Balikpapan TV - Hai Cess! Minggu pagi di De Boekit River Side Manggar terasa hidup. Air sungai yang tenang, mangrove hijau yang rimbun, serta deretan papan dayung dan perahu naga menciptakan suasana berbeda di pesisir Balikpapan. Festival Dayung Manggar 2025 resmi digelar, menjadi etalase nyata bagaimana olahraga air, wisata, dan lingkungan bisa berjalan seiring, rapi, dan tetap membumi.
Sejak pukul 07.00 Wita, kawasan Manggar sudah dipadati peserta, penonton, hingga bubuhan yang datang sekadar ingin melihat-lihat. Nah, jangan geser dulu Cess!, karena cerita Festival Dayung Manggar 2025 ini bukan cuma soal lomba di atas air, tapi juga soal ekonomi warga, edukasi lingkungan, dan wajah baru sport tourism Balikpapan yang makin percaya diri.
Apa yang Membuat Festival Dayung Manggar 2025 Berbeda?
Festival Dayung Manggar 2025 dirancang sebagai ruang temu antara olahraga, hiburan, dan promosi wisata pesisir. Panitia menghadirkan Stand Up Paddling Race Adventure, SUP Race Challenge, lomba perahu naga, hingga parade SUP pesisir. Semua digelar di satu kawasan yang alami, terbuka, dan ramah pengunjung. Kalimat utamanya jelas: ini bukan event tertutup, siapa saja bisa menikmati suasananya.
Yang menarik, pengunjung umum juga diberi kesempatan ikut SUP try out. Jadi, ikam yang belum pernah naik papan dayung tetap bisa merasakan sensasi meluncur di sungai Manggar. Konsep ini membuat festival terasa inklusif, bukan hanya untuk atlet, tetapi juga keluarga dan wisatawan lokal. Nah’ itu sudah, olahraga terasa dekat dan ndak ribet.
Kepala Disparpora Balikpapan, Ratih Kusuma, menyebut festival ini sebagai bagian dari promosi sport tourism pesisir. Ia menilai kondisi geografis Balikpapan sangat mendukung olahraga air. “Melalui Festival Dayung Manggar, kami ingin menunjukkan potensi besar wisata olahraga air Balikpapan,” ujar Ratih. Pernyataan ini menjadi fondasi kuat bahwa event ini memang dirancang untuk jangka panjang, pahamlah ikam.
Bagaimana Dampak Festival Ini bagi Ekonomi Warga Pesisir?
Festival Dayung Manggar 2025 tidak berhenti pada kemeriahan lomba. Dampak ekonomi langsung menjadi perhatian utama. Ratih menegaskan bahwa setiap event olahraga harus memberi manfaat nyata bagi masyarakat sekitar, terutama pelaku UMKM dan warga pesisir yang sehari-hari menggantungkan hidup di kawasan ini.
Kehadiran wisatawan, baik lokal maupun dari luar daerah, membuka peluang usaha kecil. Mulai dari kuliner, jasa parkir, hingga penyewaan perlengkapan, semua bergerak. Sport tourism, menurut Ratih, bukan hanya soal kompetisi, tetapi juga penggerak ekonomi lokal dan sarana promosi kota. Kalimatnya lugas dan ndak berbelit, cocok dengan karakter Balikpapan.
Kolaborasi juga jadi kunci. Ratih menilai kerja sama komunitas olahraga dan pelaku usaha sangat penting agar Festival Dayung Manggar bisa menjadi agenda tahunan. Jika semua saling mendukung, event ini bisa tumbuh konsisten dan memberi dampak berkelanjutan. Ya’ kalo pahamlah ikam, ekonomi bergerak kalau semua dilibatkan.
Mengapa Silvofishery Jadi Sorotan Utama di Festival Ini?
Festival Dayung Manggar 2025 juga membawa pesan lingkungan yang kuat melalui promosi silvofishery. Wakil Ketua Umum Stand Up Paddle Indonesia, Akmal Malik, menilai lokasi De Boekit Riverside Resort sangat pas karena menampilkan perpaduan mangrove dan budidaya ikan yang ramah lingkungan.
