Empat Peserta Jadi Perintis, SMK 2 Bontang Siapkan Jalur Kerja ke Jepang

Riafandi • Dipublikasikan Kamis, 15 Oktober 2026 | 17:08 WIB
Ilustrasi SMK 2 Bontang menyiapkan kelas khusus Jepang dengan pelatihan bahasa, budaya kerja, dan keterampilan industri
Ilustrasi SMK 2 Bontang menyiapkan kelas khusus Jepang dengan pelatihan bahasa, budaya kerja, dan keterampilan industri

Durasi Baca: 6 Menit

Ikhtisar: SMK 2 Bontang menyiapkan kelas khusus menuju Jepang dengan pelatihan bahasa, budaya kerja, dan keterampilan sebelum siswa lulus.

 

Balikpapan TV – Hai Ces! Peluang kerja setelah lulus sekolah kejuruan kini tidak hanya berorientasi pada perusahaan di daerah sendiri. SMK 2 Bontang menyiapkan jalur bagi siswa yang ingin bekerja di Jepang melalui rencana pembentukan kelas khusus yang memadukan pembelajaran di sekolah dengan pelatihan kerja.

Program ini dirancang agar siswa dapat mempelajari bahasa Jepang, memahami budaya kerja, dan membangun keterampilan yang dibutuhkan industri sejak masih duduk di bangku sekolah. Dengan persiapan lebih awal, lulusan diharapkan tidak perlu memulai seluruh proses pelatihan dari awal setelah menyelesaikan pendidikan.

Kepala SMK 2 Bontang, Nurwahidah, mengatakan gagasan tersebut menjadi upaya sekolah membuka pilihan karier yang lebih luas bagi para siswa, terutama ketika kesempatan kerja di daerah memiliki keterbatasan daya serap.

Empat Peserta Jadi Perintis Program

SMK 2 Bontang telah menjajaki kerja sama dengan sejumlah lembaga pelatihan kerja (LPK) di beberapa daerah, termasuk Makassar, Bogor, dan Bekasi. Setelah melakukan peninjauan, sekolah memilih LPK Ken Itiro di Bekasi sebagai mitra yang dinilai sesuai untuk menyiapkan calon pekerja ke Jepang.

Pada awal Oktober 2026, Nurwahidah berkunjung langsung ke Bekasi selama tiga hari untuk melihat fasilitas, lingkungan asrama, dan proses pembelajaran peserta pelatihan. Kunjungan tersebut juga menjadi bagian dari pembahasan kerja sama yang disebut telah mencapai kesepakatan awal.

Saat ini, empat peserta awal diproyeksikan menjadi perintis program tersebut. Keberhasilan mereka diharapkan menjadi contoh sekaligus bahan evaluasi sebelum kesempatan serupa diperluas kepada siswa lain.

“Kalau empat orang ini berhasil berangkat, mudah-mudahan bisa menjadi contoh bagi adik-adiknya. Kami ingin menunjukkan bahwa lulusan SMK juga punya peluang besar untuk bekerja di luar negeri,” ucap Nurwahidah.

Keberangkatan empat peserta tersebut masih menjadi target yang ingin diwujudkan. Karena itu, kesiapan pelatihan, pembiayaan, dan pemenuhan persyaratan kerja menjadi bagian penting dari proses yang perlu dilalui.

Baca Juga: Film tentang Pembatik Lokal Bawa Tiga Siswa SMKN 2 Bontang Juara Nasional

Pelatihan Bahasa hingga Budaya Kerja Jepang

Persiapan calon pekerja tidak hanya berfokus pada kemampuan berbahasa Jepang. Peserta juga akan dibekali pemahaman budaya kerja, kompetensi yang dibutuhkan industri, serta latihan fisik untuk menyesuaikan diri dengan tuntutan pekerjaan dan lingkungan di negara tujuan.

Sekolah ingin mempersiapkan siswa secara bertahap agar mereka memiliki bekal sebelum memasuki dunia kerja internasional. Selain keterampilan, calon pekerja juga perlu memperhatikan persyaratan fisik dan kesehatan sesuai pekerjaan serta ketentuan negara tujuan.

Untuk jangka panjang, SMK 2 Bontang berencana menyasar siswa aktif kelas X dan XI yang benar-benar berminat bekerja di Jepang. Sekolah akan berkoordinasi dengan Dinas Pendidikan Provinsi Kalimantan Timur untuk membahas pembentukan kelas khusus tersebut.

Dalam skema yang direncanakan, siswa yang masuk kelas khusus akan diarahkan mengikuti praktik kerja lapangan (PKL) selama enam bulan di LPK di Bekasi.

