Balikpapan Finalis Nasional OPCC 2026, Aksi Iklim Menyasar Bangunan hingga Sampah

Ahla Najwa • Dipublikasikan Senin, 21 September 2026 | 14:23 WIB
Wali Kota Balikpapan Rahmad Mas’ud menerima hasil National Finalist OPCC 2026 di Jakarta. (DOK. DLH Balikpapan)
Wali Kota Balikpapan Rahmad Mas’ud menerima hasil National Finalist OPCC 2026 di Jakarta. (DOK. DLH Balikpapan)

Durasi Baca: 5 menit

Ikhtisar: Balikpapan masuk finalis nasional OPCC 2026 dengan aksi iklim dari bangunan, transportasi, energi surya, hingga sampah.

 

Balikpapan TV - Hai Ces! Kota Balikpapan masuk National Finalist One Planet City Challenge atau OPCC 2026 dari WWF, setelah dinilai atas komitmen pembangunan rendah emisi dan aksi menghadapi perubahan iklim.

Status finalis ini bukan hanya soal penghargaan. Ada pekerjaan sehari-hari yang ikut menentukan: bagaimana gedung memakai energi, bagaimana warga bergerak, sampai bagaimana sampah dikelola. Yuk, lihat apa saja aksinya, Ces!

Apa yang membuat Balikpapan masuk finalis OPCC 2026?

OPCC 2026 menilai komitmen dan aksi kota dalam mendorong pembangunan rendah emisi serta menghadapi perubahan iklim. Balikpapan ditetapkan sebagai National Finalist dalam ajang yang digagas World Wide Fund for Nature atau WWF.

Penyerahan Token of Appreciation kepada Pemerintah Kota Balikpapan berlangsung dalam Forum Dialog Kebijakan Tingkat Tinggi di The Westin Jakarta, Selasa (15/9/2026). Penilaian mencakup mitigasi dan adaptasi iklim, inovasi pembangunan berkelanjutan, serta keselarasan target kota dengan Perjanjian Paris.

Bagi warga, capaian ini punya arti praktis karena kebijakan iklim tidak berhenti pada dokumen pemerintah. Pengurangan emisi juga menyentuh ruang tempat bekerja, bepergian, hingga mengelola sampah setiap hari.

Baca Juga: 150 Pelajar Balikpapan Belajar Bantuan Hidup Dasar, 90 Persen Kuasai Teknik Kompresi Dada

Aksi iklim Balikpapan dimulai dari bangunan

Penggunaan energi menjadi salah satu sektor yang disentuh Pemkot Balikpapan melalui konservasi dan efisiensi energi pada bangunan pemerintah maupun swasta.

Kepala DLH Balikpapan Sudirman Djayaleksana menjelaskan, bangunan didorong memaksimalkan pencahayaan dan sirkulasi udara alami. Langkah tersebut ditujukan untuk menekan penggunaan listrik bagi lampu dan pendingin ruangan.

Prinsip green building juga mulai diperhatikan dalam proses pengajuan Persetujuan Bangunan Gedung atau PBG. Artinya, aspek efisiensi energi mulai masuk sejak tahap perencanaan dan pengajuan bangunan.

Transportasi dan energi surya ikut masuk hitungan

Pengurangan emisi juga menyentuh mobilitas warga Balikpapan. Pemerintah kota mendorong penggunaan transportasi publik Balikpapan City Trans atau Bacitra sebagai bagian dari sistem mobilitas yang lebih efisien dan rendah emisi.

Penggunaan energi surya untuk penerangan jalan turut menjadi bagian dari kebijakan tersebut. Kawasan Car Free Day juga diarahkan sebagai ruang bebas kendaraan pada waktu tertentu sekaligus mendukung aktivitas olahraga masyarakat.

Buat warga kota, pendekatan ini menunjukkan bahwa agenda emisi tidak selalu berbentuk proyek besar. Pilihan moda transportasi dan pemanfaatan energi di ruang publik juga menjadi bagian dari perubahannya.

Mengapa masyarakat dilibatkan dalam rencana aksi?

Menurut Sudirman, Pemkot Balikpapan menyusun rancangan aksi daerah setiap tahun dengan melibatkan perguruan tinggi, kelompok perempuan, anak, penyandang disabilitas, akademisi, pakar, serta komunitas.

Keterlibatan tersebut digunakan untuk memberikan masukan, melakukan pemantauan, sekaligus memberi umpan balik kepada pemerintah. Pemkot juga rutin menggelar forum dialog bersama organisasi masyarakat sipil atau Civil Society Organization (CSO).

Pendekatan ini membuat aksi iklim tidak hanya ditempatkan sebagai urusan satu organisasi perangkat daerah. Banyak pihak dilibatkan sejak proses penyusunan hingga pemantauan.

