Balikpapan TV - Hai Cess! Kota Balikpapan kembali jadi sorotan nasional. Kali ini soal wajah kota. Sentilan Presiden Prabowo Subianto tentang baliho yang merusak pemandangan langsung mendapat respons dari daerah. Wakil Ketua DPRD Balikpapan Budiono angkat suara, menawarkan jalan tengah yang dinilai lebih relevan dengan zaman.
Isunya sederhana tapi berdampak luas. Bagaimana menata reklame supaya kota tetap bersih dan sedap dipandang, tanpa mematikan roda ekonomi dan pemasukan daerah. Dari sinilah wacana peralihan baliho konvensional ke videotron mulai mengemuka, Cess.
Lanjut baca sampai tuntas. Soalnya pembahasan ini bukan cuma soal papan iklan, tapi menyentuh wajah Kota Beriman, investasi, dan PAD yang ikut menopang pembangunan, pahamlah ikam. Baca Juga: Kisah Miris Pekerja Proyek RDMP! Gaji Pekerja Masih Tertunda 2 Bulan di Proyek Energi Raksasa 123 Triliun Rupiah di Balikpapan
Kenapa baliho jadi sorotan Presiden Prabowo?
Presiden Prabowo Subianto secara tegas meminta pemerintah daerah menertibkan baliho dan spanduk yang mengganggu keindahan kota. Pernyataan itu disampaikan dalam Rakornas Pemerintah Pusat dan Daerah 2026 di SICC Sentul. Arahnya jelas, kota harus bersih, rapi, dan mendukung visi Indonesia Asri.
Balikpapan ikut disebut sebagai contoh kota yang perlu melakukan pembenahan. Bukan tanpa alasan. Keberadaan baliho yang semrawut dinilai merusak estetika dan kebersihan lingkungan perkotaan.
Pesan Presiden ini bukan larangan iklan, melainkan penataan. Pemerintah daerah diminta lebih tegas mengatur reklame agar selaras dengan tata kota dan kenyamanan publik, nah’ itu sudah.
Apa respons DPRD Balikpapan soal penataan reklame?
Wakil Ketua DPRD Balikpapan Budiono menilai keberadaan iklan sejatinya sudah diatur oleh pemerintah kota. Regulasi itu juga menjadi bagian penting dalam meningkatkan Pendapatan Asli Daerah.
Budiono memahami kebutuhan pelaku usaha untuk mempromosikan produk. Baliho, spanduk, dan media sejenis masih berperan dalam mendukung denyut ekonomi kota.
“Namun yang harus kita kaji ulang sekarang adalah penempatannya,” tuturnya. Fokusnya bukan pada pelarangan, melainkan pengaturan agar reklame tidak merusak estetika kota dan tetap tertib secara visual.
Mengapa videotron dianggap solusi yang lebih relevan?
Budiono mendorong agar baliho perlahan beralih ke videotron. Media ini dinilai lebih modern, fleksibel, dan nyaman dipandang mata. Dari sisi estetika, videotron dianggap mampu mempercantik wajah kota.
Selain tampilan yang dinamis, videotron juga berpotensi menjaga pemasukan PAD. Artinya, keindahan kota tetap terjaga tanpa mengorbankan kepentingan ekonomi daerah.
Tips singkat penataan reklame agar tetap selaras kota:
1. Penempatan menyesuaikan karakter lokasi.
2. Ukuran proporsional dengan ruang terbuka.
3. Visual mendukung keindahan lingkungan.
Pendekatan ini dinilai lebih adaptif dengan perkembangan kota modern, ya’kalo, pahamlah ikam.
Apa kendala utama migrasi baliho ke videotron?
Masalah muncul di ranah perizinan. Budiono menyinggung sulitnya pengurusan Persetujuan Bangunan Gedung atau PBG yang kini harus melalui pemerintah pusat. Proses ini kerap menyurutkan minat investor.
“Jadi pusat juga jangan terlalu mempersulit daerah dalam orang berusaha,” tegasnya. Menurut Budiono, sentralisasi kewenangan perizinan berisiko menekan iklim usaha di daerah.
Ia mengaku sering menerima aduan pelaku usaha yang kesulitan mengurus PBG. Dampaknya jelas. Minat berusaha menurun dan berpengaruh langsung pada PAD. Padahal pembangunan videotron permanen wajib memiliki PBG sesuai aturan.
Bagaimana soal ukuran baliho dan kaitannya dengan pajak?
Soal ukuran reklame, Budiono menilai perlu penyesuaian dengan lokasi. Tidak semua ruang membutuhkan ukuran yang sama. Reklame di ruang terbuka bisa saja berukuran 5 x 10 meter dan itu dinilai wajar.
Sebaliknya, ukuran kecil di area luas justru kurang efektif secara visual. “Kalau ruangan terbuka, tapi ukurannya cuma 2 x 3 meter juga terlalu kecil,” pungkasnya.
Ukuran reklame juga berkaitan langsung dengan perhitungan pajak daerah. Selama mengikuti arahan presiden dan menjaga estetika, Budiono menilai tidak ada masalah berarti.
Insight: Penataan reklame di Balikpapan menunjukkan upaya mencari titik temu antara estetika kota dan keberlanjutan ekonomi. Wacana migrasi ke videotron membuka peluang kota tampil lebih modern, tetap ramah investasi, dan menjaga PAD. Tantangannya ada pada sinkronisasi kebijakan pusat dan daerah agar iklim usaha tetap hidup tanpa mengorbankan wajah Kota Beriman.
Bagikan artikel ini ke bubuhan ikam supaya makin banyak yang paham soal wajah kota dan kebijakan reklame, Cess!
Simak terus informasi menarik lainnya hanya di Balikpapan Tv teman update setia, "Bukan Sekadar Info Biasa!"
FAQ
1. Apa tujuan penertiban baliho di Balikpapan?
Menjaga estetika, kebersihan kota, dan mendukung visi Indonesia Asri.
2. Kenapa videotron dianggap lebih baik dari baliho?
Karena lebih modern, estetik, dan tetap berpotensi menjaga PAD.
3. Apa hambatan utama pemasangan videotron?
Sulitnya pengurusan PBG yang kini terpusat di pemerintah pusat.
DISCLAIMER
Artikel ini menggunakan bantuan AI secara terbatas untuk menghasilkan tulisan bebas typo dan kalimat tidak efektif. Artikel ini telah melalui verifikasi dan validasi ketat oleh Manusia (Redaksi). Gambar dapat saja dihasilkan AI di artikel ini hanya sebagai ilustrasi pendukung yang membantu pembaca memahami konteks informasi bukan sebagai bukti realistis. Teknologi AI digunakan semata-mata sebagai alat bantu produktivitas dan efisiensi kerja redaksi — bukan sebagai pengganti peran jurnalis manusia.