ITK Bawa Baterai dari Limbah Sawit Keluar Laboratorium, 1.600 Peserta Ikut Belajar

Ahla Najwa • Dipublikasikan Jumat, 11 September 2026 | 10:44 WIB
Sebanyak 1.600 peserta mengikuti Diseminasi BINTANG garapan ITK yang berlangsung 1–8 September. (DOK. OKTAVIA MEGARIA/KP)
Sebanyak 1.600 peserta mengikuti Diseminasi BINTANG garapan ITK yang berlangsung 1–8 September. (DOK. OKTAVIA MEGARIA/KP)

Durasi Baca: 6 Menit

Ikhtisar: Riset baterai berbasis limbah sawit ITK dikenalkan lewat edukasi, eksperimen, pameran inovasi, dan kolaborasi lintas sektor.

 

Balikpapan TV - Hai Ces! Institut Teknologi Kalimantan (ITK) memperkenalkan pengembangan baterai berbasis limbah tandan kosong kelapa sawit (TKKS) kepada sekitar 1.600 peserta di Balikpapan melalui rangkaian Diseminasi BINTANG.

Baterai dari limbah sawit terdengar seperti sesuatu yang masih jauh dari kehidupan sehari-hari. ITK justru mulai membawa riset itu keluar dari laboratorium, lalu mempertemukannya dengan pelajar, masyarakat, pemerintah, industri, hingga pelaku UMKM. Ces!

Dari limbah sawit, muncul gagasan baterai

Riset yang diperkenalkan ITK berangkat dari pemanfaatan tandan kosong kelapa sawit (TKKS) sebagai material dalam pengembangan baterai berbasis biomassa.

TKKS selama ini dikenal sebagai limbah dari industri kelapa sawit. Di tangan peneliti Pusat Riset Elektrokimia ITK, material tersebut dikembangkan menjadi bahan berbasis karbon untuk kebutuhan teknologi penyimpanan energi.

Penelitian ITK sebelumnya juga telah mengembangkan prototipe baterai berbentuk pouch cell dan coin cell. Pengembangan tersebut menjadi bagian dari perjalanan riset yang kini diperkenalkan lebih luas kepada masyarakat.

Artinya, kegiatan BINTANG bukan hanya soal memperlihatkan produk penelitian. Ada proses panjang yang ingin diperkenalkan kepada publik, mulai dari pemanfaatan limbah, pengolahan material, penelitian elektrokimia hingga pembuatan prototipe.

Baca Juga: Pekan Menyusui Dunia 2026 di Balikpapan, AIMI Ajak Publik Perkuat Dukungan untuk Ibu

Anak sekolah ikut mengenal baterai dari limbah

Rangkaian Diseminasi BINTANG berlangsung pada 1–8 September 2026 dengan tiga agenda utama, yakni BINTANG School Roadshow, BINTANG Discovery Day, dan BINTANG Innovation Expo.

Pada agenda School Roadshow, sekitar 600 siswa dari tiga SD dan tiga SMP di Balikpapan menjadi sasaran edukasi. Materi yang dibawa mengangkat tema “Baterai Masa Depan dari Limbah Biomassa”.

Untuk siswa SD, materi tidak disampaikan seperti kuliah laboratorium. ITK menggunakan dongeng BILO atau Baterai Inovasi Limbah Organik, permainan edukatif, demonstrasi, serta praktik sederhana.

Peserta juga dikenalkan pada energi terbarukan dan pemanfaatan TKKS sebagai bahan baku baterai ramah lingkungan.

Sementara siswa SMP mendapatkan materi yang lebih dekat dengan proses penelitian. Mereka diajak memahami energi terbarukan, inovasi baterai berbasis biomassa, sekaligus mencoba perakitan baterai sederhana.

Cara ini membuat riset yang biasanya berada di balik pintu laboratorium menjadi lebih mudah dipahami pelajar.

Apa yang dilihat peserta saat Discovery Day?

Ruang yang lebih luas dibuka melalui BINTANG Discovery Day di Gedung Laboratorium Terpadu 1 ITK pada 8 September 2026.