Baca Juga: Warga Dahor Terima Bantuan Polwan dan Bhayangkari Usai Kebakaran

Sampah menjadi bagian penting dari aksi rendah emisi

Pengelolaan sampah juga berkaitan dengan upaya mengurangi tekanan lingkungan kota. DLH Balikpapan sebelumnya mendorong pemilahan sampah sejak dari rumah agar sampah yang masuk ke fasilitas akhir dapat ditekan.

DLH mencatat produksi sampah Balikpapan berada pada kisaran ratusan ton setiap hari. Sebagian volume tersebut dapat dikurangi melalui pengelolaan dari sumber, termasuk pemilahan organik dan anorganik serta pemanfaatan bank sampah.

Pada 2025, Balikpapan juga meraih predikat Kota Terbaik II Nasional dalam Pengelolaan Sampah dengan predikat Sertifikat Menuju Kota Bersih tingkat kota. Capaian itu menjadi salah satu konteks pengelolaan lingkungan yang berjalan di kota ini.

Bagi rumah tangga, bagian paling dekat dari agenda tersebut sederhana: sampah tidak berhenti pada kebiasaan membuang, tetapi mulai dipilah dan dikelola sejak sumbernya.

Apa tahap berikutnya setelah menjadi finalis?

Penetapan sebagai National Finalist menjadi tahap awal menuju kampanye global We Love Cities. DLH Balikpapan menyebut kampanye tersebut melibatkan 29 kota skala global yang memiliki komitmen terhadap aksi iklim dan pembangunan berkelanjutan.

Pemerintah Kota Balikpapan juga mengajak masyarakat ikut mendukung melalui kampanye #WeLoveBalikpapan sekaligus membiasakan tindakan yang berkaitan langsung dengan lingkungan, seperti menghemat energi dan air, mengurangi sampah plastik, serta menjaga ruang hijau.

Dengan begitu, status finalis OPCC 2026 bukan hanya catatan di tingkat kota. Tantangan berikutnya justru ada pada konsistensi aksi yang bisa terlihat dalam keseharian warga.

Baca Juga: DLH Balikpapan Terbaik II Pengawasan 2026, Ini Pesan Rahmad Mas’ud

Poin Penting:

Insight Redaksi

Finalis OPCC memberi Balikpapan panggung, tetapi ukuran keberlanjutan ada di kebiasaan sehari-hari. Gedung hemat energi, transportasi publik, dan sampah terpilah harus terasa sampai tingkat rumah. Di kota yang terus berkembang, urusan lingkungan jangan cuma ramai saat penghargaan datang. Aksi kecil yang konsisten justru menjadi pembuktian paling dekat dengan warga. Ini yang harus dijaga, Ces.

Mulai dari rumah saja: pilah sampah, hemat listrik, dan kalau rutenya cocok, naik Bacitra. Sederhana, tapi dampaknya bisa dikumpulkan bersama.

Kalau informasi ini terasa berguna, bagikan ke keluarga atau teman supaya obrolan soal kota hijau tidak berhenti di media sosial.

Pantau terus kabar lingkungan Balikpapan dan perubahan kotanya hanya di Balikpapan TV, karena aksi kecil hari ini menentukan kota esok: Balikpapan TV teman update setia, bukan sekadar info biasa!

FAQ

1. Apa itu OPCC 2026?

OPCC atau One Planet City Challenge merupakan ajang yang digagas WWF untuk menilai komitmen dan aksi kota menghadapi perubahan iklim serta pembangunan rendah emisi.

2. Mengapa Balikpapan menjadi National Finalist?

Balikpapan dinilai memiliki berbagai kebijakan dan aksi terkait pembangunan rendah emisi, efisiensi energi, transportasi, energi surya, serta pengelolaan lingkungan.

3. Apa contoh aksi pengurangan emisi dari bangunan?

Bangunan pemerintah dan swasta didorong memaksimalkan pencahayaan serta sirkulasi udara alami untuk menekan penggunaan listrik lampu dan pendingin ruangan.

4. Apa kaitan pengelolaan sampah dengan agenda lingkungan Balikpapan?

Pemilahan sampah sejak rumah membantu mengurangi volume sampah yang dikirim ke fasilitas akhir dan meningkatkan pemanfaatan sampah yang masih bernilai.

5. Apa tahap berikutnya setelah Balikpapan menjadi finalis?

Balikpapan berkesempatan mengikuti kampanye global We Love Cities yang melibatkan 29 kota skala global.

Sumber Informasi

Media Balpos, dengan judul “Kota Balikpapan Masuk Finalis Nasional OPCC 2026, Perkuat Aksi Pengurangan Emisi dari Bangunan hingga Pengelolaan Sampah”, oleh Roshan Fauzi, Amd. Di-update kembali dengan angle dan style Balikpapantv.id.

my ride-or-die for updates
my ride-or-die for updates
Editor : Arya Kusuma
OPCC 2026 aksi iklim dlh balikpapan balikpapan