Dengan pola tersebut, pembelajaran bahasa, pengenalan budaya, dan pengembangan kompetensi kerja diharapkan bisa berlangsung sebelum siswa menuntaskan pendidikan SMK.

Nurwahidah berharap persiapan sejak dini dapat membuat lulusan lebih siap ketika menyelesaikan sekolah.

“Harapan kami, begitu lulus SMK, anak-anak sudah siap berangkat bekerja. Jadi, tidak perlu menganggur terlebih dahulu untuk mengikuti pelatihan dari awal,” tuturnya.

Meski demikian, rencana kelas khusus tersebut masih membutuhkan koordinasi lebih lanjut dengan pihak terkait. Pembentukan kelas dan pelaksanaan skema pelatihan perlu mengikuti hasil pembahasan serta kesiapan program.

Biaya Pelatihan dan Keberangkatan Masih Perlu Diperjelas

Salah satu tantangan yang dihadapi calon peserta adalah pembiayaan. Untuk empat peserta perintis, biaya pelatihan saat ini masih ditanggung secara mandiri oleh orang tua.

Sekolah berharap ke depan dapat mengakses bantuan pemerintah agar kesempatan mengikuti pelatihan tidak hanya bergantung pada kemampuan ekonomi keluarga.

Dalam upaya memperluas akses pembiayaan, anggota DPRD Bontang, Irfan, disebut telah mewacanakan anggaran aspirasi sekitar Rp700 juta hingga Rp800 juta pada 2027 untuk mendukung biaya pelatihan.

Program tersebut direncanakan terbuka bagi masyarakat melalui pendaftaran di Dinas Ketenagakerjaan. Namun, skema dan realisasi anggaran tersebut masih perlu dipastikan lebih lanjut sehingga belum dapat diperlakukan sebagai bantuan yang sudah tersedia.

Selain itu, sumber menyebut adanya kemungkinan dana talangan dari lembaga pembiayaan untuk biaya keberangkatan. Dalam skema yang dijelaskan kepada sekolah, biaya sekitar Rp45 juta dapat dibayarkan kembali melalui pemotongan gaji setelah peserta bekerja di Jepang.

Besaran biaya dan mekanisme pembayarannya perlu diperiksa secara terperinci sebelum calon peserta atau orang tua menyetujui program. Hal yang perlu dipastikan mencakup rincian komponen biaya, ketentuan pembiayaan, besaran potongan gaji, serta hak dan kewajiban peserta.

Kejelasan tersebut penting agar calon pekerja dan keluarga dapat memahami konsekuensi finansial dari rencana bekerja ke luar negeri.

Peluang Kerja Diharapkan Membawa Manfaat bagi Bontang

Nurwahidah menilai kesempatan kerja di luar negeri dapat membuka jalan bagi lulusan SMK untuk memperoleh pengalaman sekaligus meningkatkan taraf ekonomi. Menurutnya, siswa perlu mengetahui bahwa pilihan karier tidak terbatas pada lowongan yang tersedia di daerah sendiri.

Ia juga menyebut peluang kerja di perusahaan besar di Bontang, seperti PT Badak NGL dan PT Pupuk Kalimantan Timur, memiliki keterbatasan daya serap. Karena itu, akses ke pasar kerja internasional dipandang sebagai salah satu alternatif yang patut dipersiapkan.

Sosialisasi kepada orang tua siswa telah dilakukan untuk menjelaskan peluang tersebut. Menurut Nurwahidah, sejumlah orang tua menunjukkan ketertarikan agar anak mereka memperoleh kesempatan bekerja di Jepang.

Namun, tujuan program tidak berhenti pada keberangkatan dan penghasilan selama bekerja di luar negeri. Sekolah berharap pengalaman yang diperoleh peserta kelak dapat dimanfaatkan ketika kembali ke Bontang.

“Tujuan bekerja ke luar negeri bukan hanya mencari uang, tetapi bagaimana nantinya bisa kembali ke kampung halaman dan membuka lapangan pekerjaan bagi orang lain,” pungkasnya.

Jika rencana ini dapat berjalan sesuai harapan, jalur tersebut berpotensi menjadi salah satu pilihan pengembangan karier bagi lulusan SMK. Meski begitu, keberhasilan program akan bergantung pada kesiapan peserta, kepastian kerja, pembiayaan yang transparan, dan koordinasi dengan lembaga terkait.

Baca Juga: Jalan Kampung Gotong Royong Bontang Baru 45 Persen, Warga Diminta Antisipasi Penutupan

Poin Penting

  • SMK 2 Bontang menyiapkan rencana kelas khusus untuk siswa yang ingin bekerja di Jepang.