Sekitar 1.000 peserta dari kalangan SMA/SMK, mahasiswa, sivitas akademika, masyarakat, pemerintah daerah, lembaga riset hingga industri mengikuti agenda tersebut.

ITK mengenalkan program BINTANG kepada masyarakat sebagai terobosan baru dalam pengembangan pendidikan. (DOK. OKTAVIA MEGARIA/KP)
ITK mengenalkan program BINTANG kepada masyarakat sebagai terobosan baru dalam pengembangan pendidikan. (DOK. OKTAVIA MEGARIA/KP)

Salah satu bagian yang menarik adalah Lokakarya Eksperimen Pembuatan Baterai Ramah Lingkungan. Peserta diperkenalkan pada proses perakitan prototipe baterai pouch cell dan coin cell berbasis limbah TKKS.

Lokakarya dipandu tim peneliti Baterai Ramah Lingkungan dari Pusat Riset Elektrokimia ITK, Winardi Dian Wahyu Pratama.

Bagi masyarakat yang selama ini hanya mengenal baterai sebagai benda siap pakai, sesi tersebut memberi gambaran berbeda. Ada material yang harus diproses, dirancang, diuji, kemudian dikembangkan sebelum sebuah prototipe bisa diperkenalkan.

Mengapa TKKS dipilih sebagai bahan baterai?

Pemilihan TKKS memiliki kaitan kuat dengan potensi sumber daya lokal Kalimantan.

ITK sebelumnya telah mengembangkan penelitian karbon aktif dari TKKS melalui proses karbonisasi dan aktivasi. Material karbon tersebut kemudian diarahkan untuk kebutuhan elektroda dalam teknologi baterai.

Dalam penelitian yang dikembangkan ITK, material lokal tidak hanya dilihat sebagai limbah yang harus dibuang. TKKS diposisikan sebagai bahan yang masih memiliki nilai untuk dikembangkan menjadi produk teknologi.

Pendekatan tersebut juga berkaitan dengan gagasan ekonomi sirkular. Limbah dari sektor perkebunan dapat diproses kembali menjadi material bernilai tambah, meski pengembangan menuju penggunaan industri tetap membutuhkan penelitian, pengujian dan pengembangan lanjutan.

Karena itu, baterai biomassa ITK belum tepat dipahami sebagai pengganti langsung seluruh baterai komersial. Yang sedang dibangun adalah fondasi teknologi dan riset agar material lokal dapat dikembangkan lebih jauh.

Baca Juga: Galeri Arsip Balikpapan Dibuka, Materi Sejarah Diganti Tiap 1-2 Bulan

Dari penelitian menuju kolaborasi

Diseminasi BINTANG juga memperlihatkan bahwa perjalanan sebuah riset tidak berhenti ketika prototipe selesai dibuat.

ITK mempertemukan peneliti dengan pemerintah daerah, lembaga riset, sekolah, industri dan mitra lainnya. Sejumlah kerja sama juga ditandatangani dalam rangkaian kegiatan tersebut.

Kolaborasi itu mencakup ITK dengan Yayasan Mitra Hijau, BRIDA Kalimantan Timur, Bapedalitbang Balikpapan, Bapedalitbang Paser, serta sekolah mitra di Balikpapan.

Ruang kerja sama semacam ini penting karena pengembangan teknologi membutuhkan lebih dari sekadar kemampuan laboratorium. Penelitian membutuhkan mitra untuk pendidikan, pengembangan teknologi, pengujian, hilirisasi hingga kemungkinan pemanfaatan produk.

ITK sendiri memperoleh pendanaan Diseminasi BINTANG melalui Program Semesta In-Saintek 2026 dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi. Program tersebut diarahkan untuk membawa hasil riset agar memiliki dampak yang lebih luas.

Innovation Expo mempertemukan riset dan produk

Perjalanan BINTANG kemudian diperluas melalui Innovation Expo. Sekitar 30 produk atau inovasi di bidang energi ditampilkan, termasuk teknologi baterai berbasis limbah TKKS dari Pusat Riset Elektrokimia ITK.

