Durasi Baca: 7 menit
Ikhtisar: Ketidakpastian pasokan HGBT menekan industri, investasi, daya saing, hingga keberlangsungan tenaga kerja nasional.
Balikpapan TV - Hai Ces! Kadin Indonesia menilai pasokan Harga Gas Bumi Tertentu (HGBT) yang belum optimal mulai memengaruhi keputusan investasi industri dan meningkatkan risiko tekanan terhadap tenaga kerja.
Masalahnya kini bukan sekadar harga gas murah. Ketika volume yang dijanjikan sulit diterima secara konsisten, biaya produksi ikut berubah dan investor harus menghitung ulang kelayakan proyek jangka panjang.
Pasokan HGBT Tersendat, Investasi Industri dan Risiko PHK Mulai Jadi Sorotan
Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia menyoroti ketidakpastian pasokan HGBT sebagai persoalan yang dapat memengaruhi iklim investasi sektor industri. Wakil Ketua Umum Kadin Erwin Aksa menyebut investor membutuhkan kepastian energi untuk proyek dengan horizon investasi 10–20 tahun.
Menurut Erwin, ketidakpastian tersebut dapat mengubah perhitungan finansial proyek. Bahkan, rencana ekspansi industri berpotensi ditunda atau dialihkan apabila pasokan energi tidak dapat diprediksi.
“Bagi investor, persoalannya bukan hanya berapa harga energi hari ini. Investasi pabrik mempunyai horizon 10-20 tahun. Kalau pasokan energi tidak dapat diprediksi, financial model proyek berubah dan keputusan investasi bisa ditunda atau dialihkan ke negara lain,” kata Erwin kepada Bisnis, Kamis (13/8/2026).
Baca Juga: O!Save Hadir di Indonesia, Kemendag Soroti Aturan Modal dan Persaingan Ritel
Mengapa Pasokan HGBT Menjadi Persoalan Industri?
Persoalan utama yang disoroti Kadin berada pada volume dan kesinambungan pasokan, bukan hanya harga yang ditetapkan pemerintah.
Data evaluasi Kementerian Perindustrian yang dikutip Erwin menunjukkan realisasi HGBT yang diterima industri sepanjang 2025 hanya sekitar 60–70% dari alokasi yang ditetapkan.
Kondisi tersebut semakin terasa di Jawa Bagian Barat. Realisasi pasokan tercatat turun dari 88,72% pada 2023 menjadi 78,68% pada 2024 dan 65,69% sepanjang 2025. Hingga April 2026, realisasinya disebut hanya sekitar 46,36% dan sempat menyentuh 37,5%.
Data mengenai penurunan realisasi di Jawa Bagian Barat juga diberitakan berdasarkan data Kementerian Perindustrian.
Bagi industri yang membutuhkan gas sebagai bahan baku atau energi utama, kondisi tersebut membuat kepastian produksi ikut terganggu.
Harga Murah Saja Belum Cukup bagi Pabrik
HGBT dirancang untuk membantu sektor industri tertentu memperoleh gas dengan harga kompetitif. Regulasi pemerintah menetapkan skema HGBT bagi sejumlah sektor strategis yang memiliki ketergantungan tinggi terhadap gas.
Pada 2025, pemerintah mempertahankan skema HGBT bagi tujuh sektor, yaitu pupuk, petrokimia, oleochemical, baja, keramik, kaca, serta sarung tangan karet. Kementerian ESDM menetapkan harga berdasarkan pemanfaatannya, yakni US$7 per MMBTU untuk bahan bakar dan US$6,5 per MMBTU untuk bahan baku.
Namun, harga yang kompetitif kehilangan manfaat apabila volume gas yang tersedia tidak mencukupi kebutuhan pabrik.
“Dari perspektif industri, harga murah tetapi volumenya tidak tersedia bukanlah HGBT yang efektif,” tegas Erwin.
Karena itu, industri membutuhkan tiga kepastian sekaligus: harga kompetitif, volume sesuai alokasi, dan kontinuitas pasokan selama pabrik beroperasi.
Ketidakpastian Energi Mulai Menyentuh Rencana Investasi
Kadin menyebut dampak gangguan pasokan mulai masuk ke pertimbangan investasi baru. Salah satu sektor yang disebut terdampak adalah sanitaryware, ketika investor dilaporkan mempertimbangkan kembali rencana ekspansinya akibat ketidakpastian energi.
Bagi proyek industri, perubahan harga energi bukan persoalan sederhana. Biaya tersebut masuk ke dalam proyeksi produksi, margin usaha, kebutuhan modal, hingga perkiraan pengembalian investasi.
Investor pun membutuhkan gambaran pasokan untuk beberapa tahun, bukan hanya kondisi energi ketika pabrik mulai beroperasi.
Sinyal tersebut penting karena keputusan investasi industri memiliki efek panjang. Ketika ekspansi tertunda, kapasitas produksi baru ikut tertahan dan peluang penciptaan lapangan kerja dapat ikut terdampak.
Apa Dampaknya Jika Industri Harus Membeli Gas Mahal?
Keterbatasan HGBT membuat industri dapat menggunakan gas non-HGBT atau LNG hasil regasifikasi sebagai alternatif.
Persoalannya, harga sumber energi tersebut dapat jauh berada di atas skema HGBT. Data yang dikutip dalam pemberitaan mengenai kondisi Jawa Bagian Barat menunjukkan harga gas regasifikasi LNG PGN diproyeksikan mencapai US$20,57 per MMBTU pada Juni 2026.
