Durasi Baca: 4 menit
Ikhtisar: Karhutla Kasai Berau masih menyisakan titik api, sementara keterbatasan air memperlambat pemadaman dan mendorong usulan water bombing.
Balikpapan TV - Hai Ces! Kebakaran hutan dan lahan di Jalan Poros Kasai-Tanjung Batu, Berau, masih menyisakan titik api pada Sabtu (29/8/2026), sehingga dukungan pemadaman udara dinilai penting.
Asap masih terlihat dari kawasan bekas terbakar. Api bahkan kembali muncul di sejumlah titik ketika petugas menghadapi kendala pasokan air. Kondisi ini membuat proses pemadaman harus berpacu dengan waktu, Ces!
Ketika Api Masih Ada, Air Justru Jadi Masalah
Bupati Berau Sri Juniarsih Mas turun langsung meninjau lokasi karhutla pada Sabtu (29/8). Dari peninjauan tersebut, sejumlah titik masih mengeluarkan asap dan beberapa api ditemukan menyala serta berpindah.
Tim gabungan tetap melakukan pemadaman untuk mencegah kebakaran meluas. Persoalannya, sumber air berada cukup jauh dari titik api sehingga kendaraan harus bolak-balik melakukan pengisian.
Waktu yang terbuang untuk mengambil air membuat petugas tidak bisa terus berada di lokasi kebakaran. Ketika pasokan kembali tersedia, api berpotensi sudah membesar atau berpindah ke titik lain.
Kondisi serupa juga menunjukkan bahwa jumlah personel saja belum cukup jika tidak ditopang kendaraan pemadam dan sumber air yang memadai.
Mengapa Water Bombing Dibutuhkan?
Titik api yang berada jauh dari akses kendaraan menjadi persoalan tersendiri bagi tim di lapangan.
Sri Juniarsih menilai bantuan water bombing dapat menjangkau kawasan yang sulit dimasuki unit pemadam dari darat.
“Kalau kita masuk ke dalam hutan tidak terjangkau dengan unit-unit yang terbatas. Tapi kalau ada water bombing, semua kawasan bisa disiram dari atas,” ujarnya.
Pemkab Berau kemudian berkoordinasi dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) untuk mengupayakan dukungan tersebut.
Water bombing pada dasarnya menjadi pelengkap pemadaman darat. Ketika kendaraan sulit mendekati sumber api, penyiraman dari udara dapat membantu membasahi area yang tidak mudah dijangkau petugas.
BNPB sendiri pada Agustus 2026 juga menggunakan strategi pemadaman darat dan water bombing dalam penanganan karhutla di Kubu Raya, Kalimantan Barat.
Baca Juga: Potensi Kampung Jadi Andalan Baru Berau, Perangkat Desa Diminta Maksimalkan Perannya
Sumur Bor Disiapkan agar Petugas Tak Terlalu Lama Menunggu Air
Selain meminta dukungan pemadaman udara, Pemkab Berau menyiapkan solusi yang bisa digunakan untuk mempercepat penanganan di lapangan.
Sri Juniarsih meminta jajarannya mencari lokasi yang memungkinkan untuk pembangunan sumur bor di sekitar kawasan terdampak.
“Kita sudah perintahkan untuk mencari titik sumur bor. Kalau sudah ada titiknya, langsung kita bangun,” pungkasnya.
Ketersediaan sumber air yang lebih dekat dapat memangkas waktu pengisian ulang kendaraan pemadam. Dengan begitu, unit pemadam memiliki lebih banyak waktu untuk berada di sekitar titik api.
Bagi petugas di lapangan, persoalan ini bukan sekadar soal jarak. Setiap waktu yang digunakan untuk mencari dan mengangkut air berarti berkurangnya waktu untuk melakukan pemadaman dan pendinginan.
Karhutla Berau Bukan Hanya Terjadi di Kasai
Persoalan karhutla di Berau sepanjang Agustus juga tidak hanya terjadi di kawasan Kasai-Tanjung Batu.
Polres Berau mencatat lima laporan karhutla selama Agustus 2026 yang tersebar di Kecamatan Pulau Derawan, Gunung Tabur, dan Segah. Dari lima perkara tersebut, empat telah masuk tahap penyidikan dan empat orang ditetapkan sebagai tersangka, sedangkan satu perkara masih diselidiki.
Salah satu perkara terjadi di kawasan hutan produksi Jalan Poros Usiran, Kampung Kasai, pada 8 Agustus 2026. Polisi menetapkan seorang pria berinisial B sebagai tersangka.
Kasus lainnya terjadi pada 29 Agustus di Sungai Takul, Kampung Kasai. Kebakaran tersebut dilaporkan melanda lahan perkebunan sekitar lima hektare dan polisi mengamankan seorang berinisial MS.
