Durasi Baca: 5 menit
Ikhtisar: Antrean solar subsidi di SPBU KM 15 Balikpapan kembali dikeluhkan sopir truk karena waktu tunggu panjang.
Balikpapan TV - Hai Ces! Antrean Biosolar bersubsidi di SPBU KM 15 Karang Joang, Balikpapan Utara, membuat sopir truk harus menunggu berjam-jam hingga dua hari demi mendapatkan bahan bakar.
Kondisi ini bukan sekadar soal waktu terbuang. Ketika pasokan terlambat dan titik penyalur terbatas, aktivitas angkutan barang ikut terdampak.
Antrean Solar Subsidi Berjam-jam hingga Bermalam
Keluhan datang dari Heri, sopir truk longbed 12 roda yang mengaku mulai mengantre sejak pukul 09.00 Wita pada Kamis, 6 Agustus 2026.
Hingga pukul 16.00 Wita, kendaraannya baru mendekati area pengisian. Artinya, sekitar tujuh jam telah dihabiskan hanya untuk menunggu giliran.
"Dari pukul 9 pagi sampai jam 4 sore, sekitar tujuh jam. Kadang bisa delapan jam. Bisa cuma ngisi 100 liter," ujarnya.
Menurut Heri, persoalan antrean Biosolar bukan hanya terjadi di Balikpapan. Ia menyebut kondisi serupa juga ditemui di sejumlah wilayah Kalimantan.
"Sudah lama begini. Di Kalimantan Tengah, Banjar, sama saja. Di mana-mana antre," katanya.
Keluhan tersebut menunjukkan bahwa persoalan yang dihadapi sopir bukan semata panjangnya antrean, tetapi ketidakpastian waktu mendapatkan BBM untuk melanjutkan perjalanan.
Mengapa Waktu Tunggu Bisa Mencapai Dua Hari?
Arif, sopir truk material, mengaku pernah masuk antrean sejak pukul 18.00 Wita dan baru memperoleh Solar pada sore hari berikutnya.
"Kalau antre sampai satu malam biasa. Pernah mulai jam 6 sore, dapatnya baru sore besoknya. Kadang sampai dua hari," tuturnya.
Bagi pengemudi kendaraan angkutan, waktu tunggu tersebut memiliki dampak langsung terhadap operasional. Truk yang seharusnya digunakan mengangkut material justru berhenti dalam waktu panjang di sekitar SPBU.
Arif berharap pasokan Solar ke SPBU dapat lebih lancar. Ia menyebut keterlambatan pasokan dapat membuat proses pengisian berhenti selama beberapa jam.
"Kalau bisa solarnya jangan telat datang. Soalnya kalau telat, antreannya makin panjang. Ditambah lagi masih banyak pengetap," katanya.
Baca Juga: 34 Koperasi Merah Putih Balikpapan Cetak Omzet Rp1,6 Miliar, Disiapkan Pasok MBG
Kuota Solar SPBU KM 15 Sudah Dinaikkan
Pengawas SPBU KM 15 Karang Joang, Ali, mengatakan penyaluran BBM subsidi di lokasi tersebut telah dilakukan sesuai prosedur.
Menurut Ali, kuota Solar di SPBU tersebut sebelumnya berada di angka 24 kiloliter (KL) per hari. Setelah adanya protes mengenai antrean, kuota dinaikkan menjadi 40 hingga 48 KL per hari secara bergantian dengan SPBU KM 13.
Penambahan kuota tersebut memang sebelumnya juga diberitakan pada Mei 2026. Saat itu, pasokan Biosolar di SPBU KM 15 disebut naik dari sekitar 24 ton menjadi 40-48 ton per hari, tetapi antrean kendaraan masih ditemukan.
Artinya, penambahan pasokan belum otomatis menyelesaikan persoalan ketika kebutuhan kendaraan yang datang untuk mengisi juga tinggi.
Jumlah SPBU Penyalur Jadi Persoalan
Ali menilai keterbatasan titik penyalur menjadi salah satu faktor yang membuat antrean terkonsentrasi.
Untuk wilayah Balikpapan Utara, SPBU KM 15 menjadi titik penyaluran Solar subsidi. Sementara di wilayah barat, layanan tersebut berada di SPBU KM 13.
"Harapannya SPBU lain juga bisa ikut menjual solar supaya antrean tidak menumpuk di sini," ujarnya.
Persoalan jumlah titik penyalur sebenarnya bukan isu baru di Balikpapan. Pada 2022, Pertamina juga pernah menambah titik penjualan Solar subsidi melalui SPBU KM 13 untuk membantu mengurai antrean di KM 15.
Dengan kebutuhan kendaraan angkutan yang tinggi, distribusi pada lebih banyak titik berpotensi mengurangi konsentrasi antrean di satu lokasi.
Baca Juga: Angin Kencang di Kaltim Hambat Hujan, BMKG Ingatkan Risiko Karhutla dan Gelombang Laut
Kenaikan Harga BBM Nonsubsidi Ikut Memengaruhi Permintaan
Ali juga menyoroti perubahan pola konsumsi kendaraan operasional perusahaan.
Menurutnya, kenaikan harga Dexlite dan Pertamina Dex membuat sebagian kendaraan operasional perusahaan mengurus barcode agar dapat menggunakan Solar subsidi.
