Balikpapan TV - Hai Cess! Angka kekerasan anak di Balikpapan belum sepenuhnya surut. Meski sudah ada penurunan, kasus yang ditangani masih terbilang tinggi.
DP3AKB Balikpapan pun terus tancap gas lewat edukasi dan sosialisasi ke masyarakat, biar makin banyak yang sadar pentingnya perlindungan anak.
Tren kenaikan kasus selama tiga tahun terakhir bikin banyak pihak waspada. Tahun 2022 tercatat 88 kasus, naik jadi 156 di 2023, dan melonjak ke 220 pada 2024. Tahun ini, hingga Oktober 2025, sudah ada 170 kasus yang ditangani.
Yuk, lanjut baca, biar tau gimana gerakan pencegahan ini terus digencarkan, Cess!
Kenapa Kasus Kekerasan Anak di Balikpapan Masih Tinggi?
Tingginya angka kekerasan anak bukan cuma soal data di atas kertas. Banyak kasus yang sebelumnya “tertutup” mulai terungkap karena masyarakat mulai berani melapor.
Roona Zahiidah, Penata Kelola Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak DP3AKB, menjelaskan, keberanian warga melapor justru tanda positif — artinya kesadaran mulai tumbuh.
“Kasus kekerasan anak ini masih menjadi tantangan besar. Kami terus mendorong masyarakat agar berani melapor jika melihat atau mengalami kekerasan, baik di rumah, sekolah, maupun lingkungan sekitar,” ujarnya, Jumat (17 Oktober 2025).
Baca Juga: SMAN 10 Samarinda Resmi Jadi Sekolah Garuda, Terapkan Kurikulum Global Setara S1
Apa Peran Masyarakat dalam Mencegah Kekerasan Anak?
Menurut Roona, mencegah kekerasan anak nggak bisa hanya mengandalkan pemerintah. Lingkungan terdekat—keluarga dan masyarakat—pun punya peran vital.
Makanya, DP3AKB memperkuat peran Unit Pelaksana Teknis Daerah Perlindungan Perempuan dan Anak (UPTD PPA) di setiap RT dan kelurahan. Jadi, warga bisa langsung mengadu tanpa harus bingung ke mana harus melapor.
“Kami tidak bisa bekerja sendiri. Diperlukan sinergi antara pemerintah, masyarakat, dan keluarga. Semakin cepat kasus dilaporkan, semakin cepat pula kami bisa memberikan pendampingan dan perlindungan,” tambahnya.
Langkah Nyata Apa yang Sudah Dilakukan DP3AKB?
Nggak cuma menangani laporan, DP3AKB juga aktif turun langsung lewat penyuluhan dan kampanye kesadaran.
Mereka mendatangi sekolah, komunitas, hingga pusat kegiatan masyarakat buat menyebarkan pesan penting: anak berhak tumbuh di lingkungan aman dan bahagia.
Lewat kegiatan ini, banyak anak dan orang tua mulai paham bahwa kekerasan bukan cuma fisik, tapi juga bisa verbal dan emosional.
Edukasi semacam ini jadi jembatan agar masyarakat lebih peka dan nggak menormalisasi tindakan yang bisa melukai mental anak.
Apa Harapan ke Depan untuk Kota Balikpapan?
DP3AKB berharap masyarakat Balikpapan makin terbuka dan peduli. Kota ini punya potensi jadi Kota Layak Anak kalau semua pihak saling dukung. Harapannya, nggak ada lagi anak yang takut bersuara atau tumbuh dalam kekerasan tersembunyi.
Balikpapan bisa jadi contoh bagi daerah lain: kota yang bukan cuma berkembang secara ekonomi, tapi juga empati sosialnya tinggi.
Tips Singkat: Cara Sederhana Cegah Kekerasan Anak di Sekitar Kita
1. Peka dan dengarkan anak. Kadang mereka butuh ruang aman buat cerita.
2. Jangan normalisasi kekerasan verbal. Kata-kata kasar juga bisa menyakiti.
3. Laporkan segera. Jika lihat tanda kekerasan, bantu mereka cari pertolongan.
4. Bangun komunikasi positif di rumah dan sekolah.
DP3AKB Balikpapan terus berupaya menekan angka kekerasan anak lewat edukasi, sosialisasi, dan penguatan peran masyarakat. Dukungan warga jadi kunci utama agar setiap anak di Balikpapan bisa tumbuh aman, sehat, dan bahagia.
Kalau bukan kita yang peduli, siapa lagi? Yuk, bantu sebarkan semangat perlindungan anak ini ke sekitarmu, Cess!
Simak terus informasi menarik lainnya hanya di Balikpapan TV, teman update setia, “Bukan Sekadar Info Biasa!”
FAQ (Pertanyaan yang Sering Diajukan)
1. Ke mana bisa melapor kalau melihat kekerasan anak di Balikpapan?
Masyarakat bisa melapor langsung ke UPTD PPA terdekat atau melalui DP3AKB Kota Balikpapan.
2. Apakah kekerasan verbal termasuk kategori kekerasan anak?
Ya, kekerasan verbal termasuk, karena bisa berdampak serius terhadap mental dan tumbuh kembang anak.
3. Bagaimana cara mencegah kekerasan di lingkungan sekolah?
Bangun komunikasi terbuka antara guru, siswa, dan orang tua, serta adakan edukasi rutin tentang perlindungan anak.