Kampung Bungas GSI Jalani Verifikasi Proklim Utama, Gerakan Iklim Tumbuh dari Warga

Ahla Najwa • Dipublikasikan Selasa, 29 September 2026 | 08:56 WIB
Verifikasi ProKlim Utama di Kampung Bungas GSI memperlihatkan kolaborasi warga menjaga lingkungan dan panen air hujan. (DOK. ROSHAN/BALPOS)
Verifikasi ProKlim Utama di Kampung Bungas GSI memperlihatkan kolaborasi warga menjaga lingkungan dan panen air hujan. (DOK. ROSHAN/BALPOS)

Durasi Baca: 5 Menit

Ikhtisar: Kampung Bungas GSI mengikuti verifikasi Proklim Utama dengan gerakan lingkungan, panen air hujan, dan gotong royong warga.

 

Balikpapan TV - Hai Ces! Kampung Bungas GSI, Balikpapan Tengah, mengikuti verifikasi Proklim Utama sebagai perwakilan Balikpapan dengan gerakan lingkungan berbasis warga.

Yang menarik, gerakan ini bukan muncul menjelang penilaian. Warga sudah membangun kebiasaan mengelola lingkungan sejak 2019 dan terus mengembangkannya bersama.

Gerakan Lingkungan yang Tumbuh dari Lima RT

Kampung Bungas berada di Kelurahan Gunung Sari Ilir (GSI), Kecamatan Balikpapan Tengah. Kawasan ini mencakup RT 64, RT 65, RT 66, RT 68, dan RT 69.

Pada 26 Agustus 2026, Kampung Bungas mengikuti proses verifikasi Program Kampung Iklim (Proklim) Utama yang dilakukan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Provinsi Kalimantan Timur secara daring.

Kampung Bungas menjadi salah satu nominator Proklim 2026 sekaligus perwakilan Kota Balikpapan dalam penilaian tersebut. Kegiatan itu diikuti unsur pemerintah kecamatan dan kelurahan, DLH Balikpapan, pembina kampung, kader lingkungan, serta sejumlah pemangku kepentingan.

Bagi warga, lingkungan bukan sekadar kawasan tempat tinggal yang perlu terlihat bersih. Berbagai kegiatan dikembangkan agar pengelolaan lingkungan bisa berjalan secara konsisten dan memberi manfaat kembali kepada masyarakat.

Gerakan tersebut mulai berkembang sejak 2019. Menurut Kepala Bidang Penaatan Hukum dan Peningkatan Kapasitas Lingkungan Hidup DLH Balikpapan Siti Patimah, pandemi kemudian ikut mendorong warga memperkuat kebersamaan, kolaborasi, dan gotong royong dalam mengelola lingkungan.

Konsistensi itu juga pernah mendapat pengakuan. Pada 2025, Kampung Bungas meraih juara pertama program Clean, Green and Healthy (CGH), sementara Suwanto sebagai salah satu penggerak lingkungan mendapat apresiasi sebagai Tokoh Pelopor Gerakan Lingkungan.

Ketika Menanam Tidak Cukup Hanya dengan Menyediakan Lahan

Ada satu persoalan sederhana yang sering terlupakan ketika sebuah kawasan mulai memperbanyak tanaman: air.

Kampung Bungas mencoba menjawab kebutuhan tersebut dengan membuat tandon, sistem resapan, serta pemanenan air hujan. Air yang ditampung digunakan untuk membantu menjaga tanaman agar tidak mengalami kekeringan.

Pembina Kampung Bungas GSI Suwanto mengatakan cakupan sistem pengairan tersebut masih sekitar 30 persen wilayah. Ke depan, cakupannya ditargetkan meningkat setidaknya menjadi 50 persen.

Langkah ini memperlihatkan bahwa gerakan penghijauan tidak berhenti pada kegiatan menanam. Ada kebutuhan lanjutan yang harus dipikirkan agar tanaman dapat dirawat dan lingkungan tetap terjaga.

Bagi kawasan perkotaan seperti GSI, pendekatan semacam ini membuat kegiatan lingkungan lebih dekat dengan kebutuhan sehari-hari warga.

Baca Juga: LDKS Kartika V-1 Balikpapan Bekali 422 Siswa, Disiplin Jadi Bekal Memimpin

Dari Sampah dan Hidroponik sampai Pemberdayaan Warga

Kampung Bungas sebelumnya juga dikenal mengembangkan urban farming hidroponik di lima RT yang sama. Program tersebut memanfaatkan keterbatasan lahan perkotaan untuk menghasilkan buah, bunga, dan sayuran sekaligus mengembangkan kegiatan ekonomi warga.

Pada 2025, Kampung Bungas dilaporkan memiliki 18 titik sistem hidroponik dengan 2.544 lubang tanam. Pengelolaan sampah organik juga dikembangkan melalui komposter untuk menghasilkan kompos dan pupuk organik cair.

Kegiatan lingkungan kemudian bersinggungan dengan pemberdayaan ekonomi. Warga mengembangkan produk olahan, mengikuti pelatihan UMKM, serta mencoba menghubungkan pengelolaan lingkungan dengan penghasilan tambahan keluarga.

Artinya, ruang yang terbatas tidak otomatis membuat kegiatan lingkungan berhenti. Justru keterbatasan tersebut mendorong warga mencari cara agar halaman, ruang lingkungan, dan fasilitas yang tersedia dapat digunakan lebih produktif.

Proklim Bukan Sekadar Soal Penghargaan

Camat Balikpapan Tengah Ariefdah Aida Kuntjoro menilai pencapaian Kampung Bungas seharusnya dilihat sebagai hasil dari proses panjang, bukan semata-mata target mendapatkan penghargaan.