Pameran juga mempertemukan hasil riset, produk hilirisasi, inovasi dari perguruan tinggi, pemerintah daerah, lembaga riset, industri dan UMKM mitra.

Ada pula demonstrasi produk dan prototipe teknologi, talk show, science challenge, kuis serta doorprize.

Bagi pengunjung, bagian ini memberikan gambaran bahwa hasil penelitian tidak harus berhenti sebagai laporan atau publikasi ilmiah. Ketika teknologi sudah memiliki prototipe, tahap berikutnya adalah melihat bagaimana inovasi tersebut dapat dikembangkan menjadi sesuatu yang memiliki manfaat lebih nyata.

Baca Juga: PBB Balikpapan Dapat Keringanan Denda hingga 30 September, Jangan Terlambat

Poin Penting:

Insight Redaksi

Yang menarik dari riset baterai TKKS ITK bukan hanya material yang digunakan, tetapi arah pengembangannya. Kalimantan Timur memiliki keterkaitan kuat dengan industri kelapa sawit, sehingga limbah biomassa memiliki konteks lokal yang nyata. Ketika limbah tersebut diteliti menjadi material baterai, peluang yang muncul bukan sekadar persoalan energi, tetapi juga pendidikan, teknologi, ekonomi sirkular dan hilirisasi riset dari daerah.

Buat pembaca Balikpapan, perkembangan seperti ini layak diikuti karena menunjukkan bagaimana kampus lokal mencoba menjawab persoalan teknologi dengan memanfaatkan sumber daya yang dekat dengan wilayahnya.

Kalau riset semacam ini terus dikembangkan, tantangan berikutnya bukan sekadar membuat prototipe bekerja, tetapi bagaimana meningkatkan performa, konsistensi material, efisiensi produksi dan kesiapan teknologi sebelum benar-benar masuk ke penggunaan yang lebih luas.

Bagikan artikel ini jika ingin lebih banyak orang mengetahui bahwa limbah yang selama ini terlihat sederhana ternyata sedang diteliti untuk menjadi bagian dari teknologi energi masa depan.

Buat Ces yang mengikuti perkembangan teknologi dari Balikpapan, perjalanan riset ini menarik untuk terus dipantau karena tahap berikutnya akan menentukan sejauh mana inovasi kampus bisa benar-benar sampai ke masyarakat.

FAQ

1. Apa itu Diseminasi BINTANG ITK?

Diseminasi BINTANG merupakan rangkaian kegiatan untuk memperkenalkan riset baterai berbasis biomassa kepada masyarakat melalui edukasi, eksperimen, pameran inovasi dan kolaborasi.

2. Apa bahan utama baterai yang dikembangkan ITK?

Salah satu material utamanya berasal dari tandan kosong kelapa sawit atau TKKS yang diolah menjadi material berbasis karbon.

3. Siapa saja yang mengikuti kegiatan BINTANG?

Pesertanya berasal dari pelajar, mahasiswa, sivitas akademika, masyarakat umum, pemerintah daerah, lembaga riset, industri dan UMKM.

4. Apakah baterai TKKS sudah menggantikan baterai komersial?

Belum. Riset ITK masih berada dalam tahap pengembangan teknologi dan prototipe sehingga masih diperlukan pengujian serta pengembangan lebih lanjut untuk penggunaan yang lebih luas.

5. Mengapa riset baterai TKKS penting bagi Kalimantan Timur?

Karena TKKS merupakan limbah yang berkaitan dengan industri kelapa sawit. Pemanfaatannya sebagai material teknologi membuka peluang peningkatan nilai tambah limbah dan pengembangan inovasi berbasis sumber daya lokal.

Sumber Informasi

Media Kaltim Post, dengan judul “ITK Kenalkan Riset Baterai dari Limbah Biomassa kepada 1.600 Peserta”, oleh Oktavia Megaria. Di-update kembali dengan angle dan style Balikpapantv.id.

my ride-or-die for updates
my ride-or-die for updates
Editor : Arya Kusuma
baterai biomassa limbah sawit ITK balikpapan