Perbedaan biaya tersebut berpotensi menekan margin perusahaan. Jika biaya produksi naik, perusahaan menghadapi pilihan sulit antara menahan margin, menyesuaikan harga produk, atau mengurangi utilisasi produksi.
Dampaknya juga dapat merambat ke daya saing ekspor. Produk impor yang memiliki struktur biaya lebih rendah berpotensi memperoleh ruang lebih besar di pasar domestik.
Di sinilah persoalan pasokan gas berubah menjadi persoalan daya saing industri.
Risiko PHK Muncul dari Tekanan yang Berlangsung Panjang
Erwin mengingatkan gangguan pasokan energi dalam jangka panjang dapat memengaruhi tenaga kerja industri.
PHK memang bukan konsekuensi otomatis ketika pasokan gas terganggu. Namun, tekanan yang berlangsung lama dapat mendorong perusahaan melakukan efisiensi, termasuk mengurangi tenaga kerja apabila biaya produksi dan utilisasi pabrik tidak lagi terkendali.
Dampaknya juga tidak berhenti pada pekerja pabrik. Industri padat energi memiliki rantai pasok yang melibatkan pemasok bahan, transportasi, kontraktor, hingga UMKM di sekitar kawasan industri.
Artinya, menjaga pasokan gas bukan hanya urusan operasional perusahaan. Ada rantai ekonomi yang ikut bergantung pada keberlangsungan aktivitas industri.
Pemerintah Diminta Fokus pada Kepastian Delivery Gas
Kadin meminta orientasi kebijakan HGBT bergerak dari sekadar menetapkan harga dan alokasi menuju kepastian gas benar-benar diterima industri.
Pengawasan membutuhkan koordinasi antara Kementerian ESDM, SKK Migas, produsen gas, PGN, dan pengguna industri. Transparansi mengenai perbandingan alokasi dengan realisasi juga dinilai penting agar persoalan pasokan dapat diketahui lebih awal.
Pemerintah juga perlu menyiapkan peta jalan pasokan gas untuk jangka menengah dan panjang. Jika produksi gas pipa mengalami penurunan alamiah, kebutuhan industri perlu diantisipasi melalui LNG, infrastruktur regasifikasi, serta konektivitas jaringan gas.
Secara regulasi, pemerintah memang telah memperbarui daftar pengguna dan harga HGBT pada 2026. Kementerian ESDM menerbitkan perubahan keempat Kepmen ESDM Nomor 91.K/MG.01/MEM.M/2026 melalui Kepmen Nomor 281.K/MG.01/MEM.M/2026 pada 10 Juli 2026.
Namun, bagi industri, kepastian regulasi perlu berjalan beriringan dengan kepastian pasokan fisik.
Poin Penting
- Kadin menilai persoalan HGBT kini menyangkut volume dan kepastian pasokan.
- Realisasi pasokan HGBT di Jawa Bagian Barat turun hingga 46,36% pada April 2026.
- Tujuh sektor industri menjadi penerima utama skema HGBT.
- Kekurangan pasokan dapat mendorong industri menggunakan gas non-HGBT atau LNG regasifikasi.
- Biaya energi tinggi dapat menekan margin dan daya saing industri.
- Ketidakpastian energi mulai menjadi pertimbangan dalam rencana ekspansi.
- Tekanan berkepanjangan berpotensi meningkatkan risiko pengurangan tenaga kerja.
- Kadin meminta pemerintah memastikan gas benar-benar diterima sesuai alokasi.
Insight Redaksi
Persoalan HGBT menunjukkan bahwa daya saing industri bukan cuma soal tarif murah, tetapi kepastian energi dari hari ke hari. Kalau volume kadada, angka harga akhirnya kehilangan makna. Pemerintah perlu memastikan kebijakan berjalan sampai titik produksi, sebab investor menghitung risiko bertahun-tahun, bukan sekadar beberapa bulan.
Pemerintah dan pelaku industri perlu membuka data alokasi serta realisasi secara berkala, supaya masalah pasokan cepat kelihatan sebelum pabrik ikut terdampak.
Bagikan informasi ini ke kawalan ikam supaya pembahasan soal gas industri kada berhenti pada angka harga saja.
Harga gas boleh kompetitif, tetapi investasi membutuhkan kepastian pasokan; terus ikuti perkembangan ekonomi dan industri hanya di Balikpapan TV teman update setia, bukan sekadar info biasa!
FAQ
1. Apa itu HGBT?
HGBT adalah Harga Gas Bumi Tertentu yang ditetapkan pemerintah untuk pengguna gas pada sektor industri tertentu.
2. Sektor apa saja yang memperoleh HGBT?
Tujuh sektor utama meliputi pupuk, petrokimia, oleochemical, baja, keramik, kaca, dan sarung tangan karet.
3. Mengapa volume gas menjadi penting bagi industri?
Karena pabrik membutuhkan gas secara kontinu untuk menjalankan produksi dan menyusun perhitungan biaya serta investasi jangka panjang.
4. Apa yang terjadi jika pasokan HGBT tidak mencukupi?
Industri dapat menggunakan sumber gas lain seperti LNG regasifikasi yang memiliki biaya lebih tinggi.
5. Mengapa persoalan gas dapat berkaitan dengan PHK?
Gangguan pasokan yang berlangsung lama dapat menekan produksi, margin, dan utilisasi pabrik sehingga perusahaan berpotensi melakukan efisiensi tenaga kerja.
Editor : Arya Kusuma