Antrean Pertalite Karang Anyar Nyaris 1 Km, Warga Masih Menunggu di Kota Minyak

Arya Kusuma • Dipublikasikan Minggu, 6 September 2026 | 10:19 WIB
Ilustrasi Pengemudi kendaraan roda dua dan roda empat menunggu giliran mendapatkan Pertalite di SPBU Karang Anyar.
Ilustrasi Pengemudi kendaraan roda dua dan roda empat menunggu giliran mendapatkan Pertalite di SPBU Karang Anyar.

Durasi Baca: 4 menit

Ikhtisar: Antrean Pertalite di Karang Anyar kembali memanjang, sementara aturan baru dan titik layanan tambahan mulai diuji.

 

Balikpapan TV - Hai Ces! Panas pesisir Balikpapan terasa makin panjang bagi warga yang harus berdiri berjam-jam di belakang setir. Sabtu (5/9), antrean kendaraan di SPBU Karang Anyar mengular hingga nyaris 1 kilometer.

Di dalam barisan itu ada pengemudi ojek online, sopir angkutan kota, sampai warga yang memakai kendaraan untuk aktivitas sehari-hari. Mesin motor sesekali mati lalu menyala lagi. Sopir angkot menunggu giliran sambil melihat barisan kendaraan yang seolah belum hendak bergerak.

Yang membuat pemandangan ini terasa ironis, lokasi SPBU tersebut berada hanya puluhan meter dari kawasan Kilang Pertamina Balikpapan.

Ilustrasi Antrean kendaraan mengular di SPBU Karang Anyar Balikpapan dengan latar kawasan Kilang Pertamina.
Ilustrasi Antrean kendaraan mengular di SPBU Karang Anyar Balikpapan dengan latar kawasan Kilang Pertamina.

Bagi pengemudi, antrean bukan sekadar soal bensin

Romi, pengendara Daihatsu Sigra, mengaku sudah sekitar 20 menit menunggu ketika ditemui. Mobilnya bahkan belum masuk ke area SPBU.

“Ya sudah 20 menit-an ‘lah, baru mau masuk ke area SPBU ini,” ujar Romi.

Menurutnya, jumlah SPBU yang melayani kebutuhan warga perlu menjadi perhatian. Sebab, Balikpapan dikenal sebagai Kota Minyak sekaligus salah satu pusat industri minyak dan gas bumi di Kalimantan Timur.

“Masa kota minyak antreannya begini,” katanya.

Bagi Arif, pengemudi ojek online, persoalannya terasa langsung pada waktu kerja. Antrean bisa ditemui pada pagi maupun malam hari sehingga waktu yang semestinya digunakan untuk menerima dan mengantar pesanan ikut tersita.

Ia bahkan pernah mengaktifkan layanan ketika masih berada dalam antrean.

“Kadang lama antar orderan ya karena antrean ini, pernah saya dikasih bintang 1 sama customer,” ujar Arif.

Bagi pekerja yang penghasilannya bergantung pada mobilitas kendaraan, waktu puluhan menit di SPBU bukan sekadar waktu menunggu. Ada pesanan yang tertunda dan ada perjalanan yang ikut bergeser.

Baca Juga: Kisah Lauw Mukhayyar, Driver Gojek Balikpapan Dapat HP Baru Setelah 10 Tahun Jadi Driver

Selisih harga Rp6.300 membuat Pertalite sulit ditinggalkan

Salah satu alasan antrean Pertalite terus menarik banyak kendaraan adalah perbedaan harga dengan Pertamax.

Di Kalimantan Timur per 1 September 2026, Pertalite berada di harga Rp10.000 per liter, sedangkan Pertamax Rp16.300 per liter. Selisihnya mencapai Rp6.300 untuk setiap liter.

Angka tersebut punya arti bagi pengemudi yang setiap hari mengeluarkan biaya untuk bahan bakar. Pilihan BBM akhirnya bukan sekadar soal jenis bahan bakar, tetapi juga soal berapa banyak uang yang tersisa setelah kendaraan kembali digunakan mencari penghasilan.

Pada saat yang sama, tingginya pemakaian Pertalite juga menjadi perhatian pemerintah dan Pertamina Patra Niaga. Sales Area Manager Retail Kalimantan Timur dan Utara Pertamina Patra Niaga, Narotama Aulia Fajri, menyebut jumlah pengguna di Balikpapan sudah melampaui kapasitas yang tersedia. Pemerintah Kota Balikpapan pun mengajukan tambahan kuota Pertalite dan Biosolar kepada Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas).

Aturan baru sudah berjalan, tetapi antrean Karang Anyar belum hilang

Pemerintah Kota Balikpapan mulai memberlakukan pengaturan baru penyaluran BBM bersubsidi pada 1 September 2026. Aturan tersebut mencakup pembagian waktu pelayanan berdasarkan jenis kendaraan di sejumlah SPBU, sekaligus penataan titik penyaluran.

Untuk kendaraan roda dua, pemerintah dan Pertamina juga menyiapkan lima titik tambahan penyaluran Pertalite, termasuk Kebun Sayur. Titik tersebut diarahkan untuk memecah konsentrasi kendaraan yang selama ini menumpuk di beberapa lokasi.

Khusus Karang Anyar, Pertamina menyebut antrean kendaraan roda dua akan dipecah melalui SPBU Kebun Sayur. Kawasan Kilometer 4 dan Kilometer 9 juga diarahkan mendapat pembagian layanan melalui titik Grand City dan kawasan MT Haryono.

