11 Orangutan Selamat dari Karhutla Samboja, Kondisi Terkini Hadapi Kebosanan di Kandang

Arya Kusuma • Dipublikasikan Sabtu, 5 September 2026 | 13:10 WIB
Ilustrasi  Petugas mengevakuasi orangutan dari Sekolah Hutan Jejak Pulang menuju kandang evakuasi KM 38 Samboja saat karhutla mengancam kawasan.(BTV/AI)
Ilustrasi Petugas mengevakuasi orangutan dari Sekolah Hutan Jejak Pulang menuju kandang evakuasi KM 38 Samboja saat karhutla mengancam kawasan.(BTV/AI)

Durasi Baca: 4 menit

Ikhtisar: Sebelas orangutan Samboja dipantau usai evakuasi karhutla, dengan kondisi sehat namun ruang gerak kini terbatas.

 

Balikpapan TV - Hai Ces! Sebelas orangutan yatim piatu harus meninggalkan Sekolah Hutan Jejak Pulang di Samboja setelah karhutla mendekati kawasan rehabilitasi mereka pada 1 September 2026 untuk keselamatan satwa.

Kini mereka berada di kandang evakuasi KM 38, sehat, namun perubahan ruang gerak mulai memunculkan perilaku bosan yang perlu diawasi.

Ruang hutan berubah menjadi kandang evakuasi

Karhutla memang sudah padam, namun pemindahan mendadak membuat proses rehabilitasi menghadapi persoalan baru.

Di Sekolah Hutan, orangutan terbiasa bergerak bebas, mencari pakan, bermain, dan mengayun melalui liana.

Perubahan ruang hidup membuat stimulasi alami berkurang, sehingga tim perlu menghadirkan pengayaan selama masa evakuasi.

Head of Orangutan Care Yayasan Jejak Pulang, Siti Nur Badriyah, menyebut perubahan perilaku mulai terlihat selama berada di kandang.

Menurut Siti, orangutan tampak bosan karena ruang geraknya terbatas dan pakan hutan tidak tersedia seperti biasanya.

Situasi itu berbeda dari kehidupan mereka di Sekolah Hutan yang memberi ruang luas untuk bergerak dan mengeksplorasi lingkungan.

Pengayaan menjadi bagian penting selama masa pemindahan

Karena itu, tim menggunakan enrichment atau pengayaan untuk menjaga rangsangan fisik dan kognitif selama masa pemindahan.

Kandang juga dimodifikasi dengan fasilitas yang meniru kondisi hutan, termasuk tali untuk aktivitas mengayun.

Langkah tersebut menjaga proses rehabilitasi berjalan meski orangutan belum kembali ke kawasan Sekolah Hutan.

Bagi satwa yang sedang belajar menjalani kehidupan alami, perubahan ruang bukan sekadar perpindahan lokasi.

Rangsangan untuk bergerak, mencari pakan, dan beraktivitas perlu hadir selama masa observasi berlangsung.

Karena itu, perawatan di kandang diarahkan agar kebutuhan fisik dan perilaku 11 orangutan tetap terpantau.

Baca Juga: Sistem SPBU MT Haryono Bermasalah, Puluhan Mobil Antre Sejak Dini Hari Tak Terlayani

Evakuasi berlangsung saat api mulai memasuki KHDTK

Keputusan evakuasi diambil setelah api dari area penggunaan lain merambat menuju KHDTK Samboja pada Selasa, 1 September 2026.

Sekitar pukul 16.00 WITA, status darurat diaktifkan dan 11 orangutan mulai dipindahkan menuju jalur evakuasi tepi sungai.

Evakuasi berlangsung hingga pukul 18.00 WITA menggunakan armada Jejak Pulang dan BKSDA Kaltim menuju KM 38 Samboja.

Setengah jam kemudian, Manggala Agni bersama tim pemadam gabungan berhasil memadamkan karhutla di area KHDTK.

Kepala BKSDA Kaltim M. Ari Wibawanto menyebut keputusan evakuasi merupakan pilihan tepat demi kesejahteraan dan keselamatan satwa.

Tim gabungan terdiri atas Yayasan Jejak Pulang, BKSDA Kaltim, Manggala Agni, serta Wildlife Rescue Unit.

