Durasi Baca: 4 menit
Ikhtisar: Kemarau menguningkan rumput Balikpapan, sementara Dinas Lingkungan Hidup memperkuat penyiraman dan menyiapkan dukungan armada di berbagai kawasan kota.
Balikpapan TV - Hai Ces! Rumput dan tanaman penghijauan di sejumlah kawasan Balikpapan mulai menguning saat kemarau, mendorong Dinas Lingkungan Hidup meningkatkan penyiraman untuk menjaga ruang hijau kota yang mulai kekurangan pasokan air hujan.
Yang terlihat dari warna rumput ternyata bukan sekadar perubahan pemandangan kota. Ada pekerjaan lapangan yang ikut bertambah ketika hujan makin jarang turun.
Penyiraman tanaman kini harus dilakukan dengan cara berbeda
Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Balikpapan sudah melakukan antisipasi sejak sebelum memasuki Agustus, bahkan mulai meningkatkan penyiraman sejak Juli.
Kepala Bidang Tata Lingkungan dan Sumber Daya Alam DLH Kota Balikpapan, Arrizal Rahman, mengatakan langkah tersebut dilakukan untuk menghadapi kondisi tanaman yang mulai kekurangan air.
“Kalau kondisi kemarau ini benar, sebelum bulan Agustus, dari Juli dan sebelumnya kami sudah melakukan antisipasi untuk melakukan grojok tanaman,” ujar Arrizal.
Istilah grojok tanaman merujuk pada penyiraman dengan pasokan air yang cukup untuk membasahi tanah di sekitar tanaman secara menyeluruh.
Cara ini dipilih ketika hujan tidak lagi bisa menjadi sumber air rutin bagi tanaman penghijauan.
Frekuensi penyiraman pun harus ditambah. Tim lapangan perlu menjangkau berbagai kawasan kota untuk memastikan tanaman memperoleh air secara berkala.
Rumput menguning, petugas lapangan ikut menghadapi beban tambahan
Dampak kemarau juga terlihat pada rumput di sejumlah ruang terbuka hijau Balikpapan.
Sebagian rumput mulai berubah warna menjadi kuning. DLH berupaya mencegah kondisi tersebut berkembang sampai tanaman mengalami kematian.
Persoalannya bukan hanya soal kebutuhan air tanaman. Intensitas pekerjaan petugas penyiraman ikut meningkat karena titik yang harus ditangani tersebar di berbagai kawasan.
Arrizal menyebut personel lapangan mulai mengalami kelelahan akibat pekerjaan yang bertambah.
Untuk mendukung kondisi petugas, DLH berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan Kota Balikpapan guna memperoleh dukungan berupa vitamin dan suplemen.
Di sini terlihat bahwa menjaga ruang hijau kota juga bergantung pada kondisi orang-orang yang bekerja merawatnya setiap hari.
Baca Juga: Antrean kendaraan Pertalite di SPBU MT Haryono Balikpapan dan aktivitas usaha di sepanjang kawasan
Truk tangki kebersihan masih dibahas untuk membantu penyiraman
Kebutuhan air yang meningkat membuat DLH mencari dukungan dari armada yang sudah tersedia di lingkungan Pemerintah Kota Balikpapan.
Salah satu opsi yang sedang dibahas adalah memanfaatkan truk tangki dari bidang kebersihan untuk membantu penyiraman tanaman dan ruang hijau.
Kendaraan tersebut selama ini digunakan dalam kegiatan kebersihan, termasuk penyiraman dan pembersihan jalan.
Pemanfaatannya untuk tanaman belum menjadi keputusan final. Arrizal menyebut rencana tersebut masih dalam koordinasi.
“Ini masih mau dikoordinasikan,” ujarnya.
Jika koordinasi tersebut berjalan, armada yang sudah tersedia dapat ikut membantu menjangkau kebutuhan penyiraman selama periode kering.
Kemarau belum selesai, Balikpapan masih perlu bersiap
Kondisi kering yang dirasakan di Balikpapan juga memiliki konteks cuaca yang perlu diperhatikan.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) dalam prediksi curah hujan untuk Dasarian II September 2026, yaitu periode sepuluh harian kedua September, memasukkan Kota Balikpapan dalam wilayah Kalimantan Timur yang diprediksi mengalami curah hujan kategori rendah, sekitar 0–50 milimeter per periode tersebut.
Prediksi BMKG tersebut membuat upaya penyiraman tanaman menjadi langkah yang relevan, terutama ketika ruang hijau kota tidak memperoleh pasokan air hujan dalam jumlah memadai.
Pada pertengahan Agustus, DLH Balikpapan juga mengimbau warga menampung air hujan untuk kebutuhan nonkonsumsi seperti menyiram tanaman dan mencuci lantai. Langkah itu dinilai dapat membantu mengurangi penggunaan air bersih.
