Driver Ojol Balikpapan Kehilangan Waktu Cari Order karena Antrean Pertalite

AdminBTV • Dipublikasikan Senin, 20 Juli 2026 | 10:41 WIB
Antrean kendaraan di SPBU Balikpapan membuat pengemudi ojol harus mematikan aplikasi sementara.
Antrean kendaraan di SPBU Balikpapan membuat pengemudi ojol harus mematikan aplikasi sementara.

Durasi: 4 menit

Topik: Antrean Pertalite mengurangi waktu kerja dan pendapatan harian pengemudi ojol

Ikhtisar: Antrean Pertalite di Balikpapan memaksa pengemudi ojol mematikan aplikasi, kehilangan peluang order, dan menghadapi pendapatan harian yang menurun.

 

Balikpapan TV - Hai Ces! Antrean Pertalite di SPBU Kilometer 4 Balikpapan membuat pengemudi ojek online kehilangan waktu produktif hingga satu jam, sekaligus mengurangi kesempatan mendapatkan order harian.

Waktu yang semestinya dipakai mencari penumpang kini habis di jalur antrean. Simak ceritanya sampai selesai, nah Ces!

Baca Juga: Perjalanan ke Luar Negeri dari Kaltim Turun 40,58 Persen, Ini Gambaran Lengkap Data BPS Mei 2026

Kenapa antrean Pertalite paling terasa bagi driver ojol?

Bagi pengemudi ojek online, waktu adalah bagian langsung dari pendapatan. Setiap menit di jalan biasanya digunakan untuk menunggu atau menerima pesanan.

Namun, antrean Pertalite membuat waktu kerja terpotong. Wawan, pengemudi Maxim, menyebut waktu tunggu normal di SPBU Kilometer 4 mencapai 40 hingga 45 menit.

Saat kendaraan mengular sampai luar area SPBU, durasinya dapat mencapai satu jam.

“Kalau sudah sampai luar, bisa satu jam. Di sini penuh terus, pagi sampai sore tetap ramai,” ujar Wawan saat ditemui Minggu (19/7).

Apa yang terjadi pada aplikasi ojol selama pengemudi mengantre?

Aplikasi terpaksa dimatikan agar pengemudi tidak menerima pesanan saat masih berada dalam antrean BBM.

Keputusan itu berkaitan langsung dengan pelayanan kepada pelanggan. Jika order masuk ketika kendaraan belum selesai mengisi bahan bakar, pengemudi berisiko membatalkan pesanan.

“Mau enggak mau aplikasinya dimatikan. Nanti kalau sudah dekat pengisian baru dihidupkan lagi. Kalau dapat penumpang saat masih antre, kasihan orang menunggu, pasti dibatalkan,” ungkapnya.

Artinya, antrean bukan hanya menghabiskan waktu. Ada peluang pendapatan yang ikut hilang.

Baca Juga: BPHTB Baru Terealisasi 40 Persen, DPRD Balikpapan Soroti Potensi PAD dari Ribuan Apartemen

Mengapa Wawan kembali menggunakan Pertalite?

Wawan sebelumnya memilih Pertamax karena proses pengisian lebih cepat dan tidak menghadapi antrean panjang seperti Pertalite.

Namun, kenaikan harga Pertamax dari kisaran Rp12 ribuan menjadi sekitar Rp16 ribu per liter membuatnya beralih menggunakan BBM bersubsidi.

Menurutnya, perpindahan konsumen dari BBM nonsubsidi ikut membuat antrean Pertalite semakin panjang.

“Sebelumnya saya pakai pertamax. Setelah naik, ya pindah ke pertalite. Akhirnya antreannya jadi lebih panjang lagi,” katanya.

Bagi pengemudi yang bekerja menggunakan sepeda motor sepanjang hari, selisih biaya bahan bakar menjadi pertimbangan penting.

Bagaimana antrean BBM memengaruhi pendapatan driver ojol?

Wawan menyebut pendapatan bersih hariannya kini berada di kisaran Rp150 ribu, meski bekerja seharian penuh.

