11 persen merupakan inflasi Kota Balikpapan?

Belum dapat disimpulkan demikian. Angka tersebut dilaporkan sebagai inflasi kumulatif Januari–September dalam bahan keterangan BI Balikpapan. Cakupan wilayah dan metode agregasinya perlu dikonfirmasi. BPS Kota Balikpapan mencatat inflasi kumulatif sebesar 2,55 persen pada periode yang sama.

4. Bagaimana Tani Camp membantu pengendalian harga pangan?

Tani Camp memperkuat kapasitas produksi melalui budidaya pertanian, pemanfaatan pekarangan, dan pengembangan peternakan. Program ini diharapkan mendukung ketahanan pangan dan membantu menjaga ketersediaan pasokan dalam jangka panjang.

5. Apakah 23 kegiatan tersebut pasti menurunkan inflasi?

Belum tentu. Kegiatan dapat membantu keterjangkauan harga komoditas tertentu, tetapi dampaknya terhadap inflasi keseluruhan bergantung pada cakupan intervensi, volume pasokan, distribusi, dan perkembangan harga komoditas lainnya.

Sumber Informasi

Editor : Arya Kusuma
bank indonesia balikpapan inflasi pangan penajam paser utara