Menurutnya, komitmen warga, swadaya, dukungan pemerintah, CSR, dan pemangku kepentingan menjadi bagian dari perjalanan tersebut. Ia juga melihat Kampung Bungas sebagai contoh praktik pengelolaan lingkungan yang lahir dari masyarakat dan dapat menjadi inspirasi bagi kawasan lain.

Pandangan itu sejalan dengan perkembangan gerakan Kampung Bungas. Penghijauan, pengelolaan sampah, hidroponik, pemanenan air hujan, hingga penguatan kapasitas warga berjalan dalam satu rangkaian kegiatan lingkungan.

Karena itu, nilai penting Proklim bagi Kampung Bungas bukan hanya terletak pada hasil penilaian. Yang lebih menentukan adalah apakah kebiasaan tersebut tetap berjalan ketika tidak ada lomba, verifikasi, atau agenda penilaian.

Ada Target Memperkuat Keahlian Warga

Keberlanjutan juga mulai diarahkan pada peningkatan kapasitas masyarakat.

Suwanto berharap kegiatan lingkungan dapat berkembang hingga memberikan ruang bagi warga untuk memperoleh sertifikasi keahlian sesuai bidang yang mereka tekuni. Ia mencontohkan keahlian membuat kompos, merawat tanaman, hingga menerapkan pola tanam.

Gagasan tersebut memperluas makna kegiatan lingkungan. Warga tidak hanya menjadi pelaksana kegiatan, tetapi juga memiliki kesempatan mengembangkan keterampilan yang dapat diakui.

Jika pengelolaan lingkungan semakin berbasis keahlian, kegiatan seperti komposting, perawatan tanaman, dan pemanfaatan air hujan dapat menjadi pengetahuan yang terus diwariskan di tingkat komunitas.

Baca Juga: REI Balikpapan Dorong Proyek Baru dan Rumah Subsidi, Ini Fokus Andi Kalaru 2026

Dari RT, Gerakan Iklim Bisa Menjadi Kebiasaan

Kampung Bungas menunjukkan bagaimana isu perubahan iklim dapat diterjemahkan ke dalam kegiatan yang sangat dekat dengan kehidupan warga: menanam, mengelola sampah, memanfaatkan lahan, menampung air hujan, dan bekerja bersama.

Model seperti ini membuat isu lingkungan tidak berhenti sebagai pembahasan besar tentang perubahan iklim. Warga dapat melihat bentuk konkretnya di halaman rumah dan lingkungan tempat tinggal.

Ariefdah juga menekankan bahwa kegiatan menanam sebaiknya dimulai dari lingkungan masing-masing. Menurutnya, kebiasaan kecil yang dilakukan banyak warga dapat memberikan dampak lebih besar bagi lingkungan.

Di titik itulah gerakan Kampung Bungas menjadi menarik. Perubahan lingkungan tidak selalu harus dimulai dari kawasan luas. Ia bisa tumbuh dari RT, kemudian bergerak menjadi kebiasaan bersama.

Poin Penting

Insight Redaksi

Kampung Bungas memperlihatkan bahwa ketahanan lingkungan kota tidak selalu lahir dari proyek besar. Ia bisa tumbuh dari RT, halaman rumah, dan kebiasaan warga yang konsisten. Kalau gerakan ini terus hidup setelah penilaian selesai, nah, di situlah nilai Proklim benar-benar terasa.

Menjaga tanaman kada cukup cuma menanam. Bubuhan warga perlu memastikan air, sampah, pengetahuan, dan gotong royong ikut dirawat supaya gerakan lingkungan tetap hidup.

Bagikan artikel ini ke kawalan ikam, siapa tahu ada RT lain yang bisa mulai gerakan serupa dari halaman sendiri.

Ikuti terus cerita lingkungan dan gerakan warga Balikpapan hanya di Balikpapan TV, karena perubahan besar bisa dimulai dari langkah kecil. Balikpapan Tv teman update setia, bukan sekadar info biasa!

FAQ

1. Apa itu Proklim Utama yang diikuti Kampung Bungas?

Proklim Utama merupakan salah satu tahapan penilaian Program Kampung Iklim terhadap kegiatan masyarakat terkait adaptasi dan mitigasi perubahan iklim.

2. Kampung Bungas berada di wilayah mana?

Kampung Bungas berada di Kelurahan Gunung Sari Ilir, Kecamatan Balikpapan Tengah, dan mencakup lima RT.

3. Sejak kapan gerakan lingkungan Kampung Bungas berkembang?

Gerakan lingkungan Kampung Bungas mulai berkembang sejak 2019 dan terus diperkuat melalui kolaborasi serta gotong royong warga.

4. Apa yang dilakukan Kampung Bungas untuk menjaga tanaman?

Warga membuat tandon, sistem resapan, dan panen air hujan untuk membantu memenuhi kebutuhan air tanaman.

5. Apakah Kampung Bungas juga mengembangkan kegiatan ekonomi?

Ya. Selain urban farming hidroponik dan pengolahan sampah organik, warga mengembangkan produk olahan dan kegiatan UMKM.

6. Apa target pengembangan sistem pengairan Kampung Bungas?

Cakupan pengairan yang saat ini sekitar 30 persen ditargetkan meningkat menjadi minimal 50 persen pada tahun berikutnya.

Sumber Informasi

Media Balpos, dengan judul “Kampung Bungas GSI Balikpapan Ikuti Verifikasi Proklim Utama, Wujudkan Gerakan Iklim Tumbuh dari Lingkungan Warga”. Di-update kembali dengan angle dan style Balikpapantv.id.

my ride-or-die for updates
my ride-or-die for updates
Editor : Arya Kusuma
Kampung Bungas GSI Proklim Utama Lingkungan Balikpapan dlh balikpapan