Durasi Baca: 5 menit
Ikhtisar: Polda Kaltim menyoroti tantangan remaja yang hidup di ruang nyata dan digital, termasuk paparan konten kekerasan, komunitas daring, hingga kenakalan di lingkungan sosial.
Balikpapan TV - Hai Ces! Kenakalan remaja di era digital menjadi perhatian Polda Kalimantan Timur karena anak dan remaja kini beraktivitas dalam ruang nyata sekaligus ruang digital.
Persoalan tersebut dibahas dalam program talk show interaktif LIVE SALAM PRESISI Balikpapan TV bertajuk “Mewaspadai Kenakalan Remaja di Era Digital”. Acara dipandu presenter Lili Haryanti dengan narasumber Kombes Pol Arman, S.I.K., M.Si., selaku Direktur Pembinaan Masyarakat Polda Kalimantan Timur.
Bagi orang tua, tantangannya bukan lagi sekadar mengetahui dengan siapa anak bergaul di lingkungan sekitar. Aktivitas melalui smartphone, media sosial, permainan daring, hingga komunitas digital juga menjadi bagian dari kehidupan yang perlu diperhatikan.
Remaja Kini Hidup di Dua Lingkungan
Kombes Pol Arman menjelaskan, perkembangan teknologi membuat pola kehidupan generasi muda berbeda dari generasi sebelumnya.
“Generasi muda, anak-anak dan remaja saat ini berbeda dengan kita dulu ya. Sekarang hidupnya dua lingkungan: lingkungan nyata dan lingkungan digital. Jadi ada ruang nyata fisik dan ada juga ruang digital.”
Pernyataan tersebut menggambarkan tantangan pengawasan yang semakin luas. Anak dapat berinteraksi dengan lingkungan sosial di sekitar rumah dan sekolah, sekaligus membangun hubungan dengan orang lain melalui ruang digital.
Menurut Arman, kondisi tersebut perlu dipahami oleh keluarga maupun jajaran Bhabinkamtibmas. Pengawasan terhadap remaja tidak cukup hanya melihat aktivitas di lingkungan fisik.
Game Online dan Konten Negatif Perlu Pendampingan
Dalam pembukaan talk show, Lili Haryanti menyoroti sejumlah risiko yang muncul bersama kemudahan akses internet dan smartphone.
Game online, pergaulan di dunia maya, serta konten negatif dapat memengaruhi pola interaksi anak apabila digunakan tanpa pendampingan yang memadai.
Arman kemudian mengutip pemikiran Imam Mawardi dalam Adabud Dunia Waddin mengenai pentingnya menjaga generasi muda.
“Saya kutip kata Imam Mawardi dalam kitab Adabud Dunia Waddin. Beliau mengatakan bahwa untuk menghancurkan suatu bangsa dan negara, maka hancurkanlah generasi mudanya. Nah, ini perlu diwaspadai.”
Pesan tersebut disampaikan untuk menekankan posisi generasi muda sebagai bagian penting dalam keberlangsungan masyarakat dan bangsa.
Baca Juga: Revisi Perda Bencana Balikpapan Didorong, Respons Darurat dan Ketertiban Warga Jadi Sorotan
TCC dan Paparan Narasi Kekerasan di Dunia Digital
Pembahasan talk show juga masuk pada fenomena komunitas digital yang perlu dipahami orang tua dan masyarakat.
Salah satunya adalah True Crime Community (TCC), yaitu komunitas yang membahas kasus-kasus kejahatan nyata. Pembahasan mengenai kasus kriminal tidak otomatis berarti seseorang terlibat dalam tindakan kekerasan.
Persoalan perlu diperhatikan ketika konsumsi konten digital membuat seseorang menerima narasi kekerasan tanpa kemampuan menyaring informasi secara kritis.
Arman juga membahas Nihilistic Violent Extremism (NVE) dalam konteks paparan kekerasan di ruang digital.
“NVA adalah nihilistic violent extremism... yaitu menangkap suatu pembelajaran kekerasan di dunia digital dengan cara ekstrem, akhirnya meniru atau terajak untuk melakukan kekerasan yang ada di dunia digital tersebut.”
Karena itu, kemampuan memahami dan menilai konten menjadi bagian penting dalam pendampingan remaja.
Jangan Hanya Melarang, Bangun Komunikasi Dua Arah
Salah satu pesan utama dalam talk show tersebut adalah pentingnya mengubah pola komunikasi orang tua dengan anak.
Arman menilai pendekatan yang hanya berisi larangan dapat membuat anak tidak memiliki pemahaman mengenai alasan suatu konten berbahaya.
“Bukan hanya sekedar melarang ‘jangan lihat ini, jangan lihat itu’, tapi harus betul-betul bisa berkomunikasi dua arah dengan anak supaya pada saat melihat konten yang berbahaya bisa berpikir secara kritis, bisa menilai mana konten yang berbahaya mana yang tidak.”
Komunikasi dua arah membuat anak memiliki kesempatan untuk menyampaikan apa yang dilihat dan dialami di ruang digital. Orang tua pun dapat memahami alasan anak tertarik pada suatu konten atau lingkungan pergaulan tertentu.
Pendekatan tersebut juga relevan ketika anak mulai menunjukkan perilaku seperti tawuran atau balap liar.
Orang tua diharapkan tidak langsung memberikan penilaian, tetapi mencari latar belakang persoalan. Tekanan dari teman sebaya dan kebutuhan mendapatkan pengakuan dapat menjadi bagian yang perlu diperhatikan.
