Durasi Baca: 8 menit
Ikhtisar: Hilirisasi perlu memperkuat industri rendah karbon, teknologi domestik, rantai pasok, dan daya saing Indonesia.
Balikpapan TV - Hai Ces! Presiden Prabowo Subianto mendorong percepatan hilirisasi nasional, sementara IESR mengingatkan agar agenda tersebut diarahkan menuju industri rendah karbon.
Perdebatan ini penting karena hilirisasi menyentuh investasi, lapangan kerja, ketahanan energi, subsidi, hingga arah industri Indonesia menghadapi perubahan teknologi global.
Mengapa IESR Mengingatkan Risiko Energi Fosil?
Institute for Essential Services Reform (IESR) menilai hilirisasi perlu dibedakan berdasarkan kontribusinya terhadap transformasi industri dan energi.
Perhatian utama tertuju pada proyek dimethyl ether (DME) berbasis batu bara yang dirancang sebagai pengganti LPG impor. Pemerintah melihat DME sebagai bagian dari upaya memperkuat ketahanan energi domestik.
Kementerian ESDM sendiri mencatat DME dapat digunakan sebagai alternatif LPG dan sebelumnya mengembangkan opsi pemanfaatan batu bara kalori rendah sebagai bahan baku.
Menurut IESR, persoalannya berada pada keekonomian proyek serta potensi kebutuhan subsidi. Perubahan harga dan pasokan batu bara juga dinilai dapat menciptakan risiko fiskal apabila proyek bergantung pada dukungan pemerintah.
Baca Juga: Upah Minimum Kurir Australia Naik, Apa Dampaknya bagi Ojol Indonesia?
IESR menegaskan, “agenda hilirisasi perlu dibedakan antara proyek yang benar-benar memperkuat transisi energi dan proyek yang berisiko mempertahankan ketergantungan pada bahan bakar fosil.”
DME Membawa Dua Kepentingan Sekaligus
DME menawarkan peluang substitusi LPG impor, tetapi bahan bakunya dalam proyek yang sedang didorong pemerintah berasal dari batu bara.
Kementerian ESDM menyebut proyek DME di Tanjung Enim diarahkan untuk membantu substitusi impor LPG. Pemerintah juga menyebut sekitar 80 persen kebutuhan LPG nasional masih dipenuhi melalui impor.
Karena itu, ukuran keberhasilan proyek bukan sekadar berapa banyak LPG impor yang dapat digantikan. Efisiensi biaya, kebutuhan subsidi, emisi, dan ketahanan energi juga perlu dihitung.
Hilirisasi Mineral Punya Ruang Menuju Industri Rendah Karbon
Di sektor mineral, IESR melihat peluang yang berbeda melalui pengembangan industri kendaraan listrik dan rantai pasok baterai.
Indonesia sudah membangun berbagai fasilitas yang berkaitan dengan ekosistem baterai. IETO 2026 mencatat rantai pasok baterai lithium-ion domestik mulai terbentuk, dengan aktivitas yang masih kuat pada pertambangan, pengolahan mineral, dan produksi battery pack.
Pada sektor menengah, kemampuan nasional mulai berkembang melalui produksi material baterai dan sel. Namun, IESR mencatat masih terdapat celah pada produksi separator, elektrolit, serta prekursor litium.
Salah satu contoh berada di KEK Kendal, Jawa Tengah. Pabrik material anoda PT Indonesia BTR New Energy Material memiliki kapasitas awal 80.000 ton per tahun. Pemerintah mencatat investasi proyek tersebut mencapai sekitar Rp3,2 triliun.
Artinya, peluang hilirisasi bukan sekadar mengubah mineral mentah menjadi bahan antara. Tantangan berikutnya adalah membangun kemampuan produksi komponen yang semakin dekat dengan produk akhir.
Perubahan Teknologi Baterai Bisa Mengubah Peta Investasi
Satu persoalan penting berada pada perkembangan teknologi baterai global.
IESR mencatat industri baterai Indonesia masih sangat berkaitan dengan strategi pemanfaatan sumber daya nikel. Pada saat bersamaan, pasar global bergerak menuju teknologi lithium ferro phosphate (LFP) yang menggunakan bahan baku berbeda dari baterai berbasis nikel.
Perubahan tersebut membuat strategi industri perlu memiliki ruang adaptasi. Investasi yang hanya bergantung pada satu jenis teknologi berisiko menghadapi perubahan permintaan ketika teknologi baru berkembang.
IESR juga mendorong Indonesia menyiapkan peta jalan jangka panjang untuk teknologi generasi berikutnya, termasuk sodium-ion dan lithium-sulfur, agar industri domestik mampu mengikuti perubahan kebutuhan pasar.
Rantai Pasok Harus Dalam, Bukan Sekadar Besar
Hilirisasi akan menghasilkan nilai ekonomi ketika kemampuan teknologi dan produksi tumbuh bersama investasi.
Pabrik besar memang dapat menciptakan kapasitas produksi dan lapangan kerja. Tetapi kemampuan membuat material, komponen, sel, sistem penyimpanan, hingga proses daur ulang menentukan seberapa dalam nilai tambah bertahan di dalam negeri.