  • Empat peserta awal diproyeksikan menjadi perintis program.

  • Sekolah memilih LPK Ken Itiro di Bekasi setelah menjajaki sejumlah lembaga pelatihan.

  • Pelatihan mencakup bahasa Jepang, budaya kerja, kompetensi industri, dan latihan fisik.

  • Rencana kelas khusus menyasar siswa kelas X dan XI, dengan skema PKL enam bulan di LPK Bekasi.

  • Biaya pelatihan peserta awal masih ditanggung orang tua.

  • Wacana anggaran Rp700 juta hingga Rp800 juta pada 2027 dan skema dana talangan keberangkatan masih perlu dipastikan secara terperinci.

Insight Redaksi

Rencana SMK 2 Bontang membuka jalur kerja ke Jepang memperlihatkan upaya memperluas pilihan karier bagi lulusan sekolah kejuruan. Pelatihan sejak sekolah dapat membantu siswa mempersiapkan bahasa dan keterampilan sebelum memasuki pasar kerja internasional.

Namun, kesiapan bekerja ke luar negeri tidak cukup hanya dengan pelatihan. Kepastian penempatan, persyaratan kerja, rincian biaya, mekanisme pembiayaan, dan perlindungan hak calon pekerja perlu dijelaskan secara transparan kepada siswa dan orang tua.

Wacana bantuan anggaran juga perlu dibedakan dari anggaran yang telah disahkan dan direalisasikan. Informasi mengenai biaya sekitar Rp45 juta dan skema pemotongan gaji harus dipahami secara menyeluruh sebelum peserta mengambil keputusan.

Dengan persiapan yang matang dan informasi yang jelas, peluang kerja internasional dapat menjadi pilihan yang lebih terukur bagi lulusan SMK, bukan sekadar target keberangkatan.

Informasi warga bisa jadi awal pengungkapan kasus dan membantu memperluas perhatian terhadap persoalan publik. Sampaikan informasi yang jelas dan dapat dipertanggungjawabkan, bukan sekadar info biasa!

Ikuti info terbaru hanya di Balikpapan TV, teman update setia, bukan sekadar berita biasa!

FAQ

1. Apa program yang disiapkan SMK 2 Bontang?

SMK 2 Bontang merencanakan kelas khusus untuk mempersiapkan siswa yang ingin bekerja di Jepang setelah lulus.

2. Berapa peserta awal yang diproyeksikan mengikuti program?

Ada empat peserta awal yang diproyeksikan menjadi perintis program tersebut.

3. Di mana calon pekerja akan menjalani pelatihan?

Sekolah memilih LPK Ken Itiro di Bekasi sebagai mitra yang dinilai sesuai untuk menyiapkan calon pekerja ke Jepang.

4. Apa saja materi pelatihannya?

Materi yang direncanakan mencakup bahasa Jepang, budaya kerja, kompetensi yang dibutuhkan industri, dan latihan fisik.

5. Siapa yang menjadi sasaran kelas khusus?

Program jangka panjang direncanakan menyasar siswa aktif kelas X dan XI yang berminat bekerja di Jepang.

6. Apakah biaya pelatihan sudah ditanggung pemerintah?

Belum. Biaya pelatihan empat peserta awal masih ditanggung orang tua. Sekolah berharap dapat mengakses bantuan pemerintah pada tahap berikutnya.

7. Apakah bantuan anggaran Rp700 juta hingga Rp800 juta sudah pasti tersedia?

Belum. Angka tersebut masih berupa wacana anggaran aspirasi untuk 2027 sehingga skema dan realisasinya perlu dipastikan lebih lanjut.

8. Berapa biaya keberangkatan yang disebut dalam rencana program?

Sumber menyebut skema dana talangan dengan biaya sekitar Rp45 juta yang dapat dibayarkan melalui pemotongan gaji setelah peserta bekerja di Jepang. Rincian dan ketentuannya perlu diperiksa sebelum disepakati.

Sumber Informasi: Artikel ini sudah tayang sebelumnya di Media "Kaltim Post" Berjudul"SMK 2 Bontang Siapkan Kelas Khusus, Lulusan Ditarget Langsung Kerja ke Jepang",oleh penulis Adhiel kundhara. Di-update kembali dengan angle dan style balikpapantv.id.

my ride-or-die for updates
my ride-or-die for updates

 

Editor : Arya Kusuma
Sumber : Kaltim Post
Ketenagakerjaan jepang bontang pendidikan