Ikhtisar: Pelatihan TOT MBG Regional Kalimantan di Balikpapan memperkuat standar gizi dan keamanan pangan SPPG, melibatkan Bappenas, BGN, IPB, dan UNICEF demi kualitas generasi Indonesia hingga 2045.
Balikpapan TV - Hai Cess! Program Makan Bergizi Gratis atau MBG masuk fase penting. Training of Trainers tingkat Regional Kalimantan resmi digelar di Swiss Belhotel Balikpapan sejak 25 hingga 28 Februari 2026. Fokusnya jelas. Standar gizi. Keamanan pangan. Edukasi terstruktur untuk satuan pendidikan dan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi.
Jangan cuma baca separuh jalan. Ikuti sampai tuntas, karena di sini bukan sekadar pelatihan teknis, tapi langkah serius membangun sistem yang rapi, terukur, dan siap jalan lintas provinsi Kalimantan, Cess!
Kenapa TOT MBG Regional Kalimantan Digelar di Balikpapan?
Pelaksanaan TOT ini adalah bagian dari dukungan implementasi Program Strategis Nasional MBG dalam RPJMN 2025–2029. Kegiatan ini dirancang meningkatkan kapasitas fasilitator regional agar mampu melatih tenaga pendidik serta penjamah makanan di SPPG secara sistematis dan berkelanjutan.
Balikpapan dipilih sebagai tuan rumah regional Kalimantan yang mencakup Kalbar, Kaltara, Kalteng, Kaltim, dan Kalsel. Kegiatan ini merupakan hasil kolaborasi antara Bappenas, Badan Gizi Nasional, IPB University, dan UNICEF.
Peserta TOT Regional Kalimantan berjumlah 37 orang dari Dinas Kesehatan Provinsi (10 orang), Pusat Pengendalian Lingkungan Hidup Kalimantan (1 orang), Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) (5 orang), Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi (Kanwil Kemenag Provinsi) (5 orang), Dinas Pendidikan Provinsi (5 orang), BPMP (5 orang), Kepala Regional Badan Gizi Nasional (5 orang), dan DPD Persatuan Ahli Gizi Indonesia (PERSAGI) Kalimantan Timur (1 orang)
Rista dari Centre of Excellence IPB menjelaskan, “Acara ini sudah diselenggarakan di enam dari tujuh regional yang direncanakan.” Regional Kalimantan menjadi titik keenam, sementara Medan akan menjadi regional ketujuh untuk wilayah Sumatra seperti Jambi, Riau, dan Aceh, Sumatera Barat, Sumatera Utara, Sumatera selatan
Baca Juga: Polda Kaltim Pastikan Kamtibmas Ramadan 1447 H Berlangsung Aman dan Kondusif
Apa Peran Centre of Excellence dan Kolaborasi Lintas Lembaga?
Centre of Excellence pemenuhan pangan dan gizi (CoE-PPG) merupakan sebuah platform kolaborasi antara Bappenas, BGN. IPB University, dan UNICEF.
Model kerja ini menegaskan bahwa MBG kada berdiri sendiri. Ada sistem koordinasi nasional yang memastikan modul pelatihan resmi menjadi panduan teknis seragam di seluruh Indonesia. Modul ini menjadi pegangan fasilitator dalam menyampaikan standar gizi dan keamanan pangan.
Deputi Penyediaan dan Penyaluran BGN, Brigjen TNI (Purn) Suardi Samiran, S.Sos., M.M dalam sambutannya menegaskan pelatihan ini bertujuan agar transfer pengetahuan tidak berhenti di ruang hotel. Ilmu harus turun ke sekolah, dapur, hingga level operasional lapangan.
"Kegiatan ini diselenggarakan untuk meningkatkan kapasitas fasilitator regional agar mampu memberikan pelatihan kepada tenaga pendidik di satuan pendidikan maupun penjamah makanan di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi secara efektif, sistematis, dan berkelanjutan. Kalimantan sebagai wilayah strategis dan penyangga Ibu Kota Nusantara memiliki tantangan dan peluang tersendiri. Melalui pelatihan regional ini, kita berharap terwujud harmonisasi pemahaman dan standar di seluruh provinsi di Kalimantan, sehingga implementasi program dapat berjalan efektif, terukur, dan akuntabel".
Apa Arahan Gubernur Kaltim untuk Standar Gizi dan Keamanan Pangan?
Dalam sambutan yang dibacakan Kepala Dinas Kesehatan KALTIM, Dr. dr. H. Jaya Mualimin, Sp.KJ, M.Kes, MARS, Gubernur Kalimantan Timur menekankan bahwa kegiatan ini bukan sekadar pelatihan teknis. Ini bagian integral komitmen memperkuat standar gizi dan keamanan pangan siap saji bagi penjamah pangan di SPPG.
Program MBG disebut sebagai investasi jangka panjang. Ketika bicara makanan bergizi gratis di sekolah, itu berarti investasi kesehatan, kecerdasan, dan produktivitas generasi masa depan. Namun, makanan bergizi tanpa higienitas ketat berisiko. Sebaliknya, aman tapi kurang gizi juga kada optimal dalam mendukung tumbuh kembang anak.
Kalimantan memiliki tantangan geografis yang tidak ringan. Distribusi pangan, ketersediaan sumber protein lokal, hingga pengawasan mutu di wilayah terpencil memerlukan koordinasi lintas sektor yang kuat. Oleh karena itu, pelatihan ini harus melahirkan pelatih yang tidak hanya memahami teori, tetapi juga mampu mengadaptasi standar ke dalam konteks lokal.
