Target Ekonomi 6%: Mengapa Industri Baja Nasional Perlu Diperkuat dari Dalam?

Revan Prasetya Irwansyah Putra • Dipublikasikan Minggu, 23 Agustus 2026 | 15:25 WIB
Target pertumbuhan ekonomi 6 persen mendorong penguatan industri baja, pasar domestik, dan daya saing nasional [BTV:AI]
Target pertumbuhan ekonomi 6 persen mendorong penguatan industri baja, pasar domestik, dan daya saing nasional [BTV:AI]

Durasi Baca: 8 menit

Ikhtisar: Target ekonomi 6 persen membutuhkan pasar domestik kuat, energi kompetitif, perlindungan industri, teknologi, serta penyerapan baja nasional di Kaltim.

 

Balikpapan TV - Hai Ces! Target pertumbuhan ekonomi 6 persen kembali menjadi perhatian setelah IISIA mendorong penguatan industri nasional melalui pasar domestik dan daya saing produsen baja.

Persoalannya bukan sekadar mengejar angka pertumbuhan. Saat permintaan naik tetapi sebagian kebutuhan dipenuhi impor, manfaat pertumbuhan bagi industri dalam negeri bisa ikut berkurang.

Pasar Dalam Negeri Menjadi Kunci Pertumbuhan Industri

Bagi industri baja, pasar domestik memiliki posisi penting karena produk baja digunakan dalam konstruksi, infrastruktur, manufaktur, hingga berbagai proyek strategis.

Direktur Eksekutif Indonesian Iron and Steel Industry Association (IISIA) Harry Warganegara menilai pertumbuhan ekonomi 6 persen akan lebih bermakna bagi industri nasional apabila peningkatan permintaan diarahkan kepada produk buatan dalam negeri.

Gagasan tersebut sejalan dengan kebutuhan memperkuat rantai pasok nasional. Ketika industri lokal mendapatkan pasar yang cukup, kapasitas produksi, investasi teknologi, dan penyerapan tenaga kerja dapat berkembang secara bersamaan.

Pemerintah juga memiliki instrumen Peningkatan Penggunaan Produk Dalam Negeri atau P3DN untuk mendorong belanja produk lokal.

Di Kalimantan Timur, agenda tersebut memiliki konteks kuat karena pemerintah provinsi pada Agustus 2026 masih mempercepat validasi Indeks Kepatuhan Belanja Produk Dalam Negeri.

Artinya, pembahasan industri baja bukan hanya persoalan pabrik di kawasan industri. Kebijakan pembelian pemerintah dan proyek pembangunan daerah ikut menentukan seberapa besar pasar domestik dapat menyerap produk nasional.

Industri baja nasional didorong memperkuat pasar domestik, P3DN, investasi, produksi, dan penyerapan tenaga kerja. [BTV:AI]
Industri baja nasional didorong memperkuat pasar domestik, P3DN, investasi, produksi, dan penyerapan tenaga kerja. [BTV:AI]

 Baca Juga: Sengketa INA-Kimia Farma Tak Bebani APBN, Ini Posisi Keuangan dan Risikonya

Mengapa Harga Gas Menjadi Persoalan Serius?

Biaya energi merupakan salah satu komponen yang menentukan kemampuan industri baja bersaing dengan produk dari luar negeri.

Harry menyoroti implementasi Harga Gas Bumi Tertentu atau HGBT yang menurut IISIA belum sepenuhnya memenuhi kebutuhan industri dari sisi volume dan harga.

Dalam informasi yang disampaikan IISIA kepada Bisnis.com, kebutuhan gas yang belum tertutup alokasi HGBT harus dipenuhi melalui gas non-HGBT. Kondisi tersebut membuat biaya gas efektif perusahaan dapat berada di atas harga HGBT.

HGBT sendiri berada pada kisaran US$6,5-US$7 per MMBtu dalam kebijakan pemerintah pada 2026. Pemerintah sebelumnya juga menyatakan kebijakan tersebut dipertahankan untuk menjaga keberlangsungan industri.

