Balikpapan TV - Hai Cess! Bidang Rehabilitasi dan Rekonstruksi BPBD Balikpapan merupakan ujung tombak dalam proses pemulihan pasca bencana.
Setelah bencana terjadi, tahapan pemulihan, rehabilitasi, hingga rekonstruksi menjadi langkah penting untuk mengembalikan kondisi masyarakat dan lingkungan ke keadaan stabil. Proses ini mencakup perbaikan fisik sekaligus pemulihan mental sosial warga terdampak.
Yuk lanjut baca, biar kita makin paham bagaimana proses pemulihan ini bergerak dan siapa saja yang terlibat di dalamnya.
Apa Fokus Utama Pemulihan Pasca Bencana di Balikpapan?
Kepala Bidang Rehabilitasi dan Rekonstruksi BPBD Kota Balikpapan, Arsulul Chairi, menjelaskan bahwa bidang yang dipimpinnya berfokus pada proses pemulihan pasca bencana, baik dari sisi fisik maupun nonfisik.
“Kami melakukan pemulihan dan perbaikan setelah bencana terjadi. Rehabilitasi dan rekonstruksi ini tidak hanya pada aspek fisik, tetapi juga terhadap kondisi kesehatan dan psikologis masyarakat. Kami memperbaiki sarana prasarana yang rusak, seperti rumah, jalan, dan siring, sekaligus membantu warga pulih secara mental dan sosial,” ujarnya, Rabu (5 November 2025).
Baca Juga: BPBD Balikpapan Ingatkan Warga Waspadai Longsor, Banjir, dan Kebakaran di Musim Hujan
Apa Bedanya Rehabilitasi dan Rekonstruksi?
Rehabilitasi dilakukan pada kondisi kerusakan ringan. Fokusnya memperbaiki bagian yang rusak agar kembali berfungsi, tanpa harus mengganti seluruh struktur bangunan atau fasilitas. Sedangkan rekonstruksi diterapkan jika kerusakan tergolong berat.
“Kalau kerusakannya ringan, kami lakukan rehabilitasi, misalnya memperbaiki sebagian fasilitas yang rusak. Tapi jika kerusakannya berat, maka dilakukan rekonstruksi, yaitu perbaikan menyeluruh atau pembangunan kembali secara total,” jelas Arsulul.
Bagaimana Pemulihan Psikologis Korban Dilakukan?
Aspek mental warga terdampak tidak kalah penting dari fisik. Trauma sering muncul setelah bencana, terutama pada anak-anak. Untuk itu, BPBD berkolaborasi dengan DP3AKB dalam layanan pemulihan psikologis.
“Untuk rehabilitasi personal, kami bekerja sama dengan DP3AKB. Di sana ada psikolog dan psikiater yang memberikan terapi dan healing kepada warga yang mengalami trauma pasca bencana,” tutur Arsulul.
Seperti Apa Proses Pemulihan Darurat Tiga Hari Pertama?
Tiga hari pertama setelah bencana menjadi fase krusial. Pada periode ini, BPBD memastikan kebutuhan dasar terpenuhi, kondisi aman, dan warga berada dalam tempat hunian sementara yang layak.
“Biasanya kami melakukan pemulihan selama tiga hari pertama. Jika dalam waktu itu situasi sudah stabil, maka kami lanjutkan dengan pemberian bantuan sewa rumah bagi warga terdampak selama satu tahun. Namun jika belum pulih sepenuhnya, masa pemulihan bisa diperpanjang hingga tujuh hari,” ungkapnya.
Tak hanya itu, kegiatan rekreasional juga diberikan untuk membantu proses pemulihan emosional.
“Biasanya dalam tiga hari anak-anak sudah mulai pulih. Kami ajak bermain, mendatangkan relawan dan sponsor yang membawa permainan agar mereka bisa kembali ceria dan melupakan kejadian traumatis,” pungkasnya.
Tujuan utama dari seluruh proses ini satu: masyarakat dapat kembali menjalani kehidupan seperti sebelum bencana. Pemulihan fisik dan mental berjalan beriringan, melibatkan banyak pihak dengan semangat kolaborasi.
Yuk, bagikan artikel ini agar makin banyak orang yang paham pentingnya peran BPBD dalam proses pemulihan pasca bencana, Cess!
Simak terus informasi menarik lainnya hanya di Balikpapan Tv teman update setia, 'Bukan Sekadar Info Biasa!'
FAQ
1. Siapa yang bertanggung jawab dalam proses rehabilitasi dan rekonstruksi pasca bencana?
Bidang Rehabilitasi dan Rekonstruksi BPBD bersama kolaborasi lintas sektor di kota.
2. Berapa lama pemulihan pasca bencana berlangsung?
Tiga hari awal untuk pemulihan darurat, bisa diperpanjang sesuai kondisi di lapangan.
3. Apakah dukungan psikologis juga diberikan untuk korban?
Ya, bekerjasama dengan DP3AKB, psikolog, dan relawan trauma healing.
DISCLAIMER
Artikel ini menggunakan bantuan AI secara terbatas untuk menghasilkan tulisan bebas typo dan kalimat tidak efektif, menghindari pengulangan kata dan paralelisme yang tidak tepat berdasarkan PUEBI. Artikel ini telah melalui verifikasi dan validasi ketat oleh Manusia (Redaksi). Teknologi AI digunakan semata-mata sebagai alat bantu produktivitas dan efisiensi kerja redaksi — bukan sebagai pengganti peran jurnalis manusia.