Artinya, persoalan Karang Anyar sejak awal sudah dikenali sebagai salah satu titik kepadatan. Namun, antrean yang kembali mengular pada 5 September menunjukkan bahwa pengaturan distribusi belum otomatis membuat persoalan di lapangan selesai.

Ada persoalan distribusi yang ikut membentuk panjang antrean

Antrean panjang juga tidak berdiri sendirian. Dalam bahan pemberitaan, terdapat dugaan praktik pengetapan BBM bersubsidi, yakni pembelian berulang untuk kemudian dijual kembali secara eceran.

Dugaan tersebut perlu dibedakan dari warga yang memang membeli Pertalite untuk kebutuhan kendaraan sehari-hari. Karena itu, pengawasan menjadi bagian penting agar BBM bersubsidi tidak terserap oleh pihak yang tidak berhak.

Pemerintah Kota Balikpapan sebelumnya memang menerbitkan aturan pembatasan waktu pelayanan sebagai bagian dari upaya mengurai antrean dan mencegah penyalahgunaan. Pengawasan melibatkan pemerintah daerah, aparat terkait, BPH Migas, dan Pertamina Patra Niaga.

Masalahnya, pengaturan waktu hanya menyentuh salah satu bagian dari persoalan. Sebaran titik pelayanan, jumlah pengguna, kuota, pengawasan, hingga perilaku pembelian semuanya ikut menentukan panjang antrean.

Baca Juga: 11 Orangutan Selamat dari Karhutla Samboja, Kondisi Terkini Hadapi Kebosanan di Kandang

Dekat kilang, tetapi warga masih harus menghitung waktu

Dari barisan kendaraan di Karang Anyar, bangunan dan fasilitas pengolahan minyak terlihat begitu dekat. Namun bagi pengemudi yang mengantre, jarak puluhan meter itu tidak serta-merta membuat akses bahan bakar menjadi mudah.

Romi melihat penambahan SPBU sebagai salah satu pilihan yang perlu dipertimbangkan. Arif merasakan dampaknya dari sisi pekerjaan. Dua pengalaman itu memperlihatkan persoalan yang sama dari dua kursi berbeda: waktu warga tersita untuk mendapatkan BBM yang dibutuhkan untuk menjalankan aktivitas harian.

Pemerintah kini memiliki dua pekerjaan yang berjalan bersamaan. Penataan distribusi perlu menghasilkan antrean yang terkendali, sementara pengajuan tambahan kuota masih menunggu keputusan BPH Migas. Pertamina sendiri menyatakan penyaluran pada titik tambahan akan menggunakan kuota yang tersedia sembari menunggu keputusan tersebut.

Jadi, ukuran keberhasilan kebijakan bukan sekadar ada aturan baru atau bertambahnya titik layanan. Ukurannya sederhana: apakah warga bisa mendapatkan Pertalite tanpa harus mengorbankan berjam-jam waktu kerja di pinggir jalan?

Poin Penting

Insight Redaksi

Antrean panjang kada cukup diatasi dengan memindahkan kendaraan dari satu SPBU ke titik lain. Kuota, sebaran layanan, pengawasan, dan kebutuhan pekerja jalanan harus dihitung bersama. Kalau waktu mencari nafkah habis di antrean, masalahnya sudah menyentuh ekonomi warga, bukan sekadar urusan bensin.

Penataan distribusi perlu diukur dari pengalaman warga di jalan, bukan hanya dari aturan yang tertulis.

Bubuhan pengendara juga perlu disiplin mengikuti jadwal dan menghindari pembelian berulang yang dapat memperpanjang antrean.

Kalau informasi ini terasa berguna, bagikan ke kawalan yang tiap hari bergantung pada kendaraan untuk mencari nafkah.

Antrean BBM bukan cuma soal menunggu selang masuk tangki, tetapi soal waktu kerja yang ikut berjalan. Pantau terus kabar Balikpapan TV, teman update setia, bukan sekadar info biasa!

FAQ

1. Mengapa antrean Pertalite di Karang Anyar panjang?

Antrean dipengaruhi tingginya jumlah pengguna, konsentrasi kendaraan pada titik tertentu, serta kebutuhan masyarakat terhadap Pertalite yang memiliki selisih harga cukup jauh dari Pertamax.

2. Berapa harga Pertalite dan Pertamax di Kalimantan Timur?

Per 1 September 2026, Pertalite Rp10.000 per liter dan Pertamax Rp16.300 per liter.

3. Apakah ada titik baru untuk mengurangi antrean Karang Anyar?

Ada. Salah satunya SPBU Kebun Sayur yang diarahkan untuk memecah konsentrasi antrean kendaraan roda dua dari kawasan Karang Anyar.

4. Siapa yang menetapkan kuota BBM bersubsidi?

Penetapan kuota BBM bersubsidi berada pada kewenangan Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas).

5. Apakah tambahan SPBU otomatis menyelesaikan antrean?

Belum tentu. Penambahan titik layanan merupakan salah satu cara membagi konsentrasi kendaraan, sedangkan kuota, distribusi, pengawasan, dan jumlah pengguna juga ikut memengaruhi kondisi antrean.

Sumber Informasi: Media Kaltim Post, dengan judul “LAPSUS: Cuma Puluhan Meter dari Kilang Pertamina, Warga Balikpapan Antre Pertalite Nyaris 1 Km”, oleh Ainur Rofiah, Muhammad Taufik, dan Muhammad Ridhuan. Di-update kembali dengan angle dan style balikpapantv.id.

my ride-or-die for updates
my ride-or-die for updates

 

Editor : Arya Kusuma
Pertalite Balikpapan antrean bbm karang anyar pertamina patra niaga