Info Lokal InfoScope Gaya Hidup Infotainment Iptek Bisnis & UMKM Religi

Mie Ayam Legendaris Mas Wahyu! Kisah Perjuangan dari 1997 hingga Jadi Ikon Kuliner Balikpapan

AdminBTV • Rabu, 1 Oktober 2025 | 16:43 WIB

Foto mangkuk mie ayam bakso telur tetelan Mas Wahyu dengan kuah gurih khas Jawa yang melegenda di Balikpapan, sajian hangat penuh cerita.
Foto mangkuk mie ayam bakso telur tetelan Mas Wahyu dengan kuah gurih khas Jawa yang melegenda di Balikpapan, sajian hangat penuh cerita.

Balikpapan TV – Hai Cess! Siapa yang bisa menolak semangkuk mie ayam hangat dengan kuah gurih, topping bakso, telur, dan tetelan yang melimpah? Nah, di Balikpapan ada satu kuliner yang sejak tahun 1997 setia menemani lidah para pecinta mie ayam: Mie Ayam Bakso Telur Tetelan Mas Wahyu. Dengan harga terjangkau mulai Rp17.000 hingga Rp22.000, sajian ini bukan sekadar makanan, tapi juga cerita panjang perjuangan seorang pedagang kuliner yang tak pernah menyerah.

Dari gerobak keliling naik motor, hingga kini punya lapak tetap, Wahyu Anggi Sabutro atau akrab disapa Mas Wahyu tetap menjaga rasa khas mie ayam bakso ala Jawa. Usaha ini ia mulai karena dorongan hati, juga karena melihat peluang kuliner yang “nggak ada matinya”. Sejak awal berdiri, Mas Wahyu konsisten melayani pelanggan dari pagi sampai larut malam, nyaris tanpa jeda.

Dari Gerobak Motor Hingga Warung Tetap

Tak banyak yang tahu, perjalanan bisnis Mas Wahyu dimulai dari jalanan. Tahun 1997, ia berkeliling naik motor, menawarkan mie ayam bakso ke pelanggan dari pintu ke pintu. Usaha itu penuh tantangan, tapi semangatnya tak pernah padam.

Saat itu belum ada cabang, bahkan sampai sekarang pun Mas Wahyu memilih fokus di satu lokasi. Baginya, menjaga kualitas dan pelayanan lebih penting daripada buru-buru membuka cabang. “Dulunya keliling-keliling pakai motor gitu ya Pak ya,” kenangnya dengan senyum.

Resep Khas Jawa yang Bikin Kangen

Mie ayam bakso memang identik dengan kuliner Jawa. Tak heran, Mas Wahyu mengusung cita rasa khas kampung halamannya ke Balikpapan. Bumbu rempah yang meresap, kuah gurih yang hangat, serta tetelan yang bikin nagih membuat banyak pelanggan kembali lagi.

Harga pun ramah di kantong. Untuk porsi biasa hanya Rp17.000, sementara porsi spesial dengan tambahan topping bisa dinikmati Rp22.000 saja. Rasanya? Jangan ditanya—sudah jadi langganan warga sekitar hingga para perantau yang rindu kuliner Jawa.

Baca Juga: Dari Lighting Murah Hingga Mic Clip-On! Begini Cara Gen Z Konsisten Bikin Konten Shorts Jadi Rutinitas yang Kreatif dan Berdaya Guna

Tantangan Pedagang Kuliner Jalanan

Seperti pedagang UMKM lainnya, Mas Wahyu menghadapi berbagai tantangan. Dari cuaca yang tak menentu, kondisi ekonomi, hingga menjaga kepercayaan pelanggan. “Juga kondisi prasonya, cuaca, pelanggan juga ya,” ujarnya jujur.

Meski begitu, ada momen tertentu yang membuat dagangannya laris manis. Salah satunya saat Ramadan, ketika banyak warga berburu menu buka puasa. Lokasi warung yang strategis di area ramai juga memberi keuntungan tersendiri.

Rutinitas Seorang Pejuang Kuliner

Hari-hari Mas Wahyu dimulai sejak pagi. Ia berangkat ke pasar sekitar jam 8 untuk belanja bahan segar, mulai dari sayuran, ayam, hingga bumbu. Setelah itu, warung buka pukul 09.30 dan beroperasi sampai pukul 23.30 malam.

Bayangkan, dari pagi hingga larut malam, Mas Wahyu tetap setia melayani pelanggan. Dibantu beberapa orang, ia menjaga ritme kerja agar pelanggan tetap puas dengan rasa yang konsisten. Benar-benar dedikasi yang luar biasa untuk sebuah usaha kuliner.

Konsistensi, Kunci Bertahan Puluhan Tahun

Menariknya, Mas Wahyu tak pernah berpikir untuk beralih ke usaha lain. Sejak awal, ia mantap menekuni mie ayam bakso. Konsistensi inilah yang membuat bisnisnya bertahan lebih dari dua dekade.

“Jangan menyerah, tetap konsisten, tetap menjaga pelanggan,” begitu kata Mas Wahyu ketika diminta motivasi untuk sesama pedagang UMKM. Pesan sederhana, tapi penuh makna.

Harapan di Masa Depan

Walaupun sampai sekarang belum membuka cabang, Mas Wahyu punya harapan besar. Ia ingin suatu saat bisa menghadirkan lebih banyak cabang, terutama di Kalimantan Timur. “Bisa ada cabang lagi, cabang lagi kami betah-betah Halimantan,” ucapnya.

Impian itu tentu bukan hal yang mustahil. Dengan pengalaman panjang, rasa khas yang sudah teruji, serta loyalitas pelanggan, peluang untuk berkembang semakin terbuka lebar.

Dari Warung Kecil Jadi Inspirasi UMKM

Perjalanan Mas Wahyu bukan sekadar soal jualan mie ayam. Lebih dari itu, ia memberi inspirasi bahwa usaha kecil pun bisa bertahan lama jika dikelola dengan hati. Dari gerobak motor hingga warung yang ramai, semua lahir dari kerja keras dan konsistensi.

Inilah kisah yang membuat Mie Ayam Bakso Telur Tetelan Mas Wahyu bukan sekadar kuliner, melainkan juga bagian dari cerita hidup warga Balikpapan.

Perjalanan panjang Mas Wahyu adalah bukti nyata bahwa konsistensi dan kesabaran bisa membawa usaha kecil bertahan lebih dari dua dekade. Dari seporsi mie ayam hangat, lahirlah cerita inspiratif bagi para pelaku UMKM lain untuk terus berjuang.

Kalau kamu lagi di Balikpapan, jangan lupa mampir dan cicipi semangkuk mie ayam bakso tetelan ini. Rasanya bukan cuma bikin kenyang, tapi juga bikin hangat hati.

Simak terus informasi menarik lainnya hanya di Balikpapan Tv teman update setia, 'Bukan Sekadar Info Biasa!' Satya

Koneksi Informasi Sehari-hari, Teman Update Setia
Koneksi Informasi Sehari-hari, Teman Update Setia

Editor : Arya Kusuma
#Mie Ayam Bakso Telur Tetelan #UMKM Balikpapan Inspiratif #Kisah Pedagang Kuliner