Durasi Baca: 3 menit
Ikhtisar: Pasokan pangan murah di Klandasan cepat habis, sementara Kios Gesit terus menjadi penyangga harga kebutuhan pokok warga Balikpapan.
Balikpapan TV - Hai Ces! Ada satu pemandangan yang langsung terasa di Kios Penyeimbang Pasar Klandasan: bahan pangan murah tidak perlu menunggu lama untuk diburu warga. Dalam kegiatan terbaru yang diliput Balikpapan TV, pasokan gula, beras, telur, dan minyak goreng disebut habis dalam waktu singkat.
Perumda Manuntung Sukses memang menjalankan kios penyeimbang sebagai bagian dari Gerakan Stabilisasi Inflasi Terkendali (GESIT). Tujuannya sederhana, menjaga agar masyarakat tetap punya akses terhadap bahan pangan dengan harga terjangkau.
Ketika pasokan datang, warga langsung memburu
Dalam kegiatan tersebut, pasokan yang didistribusikan terdiri atas 38 karung gula pasir, 12 pak beras, 13 piring telur ayam, dan 35 kemasan minyak goreng. Antusiasme warga membuat seluruh komoditas tersebut cepat habis.
Direktur Utama Perumda Manuntung Sukses, Andi Sangkuru, mengatakan kegiatan pasar murah diarahkan untuk membantu pengendalian inflasi sekaligus menyediakan komoditas pangan dengan harga terjangkau.
"Tujuannya ini kan untuk mengendalikan inflasi. Jadi namanya pasar murah ya memberikan komoditi pangan yang harga terjangkau," kata Andi.
Ia juga mengakui tingginya permintaan membuat pasokan cepat terserap. Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan masyarakat datang karena kebutuhan terhadap komoditas yang tersedia cukup terfokus di lokasi tersebut.
Kios ini bukan sekadar tempat belanja murah
Kehadiran kios penyeimbang di Balikpapan bukan program yang muncul secara tiba-tiba. Pemerintah Kota Balikpapan mencatat kios penyeimbang di Pasar Klandasan dan Pasar Pandansari mulai beroperasi setelah diresmikan pada 25 Oktober 2024.
Kios tersebut dikelola Perumda Manuntung Sukses dan dirancang untuk menjaga ketersediaan serta harga bahan pokok dan penting. Pemerintah Kota juga menyebut keberadaannya bukan untuk menjadi pesaing pedagang pasar, melainkan membantu menjaga keseimbangan harga ketika terjadi potensi kenaikan.
Peran itu menjadi penting karena Balikpapan bukan daerah penghasil utama untuk seluruh komoditas pangan. Dalam bahan liputan, Perumda menyebut kemitraan dengan daerah produsen seperti Sulawesi Selatan hingga Jawa Timur terus diperkuat untuk memperpendek rantai distribusi dan menekan biaya pengadaan.
Catatan Tim Pengendalian Inflasi Daerah Balikpapan juga menempatkan perluasan kerja sama antardaerah untuk komoditas bahan pokok sebagai salah satu langkah pengendalian inflasi. Dokumen tersebut sekaligus mencatat pentingnya optimalisasi peran kios penyeimbang di Pasar Pandansari dan Pasar Klandasan.
Baca Juga: Balikpapan Siapkan Satgas Kavling Ilegal, Lindungi Konsumen
Mengapa pasokan harus terus dijaga?
Harga pangan tidak hanya ditentukan oleh harga jual di kios. Ketersediaan barang, jalur distribusi, daerah asal komoditas, hingga biaya pengadaan ikut memengaruhi harga yang akhirnya dibayar konsumen.
Karena itu, strategi Perumda tidak berhenti pada menjual barang dengan harga terjangkau. Kemitraan dengan daerah produsen menjadi bagian penting agar pasokan dapat masuk ke Balikpapan dengan rantai distribusi yang lebih efisien.
Pengalaman operasional kios juga menunjukkan bahwa permintaan masyarakat bisa tinggi. Pada November 2025, Perumda menyebut beras SPHP menjadi salah satu komoditas yang paling diminati di Kios Penyeimbang Klandasan.
Artinya, keberadaan kios penyeimbang akan semakin bergantung pada kemampuan menjaga dua hal sekaligus: barang tersedia dan harganya tetap terjangkau.
Bukan cuma soal harga, tapi soal akses
Bagi warga, manfaat program seperti ini bukan semata-mata menemukan harga murah pada satu hari tertentu. Yang lebih penting adalah adanya alternatif ketika harga sejumlah kebutuhan pokok bergerak naik.
Pemerintah Kota Balikpapan sendiri juga menjalankan berbagai skema pasar pangan murah di lokasi berbeda. Pada Juli 2025, misalnya, Gerakan Pasar Murah Beriman digelar di tiga lokasi dengan komoditas seperti beras, minyak goreng, daging, dan kebutuhan pokok lainnya.
Pola tersebut memperlihatkan bahwa stabilisasi pangan membutuhkan lebih dari satu titik penjualan. Semakin dekat akses pangan terjangkau dengan warga, semakin mudah masyarakat mendapatkan alternatif ketika harga pasar berubah.
Poin Penting
-
Kios Penyeimbang Klandasan dikelola Perumda Manuntung Sukses.
-
Program GESIT diarahkan untuk membantu pengendalian inflasi.
-
Pasokan terbaru berupa gula, beras, telur, dan minyak goreng cepat habis.
-
Balikpapan memperkuat kerja sama dengan daerah produsen untuk menjaga pasokan.
-
Kios penyeimbang dirancang sebagai instrumen pengendalian harga, bukan pesaing pedagang pasar.
-
Ketersediaan stok menjadi faktor penting agar pangan murah tetap bisa diakses warga.
Insight Redaksi
Kios pangan murah akan terasa manfaatnya ketika warga bisa menemukan barang saat membutuhkannya, bukan hanya ketika program digelar. Tantangannya jelas: menjaga pasokan tetap mengalir, distribusi tetap efisien, dan akses tidak berhenti pada satu titik. Buat Balikpapan, urusan pangan memang soal harga, tapi juga soal jarak, stok, dan kepastian belanja.
Kalau pasokan cepat habis, yang perlu dijaga bukan cuma harganya, tapi kesinambungan barangnya juga.
Kalau informasi ini terasa berguna, bagikan ke keluarga atau kawan yang lagi ngatur belanja kebutuhan pokok.
Tetap ikuti kabar Balikpapan hanya di Balikpapan TV, teman update setia, bukan sekadar info biasa!
FAQ
1. Apa tujuan Kios Penyeimbang di Balikpapan?
Kios Penyeimbang bertujuan membantu menjaga ketersediaan dan keterjangkauan harga bahan pokok sekaligus mendukung pengendalian inflasi daerah.
2. Siapa yang mengelola Kios Penyeimbang Klandasan?
Kios tersebut dikelola oleh Perumda Manuntung Sukses Kota Balikpapan.
3. Apa saja pangan yang tersedia dalam kegiatan terbaru?
Dalam liputan yang menjadi bahan artikel ini, komoditas yang disalurkan meliputi gula pasir, beras, telur ayam, dan minyak goreng.
4. Mengapa Balikpapan perlu memperkuat kerja sama dengan daerah produsen?
Karena sebagian kebutuhan pangan Balikpapan dipasok dari luar daerah. Kerja sama antardaerah membantu menjaga pasokan dan mendukung efisiensi distribusi.
Editor : Arya Kusuma