Karena itu, IESR menempatkan penguasaan teknologi dan kedalaman rantai pasok sebagai bagian penting dari ukuran keberhasilan hilirisasi.
Danantara Mempercepat Puluhan Proyek Hilirisasi
Pemerintah melalui Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara atau Danantara mempercepat sejumlah proyek hilirisasi nasional sepanjang 2026.
Kementerian ESDM mencatat tahap pertama groundbreaking berlangsung pada 6 Februari 2026. Tahap berikutnya mencakup sejumlah proyek strategis, termasuk pengolahan batu bara menjadi DME di Tanjung Enim, hilirisasi tembaga dan emas, manufaktur baja, serta berbagai proyek energi dan mineral.
Presiden Prabowo sebelumnya menyebut Danantara telah melakukan groundbreaking 13 proyek pada 6 Februari dan 13 proyek berikutnya pada 29 April 2026.
Dalam pernyataannya, Prabowo menyebut proyek tersebut mencakup pengolahan batu bara menjadi DME, hilirisasi tembaga dan emas, pengolahan garam industri, serta pengolahan alumina menjadi aluminium.
Pemerintah melihat proyek-proyek tersebut sebagai instrumen penciptaan nilai tambah dan lapangan kerja. Tantangannya kini adalah memastikan setiap proyek memiliki daya saing ekonomi sekaligus mampu mengikuti arah transisi energi.
Apa Ukuran Keberhasilan Hilirisasi?
IESR menilai jumlah investasi dan tenaga kerja belum cukup menjadi ukuran tunggal keberhasilan.
Ukuran yang perlu diperhatikan mencakup penguasaan teknologi, kedalaman rantai pasok domestik, efisiensi energi, kontribusi terhadap ekonomi rendah karbon, dan daya saing industri.
Perspektif tersebut sejalan dengan IETO 2026 yang menempatkan penyelarasan pertumbuhan ekonomi dan transisi energi sebagai agenda strategis Indonesia. IESR menilai kebijakan energi perlu mampu mendukung ketahanan energi sekaligus membangun perekonomian yang kompetitif.
Bagi industri, pendekatan ini berarti proyek hilirisasi perlu dirancang untuk menghadapi perubahan teknologi dan pasar, bukan hanya mengejar kapasitas produksi dalam jangka pendek.
Langkah yang Perlu Diperhatikan
- Mengukur keekonomian proyek sebelum memberikan dukungan fiskal.
- Memperkuat riset dan penguasaan teknologi domestik.
- Memperdalam rantai pasok dari bahan baku hingga produk akhir.
- Menyesuaikan investasi dengan perkembangan teknologi global.
- Mengutamakan efisiensi energi dalam kawasan industri.
- Mengembangkan industri rendah karbon secara konsisten.
Poin Penting
- Prabowo mendorong percepatan hilirisasi melalui sejumlah proyek strategis nasional.
- IESR mengingatkan risiko ketergantungan baru apabila hilirisasi bertumpu pada energi fosil.
- DME berbasis batu bara diarahkan pemerintah untuk substitusi LPG impor.
- Industri baterai memiliki peluang besar, tetapi rantai pasok domestik masih memiliki celah.
- Pergeseran teknologi NMC menuju LFP perlu menjadi pertimbangan investasi.
- Keberhasilan hilirisasi perlu dinilai dari teknologi, efisiensi, rantai pasok, dan daya saing.
Insight Redaksi
Hilirisasi memang penting, tapi arah industrinya menentukan warisan ekonomi yang ditinggalkan. Kalau investasi hanya mengejar volume, risikonya besar. Bubuhan di Balikpapan tentu paham: industri kuat harus siap menghadapi perubahan zaman, bukan sekadar ramai di awal.
Industri perlu mengejar teknologi, efisiensi energi, dan rantai pasok domestik agar nilai tambah benar-benar tinggal di Indonesia.
Bagikan artikel ini ke kawalan ikam supaya pembahasan hilirisasi kada berhenti pada angka investasi saja.
Penasaran ke mana arah hilirisasi Indonesia di tengah perubahan teknologi dan energi global? Selalu update info hanya di Balikpapan TV teman update setia, bukan sekadar info biasa!
FAQ
1. Apa yang dimaksud hilirisasi dalam konteks artikel ini?
Hilirisasi adalah proses meningkatkan nilai tambah bahan mentah melalui pengolahan dan pengembangan industri di dalam negeri.
2. Mengapa IESR menyoroti proyek DME berbasis batu bara?
Karena proyek tersebut berpotensi mempertahankan penggunaan energi fosil dan dinilai memiliki tantangan keekonomian serta risiko subsidi.
3. Mengapa industri baterai menjadi bagian penting hilirisasi?
Industri baterai membuka peluang peningkatan nilai tambah mineral sekaligus memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok kendaraan listrik global.
4. Apa risiko perubahan teknologi baterai bagi Indonesia?
Perubahan teknologi dapat menggeser kebutuhan bahan baku sehingga investasi yang terlalu bergantung pada satu teknologi menghadapi risiko pasar.
5. Apa ukuran keberhasilan hilirisasi menurut IESR?
Penguasaan teknologi, kedalaman rantai pasok, efisiensi energi, kontribusi ekonomi rendah karbon, dan daya saing industri.
Editor : Arya Kusuma