Program Makan Bergizi Gratis di satuan pendidikan tidak boleh berhenti pada distribusi makanan semata. Edukasi gizi harus menjadi bagian integral. Anak-anak perlu memahami pentingnya pola makan seimbang, kebersihan, serta kebiasaan hidup sehat.
Dengan demikian, manfaat program ini tidak hanya bersifat konsumtif, tetapi juga membangun literasi gizi sejak dini.
Peserta ToT disebut sebagai multiplier effect. Mereka akan menyransfer pengetahuan dari 3 modul pendukung program MBG:
- Modul standar gizi dan keamanan pangan siap saji bagi penjamah pangan di SPPG
- Modul implementasi Program mbg di satuan pendidikan
- Modul edukasi gizi disatuan pendidikan
Nah, ikam pasti pahamlah, standar seragam itu kunci supaya Kalimantan kada jalan sendiri-sendiri.
Bagaimana Prioritas Keamanan dan Keberlanjutan Versi Dinkes Kaltim?
Kepala Dinas Kesehatan Kaltim, dr. H. Jaya Mualimin, Sp.KJ, M.Kes, MARS menegaskan ada tiga fokus utama. Keamanan pangan. Kecukupan gizi. Keberlanjutan program minimal hingga 2030 dan diharapkan sampai Indonesia Emas 2045.
Menurutnya, pelaksanaan MBG harus benar-benar diperhatikan. Aman, isinya tercukupi, dan berkelanjutan. Keamanan menjadi prioritas agar tidak menimbulkan masalah kesehatan bagi anak-anak.
"Saya menyampaikan terima kasih kepada Badan Gizi Nasional, khususnya Center of Excellence yang telah mendukung kegiatan TOT ini. Kalimantan Timur sebagai lokasi Ibu Kota Nusantara (IKN) selayaknya memulai dan menjadi contoh dalam pelaksanaan program ini."
Terkait pasokan pangan di Kaltim, ia menyebut sejauh ini tidak ada kendala berarti. Pasokan pangan tersedia dukungan lintas sektor menjadi fondasi keberlanjutan MBG. Jelasnya lebih lanjut.
Apa Pesan UNICEF untuk Para Fasilitator MBG?
Chief of Nutrition UNICEF Indonesia, Mamadou Ndiaye, Ph.D, menyebut program ini sebagai momentum transformatif. “Program ini adalah momentum transformatif bagi anak-anak dan perempuan Indonesia.”
Ia menegaskan bahwa program kuat bergantung pada sumber daya manusia yang kuat. Para peserta TOT disebut sebagai pengganda dampak. Pengetahuan yang diperoleh akan dibawa ke desa, sekolah, dan komunitas.
UNICEF menekankan bahwa MBG bukan hanya soal kenyang. Program ini bertujuan meningkatkan konsentrasi dan performa akademik, mencegah malnutrisi, memperkuat keamanan pangan, serta mempromosikan kebiasaan makan sehat sepanjang hayat.
Yang paling ditekankan adalah keadilan. Setiap anak, tanpa memandang lokasi dan latar belakang, berhak mendapatkan kesempatan yang sama untuk tumbuh dan belajar.
Insight: TOT ini menunjukkan bahwa MBG kada cukup dengan distribusi makanan saja. Sistem, standar, dan SDM menjadi tulang punggung. Kalimantan sebagai wilayah strategis penyangga IKN punya peran simbolik dan praktis. Kalau standar seragam berhasil diterapkan lintas provinsi, dampaknya bisa panjang sampai 2045. Tapi konsistensi pengawasan dan adaptasi lokal harus jalan seimbang. Kada bisa hanya seremonial pang. Pahamlah ikam, generasi emas itu dibangun dari dapur sekolah hari ini.
Bagikan artikel ini ke bubuhan ikam supaya makin banyak yang paham arah MBG di Kalimantan. Nah itu sudah, jangan disimpan sorangan Cess!
Simak terus informasi menarik lainnya hanya di Balikpapan Tv teman update setia, 'Bukan Sekadar Info Biasa!'
FAQ
1. Apa tujuan utama TOT MBG Regional Kalimantan di Balikpapan?
Untuk meningkatkan kapasitas fasilitator regional agar mampu melatih tenaga pendidik dan penjamah pangan sesuai standar gizi dan keamanan pangan MBG.
2. Siapa saja yang terlibat dalam penyelenggaraan TOT ini?
Bappenas, Badan Gizi Nasional, IPB sebagai Centre of Excellence, UNICEF sebagai mitra pendanaan serta Kementerian pendidikan dasar dan menengah, BPOM, Kementerian agama, Kementerian lingkungan hidup, dan persagi.
3. Apa fokus utama yang ditekankan dalam pelatihan ini?
Modul standar gizi dan keamanan pangan siap saji bagi penjamah pangan di SPPG, Modul implementasi Program mbg di satuan pendidikan, Modul edukasi gizi disatuan pendidikan
DISCLAIMER
Artikel ini menggunakan bantuan AI secara terbatas untuk menghasilkan tulisan bebas typo dan kalimat tidak efektif. Artikel ini telah melalui verifikasi dan validasi ketat oleh Manusia (Redaksi). Gambar dapat saja dihasilkan AI di artikel ini hanya sebagai ilustrasi pendukung yang membantu pembaca memahami konteks informasi bukan sebagai bukti realistis. Teknologi AI digunakan semata-mata sebagai alat bantu produktivitas dan efisiensi kerja redaksi — bukan sebagai pengganti peran jurnalis manusia.