Penanganan karhutla pun berjalan bersamaan dengan upaya penegakan hukum. Polres Berau menyatakan penindakan dilakukan terhadap pihak yang terbukti sengaja maupun lalai hingga menyebabkan kebakaran.
Dampaknya Mulai Dirasakan Masyarakat
Karhutla tidak berhenti sebagai persoalan api dan lahan. Dampak asap mulai masuk ke ruang yang lebih dekat dengan kehidupan masyarakat.
Pemerintah Kabupaten Berau pada 3 September 2026 melaporkan adanya peningkatan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di sejumlah fasilitas pelayanan kesehatan. Wakil Bupati Berau Gamalis bahkan meninjau Puskesmas Tanjung Redeb dan Puskesmas Kampung Bugis untuk melihat kesiapan layanan menghadapi kondisi tersebut.
Artinya, penanganan karhutla perlu berjalan dalam dua arah sekaligus: memastikan api dikendalikan dan dampaknya terhadap masyarakat ikut ditangani.
Untuk kawasan yang masih sulit dijangkau kendaraan, dukungan water bombing dapat menjadi salah satu opsi. Sementara pembangunan sumber air lebih dekat dengan lokasi kebakaran menjadi langkah yang bisa membantu mempercepat respons pemadaman di darat.
Baca Juga: Produk UMKM Berau Dibawa ke Pasar Nasional, Pemkab Buka Peluang Lewat Berbagai Expo
Poin Penting:
- Karhutla di Jalan Poros Kasai-Tanjung Batu masih menyisakan titik api pada 29 Agustus 2026.
- Keterbatasan dan jauhnya sumber air menjadi salah satu kendala utama pemadaman.
- Bupati Berau Sri Juniarsih Mas mengusulkan dukungan water bombing kepada BNPB.
- Pemkab Berau mencari titik untuk pembangunan sumur bor di sekitar kawasan terdampak.
- Polres Berau mencatat lima laporan karhutla selama Agustus dan menetapkan empat tersangka dalam empat perkara.
- Pemerintah Kabupaten Berau melaporkan peningkatan kasus ISPA seiring meningkatnya aktivitas karhutla.
Insight Redaksi
Karhutla Kasai memperlihatkan bahwa pemadaman bukan hanya soal jumlah personel. Akses menuju titik api, ketersediaan kendaraan, dan jarak sumber air ikut menentukan seberapa cepat api bisa dikendalikan. Ketika dampak asap mulai berhubungan dengan meningkatnya kasus ISPA, penanganan karhutla menjadi persoalan lingkungan sekaligus kesehatan publik. Karena itu, kebutuhan water bombing dan sumber air yang lebih dekat perlu ditempatkan sebagai bagian dari respons terpadu, bukan sekadar bantuan tambahan.
Kalau api masih menyala dan air harus ditunggu datang, waktu menjadi lawan bagi petugas. Upaya pemadaman di Kasai kini membutuhkan dukungan yang bisa menjangkau titik sulit sekaligus mempercepat suplai air dari darat, Ces!
Bagikan informasi ini agar semakin banyak warga memahami perkembangan karhutla di Berau dan pentingnya kewaspadaan terhadap kebakaran lahan.
FAQ
1. Di mana karhutla yang ditinjau Bupati Berau terjadi?
Karhutla berada di kawasan Jalan Poros Kasai-Tanjung Batu, Kabupaten Berau.
2. Apa kendala utama pemadaman karhutla di Kasai?
Keterbatasan sumber air dan jauhnya lokasi pengambilan air menjadi kendala utama yang disampaikan Bupati Berau.
3. Mengapa Pemkab Berau meminta water bombing?
Water bombing dinilai dapat membantu menjangkau titik api yang sulit diakses kendaraan pemadam dari darat.
4. Apa solusi yang disiapkan selain water bombing?
Pemkab Berau mencari lokasi yang memungkinkan untuk pembangunan sumur bor agar sumber air lebih dekat dengan kawasan kebakaran.
5. Apakah karhutla Berau berdampak terhadap masyarakat?
Pemerintah Kabupaten Berau melaporkan peningkatan kasus ISPA di sejumlah fasilitas kesehatan pada awal September 2026.
Sumber Informasi
Media Kaltim Post, dengan judul “Karhutla di Kasai Masih Berkobar, Bupati Berau Sri Juniarsih Minta Dukungan Water Bombing”, penulis ADV; dilengkapi konteks perkembangan penanganan karhutla dari Polres Berau, Pemerintah Kabupaten Berau, BNPB, dan laporan media regional.