Artinya, urusan menjaga tanaman kota tidak hanya berada di tangan petugas. Pemanfaatan air hujan dari lingkungan rumah juga dapat menjadi bagian kecil dari penghematan air saat musim kering.
Baca Juga: Kuota Pertalite Balikpapan Jadi Masalah, Antrean Tak Cukup Dijadwal, Akar Masalah Harus Diatasi
Hujan kembali menjadi harapan bagi ruang hijau kota
Selain memperkuat penyiraman, DLH juga melakukan koordinasi dengan pihak terkait untuk mengantisipasi dampak kemarau.
Arrizal menyebut kondisi tersebut telah disampaikan kepada Asosiasi Pemerintah Kota Seluruh Indonesia (Apeksi) di tingkat pusat. Menurutnya, langkah pencegahan perlu dilakukan sejak awal agar dampak kekeringan terhadap vegetasi tidak berkembang.
DLH juga berharap hujan kembali turun untuk membantu memulihkan kondisi tanaman.
Sebelumnya, menurut Arrizal, dilakukan penaburan garam dalam rangka mendukung upaya modifikasi cuaca. Setelah kegiatan tersebut, hujan sempat turun di wilayah utara Balikpapan dan beberapa kawasan sekitarnya.
“Alhamdulillah, di area utara dan sekitarnya ke bawah sedikit juga sudah hujan. Mudah-mudahan kegiatan penaburan garam yang dilakukan ini bisa berlanjut,” tuturnya.
Bagi Balikpapan, persoalannya kini bukan hanya bagaimana membuat tanaman kembali hijau. Yang sedang dijaga adalah ruang hidup kota agar vegetasi yang sudah ada mampu melewati periode kering tanpa mengalami kerusakan serius.
Penyiraman tambahan, dukungan armada, perhatian terhadap stamina petugas, hingga pemanfaatan air hujan menjadi bagian dari upaya menghadapi kondisi tersebut.
Poin Penting
- Tanaman dan rumput di sejumlah kawasan Balikpapan mulai menguning akibat berkurangnya hujan.
- DLH Balikpapan meningkatkan penyiraman sejak Juli sebelum memasuki periode kemarau.
- Sistem grojok digunakan untuk memastikan tanah di sekitar tanaman memperoleh air.
- Petugas penyiraman mengalami tambahan beban kerja sehingga mendapat dukungan vitamin dan suplemen.
- Pemanfaatan truk tangki dari bidang kebersihan masih dalam tahap koordinasi.
- BMKG memprediksi Balikpapan masuk wilayah dengan curah hujan rendah pada Dasarian II September 2026.
Insight Redaksi
Ruang hijau kota sering baru terasa penting ketika warnanya mulai berubah. Di Balikpapan, kemarau memperlihatkan bahwa merawat tanaman juga membutuhkan air, armada, tenaga manusia, dan koordinasi. Kada cukup hanya mengandalkan hujan. Kota perlu bersiap sebelum tanaman benar-benar kehilangan daya tahannya.
Untuk warga, menampung air hujan saat tersedia bisa menjadi langkah sederhana untuk membantu kebutuhan tanaman tanpa membebani pasokan air bersih.
Kalau ikam melihat rumput mulai menguning di sekitar lingkungan, jangan anggap sekadar urusan estetika. Kondisi itu bisa menjadi tanda bahwa ruang hijau sedang menghadapi tekanan cuaca.
Pantau terus kabar Balikpapan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari hanya di Balikpapan TV, teman update setia, bukan sekadar info biasa!
FAQ
1. Mengapa rumput di sejumlah kawasan Balikpapan mulai menguning?
Rumput mulai menguning karena berkurangnya intensitas hujan selama periode kemarau sehingga pasokan air bagi vegetasi ikut berkurang.
2. Apa yang dimaksud sistem grojok tanaman?
Grojok merupakan metode penyiraman dengan memastikan air membasahi tanah di sekitar tanaman secara cukup untuk memenuhi kebutuhan airnya.
3. Apakah truk tangki tambahan sudah digunakan untuk menyiram tanaman?
Belum. Pemanfaatan truk tangki dari bidang kebersihan masih dalam tahap koordinasi internal DLH Balikpapan.
4. Bagaimana kondisi hujan Balikpapan pada September 2026?
BMKG memprediksi Kota Balikpapan termasuk wilayah dengan curah hujan rendah pada Dasarian II September 2026.
5. Apa yang dapat dilakukan warga untuk membantu menghemat air?
Warga dapat menampung air hujan untuk kebutuhan nonkonsumsi, termasuk menyiram tanaman dan membersihkan area rumah.
Sumber Informasi: Media Balpos, dengan judul DLH Balikpapan Perkuat Penyiraman Tanaman Hadapi Musim Kemarau, Truk Tangki Tambahan Disiapkan, oleh Roshan Fauzi. Di-update kembali dengan angle dan style balikpapantv.id.
Editor : Arya Kusuma