Balikpapan TV - Hai Cess! Memasuki musim hujan tahun ini, kewaspadaan terhadap potensi bencana di Kota Balikpapan kembali menjadi perhatian serius.
BPBD Balikpapan mengingatkan masyarakat agar lebih siaga menghadapi kemungkinan banjir, longsor, hingga kebakaran permukiman yang kerap terjadi di beberapa wilayah.
Balikpapan dengan bentang geografis yang didominasi perbukitan memiliki tantangan tersendiri dalam pengelolaan risiko bencana.
Di satu sisi, alam memberikan pemandangan yang elok dengan wilayah yang dinamis. Namun di sisi lain, curah hujan tinggi dan aktivitas manusia bisa memicu masalah jika tidak diimbangi kesiapsiagaan.
Yuk lanjut baca artikelnya sampai habis, biar kamu makin waspada sama lingkungannya, Cess!
Mengapa Balikpapan Rawan Bencana Musim Hujan?
Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kota Balikpapan, Bambang Subagya, menjelaskan bahwa kondisi geografis Balikpapan menjadi salah satu faktor utama yang memicu terjadinya bencana.
“Topografi kota Balikpapan sekitar 85 persen berupa perbukitan dan hanya 15 persen kawasan datar. Daerah yang berada di dataran cenderung rawan banjir dan genangan, sedangkan wilayah perbukitan berisiko tinggi mengalami longsor,” ujarnya.
Beberapa titik yang perlu diwaspadai untuk potensi longsor antara lain Perapatan, Telagasari, Gunung Sari, Graha Indah, dan Muara Rapak. Sedangkan kawasan rawan banjir berada di sepanjang MT Haryono dan Beller.
Bagaimana Kondisi Kebakaran Permukiman di Musim Penghujan?
Meski musim hujan, kebakaran permukiman justru masih marak terjadi. BPBD mencatat hingga Oktober 2025 sedikitnya lima korban jiwa akibat kebakaran rumah.
“Biasanya disebabkan oleh kelalaian, seperti meninggalkan kompor menyala, pengisian daya ponsel yang tidak dicabut, atau regulator gas yang tidak dilepas,” tambah Bambang.
Musim hujan terkadang membuat masyarakat lengah. Kondisi dingin membuat aktivitas memasak meningkat, pemakaian listrik bertambah, namun kontrol keamanan di rumah sering terabaikan.
Apa Langkah Pencegahan yang Disiapkan BPBD?
Sebagai bentuk pencegahan, BPBD menggagas hadirnya ‘Kader Mitigator’. Konsepnya sederhana namun berdampak luas: satu anggota keluarga menjadi “alarm pengingat” untuk kebiasaan aman.
“Kalau di bidang kesehatan ada kader jumantik, maka di kebencanaan kita ingin punya kader mitigator. Pencegahan harus dimulai dari lingkungan terkecil, yaitu keluarga,” tegas Bambang.
Gerakan ini dirancang agar budaya siaga bencana terbentuk alami, bukan hanya ketika kejadian sudah berlangsung.
Apa yang Bisa Dilakukan Masyarakat Sehari-hari?
Tips singkat yang dapat diterapkan di rumah:
1. Cek instalasi listrik minimal tiga bulan sekali
2. Pastikan selang dan regulator gas dalam kondisi baik
3. Matikan kompor sebelum meninggalkan dapur
4. Bersihkan saluran air agar tidak tersumbat
5. Tanam tanaman penahan tanah di lingkungan rumah
BPBD berharap setiap keluarga memiliki pengetahuan dasar mitigasi agar mampu bertindak cepat saat keadaan darurat.
Dari banjir, longsor, hingga kebakaran, semuanya bisa diminimalkan dengan kebiasaan sederhana yang dilakukan terus-menerus. Yuk saling ingatkan, saling jaga, dan saling peduli.
Yuk, bagikan artikel ini ke orang terdekatmu agar semakin banyak yang sadar pentingnya mitigasi bencana, Cess!
Simak terus informasi menarik lainnya hanya di Balikpapan Tv teman update setia, 'Bukan Sekadar Info Biasa!'
FAQ
1. Kapan waktu paling rawan terjadi longsor di Balikpapan?
Saat curah hujan tinggi dan tanah dalam kondisi jenuh air.
2. Apa penyebab paling sering kebakaran permukiman?
Kelalaian penggunaan kompor, listrik, dan tabung gas.
3. Apakah semua wilayah Balikpapan memiliki risiko bencana?
Tingkat risikonya berbeda-beda tergantung kontur wilayah dan pola lingkungan warga.
DISCLAIMER
Artikel ini menggunakan bantuan AI secara terbatas untuk menghasilkan tulisan bebas typo dan kalimat tidak efektif, menghindari pengulangan kata dan paralelisme yang tidak tepat berdasarkan PUEBI. Artikel ini telah melalui verifikasi dan validasi ketat oleh Manusia (Redaksi). Teknologi AI digunakan semata-mata sebagai alat bantu produktivitas dan efisiensi kerja redaksi — bukan sebagai pengganti peran jurnalis manusia.