Pengawasan Anak Membutuhkan Peran Sekolah
Pendampingan tidak hanya menjadi tugas keluarga. Sekolah juga memiliki posisi penting karena sebagian aktivitas sosial remaja berlangsung di lingkungan pendidikan.
Komunikasi antara orang tua dan sekolah diperlukan ketika muncul perubahan perilaku atau persoalan yang berkaitan dengan pergaulan anak.
Polda Kaltim melalui jajaran Bimas dan Bhabinkamtibmas juga menjalankan pendekatan preventif melalui kegiatan Police Goes to School. Sosialisasi dan edukasi dapat menjadi ruang bagi pelajar untuk memahami risiko penggunaan ruang digital sekaligus membangun komunikasi dengan kepolisian.
Untuk persoalan yang berkaitan dengan anak, keluarga juga diarahkan memanfaatkan layanan konseling PPA ketika menghadapi kasus seperti bullying atau kenakalan remaja.
Baca Juga: DPRD Balikpapan Bahas Dua Raperda, Aturan Bencana dan Ketertiban Kota Diperbarui
Salurkan Energi Remaja ke Aktivitas Positif
Kenakalan remaja tidak selalu berkaitan dengan dunia digital. Aktivitas di ruang fisik seperti tawuran dan balap liar juga menjadi persoalan yang membutuhkan pendekatan berbeda.
Salah satu gagasan yang dibahas adalah menyediakan wadah aktivitas positif bagi remaja, termasuk tempat atau sirkuit resmi bagi mereka yang memiliki minat terhadap olahraga otomotif.
Pendekatan semacam itu diarahkan agar minat dan energi remaja dapat disalurkan dalam ruang yang lebih terkontrol, bukan melalui aktivitas balap di jalan umum.
Ketika situasi membutuhkan respons kepolisian, masyarakat juga dapat memanfaatkan layanan panggilan darurat 110 untuk melaporkan potensi gangguan keamanan atau kejadian yang membutuhkan bantuan polisi.
Poin Penting
- Remaja saat ini menjalani kehidupan di ruang fisik dan digital.
- Smartphone membuka akses pembelajaran sekaligus konten yang membutuhkan pendampingan.
- TCC merupakan fenomena komunitas digital yang perlu dipahami secara proporsional.
- Paparan narasi kekerasan membutuhkan kemampuan literasi dan berpikir kritis.
- Orang tua didorong membangun komunikasi dua arah dengan anak.
- Sekolah, keluarga, masyarakat, dan kepolisian memiliki peran dalam pencegahan.
- Aktivitas positif dapat menjadi ruang penyaluran minat dan energi remaja.
Insight Redaksi
Persoalan kenakalan remaja di era digital tidak berhenti pada berapa lama anak memegang smartphone. Yang tidak kalah penting adalah apa yang dilihat, dengan siapa berinteraksi, bagaimana memahami informasi, dan kepada siapa anak dapat bercerita ketika menemukan sesuatu yang berisiko.
Karena itu, hubungan orang tua dan anak menjadi bagian penting dalam perlindungan remaja. Anak perlu memiliki ruang untuk bertanya dan berdiskusi, bukan hanya menerima larangan.
Teknologi sendiri bukan musuh. Tantangannya adalah memastikan anak memiliki kemampuan menggunakan teknologi secara bertanggung jawab.
Seperti pesan Lili Haryanti dalam akhir talk show:
“Teknologi bukanlah musuh, media sosial juga bukan sesuatu yang harus kita takuti. Yang terpenting adalah bagaimana kita menggunakan dengan bijak dan bertanggung jawab... Mari bersama-sama kita menciptakan lingkungan yang aman bagi anak dan remaja.”
Keluarga dapat memulai dari hal sederhana, yakni membuka percakapan mengenai aktivitas digital anak tanpa menjadikan setiap percakapan sebagai sesi pemeriksaan. Sekolah dan lingkungan sekitar juga perlu menjadi ruang yang aman bagi remaja untuk berkembang.
Bagikan artikel ini kepada keluarga dan bubuhan yang memiliki anak remaja agar pembahasan mengenai keamanan ruang digital tidak berhenti di layar smartphone.
Balikpapan TV teman update setia, bukan sekadar berita biasa.
FAQ
1. Mengapa remaja disebut hidup dalam dua lingkungan?
Karena kehidupan remaja berlangsung dalam lingkungan fisik seperti keluarga, sekolah, dan pertemanan, sekaligus lingkungan digital melalui media sosial, game online, dan komunitas daring.
2. Apakah TCC selalu berkaitan dengan tindakan kekerasan?
Tidak. TCC merupakan komunitas yang membahas kasus kejahatan nyata. Hal yang perlu diperhatikan adalah bagaimana seseorang menerima dan memahami konten tersebut.
3. Mengapa komunikasi dua arah penting bagi orang tua?
Komunikasi dua arah membantu anak memahami alasan suatu konten berisiko sekaligus memberi kesempatan bagi orang tua mengetahui pengalaman anak di ruang digital.
4. Apa yang dapat dilakukan ketika anak terlibat kenakalan?
Orang tua dapat mencari latar belakang persoalan, membangun komunikasi dengan sekolah, memanfaatkan layanan konseling terkait, serta meminta bantuan kepolisian apabila situasi membutuhkan penanganan.
5. Apa fungsi layanan 110?
Layanan 110 dapat digunakan masyarakat untuk menyampaikan laporan atau meminta bantuan kepolisian ketika menghadapi situasi yang membutuhkan respons.
Editor : Arya Kusuma