Masalahnya kemudian bukan hanya berapa harga HGBT di atas kertas. Ketersediaan volume gas menjadi faktor penting karena industri membutuhkan pasokan yang konsisten untuk menjalankan produksi.

Laporan lain pada Agustus 2026 juga mencatat IISIA menilai keterbatasan alokasi gas murah membuat sebagian produsen harus menggunakan pasokan non-HGBT dengan harga hulu yang jauh lebih tinggi.

Bagi produsen baja, kepastian energi sangat berkaitan dengan keputusan produksi dan investasi. Biaya yang sulit diprediksi membuat perusahaan menghadapi risiko saat menyusun rencana jangka panjang.

Biaya energi dan kepastian pasokan HGBT menjadi tantangan daya saing industri baja nasional menghadapi persaingan impor [BTV:AI]
Biaya energi dan kepastian pasokan HGBT menjadi tantangan daya saing industri baja nasional menghadapi persaingan impor [BTV:AI]

 Industri Baja Tidak Hanya Berhadapan dengan Harga Energi

Tekanan terhadap industri baja datang dari beberapa arah sekaligus. Selain energi, produsen nasional menghadapi persaingan produk impor, kebutuhan teknologi, bahan baku, logistik, dan tuntutan menuju produksi rendah karbon.

Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian menyebut industri logam Indonesia mencatat pertumbuhan PDB 15,71 persen pada 2025. Pemerintah juga menempatkan hilirisasi, perlindungan pasar domestik, serta transformasi menuju industri baja rendah karbon sebagai bagian dari penguatan daya saing.

Angka tersebut menunjukkan industri logam memiliki kapasitas menjadi salah satu penggerak pertumbuhan. Namun, pertumbuhan sektor tidak otomatis menyelesaikan persoalan daya saing di tingkat perusahaan.

IISIA juga mendorong penguatan pengawasan impor, penerapan standar yang konsisten, serta penggunaan instrumen perdagangan seperti antidumping dan safeguard apabila ditemukan praktik perdagangan tidak sehat.

Pendekatan ini penting karena perlindungan industri bukan berarti menutup pasar. Tujuannya menciptakan persaingan yang berlangsung dengan standar dan aturan yang sebanding.

IKN Membuka Ruang Besar bagi Baja Nasional

Konteks Kalimantan Timur membuat isu tersebut semakin relevan. Pembangunan Ibu Kota Nusantara membutuhkan berbagai material konstruksi, termasuk baja.

Kementerian PUPR sebelumnya memperkirakan kebutuhan baja untuk pembangunan IKN pada 2023-2024 mencapai sekitar 700.000 ton hingga 1 juta ton, kemudian diproyeksikan meningkat pada tahap pembangunan berikutnya.

Data tersebut menunjukkan bahwa IKN bukan sekadar proyek pembangunan fisik. Kawasan ini juga dapat menjadi pasar bagi industri nasional apabila kebutuhan material dipenuhi produsen domestik sesuai spesifikasi teknis.

Krakatau Steel Group pada Maret 2026 bahkan menjalin kerja sama dengan Pemerintah Kabupaten Penajam Paser Utara untuk mendukung pembangunan daerah sekaligus memperluas pemanfaatan produk baja nasional.

Namun peluang tersebut memiliki tantangan logistik. Dokumen Kementerian PUPR mencatat kebutuhan material pembangunan IKN masih menghadapi persoalan distribusi, akses transportasi, kapasitas dermaga, dan ketergantungan terhadap material dari luar Kalimantan.

Bagi Kalimantan Timur, kondisi ini menjadi pengingat bahwa pertumbuhan ekonomi harus diikuti penguatan ekosistem pemasok. Kadada gunanya pasar besar tersedia jika biaya distribusi membuat produk domestik kehilangan daya saing.

Apa Artinya bagi Ekonomi Kalimantan Timur?

Kebijakan penguatan industri nasional dapat memberikan efek berantai bagi Kalimantan Timur melalui pembangunan IKN, infrastruktur, kawasan industri, dan kebutuhan konstruksi.