Kondisi ini kemudian menambah jumlah kendaraan yang datang ke SPBU penyalur Biosolar.
Di sisi lain, penurunan harga Pertamax yang terjadi sebelumnya disebut belum memberikan pengaruh terhadap pola konsumsi masyarakat.
Faktor permintaan menjadi penting karena tambahan kuota SPBU harus berhadapan dengan jumlah kendaraan yang juga terus membutuhkan BBM.
Pengetap Masih Menjadi Sorotan
Selain keterbatasan titik penyalur, praktik penyalahgunaan BBM subsidi oleh pengetap juga masih ditemukan.
Ali mengatakan sistem barcode sebenarnya dapat membantu mendeteksi kendaraan yang mencoba melakukan pengisian berulang. Transaksi yang dinilai tidak sesuai dapat dicegah melalui sistem tersebut.
Persoalan pengetapan juga menjadi perhatian Pemerintah Kota Balikpapan. Pada Mei 2026, Pemkot membentuk tim investigasi untuk menelusuri dugaan penyalahgunaan Solar subsidi yang dinilai menjadi salah satu pemicu antrean panjang.
Dengan demikian, penyelesaian antrean membutuhkan dua pendekatan sekaligus: memperkuat pasokan dan memperketat pengawasan distribusi.
Baca Juga: KONI Balikpapan Tolak Penghapusan Cabor di Porprov VIII 2026, Usulkan Nomor Pertandingan Dikurangi
Tips bagi Sopir Saat Menghadapi Antrean Solar
Bagi sopir truk, antrean panjang membuat perencanaan perjalanan menjadi lebih sulit. Beberapa hal yang dapat dilakukan berdasarkan kondisi lapangan antara lain:
- Memastikan dokumen dan barcode kendaraan siap sebelum masuk antrean.
- Menghitung kebutuhan BBM berdasarkan jarak perjalanan.
- Memantau informasi pasokan sebelum menentukan waktu pengisian.
- Menghindari pengisian berulang yang dapat melanggar ketentuan distribusi subsidi.
- Menyediakan waktu perjalanan tambahan ketika harus melewati titik penyalur dengan antrean panjang.
Langkah tersebut memang tidak menyelesaikan persoalan distribusi, tetapi dapat membantu mengurangi risiko perjalanan terganggu akibat waktu tunggu yang sulit diprediksi.
Poin Penting
- Sopir truk di SPBU KM 15 mengaku harus mengantre hingga tujuh sampai delapan jam.
- Dalam kondisi tertentu, waktu tunggu pengisian Solar subsidi dapat mencapai dua hari.
- Kuota SPBU KM 15 telah dinaikkan dari 24 KL menjadi 40-48 KL per hari secara bergantian.
- Keterbatasan SPBU penyalur membuat antrean terkonsentrasi di titik tertentu.
- Pengetap dan dugaan penyalahgunaan BBM subsidi masih menjadi perhatian.
- Penambahan titik penyalur dinilai dapat membantu mengurangi penumpukan antrean.
Insight Redaksi
Antrean Panjang Menunjukkan Masalah Distribusi Belum Tuntas
Penambahan kuota ternyata belum otomatis membuat antrean hilang. Ketika titik penyalur terbatas dan permintaan meningkat, masalahnya bergeser dari jumlah Solar menuju akses distribusi. Pemkot dan Pertamina perlu melihat pola antrean secara berkala, bukan hanya menambah pasokan. Kalau bubuhan sopir masih bermalam, berarti ada yang perlu dibenahi lagi.
Penambahan titik penyalur dan pengawasan barcode perlu berjalan bersamaan agar Solar subsidi benar-benar sampai kepada pengguna yang berhak.
Bagikan informasi ini ke bubuhan ikam supaya makin banyak yang memahami persoalan antrean Solar subsidi di Balikpapan.
Jangan sampai antrean Solar menjadi rutinitas perjalanan sopir; terus ikuti perkembangan informasi Balikpapan hanya di Balikpapan TV, teman update setia, bukan sekadar info biasa!
FAQ
1. Di mana antrean Solar subsidi yang dikeluhkan sopir?
Keluhan terjadi di SPBU KM 15 Karang Joang, Balikpapan Utara.
2. Berapa lama sopir harus mengantre?
Sejumlah sopir mengaku menunggu sekitar tujuh hingga delapan jam, bahkan dalam kondisi tertentu sampai dua hari.
3. Berapa kuota Solar subsidi SPBU KM 15?
Kuota disebut meningkat dari 24 KL menjadi sekitar 40-48 KL per hari secara bergantian dengan SPBU KM 13.
4. Mengapa antrean masih terjadi meski kuota sudah bertambah?
Salah satu faktornya adalah jumlah SPBU penyalur Solar subsidi yang terbatas dibandingkan kebutuhan kendaraan.
5. Apa yang dilakukan untuk mencegah penyalahgunaan Solar subsidi?
Sistem barcode digunakan untuk mendeteksi pengisian berulang dan mencegah transaksi yang tidak sesuai.
Sumber Informasi: Media Kaltim Post, dengan judul "Sopir Truk di Balikpapan Harus Antre Solar Subsidi hingga Dua Hari", oleh Muhammad Taufik. Di-update kembali dengan angle dan style Balikpapantv.id.
Editor : Arya Kusuma