Akmal menjelaskan bahwa banyak tambak di Indonesia mengalami kejenuhan tanah akibat penggunaan bahan kimia urea secara terus-menerus. Produktivitas menurun, lingkungan pun tertekan. Karena itu, silvofishery diusulkan sebagai terobosan, memanfaatkan mangrove sebagai media tanam tanpa bahan kimia. Pendekatannya sederhana, tapi dampaknya besar.
“Inisiatif lingkungan ini secara simultan digenjot menjadi destinasi pariwisata hijau yang telah menarik minat studi banding dari provinsi lain seperti NTB, Jawa Timur, dan Yogyakarta,” kata Akmal Malik. Konsep yang sebelumnya digagas Presiden Jokowi di lahan tidur kini dimaksimalkan dengan melibatkan masyarakat dan Dinas Pariwisata. Di sini, olahraga air bertemu edukasi lingkungan, nah’ itu sudah, pas betul.
Bagaimana Festival Ini Mengangkat Balikpapan ke Panggung Dunia?
Agenda Festival Dayung Manggar 2025 menjadi momentum strategis promosi wisata air Kalimantan Timur ke tingkat internasional. Peserta tercatat 102 orang dari empat negara: Indonesia, Malaysia, Taiwan, dan China. Angka ini menunjukkan daya tarik Manggar sebagai destinasi olahraga air dan ekowisata.
Wali Kota Balikpapan Rahmad Mas’ud mengapresiasi kehadiran destinasi baru ini. Menurutnya, kawasan ini memberi opsi berlibur sekaligus sarana edukasi memancing dan mendayung bagi warga kota. “Kami berharap pertumbuhan destinasi berbasis partisipasi pengusaha dan masyarakat ini dapat mewujudkan visi kota wisata serta berkontribusi nyata pada Pendapatan Asli Daerah,” katanya.
Pemerintah Kota Balikpapan juga berkomitmen mendukung aspek perizinan agar wisata edukatif seperti ini terus berkembang. Pengelola bahkan menyiapkan program edukasi menanam mangrove di Sungai Manggar, melibatkan pelajar hingga wisatawan mancanegara. Balikpapan bukan cuma jadi tempat lomba, tapi juga ruang belajar dan berbagi, pahamlah.
Festival Dayung Manggar 2025 menghadirkan olahraga air, promosi wisata pesisir, penguatan ekonomi lokal, dan kampanye lingkungan melalui silvofishery. Event ini mempertemukan masyarakat, atlet, pemerintah, dan komunitas dalam satu ruang yang hidup dan edukatif.
Bagikan artikel ini ke bubuhan ikam supaya makin banyak yang paham potensi wisata air Balikpapan Cess!.
Simak terus informasi menarik lainnya hanya di Balikpapan Tv teman update setia, 'Bukan Sekadar Info Biasa!' (Rafi)
FAQ
-
Di mana lokasi Festival Dayung Manggar 2025 digelar?
Di De Boekit River Side Manggar, Balikpapan. -
Olahraga apa saja yang ditampilkan dalam festival ini?
Stand Up Paddling, perahu naga, parade SUP pesisir, dan SUP try out. -
Apa tujuan utama Festival Dayung Manggar 2025?
Mempromosikan sport tourism, ekonomi lokal, dan silvofishery ramah lingkungan.
DISCLAIMER
Artikel ini menggunakan bantuan AI secara terbatas untuk menghasilkan tulisan bebas typo dan kalimat tidak efektif, menghindari pengulangan kata dan paralelisme yang tidak tepat. Artikel ini telah melalui verifikasi dan validasi ketat oleh Manusia (Redaksi). Teknologi AI digunakan semata-mata sebagai alat bantu produktivitas dan efisiensi kerja redaksi — bukan sebagai pengganti peran jurnalis manusia.