Semakin banyak produk nasional yang terserap, semakin besar peluang aktivitas ekonomi bergerak dari sekadar proyek menuju rantai pasok yang lebih panjang.

Peluang tersebut mencakup penyediaan material, jasa logistik, fabrikasi, pergudangan, transportasi, hingga usaha pendukung konstruksi.

Pemerintah daerah juga memiliki peran melalui pengadaan barang dan jasa yang mengutamakan produk dalam negeri selama memenuhi standar serta spesifikasi yang dipersyaratkan.

Kaltim sendiri sedang memperkuat kepatuhan belanja produk dalam negeri. Langkah tersebut dapat menjadi salah satu jembatan antara kebijakan nasional dan kebutuhan ekonomi daerah.

Bagi Balikpapan dan kawasan penyangga IKN, rantai pasok yang kuat bisa menciptakan peluang ekonomi baru. Bukan hanya sebagai tempat lewatnya material, tetapi sebagai bagian dari ekosistem industri.

Daya Saing Tidak Bisa Bergantung pada Satu Kebijakan

HGBT dapat membantu menekan biaya energi, tetapi industri baja membutuhkan fondasi daya saing yang lebih luas.

Produktivitas, efisiensi, teknologi, kualitas bahan baku, kemampuan memenuhi standar, logistik, dan kepastian pasar perlu bergerak bersamaan.

Kementerian Perindustrian juga mengidentifikasi biaya energi dan logistik sebagai persoalan penting industri logam nasional. Di saat yang sama, tuntutan dekarbonisasi membuat produsen perlu mempersiapkan teknologi dan proses produksi rendah karbon.

Karena itu, target pertumbuhan 6 persen sebaiknya dibaca bukan sekadar sebagai target makroekonomi.

Pertanyaannya adalah apakah pertumbuhan tersebut mampu menciptakan permintaan yang masuk ke industri nasional, mendorong investasi, memperkuat pemasok lokal, dan menghasilkan pekerjaan.

Untuk industri baja, jawabannya sangat bergantung pada kualitas kebijakan dari hulu sampai hilir.

Poin Penting

Insight Redaksi

Target 6 persen akan terasa nyata kalau belanja pembangunan masuk ke pabrik, pekerja, logistik, dan usaha lokal. Kaltim punya panggung besar lewat IKN. Tapi panggung saja kadada cukup. Efisiensi energi, kepastian pasokan, standar produk, dan konektivitas harus beres supaya peluang berubah menjadi aktivitas ekonomi yang benar-benar dirasakan masyarakat.

Dorong proyek Kaltim memakai produk lokal yang memenuhi standar, sambil benahi logistik supaya biaya kada membebani industri.

Bagikan artikel ini ke kawalan ikam supaya makin banyak yang paham bahwa pertumbuhan ekonomi bukan cuma angka di laporan.

Mau mengikuti perkembangan ekonomi dan industri yang berdampak ke Kalimantan Timur? Selalu update info hanya di Balikpapan TV, teman update setia, bukan sekadar info biasa!

FAQ

1. Mengapa industri baja penting bagi target pertumbuhan ekonomi 6 persen?

Baja menjadi material penting untuk konstruksi, infrastruktur, manufaktur, dan berbagai proyek pembangunan sehingga permintaannya dapat menggerakkan banyak sektor terkait.

2. Apa persoalan utama HGBT bagi industri baja?

Menurut IISIA, persoalannya bukan hanya harga, tetapi juga volume alokasi dan kesinambungan pasokan gas untuk memenuhi kebutuhan industri.

3. Mengapa IKN relevan bagi industri baja nasional?

Pembangunan IKN membutuhkan material konstruksi dalam jumlah besar sehingga dapat menjadi pasar bagi produsen baja domestik yang memenuhi standar.

4. Apa kaitannya dengan Kalimantan Timur?

Kebutuhan pembangunan IKN membuka peluang bagi rantai pasok daerah, termasuk logistik, fabrikasi, material konstruksi, dan jasa pendukung.

my ride-or-die for updates
my ride-or-die for updates

 

Editor : Arya Kusuma
HGBT pertumbuhan ekonomi kalimantan timur industri baja