Kondisi 11 orangutan sehat, observasi masih berjalan

Setelah dipindahkan, pemeriksaan menunjukkan kondisi seluruh orangutan sehat dan aman dari dampak paparan asap.

Dokter hewan Yayasan Jejak Pulang, drh. Tetri Regilya, menyebut observasi masih berlangsung untuk memantau kemungkinan gejala pascakarhutla.

Menurut Tetri, belum terlihat gejala flu maupun gejala lain yang berkaitan dengan paparan karhutla pada 11 orangutan tersebut.

Pemantauan melibatkan tim medis, animal keeper, dan BKSDA Kaltim selama satwa berada di fasilitas sementara.

Kondisi kesehatan yang baik menjadi kabar penting setelah satwa menghadapi perpindahan mendadak dari lingkungan rehabilitasi.

Namun, perubahan perilaku akibat keterbatasan ruang membuat pengawasan tidak berhenti pada pemeriksaan fisik saja.

Baca Juga: DPRD Balikpapan Dorong RTH Permukiman Jadi Ruang Publik Produktif bagi Warga

Sekolah Hutan menunggu kondisi yang aman

Sekolah Hutan berada dalam KHDTK Samboja seluas sekitar 3.517,53 hektare, dengan area rehabilitasi sekitar 130 hektare.

Kawasan seluas itu menjadi tempat orangutan yatim piatu menjalani pembelajaran sebelum dipersiapkan kembali menuju habitat alami.

Karena ruang kandang tidak menyerupai ruang hutan, pengayaan menjadi bagian penting untuk menjaga aktivitas fisik dan kognitif satwa.

Kesiapsiagaan menghadapi karhutla juga sudah dibangun sejak Juni melalui kolaborasi sejumlah pihak yang terlibat dalam pengelolaan kawasan.

Persiapan jalur evakuasi, posisi penjaga, dan kendaraan pendukung membantu pemindahan berlangsung cepat ketika status darurat diberlakukan.

Pengalaman ini menunjukkan perlindungan satwa membutuhkan rencana sebelum api mendekat, bukan hanya respons ketika keadaan sudah genting.

Poin Penting

Insight Redaksi

Sebelas orangutan ini memperlihatkan bahwa keselamatan satwa bukan cuma soal menjauhkan tubuh dari api. Ruang hidup juga menentukan kualitas rehabilitasi. Saat kandang menjadi pilihan darurat, pengayaan harus diperlakukan sebagai kebutuhan, bukan pelengkap. Nah, perlindungan satwa di Kaltim memang perlu disiapkan sejak awal melalui dukungan lintas lembaga yang terukur, bukan sesudah keadaan genting.

Perkuat simulasi evakuasi dan siapkan ruang pengayaan darurat supaya satwa kada kehilangan stimulasi saat bencana.

Kalau informasi ini terasa penting, bagikan ke bubuhan supaya makin banyak yang paham bahwa penyelamatan satwa juga perlu perhatian setelah evakuasi.

Jangan lewatkan kabar lingkungan Kaltim, ikuti terus Balikpapan Tv teman update setia, bukan sekadar info biasa, karena cerita satwa juga penting diketahui dari kawasan hutan sampai ruang hidup masyarakat.

FAQ

1. Mengapa 11 orangutan harus dievakuasi?

Karhutla mendekati kawasan Sekolah Hutan Jejak Pulang di KHDTK Samboja, sehingga evakuasi dilakukan demi keselamatan satwa.

2. Di mana 11 orangutan berada sekarang?

Seluruhnya berada di Kandang Evakuasi Kilometer 38 Samboja selama kondisi kawasan rehabilitasi dipantau.

3. Bagaimana kondisi kesehatan mereka?

Seluruh orangutan dalam kondisi sehat dan aman. Observasi medis masih dilakukan untuk mendeteksi kemungkinan dampak karhutla.

4. Mengapa orangutan terlihat bosan di kandang?

Ruang gerak dan stimulasi alami di kandang terbatas dibandingkan lingkungan Sekolah Hutan.

5. Apa yang dilakukan tim selama masa evakuasi?

Tim memberikan pakan, perawatan, enrichment, serta fasilitas kandang yang meniru kondisi alami hutan.

Editor : Arya Kusuma
Karhutla Kaltim Orangutan Samboja KHDTK Samboja Yayasan Jejak Pulang