Durasi Baca: 6 menit
Ikhtisar: Pemerintah perlu memperkuat investasi PLTS dan bioethanol agar bauran EBT meningkat menuju target 30 persen pada 2034.
Balikpapan TV - Hai Ces! Pemerintah didorong memperkuat investasi energi terbarukan untuk mengejar bauran EBT 30 persen pada 2034, terutama melalui percepatan PLTS dan bioethanol.
Target tersebut menjadi pekerjaan besar karena capaian bauran EBT pada triwulan II 2026 baru mencapai 17,30 persen. Lalu, apa yang harus dibenahi?
Jarak menuju target masih cukup lebar
Anggota Dewan Energi Nasional Saleh Abdurrahman menilai daya tarik investasi menjadi salah satu kunci percepatan energi terbarukan.
Menurut dia, pelaku usaha masih menghadapi persoalan perizinan, penyediaan lahan, insentif fiskal dan nonfiskal, serta konsistensi kebijakan.
Masalah tersebut penting karena proyek energi membutuhkan kepastian sejak tahap perencanaan sampai pembangkit beroperasi.
Data yang disampaikan Saleh menunjukkan bauran EBT triwulan II 2026 mencapai 17,30 persen.
Angka itu naik dari capaian 2025 sebesar 15,75 persen. Artinya, kenaikannya mencapai 1,55 poin persentase.
Namun, posisi tersebut masih menyisakan jarak 12,70 poin persentase menuju target 30 persen pada 2034.
Kesenjangan itu menunjukkan percepatan tidak cukup hanya mengandalkan proyek yang berjalan, tetapi membutuhkan investasi baru.
Baca Juga: Tol Puncak Caringin–Cisarua Dikebut, Investasi Rp8 Triliun Jadi Sorotan
PLTS menjadi salah satu pengungkit terbesar
Untuk sektor kelistrikan, percepatan lelang PLTS skala besar menjadi perhatian utama karena proyek harus segera masuk tahap konstruksi.
Program PLTS 100 GWp yang didorong pemerintah dinilai dapat menjadi salah satu mesin utama peningkatan kapasitas energi surya nasional.
PT PLN (Persero) pada Mei 2026 bahkan meluncurkan proyek PLTS Mentari Nusantara I berkapasitas 1,225 GW melalui strategi pengadaan terintegrasi GIGA ONE.
Proyek tersebut tersebar di sejumlah wilayah, termasuk Kalimantan dengan kapasitas 340 MW, dan ditargetkan mencapai commercial operation date pada 2029.
Bagi investor, model pengadaan terintegrasi seperti ini penting karena kepastian proyek menjadi salah satu pertimbangan utama keekonomian.
PLN menyebut pendekatan bundling dapat membuat proyek lebih bankable sekaligus meningkatkan efisiensi proses pengadaan hingga konstruksi.
Artinya, tantangan investasi bukan sekadar menyediakan modal. Struktur proyek dan kepastian pelaksanaannya ikut menentukan apakah modal benar-benar masuk.
Bioethanol juga perlu pasokan domestik
Selain listrik, percepatan transisi energi membutuhkan pengembangan bahan bakar nabati, terutama bioethanol untuk transportasi.
Saleh menilai penerapan E5 hingga E10 perlu didukung pembenahan regulasi dan harga indeks pasar bioethanol yang lebih wajar.
E5 berarti campuran bahan bakar dengan kandungan bioethanol lima persen, sedangkan E10 menggunakan kandungan sepuluh persen.
Namun, kebijakan pencampuran tidak akan berjalan optimal jika kapasitas produksi domestik belum mampu mengikuti kebutuhan pasar.
Karena itu, investasi tidak hanya dibutuhkan pada sisi konsumsi, tetapi juga pada fasilitas produksi dan rantai pasok bioethanol.
Pendekatan tersebut membuat pengembangan energi terbarukan tidak berhenti pada target penggunaan, tetapi membangun kemampuan produksi dalam negeri.
Bagi masyarakat, dampaknya dapat terasa melalui perubahan struktur pasokan energi sekaligus kebutuhan investasi baru di sektor pertanian dan industri pengolahan.
RUPTL memberi gambaran ruang pertumbuhan EBT
Rencana Umum Penyediaan Tenaga Listrik atau RUPTL 2025–2034 menunjukkan ruang pengembangan EBT masih cukup besar.
Dokumen PLN mencatat bauran EBT dalam RUPTL diproyeksikan mencapai 21 persen pada 2030 dan meningkat menjadi 34,3 persen pada 2034.
Proyeksi tersebut berarti target 30 persen pada 2034 secara perencanaan memiliki ruang untuk dicapai melalui pengembangan pembangkit EBT.
Namun, target dalam rencana berbeda dengan realisasi lapangan. Investasi, perizinan, pembebasan lahan, jaringan, dan kesiapan proyek menentukan hasil akhirnya.
Program PLTS juga mempunyai posisi strategis karena kapasitasnya dapat dikembangkan secara bertahap sesuai kesiapan sistem kelistrikan.
PLN menyatakan proyek GIGA ONE dirancang untuk meningkatkan kepastian proyek sekaligus memperkuat daya tarik investasi energi bersih.
