Balikpapan TV – Hai Cess! DPRD Balikpapan dan Pemerintah Kota (Pemkot) serta akademisi dari Universitas Gadjah Mada (UGM) tengah menggodok kajian akademik rencana pembangunan Pasar Induk Balikpapan.
Rencananya, pasar ini bakal berdiri di Kelurahan Graha Indah, Balikpapan Utara, tepat di kawasan Kilometer 5,5 dengan lahan siap pakai seluas sembilan hektare.
Kajian ini jadi langkah konkret buat memastikan proyek strategis tersebut berjalan matang dan tepat sasaran.
Selain menjaga stabilitas harga pangan, pasar induk ini diharapkan bisa mengurai kemacetan dalam kota dan meminimalisir risiko kecelakaan di pasar tradisional yang padat pengunjung.
Baca Juga: Polresta Balikpapan Ungkap 10 Kasus Curanmor, Modus Operandi dan Lokasi Rawan Terbongkar
Pasar Induk Balikpapan Jadi Langkah Serius Wujudkan Distribusi Pangan Efisien
Ketua Komisi II DPRD Balikpapan, Fauzi Adi Firmansyah, menjelaskan bahwa pembangunan pasar induk merupakan tindak lanjut dari rekomendasi DPRD agar proyek ini segera direalisasikan.
“Pasar induk dibutuhkan agar distribusi barang bisa lebih terpusat dan efisien. Ini juga akan berdampak positif bagi pengendalian harga dan keamanan di pasar-pasar yang saat ini terlalu padat,” ujarnya di Hotel Gran Senyiur, Selasa (7 Oktober 2025).
Langkah ini bukan cuma soal bangunan fisik, tapi soal membangun sistem distribusi pangan yang lebih modern.
Dengan keberadaan pasar induk, arus keluar masuk barang bisa lebih tertata, rantai pasok jadi efisien, dan masyarakat pun bisa merasakan harga yang lebih stabil di pasaran.
Kajian Akademik dan Penyesuaian DED untuk Kebutuhan Terbaru
Fauzi menyebut, dokumen Detail Engineering Design (DED) sebenarnya sudah rampung sejak 2024. Namun, saat ini dokumen tersebut sedang dalam tahap penyesuaian agar sesuai dengan kondisi terkini di lapangan dan dinamika kebutuhan distribusi pangan di Balikpapan.
Penyesuaian ini penting karena kebutuhan pasar sekarang makin kompleks. Distribusi bahan pangan butuh tempat yang mampu menampung volume besar, sistem logistik cepat, dan pengelolaan profesional agar tak hanya efisien di atas kertas, tapi juga jalan di lapangan.
Estimasi Anggaran dan Pembelajaran dari Pasar Sebelumnya
Soal anggaran, Fauzi menuturkan bahwa pembangunan pasar induk idealnya membutuhkan biaya sekitar Rp60 miliar.
Angka itu mengacu pada proyek serupa di Bali yang berhasil dijalankan dengan baik. Namun, pembahasan detail soal pembiayaan masih akan dilakukan secara bertahap sesuai dengan hasil kajian.
Fauzi juga menekankan pentingnya menyiapkan manajemen pasar secara matang sebelum pembangunan dimulai.
“Jangan sampai kita membangun tapi tidak menyiapkan manajemennya. Kita belajar dari pengalaman Pasar Karang Joang yang tidak berjalan optimal karena kelemahan di pengelolaan,” tegasnya.
UGM Libatkan Pendekatan Akademik dan Karakteristik Kota Balikpapan
Hasil kajian bersama tim akademisi dari UGM menyoroti bahwa sistem manajemen pasar harus menyesuaikan dengan karakteristik kota Balikpapan sebagai kota konsumsi. Sekitar 70 persen pasokan pangan kota ini masih berasal dari luar daerah.
Artinya, keberadaan pasar induk akan menjadi simpul utama distribusi sekaligus wadah integrasi antara petani, pedagang, dan konsumen.
Dengan sistem yang terpusat, pemerintah bisa lebih mudah mengatur arus pasokan dan mengontrol harga agar tidak fluktuatif.
Selain itu, pelaku usaha kecil di sekitar pasar juga berpeluang besar untuk ikut berkembang berkat aktivitas ekonomi yang makin ramai.
Dorong Ketahanan Pangan dan Gerak Ekonomi Lokal
Pembangunan pasar induk ini tak hanya sekadar proyek infrastruktur, tapi juga langkah strategis untuk ketahanan pangan jangka panjang.
Jika sistem distribusi berjalan lancar, stok bahan pokok bisa lebih terjamin dan masyarakat tidak mudah terdampak fluktuasi harga.
Dari sisi ekonomi, keberadaan pasar induk akan membuka peluang kerja baru, baik bagi tenaga operasional, pedagang, hingga pelaku usaha pendukung seperti transportasi dan logistik.
Inilah bentuk nyata sinergi antara pemerintah, DPRD, dan akademisi untuk mewujudkan pertumbuhan ekonomi lokal yang lebih inklusif.
Balikpapan sedang bergerak ke arah yang lebih baik — dan partisipasi masyarakat jadi kuncinya. Semakin kuat sinergi antara pemerintah, akademisi, dan warga, semakin solid pula pondasi ekonomi kota ini ke depan.
Pasar induk bukan sekadar proyek, tapi simbol kemandirian dan efisiensi distribusi pangan kota. Jadi, yuk sebarkan informasi positif ini biar makin banyak orang yang tau, Cess!
Simak terus informasi menarik lainnya hanya di Balikpapan TV, teman update setia, “Bukan Sekadar Info Biasa!”