Sebelumnya, pendapatan bersih dapat mencapai Rp200 ribu hingga Rp250 ribu per hari. Persaingan antar-driver juga ikut membuat order terbagi.

“Dulu bisa Rp 200 ribu sampai Rp 250 ribu sehari. Sekarang sekitar Rp 150 ribu bersih kalau benar-benar kerja penuh. Driver makin banyak, jadi order terbagi-bagi,” ujarnya.

Dalam kondisi seperti ini, pengemudi harus memilih lokasi mangkal yang dinilai memiliki peluang permintaan lebih tinggi.

Apakah ada pilihan lain ketika driver tidak sempat mengantre?

Sebagian pengemudi memilih membeli Pertalite secara eceran ketika tidak memiliki waktu untuk menunggu di SPBU.

Namun, harga eceran yang disebut Wawan mencapai Rp22 ribu per botol. Sementara harga Rp20 ribu lebih cepat habis karena banyak dicari pengendara.

Situasi ini menunjukkan dilema yang dihadapi pengemudi: menghabiskan waktu di antrean atau membayar BBM eceran dengan harga lebih tinggi.

Wawan berharap ada perhatian khusus bagi pengemudi ojol yang setiap hari mengandalkan kendaraan untuk mencari nafkah.

Ia mengusulkan adanya cadangan Pertalite minimal dua liter bagi pengemudi ojol agar tidak harus mengantre setiap hari.

Baca Juga: Realisasi Pajak Baru Rp464 Miliar, Pemerintah Kota Balikpapan Siapkan Jurus Kejar Target PAD

Poin Penting:

Insight Redaksi: Bagi pengemudi ojol di Balikpapan, antrean BBM bukan sekadar persoalan waktu tunggu. Setiap 40 menit hingga satu jam berarti ada kesempatan order yang hilang. Di sisi lain, pilihan membeli BBM eceran menambah beban biaya. Masalahnya berada di titik yang sama: pengemudi membutuhkan kendaraan untuk bekerja, tetapi waktu dan biaya bahan bakar sama-sama menekan pendapatan. Ini bukan perkara kecil, nah.

Rekomendasi paling realistis bagi pengemudi adalah menghitung waktu antrean, biaya BBM, dan potensi order secara cermat sebelum memilih lokasi pengisian. Bagikan info ini ke kawalan ikam supaya makin banyak yang paham kondisi driver ojol di Balikpapan, Ces!

Bubuhan ikam, kalau antrean BBM ikut memakan waktu mencari rezeki, cerita seperti ini penting untuk dipahami bersama. Update info hanya di Balikpapan TV teman update setia, bukan sekadar info biasa!

FAQ

1. Berapa lama antrean Pertalite di SPBU Kilometer 4 Balikpapan?
Waktu tunggu normal sekitar 40 hingga 45 menit dan dapat mencapai satu jam ketika antrean keluar area SPBU.

2. Mengapa driver ojol mematikan aplikasi saat mengantre?
Agar tidak menerima pesanan yang sulit dipenuhi tepat waktu ketika masih berada dalam antrean BBM.

3. Berapa pendapatan bersih harian Wawan saat ini?
Sekitar Rp150 ribu per hari ketika bekerja penuh.

4. Apa usulan Wawan untuk membantu driver ojol?
Penyediaan cadangan Pertalite minimal dua liter agar pengemudi tidak perlu mengantre setiap hari.

5. Mengapa sebagian pengemudi membeli Pertalite eceran?
Karena tidak memiliki cukup waktu untuk menunggu antrean di SPBU.

Sumber Informasi: Artikel ini sudah tayang sebelumnya di Media Kaltim Post, dengan judul “Antrean Pertalite di Balikpapan Bebani Driver Ojol, Pendapatan Turun karena Terpaksa Matikan Aplikasi”, oleh penulis penulis Muhammad Taufik. Di-update kembali dengan angle dan style Balikpapantv.id

my ride-or-die for updates
my ride-or-die for updates
Editor : Arya Kusuma
SPBU Kilometer 4 Balikpapan pertalite driver ojol