Bagi daerah seperti Kalimantan Timur, perkembangan investasi EBT juga relevan karena wilayah tersebut menjadi bagian dari ekspansi proyek energi bersih nasional.
Subsidi BBM ikut menentukan arah transisi
Percepatan EBT juga berkaitan dengan pengelolaan subsidi energi, khususnya ketika harga BBM belum sepenuhnya mengikuti harga keekonomian.
Saleh menilai pemerintah membutuhkan pengendalian konsumsi yang tepat sasaran apabila penyesuaian harga BBM belum menjadi pilihan.
Persoalannya bukan hanya besaran subsidi, tetapi bagaimana kebijakan tersebut memengaruhi konsumsi energi dan ruang fiskal pemerintah.
Jika konsumsi BBM bersubsidi terus meningkat, ruang fiskal dapat semakin terbebani dan transisi energi menghadapi tantangan tambahan.
Karena itu, kebijakan energi perlu berjalan beriringan antara pengembangan EBT, efisiensi konsumsi, dan pengelolaan subsidi.
Bagi rumah tangga dan pelaku usaha, transisi energi pada akhirnya berkaitan dengan biaya energi, ketersediaan pasokan, serta kepastian kebijakan.
Target 2030 membutuhkan percepatan mulai sekarang
Saleh menyebut target bauran EBT 21–23 persen pada 2029 masih membutuhkan usaha lebih besar dari pemerintah dan pelaku industri.
Ia memperkirakan bauran EBT pada 2030 berpotensi mencapai 19–23 persen jika realisasi PLTS sekitar 30 GWp dan penerapan E5 berjalan pada 2028.
Skenario tersebut menunjukkan keberhasilan transisi energi sangat bergantung pada kemampuan mengubah rencana proyek menjadi pembangkit yang benar-benar beroperasi.
Di sisi lain, pemerintah perlu menjaga agar kebijakan investasi tidak berubah terlalu sering karena proyek energi memiliki horizon pengembalian modal panjang.
Kepastian perizinan, lahan, insentif, harga energi, serta aturan teknis menjadi bagian penting dari keputusan investor.
Buat investor, kepastian bukan bonus. Itu fondasi.
Pada akhirnya, mengejar bauran EBT 30 persen bukan sekadar soal menambah pembangkit hijau.
Target tersebut membutuhkan ekosistem investasi yang membuat proyek layak secara ekonomi, mudah dieksekusi, dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
Poin Penting
- Bauran EBT triwulan II 2026 mencapai 17,30 persen, naik dari 15,75 persen pada 2025.
- Target 30 persen pada 2034 masih berjarak 12,70 poin persentase dari capaian triwulan II 2026.
- PLTS 100 GWp menjadi salah satu program utama untuk mempercepat pertumbuhan energi surya.
- PLN meluncurkan PLTS Mentari Nusantara I berkapasitas 1,225 GW melalui skema GIGA ONE.
- Bioethanol E5 hingga E10 membutuhkan peningkatan kapasitas produksi domestik.
- Kepastian perizinan, lahan, insentif, harga, dan kebijakan menjadi faktor penting bagi investor.
- RUPTL 2025–2034 memproyeksikan bauran EBT mencapai 34,3 persen pada 2034.
Insight Redaksi
Target EBT 30 persen bukan sekadar urusan membangun pembangkit. Tantangan terbesarnya justru menjaga proyek tetap bankable, kebijakan konsisten, dan manfaatnya terasa hingga daerah. Kalimantan Timur punya posisi strategis dalam peta energi bersih nasional. Kalau investasi hanya berhenti di angka kapasitas, transisi terasa jauh. Yang penting, proyek benar-benar hidup dan memberi nilai ekonomi lokal.
Yang penting sekarang, jangan cuma kejar angka proyek; pastikan listrik bersihnya benar-benar terasa sampai daerah dan masyarakat.
Bagikan artikel ini kalau menurutmu arah investasi energi bersih bakal ikut menentukan ekonomi daerah ke depan.
Mau terus update soal ekonomi, investasi, energi, dan kebijakan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari? Ikuti Balikpapan TV teman update setia, bukan sekadar info biasa!
FAQ
1. Berapa capaian bauran EBT pada triwulan II 2026?
Capaian bauran EBT mencapai 17,30 persen, meningkat dari 15,75 persen pada 2025.
2. Berapa target bauran EBT pada 2034?
Target yang dibahas dalam artikel adalah 30 persen pada 2034.
3. Mengapa investasi menjadi penting untuk mengejar target EBT?
Investasi dibutuhkan untuk membangun pembangkit, kapasitas produksi bioethanol, infrastruktur pendukung, serta mempercepat realisasi proyek.
4. Apa peran PLTS dalam pencapaian target?
PLTS dinilai menjadi salah satu pengungkit utama karena pemerintah mendorong pengembangan kapasitas hingga 100 GWp.
5. Apa yang dimaksud E5 dan E10?
E5 adalah bahan bakar dengan campuran bioethanol lima persen, sedangkan E10 menggunakan campuran sepuluh persen.
6. Apa tantangan utama investor energi terbarukan?
Perizinan, lahan, insentif, harga, kepastian kebijakan, serta kesiapan proyek menjadi sejumlah persoalan yang perlu diperbaiki.
Editor : Redaksi BTV